<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170</id><updated>2011-12-20T20:47:22.750-08:00</updated><category term='Pameran'/><category term='NOBEL SASTRA'/><category term='Lingkungan Hidup'/><category term='Inspirasi'/><category term='Ekonomi dan Pertanian'/><title type='text'>SASTRA LAHAT</title><subtitle type='html'>Berbagai bentuk Sastra Lahat hadir di sini, dengan berbagai kronik Pariwisata, Seni Budaya, dan Kulinernya</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>70</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-8839041871911693938</id><published>2011-12-20T19:39:00.000-08:00</published><updated>2011-12-20T20:47:22.872-08:00</updated><title type='text'>TEPIAN LEMATANG TEMPAT PUITIS SEBAGAI OBJEK WISATA</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-hTL0oKr-76I/TvFkkHk1XvI/AAAAAAAAAa8/eOMJU5HY1YU/s1600/Lematang3.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-hTL0oKr-76I/TvFkkHk1XvI/AAAAAAAAAa8/eOMJU5HY1YU/s320/Lematang3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5688438376017256178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-324Kw6qrqW4/TvFj27nZFdI/AAAAAAAAAaw/bAHgVIqTeUk/s1600/Beranyutan%2Bdi%2BSungai%2BLematang%2Bjadi%2BHiburan%2BKeluarga%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-324Kw6qrqW4/TvFj27nZFdI/AAAAAAAAAaw/bAHgVIqTeUk/s320/Beranyutan%2Bdi%2BSungai%2BLematang%2Bjadi%2BHiburan%2BKeluarga%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5688437599712646610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-uMxh1CN5xSM/TvFjDk2EBvI/AAAAAAAAAaY/M5Bq5T3UJBo/s1600/lematang%2B4.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-uMxh1CN5xSM/TvFjDk2EBvI/AAAAAAAAAaY/M5Bq5T3UJBo/s320/lematang%2B4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5688436717426837234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-21t1VuT6guc/TvFjD4BviZI/AAAAAAAAAak/aRjvW_5KKhQ/s1600/jajang%2Bontel.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 199px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-21t1VuT6guc/TvFjD4BviZI/AAAAAAAAAak/aRjvW_5KKhQ/s320/jajang%2Bontel.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5688436722576099730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Jajang R Kawentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepian Sungai Lematang menjadi tempat yang cukup puitis untuk dikunjungi diakhir pekan. Mengajak keluarga, saudara, teman dekat atau sendirian sambil ngopi, makan bersama dengan membawa bekal dari rumah atau membeli di warung yang tersedia di lokasi, atau hanya duduk melepaskan lelah pikir atau lelah bekerja selama sepekan. Datang dengan menggunakan sepeda tua klasik, motor klasik, mobil klasik, mobil offroad, motor trail, bergaya seperti  seorang yang touring. Sungguh mengasikkan. Berfoto bersama dengan latar belakang bukit jempol (bukit serelo) dan Sungai Lematang yang membentang dengan jembatan gantungnya. Setelah itu di upload ke Facebook atau Youtube, meminta komentar dari kawan-kawan yang jauh. Betul-betul seperti the amazing to Lahat mooi. Sederhana namun mengesankan. Sehingga orang lain ikut tertarik, dan penasaran untuk mengunjungi kota Lahat,  mengunjungi tempat tersebut.&lt;br /&gt;Mencari kepuasan bersama keindahan alam Lahat yang sungguh lebih indah dari daerah manapun. Begitulah egoisme positif dibangun menjadi nilai-nilai patriotisme lokal. Lahat adalah keindahan yang sungguh real, keindahan daerah lain itu karena alasan kita memandangnya berlebihan. Sehingga melupakan keindahan alam sekitar kita sendiri.&lt;br /&gt;Pergi ke tepian Lematang menjadi alternatif wisata yang menjanjikan dan murah. Kita bisa merasakan bagaimana masyarakat mandi, mencuci dan memenuhi kebutuhan domestik keluarga. Disamping itu mengingatkan pada jaman dahulu, ketika Sungai Lematang menjadi pusat transportasi yang menyambungkan kota dengan dusun. Menjadi satu-satunya akses kehidupan perkekonomian, jual beli dan  barter kebutuhan sandang pangan di aliran sungai tersebut.&lt;br /&gt;Saat ini di beberapa lokasi tepian Sungai lematang bisa menjadi tempat untuk rekreasi keluarga. Mengapa sungai Lematang?, pertama karena alasan pemandangannya, umpamanya menghadap ke Bukit Serelo atau bukit Jempol, bukit besar, bukit telunjuk dan bukit-bukit lainnya yang merupakan jajaran bukit barisan. Kedua, karena alasan angin yang meniup semilir begitu sejuk dan udara yang segar, ketiga ada aktifitas warga yang menambang batu serta pasir secara tradisional, menjala ikan, keempat, bunyi dan gerak air yang mengalir ikut mengendurkan urat syaraf apalagi turut menyentuh air serta batu pasir yang berada di tepian sungai tersebut. Seperti mempertemukan kerinduan kita kepada laut luas dan sejarah panjang Kabupaten Lahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun Kerinduan Sungai Lematang&lt;br /&gt;Bagaimana membangun kerinduan masyarakat terhadap sungai Lematang menjadi sebuah gaya hidup yang sehat dengan berekreasi mengajak keluarga ke Sungai Lematang. Sebagai upaya relaxasi dari aktifitas sehari-hari. Membiasakan rekreasi dengan tempat tujuannya sungai Lematang yang berfungsi untuk memotivasi berpikir dan bekerja, mengumpulkan energi, suporrt  kinerja, serta refresing. Memunculkan semangat baru, serta membangun kehangatan bersama keluarga.&lt;br /&gt;Bahwa Sungai Lematang menyimpan sejarah juga kenangan di setiap insan yang pernah dekat atau menghampirinya, apalagi pernah tinggal di sekitarnya . Kenangan ini yang bisa mempertemukan kembalinya ingatan masa lampau. Sungai Lematang menjadi alasan sebagai daya tarik untuk mengunjunginya kembali, karena kenangan atau sejarah sudah tertancap di sana.&lt;br /&gt;Mengajak keluarga sanak saudara atau handaitaulan menelusurinya ulang. Seperti napak tilas perjalanan diri, seperti ungkapan sebuah cinta terhadap tanah air sendiri, sekaligus memperkenalkan sebuah gaya hidup sehat rekreasi di tepian sungai Lematang. Dengan harapan kemudian Sungai tersebut menjadi objek wisata yang permanent serta menjadi ikon parawisata murah di Lahat khususnya, Sumatera Selatan dan go internasional yeah.  &lt;br /&gt;Semoga saja kita tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan phisik saja tetapi rekreasi yang bisa memenuhi kebutuhan rohani. Menjaga keseimbangan dalam hidup, rekreasi itu penting sebagai makanan rohani atau jiwa. Rekreasi yang sekaligus membangun citra daerah sendiri adalah ke sungai Lematang.&lt;br /&gt;Sekarang dibeberapa lokasi tepian sungai sudah banyak warung kopi atau rumah makan. Kita bisa mampir sebentar, melepas lelah, memandang landscape. Menceritakan sebuah perjalanan atau penasaran menyentuh air dan batu lematang yang unik.&lt;br /&gt;Kita seringkali kebingungan bagaimana menikmati sebuah landscape atau suasana. Membandingkan sejuknya udara kota dengan udara di tepian sungai, membandingkan suara gemuruhnya air atau gemericiknya air dengan suara keramaian kota, dengan deru mesin dan kendaraan. Kesunyian yang di taburi suara burung atau suara serangga, adalah suasana masa lampau yang kini sulit ditemukan di kota. Seperti ketika listrik belum masuk dusun dan kendaraan masih sangat sulit dijumpai.&lt;br /&gt;Dalam sebuah landscape dan suatu suasana tersebut tersurat serta tersirat kekuasaan Tuhan yang mengaturnya. Tak ada yang sama dalam setiap suasana dan  di setiap landscapenya. Dengan menyadarinya, maka rasa indah itu muncul bersama rasa kagum. Selain itu pengakuan terhadap kemungkinan yang akan terjadi dan sedang berlangsung merupakan kenikmatan. Seringkali tidak disadari oleh para wisatawan awam atau pemula.&lt;br /&gt;Biasanya wisatawan awam hanya ikut-ikutan berwisata berdasarkan kebanyakan orang. Bukan karena kebutuhan untuk refresing hanya kebutuhan sebuah gaya hidup modern. Sungai Lematang menunggu para wisatawan yang membutuhkan arti dari sebuah refresing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggali Sejarah yang Terkikis Air&lt;br /&gt;Kita bisa menjaga originalitas aktifitas keseharian yang ada di sungai tersebut. Menjaga kelestarian sungai tersebut dengan lingkungannya, dengan tidak membuang sampah atau limbah ke sungai. Tidak mengeruk sumber daya alam yang terkandung di sungai secara (sporadis) berlebihan, sehingga akan merubah ekosistem yang berada di sekitar sungai.&lt;br /&gt;Diupayakan reboisasi atau penanaman pohon di sepanjang tepian sungai supaya sungai tidak terkikis oleh arus air (abrasi). Tentunya penanaman pohon tersebut diiringi dengan larangan penebangan pohon di sepanjang tepian sungai. Sekaligus sangsi hukumnya yang berat, sebagai upaya penyelamatan sungai. Sebab apabila terjadi abrasi akan berpengaruh terhadap debit air sungai, dan jelas akan terjadi pendangkalan dasar sungai.&lt;br /&gt;Karena pendangkalan akan berpengaruh terhadap berkurangnya debit air dan akan mempengaruhi musim tanam padi petani yang menggunakan media sawah, karena air tidak akan sampai pada tujuan yang berada di ilir. Sebab air tidak memiliki tenaga untuk mengirimkannya, karena air mengikuti bentuk sungai yang kian melebar, sulit untuk  mengikuti lajurnya. Menjadi banyak kehidupan alam yang dirugikan.&lt;br /&gt;Apabila sudah terjadi seperti ini maka alamat mengecilnya harapan Sungai tersebut menjadi arena wisata. Puitisasi sungai menjadi suram dan muram. Bagaimana kita juga bisa ikut melestarikan lingkungan, sekaligus  menjaga sejarah daerah-daerah yang berada di sepanjang tepian sungai seperti Benteng, Bandar Agung, Balai Buntar, beberapa Makam atau petilasan Puyang (nenek moyang) dan masih banyak lagi menjadi terkelola dengan baik.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Pembina Komunitas Sastra Lembah Serelo dan Guru SMA Negeri 1 Merapi Selatan Kab. Lahat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-8839041871911693938?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/8839041871911693938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2011/12/tepian-lematang-tempat-puitis-sebagai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/8839041871911693938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/8839041871911693938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2011/12/tepian-lematang-tempat-puitis-sebagai.html' title='TEPIAN LEMATANG TEMPAT PUITIS SEBAGAI OBJEK WISATA'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-hTL0oKr-76I/TvFkkHk1XvI/AAAAAAAAAa8/eOMJU5HY1YU/s72-c/Lematang3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-4223122641328426740</id><published>2011-12-02T07:03:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T08:58:23.883-08:00</updated><title type='text'>AIR TERJUN MILANG DALAM CATATAN PERJALANAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Q916TctkftI/TtkDOv6SJgI/AAAAAAAAAYc/98H1LUA6zVg/s1600/milang1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Q916TctkftI/TtkDOv6SJgI/AAAAAAAAAYc/98H1LUA6zVg/s320/milang1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681575956818568706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;AIR TERJUN MILANG DALAM CATATAN PERJALANAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambutan Kepala SMA N 1 Merapi Selatan&lt;br /&gt;Kami menyambut baik dengan diterbitkannya sebuah buku kecil yang mencatat perjalanan siswa-siswi SMA Negeri 1 Merapi Selatan ke Air Terjun Milang pada 31 Desember 2010 lalu. Semoga apapun yang terdapat dalam buku ini dapat bermanfaat, karena ini merupakan pengalaman mereka dari 20 siswa siswi dan 2 pembinanya yang mengikuti kegiatan kemah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar Penyusun&lt;br /&gt;Buku ini mengisahkan perjalanan atau pengalaman Siswa-siswi  SMA Negeri 1 Merapi Selatan dan Pembinanya yang mengikuti Kemah di tempat Wisata Air Terjun Milang yang terletak diantara Kecamatan Merapi Selatan dan Kecamatan Merapi Barat. Ada 20 siswa yang mengikuti kemah ini dengan pembinanya 2 orang, Jajang Rusmayadi, S.Sn dan Melly sebagai pembina Pramuka. Disamping itu kemah ini juga melibatkan SMA Negeri 1 Merapi Barat yang berjumlah 50 siswa dengan 6 pembinanya.&lt;br /&gt;Dari sekian banyak siswa tidak semuanya menuliskan pengalamannya, namun kepada seluruh siswa yang ikut disampaikan untuk menulis dan sampai buku ini diterbitkan hanya terdapat 11 siswa saja yang dapat diterbitkan.&lt;br /&gt;Dalam penulisannya diberi arahan supaya menulis dengan bahasa daerahnya (bahasa Perangai), tetapi dalam kenyataannya ada yang menggunakan bahasa indonesia, ada yang mencampuradukan bahasa Perangai dengan bahasa Indonesia. Walau demikian semua dari tulisan ini merupakan sebuah refleksi dari kegiatan yang dilakukan dalam rangka menyambut tahun baru 2011.&lt;br /&gt;Dengan harapan hasil dari perjalanan ini menjadi sebuah gambaran bagi siapa saja, tentang keindahan tempat wisata alam Air Terjun Milang. Tentunya menjadi sebuah dokumentasi dari kegiatan yang sangat mengesankan, dan sebagai ungkapan kegembiraan dalam melakukan sebuah perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusun&lt;br /&gt;Jajang Rusmayadi, S.Sn &lt;br /&gt;Guru Seni Budaya SMA N 1 Merapi Selatan &lt;br /&gt;Air Terjun Milang Menjanjikan Pencerahan Baru&lt;br /&gt;Oleh Jajang Rusmayadi, S.Sn&lt;br /&gt;Tempat wisata Air Terjun Milang yang terletak antara Kecamatan Merapi Selatan dan Kecamatan Merapi Barat, bisa ditempuh melalui jalan simpang Patung di Desa Padang  Kecamatan Merapi Selatan dan dari Desa Tanjung Beringain masih dari Kecamatan Merapi Selatan. Dengan waktu tempuh hanya satu jam berjalan tanpa henti, namun kalau banyak berhenti bisa sampai 2-2,5 jam. &lt;br /&gt;Air terjun Milang merupakan aset terpendam Kabupaten Lahat yang sangat berharga dibandingkan dengan bongkahan batu bara yang berada di dalam tanah sekitar lokasi wisata tersebut. Aset wisata itu tidak bisa tergantikan apabila disekitar lokasi air terjun itu juga di rusak karena eksplorasi dan ekploitasi kebutuhan tambang batu bara. Selain itu batu bara merupkan sumber daya alam yang akan habis dan menyisakan kehancuran serta masalah. Masyarakat kecil kembali yang akan menerima penderitaan akibat eksploitasi alam tersebut. &lt;br /&gt; Air terjun Milang itu apabila dikelola dengan baik, kemudian akan menghasilkan pendapatan asli daerah, yang berdapak terhadap kesejahteraan masyarakat Lahat terutama disekitar daerah wisata tersebut. Memang hasilnya tidak bisa instan seperti eksploitasi batu bara, namun aset ini lambat laun akan menghasilkan pendapatan lebih dari harga batu bara. Keutamaanya karena masyarakat umum dapat merasakan manfaat dari wisata air terjun tersebut.&lt;br /&gt;Namun apabila di daerah lokasi tersebut juga menjadi lahan tambang batu bara maka yang menikmati hasil dari tambang tersebut sesungguhnya hanya beberapa gelintir orang saja  yang akan menikmatinya. Jelas batu bara itu tidak akan dikelola oleh daerah atau masyarakat akan tetapi dibawa ke luar kota dan orang luar yang akan menikmati dari hasil eksplorasi dan ekploitasi batu bara tersebut. Di samping itu masyarakat Merapi akan menuai kerusakan lingkungannya, dari pada menuai keindahan alamnya. Mungkin warga dunia akan mengutuknya.&lt;br /&gt;Menikmati Panorama dan Pengetahuan Alam&lt;br /&gt;Air terjun Milang diperkirakan tingginya sekitar 30 meter dengan 7 tingkatan air jatuh. Di tingkatan pertama atau paling atas, tingkatan ke dua dan tingkat tiga terdapat kolam atau lubuk yang cukup luas. Menurut warga Merapi Selatan di lubuk itulah terdapat banyak ikan yang berkembang biak. Sungguh indah panorama itu, apalagi kalau di sekitar air terjun itu di tata dan rumputnya di bersihkan. Lalu ditanami kembali kayu yang memperkuat struktur tanah yang curam dengan Pinus, menambah panorama lain lebih sejuk.&lt;br /&gt;Air yang mengalir begitu jernih dan pada umumnya warga yang pergi ke kebun dan yang sengaja berkunjung ke air terjun Milang meminum air sungai tersebut tanpa di masak terlebih dulu. Mereka langsung memasukan ke dalam botol kemasan sebagai persediaan dalam perjalanan. Barangkali kandungan mineral yang terdapat dalam air tersebut lebih baik dari air kemasan yang di jual di pasaran.   &lt;br /&gt;Disekitar lokasi air terjun Milang banyak tempat untuk pengambilan gambar atau foto. Karena lokasi air terjun ini merupakan pertemuan antara tiga bukit, diantaranya bukit Milang itu. Alam ini sepertinya sudah menyediakan tempatnya yang tepat, sungguh luar biasa. Tepat di air jatuh terakhir itu ada sebuah batu yang bisa digunakan untuk berfose. Batu itu bisa memuat sekitar sepuluh orang untuk berfose, dan persis di depannya ada batu datar sebesar rumah kira kira bisa memuat 100 orang lebih untuk berfose. Sehingga kenangan bersama ke air tejun Milang tidak akan luput dari dokumentasi dalam perjalanan berwisata bersama.&lt;br /&gt;Apabila hendak berkemah, di lokasi ini jelas tersedia tempat yang sungguh pas, meskipun di kebun milik petani kopi. Tempat ini juga menyediakan fasilitas untuk berkemah, kayu bakar, tempat mandi, mencuci, dan lokasi berkemah. Memang tidak ada lokasi yang datar seperti sebuah lapangan, akan tetapi ada tempat-tempat untuk mendirikan tenda-tenda yang berdekatan. &lt;br /&gt;Menurut warga Merapi Selatan yang pernah berkunjung ke Air terjun Milang, di lokasi bukit-bukit itu sangat baik untuk di tanami tembakau, dan kopi. Di lapisan tanah itu terdiri dari humus, atau daun-daun yangkering dan membusuk. Menurut mereka tanaman di sini tidak perlu lagi di pupuk, tinggal bagaiman membersihkan ruput yang mengganggu di sekitar tanaman.&lt;br /&gt;Sebelum menuju lokasi kita bisa melihat, bagaimana perkebunan durian yang sudah berumur ratusan tahun, kebun kopi, padi tadah hujan,  dan perkebunan karet rakyat.  Sekaligus kita bisa belajar bagaimana para petani itu menyadap karet, atau memetik buah kopi. Sekaligus kita bisa belajar dari alam tersebut sebagai ilmu pengetahuan. &lt;br /&gt;Out Bound Sambil Refleksi Tubuh&lt;br /&gt;Berbagai rintangan menuju lokasi air terjun Milang, mengajarkan kepada kita bagaimana menyelesaikan masalah, perlu tekad kebersamaan dalam menyelesaikannya. Sebab jalan yang ditempuh menuju ke lokasi berbagai medan, mulai dari jalan tanah, jalan air, lumpur dan berbatu. Ada jalan yang datar, menurun dan jalan yang terjal. Pariasi bentuk medan ini kita anggap out bound dan perjalanan yang menantang serta menyenangkan ini bisa dianggap permainan. Namun sepanjang perjalanan itu kita akan disuguhkan oleh alam yang mungkin belum pernah kita lihat sebelumnya, dan ini sebagai kejutan-kejutan dalam kehidupan yang kemudian akan menjadi kenangan atau sebuah cerita yang manis dan mungkin tidak akan habis bila dibahas. &lt;br /&gt;Untuk mencapai lokasi harus ada perjuangan yang kuat. Untuk itu sejak awal niatan mengunjungi sesuatu yang indah dan menyenangkan itu perlu keteguhan, kesabaran serta sebuah usaha. Air terjun Milang merupakan anugrah atau sebuah hadiah dimana kita sudah merasa lelah untuk mencapainya, maka air terjun itu akan membayarnya dengan lunas.  &lt;br /&gt;Keindahan alam Merapi akan lengkap ketika kita melangkahkan kaki menuju air tejun Milang. Bukit Besar, Bukit Serelo (Bukit Jempol) dan bukit-bukit batu yang berjejer. Menjadi panorama yang tidak kalah menariknya dibandingkan dengan lokasi wisata dimanapun yang memiliki perbukitan atau pegunungan.&lt;br /&gt;Beberapa anak sungai yang harus disebrangi dengan air yang mengalir jernih, serta batu-batu yang menghampar apabila membuka sepatu dan membiarkan kaki kita telanjang  maka akan terjadi refleksi secara alami, begitulah yang dialami oleh para petani di sekitar bukit-bukit tersebut. Kita juga bisa membayangkan bagaimana para petani itu dengan penuh semangat mencari penghidupan di alam dengan bercocok tanam padi dan berkebun, mungkin dengan hasil tidak seberapa dan membawa hasil taninya yang sangat jauh tanpa berkendaraan, namun mereka tetap menempuh jalan hidupnya dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;Refleksi tubuh juga bisa dilakukan di lokasi air terjun, selain kita berjalan di batu-batu yang memijat telapak kaki, juga kita bisa merasakan air yang jatuh itu tidak merpa batu tetapi menerpa tubuh kita. Air yang jatuh itu serupa pukulan-pukulan kecil dan keras ke tubuh kita. Ini juga serupa sebuah terapi atau refleksi, dan sesudahnya kita akan merasakan semacam pencerahan-pencerahan baru dari air tejun Milang ini. Air yang jernih yang akan menimbulkan kerinduan akan alam yang terus lestari. Semakin lengkap pencerahan itu ketika menghirup udara di sekitar lokasi air terjung yang begitu segar. &lt;br /&gt;Kita sudah bisa merasakan sejuknya udara itu sekitar 500 meter dari lokasi, seperti masuk ke dalam air. Kesejukan ini semakin nikmat, ketika memasuki petang, malam dan pagi hari. Sambil minum kopi hangat dan berbincang, rasanya kita semakin akrab dengan alam.&lt;br /&gt;Penulis Pembina Komunitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] dan Guru SMA Negeri 1 Merapi Selatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartika Sari XII IPA&lt;br /&gt;TAHUN BARU&lt;br /&gt;Seiring berjalannya waktu&lt;br /&gt;Tak terasa jikalau tahun telah berganti&lt;br /&gt;Setiap insan berbondong-bondong untuk merayakannya&lt;br /&gt;Tahun baru di alam terbuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kala malam datang menjelang &lt;br /&gt;Ribuan nyanyian yang dilantunkan&lt;br /&gt;Dengan penuh canda tawa&lt;br /&gt;Di bawah indahnya gemerlap bintang yang bercahaya&lt;br /&gt;Malam yang syahdu&lt;br /&gt;Semuanya menyambut dengan lagu&lt;br /&gt;Sungguh bahagia di malam tahun baru&lt;br /&gt;Tampak keramaian mensenyapkan kesunyian kalbu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua insan tersenyum senang&lt;br /&gt;Menyanyikan lagu dan berdendang&lt;br /&gt;Dengan senandung nyanyian alam&lt;br /&gt;Menggebu di kesunyian malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aprianto XII IPS 1&lt;br /&gt;ALAM SEKITAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kehidupan ini kita perlu memperhatikan alam sekitar. Karena tanpa adanya alam yang ada  di sekeliling kita kehidupan tak mungkin indah bahkan menghirup udarapun sangatlah susah. Untuk ituk mari semua belajar untuk memahami tentang alam dan manfaatnya. Oleh sebab itu di malam tahun baru 2011 kami seluruh anggota pramuka emngadakan kemah di air terjun dekat Bukit Jambu daerah Air Milang. &lt;br /&gt;Di sana kami belajar memahami arti kehidupan di dalam hutan. Hidup di dalam hutan sangatlah indah dan nyaman karena semuanya masih sangat asli, belum ada perubahan. Baik tumbuhan maupun udara. Di sanalah kita harus sadar  betapa pentingnya hutan dan yang lainnya. Tanpa adanya hutan mungkin kehidupan di dunia tak mungkin indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuspita Aprianti XI IPA&lt;br /&gt;Semuanya Damai&lt;br /&gt;Pagi itu&lt;br /&gt;Disaat semua siswa kelelahan&lt;br /&gt;Akan perjalanan yang sangat jauh&lt;br /&gt;Perjalanan yang penuh dengan rintangan&lt;br /&gt;Dilalui begitu saja&lt;br /&gt;Dan tanpa disadari setelah sampai tujuan&lt;br /&gt;Semua terpana akan keindahan air terjun&lt;br /&gt;Dan rasa lelah itu hilang begitu saja&lt;br /&gt;Suara air terjun yang merdu&lt;br /&gt;Yang membuat semua damai&lt;br /&gt;Seakan membawa kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wendi XII IPS 2&lt;br /&gt;MENYAMBUT TAHUN BARU 2011&lt;br /&gt;Anggota Pramuka SMA Negeri  1 Merapi Selatan Kabupaten Lahat dan anggota Pramuka SMA Negeri 1 Merapi Barat melaksanakan perkemahan di Cuhup Milang. Selain menyambut tahun baru perkemahan ini juga untuk menjalin tali silaturahmi atau persahabatan.&lt;br /&gt;Perkemahan ini diikuti oleh 20 orang anggota Pramuka SMA Negeri 1 Merapi Selatan dengan 2 orang Pembina dan 50 orang anggota Pramuka SMA Negeri 1 Merapi Narat dengan 6 orang Pembina. &lt;br /&gt;Perkemahan dilaksanakan selama dua hari satu malam. Walaupun hanya dua hari satu malam, tapi kami cukup bahagia dan merasa puas. Karena keindahan air terjun Milang tersebut. &lt;br /&gt;Air terjun Milang ini memiliki ketinggian kira-kira 40 meter dan kedalaman 2 meter. Air Terjun Milang terdiri dari lima tingkatan.&lt;br /&gt;Selain menikmati keindahan air terjun ini, kami juga menikmati keindahan alam lainnya. Misalnya bukit Telunjuk, Bukit Besar, pohon- pohon yang menjulang dan air yang mengalir jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinsih XII IPS 1&lt;br /&gt;TAHUN BARU&lt;br /&gt;Pada hari Jumat saya berserta temen-temen berkemah di cuhup Milang untuk merayakan Tahun Baru 2011. Pas sampai di lokasi, saya, Wendi, Yohandi, dan Doni bikin tenda. Kami istirajat dulu sambil maen gitar, sekalian jaga. Sekaligus menunggu yang perempuan masih dalam perjalanan. Lama kelamaan akhirnya yang perempuan sampai juga.. &lt;br /&gt;Aku lihat yang perempuan kecapek-an. Aku kasihan banget. Semuanya berkeringat seprti keluar semua. Ya aku juga gak bisa berbuat apa-apa. &lt;br /&gt;Nah pas hari sudah malam menurutku seru, tapi ada keselnya juga sih. Pas jam 20.00 WIB kami semua kumpppul  di lapangan. Menurut kami ini acara Lingko-an, yang laki memberikan selendang pada yang perempauan dan yang perempuan memberikan selendangnya pada yang laki-laki. &lt;br /&gt;Pada malam itu aku yang dapat hukuman dan aku diminta untuk joget sama mantan pacar aku. Menurut aku itu membuat senang. Nah pas siangnya, kami membuat acara cari jejak. Awalnya aku gak mau sih ikutan acara cari jejak. Aku pengennya jaga tenda aja, tapi kata temanku dan juga ibu Melly menasihati  harus ikut, karena kalau aku dak ikut anggota kurang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yumiani XI IPA&lt;br /&gt;Jumat Tanggal 31 Desember&lt;br /&gt;MENJELANG TAHUN BARU 2011 KAMI PERGI KE CUHUP MILANG&lt;br /&gt;Pada suatu ahi kami pegi ke Cuhup Milang. Isandi huma kami naik mobil sampai di tebing Patung. Kami duduk kudai. Dide lame udim duduk,  kami separu diajungnye oleh kakak Melly nule menuju ke Cuhup Milang. Lah kekerihan kami berumbung uangan mangke kami behadu, tapela kekerihan. Sambil behadu kami la lapae. Ude kami makan di pucuk batu. Udem makan kami nunggu rumbungan yang masih ade di belakang. Kene kami dindak nulu, takut sesat mangke ade bibik ke kebun. Kami betanye nak bibik tu, “dide kelame nguntap Cuhup Milang bik?”&lt;br /&gt;Kate bibik tu, “Masih gilame nak,” katenye.&lt;br /&gt;Kami betanye agi, “Ade penyimpangan bik?”&lt;br /&gt;Dijawabnye, “Dide bediye penyimpangan nak, teruslah saje,”katenye. &lt;br /&gt;Ude kate kami kite beguyur saje amun masih gilame. Kami keterus bejalan nae belem kina sampai liwat ayik, kami tu liwat tebing. Mangke nyampi ahirnye. Ai ribang benae kami nginak cuhup tu, alap tanggungan. Kerih yang tadi lah nginak cuhup tu dide lagi kerih.&lt;br /&gt;“Di sanela kami meraseka menghirup udara yang segar dan batang yang menghijau, daunnye yang indah.”&lt;br /&gt;Lame duduk di batu.  kami ke cuhup. Mandilah. Udim mandi kami bemasak. Udim nanak, ngulai. Kami makan. Dek lame kami sembahyang maghrib. Habis itu kami bercerite dengan kance-kance, begabung. Sekitar jam 20.00 WIB kami kumpul ade acara untuk menyambut tahun baru 2011. Acara Lingko-an, sambil kami kenalan, dapat kance baru. Udem acara tu kami balikla ke tenda. Kami tiduk dikit, ahi tu masih jam satu malam.&lt;br /&gt;Sekitar jam 05.00 WIB kami bangun, sembahyang subuh. Udemtu kami mandi. Terus bemasak. Kami belumla makan. Tapi kami kumpul senam pagiyan, dilanjutke acara Heking. Kami pegi ngak kance-kance. Sebagian ade yang nunggu di tenda. Waktu dang heking tu ribang benae dapat hukuman. Kamilik kakak kelas SMA N 1 Merapi Barat. la kekerihan tu kami balik lagi menuju kakak pembina. &lt;br /&gt;La udem acara heking kami makan bersama, udem tu acara foto di Cuhup Milang, kene kami  kebepisah. Kami acara foto kudul dengan SMA N 1 Merapi Barat. udemtu kami kumpul agi, bepisah kebalik ude jabatan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Helvi Mariani XII IPA&lt;br /&gt;DI AWAL TAHUN YANG PENUH HARAPAN&lt;br /&gt;Ahi Kamis tanggal 30 Desember 2010 kami kumpul di sekolahan kandik mempersiapkan kemah tahun baru yang belokasi di Cuhup Milang. Sekitar jam 08.00 WIB lah kumpul, persiapan la banyak, terutame masalah bemasak dan alat-alatnye, kami juge siapkah masalah yel-yel dan atraksi-atraksinye di acara tersebut.&lt;br /&gt;Ahi Jumat kami berangkat langsung nuju tugu Patung di Gajahan, Desa Padang. Kami becerite sambil nunggu anggota yang lain. Kami juge befoto-foto dikit di sane. Sate lah kumpul gale anggotanye, kami diajung nulu li pembina kami. Kene die nak nunggu guru kami yang lain. Kami la nulu, anye kami mandak di Balaman Patung tu, kene kami takut sesat. Kami makan kapuh kudai di pucuk batu libau. Lah lame kami udim makan, maseh belum muncul pule guru kami tu. Kene kami la lame nunggu, kami nak nulu lagi. Anye kami beanye kudai nak bibik lewat, diye tu ke kebun. Nelah kami melanjutka perjalanan.&lt;br /&gt;Dang kami bejalan, segale ade. Tape kerih kami muat tu lucu-lucu. Kami tetawe terus temenggegikha. Saking kelucunye kami dik tehase agi kerih, ulehan jauh tanggung perjalanan kami tu. Di perjalanan sambil tetawe kami ngenginaki pemandangan ade di jalan tu. Kami nginak badah tambang batu bara. Alap tanggung pemandangantu. Tambang batu bara dikelilingi batang-batang besak dan bukit-bukit yang menjulang.&lt;br /&gt;Dik tehase saking kelemak e kami tu, dan saking kelucu e sampai juge di lokasinye. Jeme la udim muat tenda. Kami sampai langsung tepolek di dalam tenda. Lapetang kami mandi, la balik insandi mandi kerih la bepeloh-peloh badan kami. Saking kepanas kami la dide nginai lagi jalan, teserongkow di jalan. Tuape naik tebing, udim tu kami bemasak, dilanjutke nak makan.   &lt;br /&gt; Lamalamnye kami ade acara yaitu acara selendang, udem tu acara teka-teki sambil nunggu bel waktu pergantian tahun baru. Sambil nunggu tu kami diajung tiduk. La siang kami begibuk bemasak. Ade yang ke heking, ade pule yang kebemasak. Kami bagian kebemasak.&lt;br /&gt;Jeme heking lak balik, anye gulai lom masak. Laudem masak, kami ajung yang mikut heking tu nulu makan. Udim makan kami langsung pegi ke Cuhup Milangnye nian, kandik acara befoto besame, nak sekolah insan di SMA N 1 Merbar. La petang kami balek sehempakan nak SMA N 1 Merbar, anye di perjalanan kami bepisah. Amen kami langsung merentas nuju Desa Tanjung Beringin, amen SMA Merbar nuju Tugu Patung.&lt;br /&gt;Dari Kegiatan kami ini mendapat ilmu, jika kita selalu bersama keakraban akan terjalin, kami mendapat sahabat baru dan ilmu baru, dan tahun baru pun menjadi sangat besar harapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IMAM AZHARI XI IPA&lt;br /&gt;WAKTU KEMAH&lt;br /&gt;Pada hari Jumat pagi, ku bersama teman-teman berbondong-bondong pergi ke lokasi perkemahan Air Terjun Milang. Di tengah perjalanan, kami bisa menikmati keindahan alam dan kesejukan angin yang tak henti menerpa pepohonan yang tinggi menjulang. &lt;br /&gt;Letak matahari milai tinggi, rasa panas pun sudah terasa. Keringat yang bercucuran tak memadamkan rasa ingin tahu yang membara. Di tengah perjalanan melihat air terjun yang mengalir jernih. Mengalir dengan derasnya. Rumpun bambu yang bertabur, pohon-pohon yang rindam dan kami melihat batu-batu besar. &lt;br /&gt;Perjalanan yang begitu jauh kami jalani. Semua ini kami lakukan hanya karena kami ingin tahu.&lt;br /&gt;Beberapa jam perjalanan yang kami lewati akhirnya kami sampai juga di lokasi Air terjun Milang. Kami melihat keindahan alam dan kami merasakan indahnya ciptaan yang kuasa. Semoga jangan Cuma kami yang melihat agungnya ciptaan Alloh ini.&lt;br /&gt;Kami dekati air terjun yang tinggi itu, rasa lelah yang tadi mengusik dan setelah kami melihat keindahan air terjun serta keindahan alam di sekitarnya, rasa lelah dan rasa panas itu semuanya hilang seketika.  Teman-teman berbondong-bondong untuk mandi, kami merasakan kesegarannya.&lt;br /&gt;Tak terasa hari larut malam. Saat itu malam Sabtu. Di sana kami melakukan berbagai aktifitas seperti sholat, mandi, cari jejak dan berkumpul. Tapi pada malam Sabtu kami melakukan aktifitas hiburan. Menghibur kami semua, seperti bergitar, bernyanyi, berjoget, berpantun, teka-teki dan bercanda. &lt;br /&gt;Di sana kami banyak mendapatkan teman, cowok maupun cewek. Aku sangat senang. Tappi waktu terus berjalan, hari telah pagi. Sekitar pikul 09.00 WIB kami melakukan kegiatan cari  jejak. Di Pos I kami sangat sebel, kelompok kami disuruh joget nyanyi dan akting jadi laki-laki homogen.  Di Pos II kami disuruh menutup mata, lalu mencari suatu benda yang ditentukan oleh kakak penjaga Pos. Saya terbentur kayu sehingga kaki terluka. Di Pos III kami disuruh menjawab pertanyaan-pertanyaan dan di Pos IV kami  disuruh mencari benda dan ditutup mata di dalam air. Baju kami basah, kami sangat kedinginan. &lt;br /&gt;Sekitar pikul 11.00 acara perpisahan dengan SMA N 1 Merapi Barat. kami bersalam-salaman. Kami sangat terharu karena kami baru saja bertemu dan harus bberpisah. Di perjalanan kami juga berpisah jalan. Inilah perjalanan kami ke Cuhup Milang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Isra Marianah XI IPS 2&lt;br /&gt;PERKEMAHAN DI CUHUP MILANG&lt;br /&gt;Pada suatu ahi dang tanggal 30 Desember 2010 yang lalu, kami ngikuti bekemah di ayik Cuhup Milang, untuk menyambut tahun baru 2011 dengan SMA N 1 Merapi Barat. Kami bekumpul kudai di Patung. Sate sampai di patung tu, kami duduk kudai jerang, udim tu kami diajunge li kakak pembina kami nulu separu.&lt;br /&gt;Pehasean kami, parak juge Patung dengan Cuhup Milang tu. Engkase gi jauh tanggungan, sampai-sampai kami behadu behape kalian. Di pehaduan petame, kami makan-makan. Pejalanannye ade nak due jaman. Akhirnye sampai juge ke Cuhup Milang  &lt;br /&gt;Sate sampai tu kami merasekan udara yang segar dan lagi pule lengit gale rase kerih kami tu kene la nginak Cuhup Milang. Kami mandi di Cuhup Milang tu dan acara foto-foto. Gegale befoto.&lt;br /&gt;Sekitar jam 18.00 WIB ahi la petang kami ngak SMA N 1 Merapi Barat Sembahyang Maghrib. Kami besame-same sembahyang Maghrib . La udem sembahyang Maghrib kami makan besame-same. Sekitar jam 20.00 WIB kami mulai acara taun baruan, sampai jam due belas malam. &lt;br /&gt;Acaranye banyak, seperti balas pantun, teka-teki dan nyanyi. Sate udim acara tu kami tiduk. Pagi-pagi kami la bemasak. Jam 08.00 kami bekumpul ngadeka heking. Udim heking tu kami makan besame-same. Kami beringkas nak balik. Kami sedih karena akan bepisah dengan SMA N 1 Merapi Barat. sebelum balik kami saling bejabat tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayik beburu bada, bepadu &lt;br /&gt;Ape yang pacak diambik, milu sampai tujuan walau dekpacak diterka&lt;br /&gt;Biawak itu menirukan suara ayam, memanggil anak ayam yang sedang diasuh induknya. Namun induk ayam bersuara seperti teriakan melarang anaknya mendekati Biyawak itu. sementara lidah Biawak menjulur-julur seperti lidah ular. &lt;br /&gt;Kulihat Biawak itu seperti buaya, besar, hanya perbedaannya Biawak agak tinggi kakinya dan kulitnya agak halus... &lt;br /&gt;Kejadian di belakang rumah ini, beberapa hari terakhir semakin sering. Belum lagi Biawak berkepala hitam yang memang sudah setiap hari lewat memperlihatkan gelagatnya yang tercium tidak bersahabat. mungkin bersahabat dengan ayam dan bebek kami saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusita Putri XI IPA&lt;br /&gt;I LOVE CURUP MILANG&lt;br /&gt;Pada hari Jumat kami dan kance-kance akan ngadeke kemah di Curup Milang. Hari itu nak kance-kance kumpul di satu tujuan di Patung Desa Padang. Di sane kami sandi SMA N 1 Merapi Selatan nak nunggu SMA N 1 Merapi Barat, anye ade due sekolahan yang pegi ke Curup Milang. &lt;br /&gt;Mereka tampak ramah saat bertemu di Patung. Setelah galenye bekumpul siswa-siswi dan bapak ibu guru, kami melanjutkan perjalanan yang kami tuju ke Curup Milang. Perjalanannye sangat jaudan melelahkan. Rasenye kami tak sanggup lagi untuk berjalan, krene kaki udem sakit. Beberape kali kami behadu dan perut mulai keroncongan.&lt;br /&gt;Kami behangkat kire-kire jam 08.00-11.00 WIB, kami lah sampai. Mangke kami makan di jalan dan minum kudai. Udem makan kami melanjutke lagi perjalanan. Dari ayek ke ayek kami lewati tanpa lelah. Kami gale penasaran dengan Cuhup Milang. Mangkenye kami bergiat-giat bejalan untuk lebih gancang. Sekian lamenye kami bejalan tekinalah tenda jeme bekemah. Akhirnye sampaijuge kami ke tujuan untuk melihat Cuhup Milang. &lt;br /&gt;Kami behadu sejenak di tenda dan menghirup udara segar. Di sane pohon-pohon yang hijau, pecak lum pernah tersentuh oleh manusie.  Hati kamipun sangat senang berkemah di Curup Milang. Walaupun jalannye sangat jauh, sangat melelahkan tetapi setelah melihat Cuhup Milang rase lelah dan letih itu hilang.&lt;br /&gt;Dinginnye ayek Milang, batunye besak-besak dan kami menaikinye untuk photo-photo besame kance-kance. Setelah itu kami mandi di Cuhup Milang, ayeknye jernih. Kami mandi di  cucuran ayek yang terjune sangat tinggi sampai kepala kami sakit di hentam Cuhup Milang. Tersirat di hati, ayek Cuhup Milang yang diciptake Maha Pencipta sangatlah beharge. Membuat gegale jeme bahagie.&lt;br /&gt;Matahari mulaila tenggelam. Kamipun begegas memasak dan sholat mahgrib berjamaah. Hari semakin gelap dan kamipun mengadeka acara lingkaran dan teka-teki. Di sane kami saling menghibur untuk menyambut bergantinye tahun, yang artinye menyambut tahun baru hati kamipun bahagie. Walaupun udem malam jam 24.00WIB, dek tehase. Selesai acara kami pun istirahat, tiduk.&lt;br /&gt;Matahari pagi terbit, kami begegas masak dan mandi. Kami heking menyelusuri ayek Milang yang sangat panjang dan dingin.  Kami mendapat hukuman oleh kakak kelas, kerene melakukan kesalahan. Kami dihukum jongkok besusun, sampai beberape kali kami dihukum kakak kelas. Selesai tu, hari sede mulai siang, matahari mulai menyengat kami begegas balik ke tenda untuk makan siang. Sesudah makan siang, kami menyiapkan dandanan dan bersiap untuk balik. Tetapi sebelum kami ke balik, kami kembali ke Curup Milang, mandi dan acara photo dengan kance-kance SMA Merapi Barat sebagai tanda perpisahan. Udemtu kami kembali ke tenda dan kami berkumpul untuk berdoa sebelum ke balik agar selamat di perjalanan. Selesai bedoa, kami membersihkan sampah-sampah yang ade di sekitar tempat bekemah. Dem tu kami besalaman dan saling bemaafan. &lt;br /&gt;Kami mulai bejalan la ke balik. Sampai ke dusun kami becerite dengan kance-kance betape indahnye Curup Milang, tak terlupakan dan menjadi pengalaman hidup semase di SMA N 1 Merapi Selatan. Saya bekate, MARILAH KITE MENCINTAI ALAM DAN MENJAGANYA. Pesan saya pada kance-kance yang akan datang, KARENA ALAM SANGAT TERGANTUNG TERHADAP MANUSIE. JIKE KITE MENJAGENYE MAKE SEMAKIN INDAH DAN MENGHIBUR HATI KITE.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohandi XI IPA&lt;br /&gt;KEMAH CURUP MILANG SMA N 1 MERAPI SELATAN BERSAMA SMA N 1 MERAPI BARAT&lt;br /&gt;Saya dan teman-teman dari SMA N 1 Merapi Selatan berangkat ke Patung. Semua berkumpul terlebih dulu sebelum berangkat ke Curup Milang. Setelah kami berkumpul besame SMA Negri 1 Merapi Barat.  setelah semua berkumpul kami langsung menempuh perjalanan menuju Curup Milang. &lt;br /&gt;Kami semua kecapean. Kami merasa tidak sampai-sampai ke Curup Milang. Kami bertemu dengan air. Kami semua singgah di sungai itu, sambil mencuci muka. Sungguh terasa lega dan hilang semua rasa letih. Air yang kami singgahi itu sangat jernih dan segar. Lalu kami melanjutkan perjalanan.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian kami mendengar gemuruh air Curup Milang. Kami semua sangat senang mendengat suara air tersebut. Rasa capek kamipun, hilang entah kemana. Pemandangan yang sangat indah dan air terjun yang sangat menakjubkan. Hati kami sangat senang. &lt;br /&gt;Ketika kami sampai, kami langsung membuat tenda, untuk tempat kami tidur dan masak-memasak. Tidak lama kemudian, ada teman kami dari SMA N 1 Merapi Barat. ia mengajak kami untuk sholat Jumat. Karena kami terlalu capek, kami tidak bisa mengikuti sholat jumat yang dilaksanakan di tanah lapang. &lt;br /&gt;Hari mulai malam, kami mulai makan. Untuk memeriahkan perkemahan tersebut, kami berkumpul melaksanakan kegiatan tahun baru. Saya dan kawan-kawan sangat senang. Ketika malam tahun baru kami diminta untuk bernyanyi sambil bergitar. Setelah itu kami melanjutkan joget bareng cewek-cowok. Malam itu sangat seru. Kami merayakan tahun baru tanpa gangguan apapun.&lt;br /&gt;Semalaman saya, Doni dan Densih tidak tidur karena kami ngapel, sama cewek SMA N 1 Merapi Barat.  gak disangka-sangka kami dapat cewek pada malam itu. hati saya dan teman-teman sangat senang.&lt;br /&gt;Jam sudah menunju ke pukul 12 malam. Hati kami dak dik duk, bergetar, ketika melihat jarum jam terus berjalan. Tidak lama kemudian jam menunjukkan tepat jam 12 malam. Kami bernyanyi bersama-sama dan bergitar yang sangat heboh.&lt;br /&gt; Oooo... sangat seru malam itu . tak terbayangkan kalau kami akan merayakan tahun baru berada di Curup Milang. Curup Milang yang indah tanpa henti. Rasanya kami tak mau pulang, karena menikmati sejuknya udara, pohon-pohon bergemulai terkena angin yang terus berhembus. &lt;br /&gt;Hari mulai siang, kami semua mandi. Kemudian kami melaksanakan heking.  Dalam perjalanan heking, banyak sekali rintangan dan cobaan pada kami. Kami di hukum untuk berjoget, bernyanyi, menirukan gaya banci dan ditutup mata sambil berjalan.&lt;br /&gt;Oh sangat seru pokoknya. Ketika selesai melakukan heking, kami kembali mandi di Curup Milang sambil berfoto-foto di atas batu besar sekali. Setelah itu kami makan bersama. Setelah itu kami bersiap-siap untuk pulang. Kami membersihkan dulu tempat berkemah.&lt;br /&gt;Kami kumpul sebelum pulang, kami berdoa dan mengucapkan terimakasih kepada Curup Milang. Di lain hari InsyaAlloh  berjumpa lagi. Kami berdoa lagi untuk menutup acara itu. setelah itu kami langsung pulang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-4223122641328426740?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/4223122641328426740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2011/12/air-terjun-milang-dalam-catatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4223122641328426740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4223122641328426740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2011/12/air-terjun-milang-dalam-catatan.html' title='AIR TERJUN MILANG DALAM CATATAN PERJALANAN'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Q916TctkftI/TtkDOv6SJgI/AAAAAAAAAYc/98H1LUA6zVg/s72-c/milang1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-125462109447181784</id><published>2011-11-23T23:39:00.000-08:00</published><updated>2011-11-24T00:02:49.733-08:00</updated><title type='text'>PEMENANG LIGA MONOLOG INDONESIA DIBOYONG TEATER GENDING MUARAENIM</title><content type='html'>Oleh Jajang R Kawentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetisi Liga Monolog Indonesia (LMI) #1 yang digelar di Gedung Kesenian Dewi Asri Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Jalan Buah Batu Kota Bandung Jawa Barat oleh Konsorsium LMI #1 pada 7-11 Novenber 2011 lalu, mempertemukan aktor-aktor teater muda dari beberapa wilayah Indonesia. Mereka menunjukan kebolehannya dalam berakting, dengan membawakan cerita-cerita tentang kearifan lokal. Namun para aktor muda tersebut tidak hanya mengaktualisasikan kemampuan dalam berakting saja, tetapi juga saling berbagi pengalaman dan menyambungkan silaturahmi diantara para pekerja teater dan sekaligus kelompok-kelompok taater dari berbagai daerah yang dimotori oleh kaum muda Indonesia. &lt;br /&gt;Kompetisi Monolog yang direncanakan tahunan ini mengambil tema ‘Lokalitas adalah Identitas’ diisi kegiatan Bakti Aktor, Workshop Keaktoran, Diskusi Keaktoran, Pameran, dan Deklarasi Perserikatan Aktor Muda Teater Indonesia.&lt;br /&gt;Satu-satunya peserta LMI dari Sumatera Selatan adalah Teater Gending Kabupaten Muaraenim, dan dalam kesempatan itu pula Teater Gending meraih peringkat pertama sebagai aktor terbaik sekaligus Duta Aktor Muda Indonesia dalam kompetisi LMI tersebut. Dalam hal  ini Fikri MS, sebagai ketua dari Teater Gending Muaraenim sebagai sutradara sekaligus aktor monolog tersebut dan membawakan naskah Rebana yang ditulisnya sendiri. Fikri MS membawa 4 orang kru pendukung penyempurna performancenya. Dodi Irawan, sebagai penata musik, Hendrik K, Adeh Arianto dan Dodi penalosa pemain musik. Ilustrasi musik ini sangat membantu dalam menghidupkan suasana dan menggerakkan suasana masa silamkesenian rebana di Muaraenim ke dalam apresiasi para penonton.&lt;br /&gt;Hanya sebuah kursi kayu dan satu Rebana besar sebagai teman bermain monolog, Fikri MS mampu merebut perhatian para penonton. Dengan kostum bergaya melayu lama, dia begitu menjiwa. Kenapa tidak Fikri MS merupakan aktor, sekaligus dia sebagai motor dalam menghidupkan kembali kesenian rebana di Muaraenim saat ini. Jadi berbagai harapan dan kendala yang dihadapinya saat ini jelas menjadi bagian dari kehidupannya. Sehingga begitu mudahnya dan mengalir saja ketika mengungkapkan setiap kata  dan kalimat dengan logat Muaraenim Sumatera Selatannya di atas pentas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rebana Sebagai Simbol Perlawanan &lt;br /&gt;Naskah Rebana, mengisahkan bagaimana sebuah perjuangan seorang Salam Said pada masa muda dengan kawan-kawannya sampai kini mempertahankan kesenian Rebana. Dengan sebuah rebana sebagai koneksi pengingat ke dalam masa silamnya itu, mampu menembus aura dan roh masa silam dengan tabuhannya yang menawan. Rebana yang pada masanya merupakan kesenian idola masyarakat Muaraenim, terutama para remaja. Saat ini harus terus berperang melawan seni dari negeri asing yang terus berdesakan melalui berbagai macam sisi dan teknologi. Umumnya anak muda tidak hirau lagi dengan kesenian rebana. Sementara Salam Said sendiri tak berdaya, hanya berharap akan ada orang yang membantu dan memahami betapa indahnya kesenian yang menjadi denyut nadinya itu. Serta ia berharap ada sebuah generasi yang bisa mmelelstarikan kesenian ini.&lt;br /&gt;Rebana sebagai alat musik utama pengiring tradisi arak-arakan menyambut pengantin sunat atau pengantin pernikahan di daerah Muaraenim. Muaraenim sendiri merupakan kota tua sebagai cikal bakal terbentuknya sebuah kabupaten. Seni tradisi arak-arakan muncul sebagai hiburan, juga menyampaikan pesan-pesan keagamaan dan pepatah atau wejangan.&lt;br /&gt;Naskah monolog Rebana ini sesungguhnya merupakan sebuah kritik terhadap anak muda Muaraenim dan terhadap masyarakatnya, mungkin juga terhadap pemerintahan yang mengayomi kesenian tradisi atau budaya daerah. Karena tidak mendapat perhatian, untuk mengembangkan dan ikut melestarikannya.&lt;br /&gt;Dalam monolog tersebut Rebana menjadi sebuah simbol perlawanan terhadap sikap generasi muda yang tidak perduli lagi dengan seni tradisi, bahkan cenderung melecehkan kesenian tersebut. Sesungguhnya kesenian rebana selaras dengan jiwa masyarakatnya. Sebab sejak nenek moyang lahir rebana menjadi satu-satunya alat  musik yang mudah di temui di daerah Sumatera dan mudah dipelajari tabuhannya. &lt;br /&gt;Ketika rebana ditabuh seperti sebuah genderang untuk segera memulai mencintai kesenian tradisi daerah. Seakan meneriakkan “ayo lestarikan kesenian kita sendiri”, buanglah sikap tidak perduli dan gensi menekuni kesenian nenek moyang kita. Fikri MS dan Teater Gending Muaraenim telah melakukannya serta berusaha mengembangkannya. &lt;br /&gt;Apresiasi LMI di Bandung merupakan wujud keseriusan dari kelompok Teater Gending Muaraenim dalam berkesenian, dan berusaha mewujudkan sebuah cita-cita luhur dengan meraih simpati para remaja di Muaraenim dalam menciptakan iklim berkesenian yang kondusif di daerahnya sendiri. &lt;br /&gt;Bagaimana apresiasi dari masyarakat daerahnya sendiri, Muaraenim, Dewan Kesenian, dan pemerintahannya? Tentunya sebuah kebanggaan bagi daerah memiliki para penggiat kesenian seperti yang dilakukan Fikri MS bersama anggota Teater Gending tersebut. Karena sebetulnya membangun kondisi berkesenian seperti yang dilakukan Teater Gending saat ini, sangat sulit. Tetapi mereka terus bergerak, mereka berbicara, tidak hanya ngomong namun diiringi dengan segudang karya dan prestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas Monolog di Tiga Kota&lt;br /&gt;Apresiasi yang diberikan dari Konsorsium LMI #1, Teater Gending Muaraenim dalam hal ini Fikri MS diberikan fasilitas untuk pentas monolog di tiga kota pada 14-31 Januari 2012. Pertama pentas di Kota tempat pemenang berada yaitu di Muaraenim,kedua di  Jakarta yaitu di Bengkel Teater Rendra dan ketiga di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. &lt;br /&gt;Selain mendapat fasilitas untuk pentas di tiga kota, Fikri sebagai aktor terbaik sekaligus Duta Aktor Muda Indonesia versi LMI 2011, ia mendapat Piagam Penghargaan, Tropy dan uang pembinaan sebesar 2,5 juta. Dengan diraihnya penghargaan ini, menjadi motivasi bagi Teater Gending untuk lebih giat memberdayakan kaum muda melakukan kerja-kerja budaya di Muaraenim khususnya dan Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;Teater Gending bisa dijadikan sebagai pilot projek dalam peran sertanya mengorganisir kaum muda Muaraenim untuk ikut mengembangkan dan melestarikan kesenian daerah. Disamping itu mereka berperan aktif mempromosikan kesenian daerahnya, dan berusaha menggali potensi kebudayaan daerahnya dengan mencoba menampilkan aplikasi berbagai bentuk drama ke dalam tradisi daerahnya. Sehingga bentuk tampilan karya-karyanya mengarah kepada bentuk yang khas, serta unsur lokalnya begitu kental. Seperti penggunaan logat, bahasa dan musik Muaraenim. &lt;br /&gt;Teater Gending sudah mampu mewarnai dan menggairahkan kehidupan kesenian di daerah. Kelompok atau komunitas seni yang berada di daerah lain patut belajar banyak kepadanya.   &lt;br /&gt;Penulis adalah Pembina Komunnitas Sastra Lembah Serelo dan guru SMA Negeri 1 Merapi Selatan Kab. Lahat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-125462109447181784?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/125462109447181784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2011/11/pemenang-liga-monolog-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/125462109447181784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/125462109447181784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2011/11/pemenang-liga-monolog-indonesia.html' title='PEMENANG LIGA MONOLOG INDONESIA DIBOYONG TEATER GENDING MUARAENIM'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-4258382573135906265</id><published>2011-01-04T11:05:00.001-08:00</published><updated>2011-01-04T11:10:08.319-08:00</updated><title type='text'>PECUNDANG</title><content type='html'>cerpen yadhi rusmiadi jashar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           "Aku bukan pecundang!!!" ujarku lantang di suatu rembang petang saat gemawan berarak pulang.&lt;br /&gt;           "Hehehehe, hidupmu selalu dirundung kekalahan, dari detak ke detik dan hari membulan-bulani tahun, kau tetap saja selalu kalah. Grafik hidupmu terus menurun dari waktu ke waktu, hampir menembus titik nadir. Hah, kau selalu kalah. kalah... kalah..." ejek Saya. Amarah masih bisa kutahan, sebab kutahu Tuhan sangat sayang padaku.&lt;br /&gt;           "Ingat tanahmu yang tergusur yang membuatmu terdampar di belantara hutan kota metropolitan ini? Tanah yang sempat membuat hidupmu sedikit lapang itu kini menjadi pemukiman mati. Itu kekalahan pertamamu. Kau kalah... kalah ... kalah..." kembali Saya mengejekku. Sengit.&lt;br /&gt;           "Kawan, tanah itu tanah leluhur. Kau tentu tahu, unggangku, pemilik pertama tanah itu, mendapat gelar Pahlawan karena mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan tanah air ini. Hanya sekedar mengorbakan tanah seupil, untuk kompleks pemakaman pula, masak penuh perhitungan. Lagian tanah itu tidak digusur gratis." jawabku.&lt;br /&gt;           "Tapi kini kau tak punya tanah, toh. Tak punya lagi rumah dan ladang sayur yang juga ikut tergusur. Uang ganti ruginya lari kemana, hayo. Dan satu lagi kekalahanmu, istrimu minggat, anakmu tidak tahu sekarang di mana. Saya tidak yakin anakmu turut mantan istrimu. Jangan-jangan sudah dijual orang, jadi babu atau mungkin melacurkan diri... Duh... duh... duh... kalau ternyata benar, berapa banyak sudah kau menabung kekalahan. Kalah... kalah.... kalah." Saya mencecar dengan penuh sindiran. Amarahku sudah di ubun-ubun.&lt;br /&gt;           "Setiap manusia membawa nasibnya sendiri-sendiri. Tuhan penuh kasih. Hidup mereka sudah ada dalam garisanNya. Ingat kawan, Tuhan tak akan menimpakan cobaan pada suatu kaum melebihi batas kemampuannya, ngerti kamu."&lt;br /&gt;           "Selompret... Tuhan kau bawa-bawa untuk menutupi kekalahanmu. Makan nih, bau kentut. Kau kalah... kalah... kalah... pecundaaaang!!!!"&lt;br /&gt;           "Diam kau. Dalam hidup tak ada kalah atau menang. Semua yang dialami manusia adalah pencerahan. Jangan kau anjurkan aku meloncat dari jembatan Ampera menuju dasar Musi."&lt;br /&gt;           "Kalau tanah tak digusur, aku belum tentu bisa mengenal kota metropolitan ini. Aku akan tetap terjebak dalam hirup-pikuk desa kecil bagai katak dalam tempurung. Kalau istriku tak minggat dan anak-anakku tak lari, aku mungkin tak diajarkan bagaimana rasanya tak bertanggung jawab pada orang lain. Seperti saat di dusun dulu. Sekarang aku belajar bertanggung jawab pada diri sendiri. Hal yang dulu kuabaikan karena aku sibuk menanggungjawabi orang lain...."&lt;br /&gt;           "Hallllaaaah.... kutu kuprettt... Simpan semua pencerahan itu. Itu hanya pengalihanmu atas fakta kekalahan yang bertubi-tubi menerjangmu. Kamu pengen rumahmu yang dulu, kan? Kamu pengen kebun sayur yang digusur dulu, kan? Kamu pengen beristri lagi, kan? Haah..., Itu burung lama tergantung, bulukan, tau!!! Hahahahahaha.... kamu... kamu... dasar pecundang, banyak alasan," tawa Saya memecah awan berarak menjadi lima bagian. Empat bagian ngacir, terbirit lari meninggalkan satu bagian yang tergagau pakam.&lt;br /&gt;          "Sudahlah... hidupku aku yang menanggung, rumah suatu saat kumiliki lagi, beserta ladang sayur dan istri baru," suaraku sudah tak keras lagi. Lirih.&lt;br /&gt;           "Kapan, bro? Kapan? Hahahahaha... Menunggu matahari berada sejengkal dari kepala. Hahahaha." Saya terus mengusikku dengan ejekan-ejekan pedas.&lt;br /&gt;           Pedas dan pahit. Begitulah kenyataannya. Aku terpaksa harus membenarkan beberapa ejekan Saya. Mungkin benar Aku adalah pecundang sejati. Sejak dilahirkan, kemalangan selalu merundungku. Umakku meninggal selang beberapa jam kelahiranku. Bak lalu menitipkanku pada munting, istri dari adik ibu. Selama dalam pengasuhan munting, sampai meranjak dewasa, selama itu pula kerap aku menyaksikan perbalahan besar munting dan mangsak. Setelah dapat berpikir, aku kerap merasa akulah yang menjadi penyebab perbalahan mereka. Aku minggat, pulang ke rumah asal, rumah unggang yang didiami bak.&lt;br /&gt;           Aku menikah juga karena terpaksa. Eh, maksudnya dipaksa. Ceritanya, aku dijebak dan dipaksa menikahi gadis yang sudah bunting dua bulan. Ceritanya, malam itu aku bertandang ke rumahnya. Biasa, anak muda yang baru beranjak dewasa. Baru setengah jam ngobrol di ruang tamu, di luar rumah orang sudah ramai. Ada wak kadus juga. Aku lalu dibawa ke rumah wak kadus dan disuruh menandatangani surat perjanjian untuk menikahi gadis yang baru sekali kutemui. Aku dan bak tak dapat berbuat banyak mendapat desakan warga hampir separuh dusun. Akhirnya, aku mengawini gadis yang sudah bunting dua bulan! Jadilah dia istriku. Tapi, aku menerimanya dengan besar hati. lagi pula istriku tidak banyak tingkah, patuh, dan mampu mengambil hati bak yang mulai sakit-sakitan. Sebelum anak pertamaku lahir, bak sudah pulang.&lt;br /&gt;           Dalam hidup, satu-satunya kebahagiaan yang tak terkira dan kuanggap sebagai kemenangan adalah saat anak-anakku lahir.&lt;br /&gt;           Lahir. Tapi, jangan anggap pula kelahiran anak-anakku sebagai kekalahan. Ketiga anakku bernasib sama, tertahan di rumah sakit kabupaten dan keluar bukan dari lubang semestinya. Lahir lewat perut!!! Istriku pendarahan serius. Anakku tertahan karena biaya operasi kurang. Duh... Sampai masuk koran, lagi.&lt;br /&gt;           "Kenapa merenung," usik Saya lagi.&lt;br /&gt;           "Memikirkan segintir kemenangan yang pernah diraih?"&lt;br /&gt;           "Hhhhhh"&lt;br /&gt;           "Atau, kau ingin merasakan menang dengan mudah?&lt;br /&gt;           "Atau kau ingin melupakan tumpukan kekalahanmu?"&lt;br /&gt;           "Hahahahahahaha... Hidup jangan terlalu lurus, bung. Bengkok-bengkok sedikit ya tidak apa-apa." ujar Saya beruntun. Menghipnotisku.&lt;br /&gt;           "Ah, Tuhan ajari aku memaknai kekalahan. Hidup semakin sulit. Sehari kadang tak makan. Petak kost yang kusewa di 22 Ilir, keseringan telat bayarnya. Mulut ibu kost yang datang menagih terpengat-pengot meninggalkan gerutu sambil tak lupa menebarkan ancaman pengusiran. Becak yang baru kusewa kadang berlari mencong menghindari uberan Pol PP. Aku benar-benar terpuruk di sini. Tak ada yang bisa kulakukan untuk mengembalikan hidup seperti semula. Hanya azan dari Masjid Agunglah yang selalu mengelus dadaku. Melembutkan hati agar aku tak berbuat aneh dan nekat. Tapi, sampai kapan aku bisa bersabar dan ikhlas?" ujarku lirih tanpa suara.&lt;br /&gt;           "Hmmmm.... kawan, rupanya kau menyadari kekalahanmu. Kasihan. Tidak apa kawan. Aku bersamamu. Aku tahu apa yang berkecamuk di otak dan hatimu," kini suara Saya begitu lembut. Mendayu-dayu. Menggamit ruang hatiku yang sedari dulu memang telah ragu.&lt;br /&gt;           "Kawan... Hidup ini sulit dan berat. Kau hanya butuh secuil keberanian untuk mengembalikan hidupmu yang dulu. Belilah linggis dan obeng. Bila uang masih cukup, beli pula pemotong rantai."&lt;br /&gt;           "Ah, tidak. Aku tahu kau takkan punya keberanian untuk melakukan itu. Kau lihat puncak menara jembatan Ampera. Kau akan menemukan kebahagiaan di sana. Panjatlah kawan. Tuhan menunggumu di sana. Dia akan janjikan sebuah rumah dan istri yang cantik. Buatlah kontrak denganNya. Ya, di sana di ujung telunjuk Saya."&lt;br /&gt;           Aku memanjat salah satu menara kembar jembatan Ampera. Menuju puncak. Lalu angin bersiur kencang membuat rambut dan pakaianku melambai-lambai. Namun, di puncak menara, aku tak menemukan Tuhan. Aku hanya menemukan iblis yang tersenyum menawarkan perkawanan. Mukanya hitam, rambut jarang, kupingnya yang besar dan runcing sesekali saling bersentuhan dihembus angin kencang. Urat-urat yang membintat di matanya dan giginya yang taring semua, tak sedikitpun membuatku takut. Kukunya yang panjang kecoklatan mengimbangi tangannya yang melampai panjang. Senyumnya kembali mengembang, membujuk tanpa suara. Sementara di bawah menara jembatan Ampera, deru mobil dan motor mengeluarkan suara bising, terdengar jelas dari atas menara. Di sungai, ketek dan tongkang berlalu lalang membawa penumpang, hasil bumi, dan bahan bakar minyak oplosan. Menyeberang atau mengantar orang ke pulau Kemaro.&lt;br /&gt;           Yah, biar dramatis aku berteriak kencang agar orang berkerumun menyaksikan aksi nekatku. Akan kubiarkan tim penolong memanjat menara dengan susah payah. Setelah mereka dekat, aku akan meloncat ke bawah. Tinggal pilih, ke aspal jembatan yang keras dengan kepala duluan, atau ke sungai yang menawarkan banyak kemungkinan. Ah, lebih baik ke sungai Musi. Aku hanya tinggal menunggu momen yang pas untuk terjun. Ya, penolong sudah dekat. Lalu, tanpa aba-aba, Aku meloncat bebas ke sungai, memilih pas pada sampah potongan-potongan bambu yang hanyut. Kemudian, mulut orang yang berkerumun menganga lebar melihat tubuh ringkihku meghunjam sebilah potongan bambu yang runcing, menusuk dari pantat tembus ke leher. Persis kambing guling. Sebagian orang pasti memalingkan muka, ngeri.&lt;br /&gt;           "Haaah, tidak kawan. Aku bukan orang bodoh yang tak punya iman. Sudah kubilang, jangan selalu kau anjurkan aku memanjat menara jembatan Ampera." Aku mengeluh panjang.&lt;br /&gt;           "Tolooool..., Dasar pecundang!!!"&lt;br /&gt;           "Cukuup.... Jangan kau sebut lagi aku pecundang. Nanti kubunuh kau." amarahku yang sudah mendingin kini kembali membara.&lt;br /&gt;           "Hahahahaha.... Pecundang sepertimu mana pernah punya keberanian membunuh."&lt;br /&gt;           "Jangan buat aku berbuat kasar. Aku sudah muak padamu."&lt;br /&gt;           "Selagi kau tak mau menjadi pemenang dalam kehidupan, sekaliiii saja, Saya akan tetap menyebutmu pecundang... orang kalah... kalah.... kalah," kembali Saya menyindir sambil tertawa parau.&lt;br /&gt;           Aku sudah tak tahan, amarahku sudah tak dapat kukendalikan. Aku masuk ke petak kost, mengambil sebilah pisau lalu kembali keluar. Petang mulai meremang. Sepi.&lt;br /&gt;           "Huahahahaha.... Pisau dapur tumpul!!! Kau takkan berani membunuhku. Tak berani!!! Pecundang."&lt;br /&gt;           "Cukup.... cukup. Aku bukan pecundang. Hah, di mana kau. Hayo jangan bersembunyi. Kau belum tahu betapa tajamnya pisau dapur yang kau anggap tumpul ini." Aku benar benar kalap.&lt;br /&gt;           "Hahahahaha... Saya tidak bersembunyi, pecundang. Saya di lehermu. Eiitt..., tidak. Sekarang Saya ada di pergelangan tanganmu...."&lt;br /&gt;           Belum selesai Saya berujar, tiba-tiba, "Hhiiiih...."&lt;br /&gt;           Bressss.... dengan kekuatan penuh, pisauku mencari Saya. Darah segar pun mengalir dari pergelangan tanganku.&lt;br /&gt;           Gelap.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~~muaraenim,30/12/10~~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Unggang: kakek&lt;br /&gt;Bak: ayah&lt;br /&gt;Umak: ibu&lt;br /&gt;Munting: bibi, istri dari adik ibu.&lt;br /&gt;Mangsak: paman, adik ibu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-4258382573135906265?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/4258382573135906265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2011/01/pecundang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4258382573135906265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4258382573135906265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2011/01/pecundang.html' title='PECUNDANG'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-115194586268160467</id><published>2011-01-04T10:56:00.000-08:00</published><updated>2011-01-04T11:01:31.627-08:00</updated><title type='text'>DEMI PURNAMA</title><content type='html'>Cerpen Pion Ratulolly[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi purnama. Demi waktu yang sempat tertahan. Kau ada dimana? Sedang aku masih setia menatap purnama kelimabelas di malam ini. Katakan kepadaku, hati siapakah yang tak berdetak kagum melihat dewi malam tengah ramah membagikan senyum pengharapan pada para penghuni alam? Di mata sejuk, di hati lembut dan di bibir decak doa senantiasa bertasbih, katamu dulu. Andai saja jarak bukan menjadi pemisah jumpa, ingin kudaki tangga langit, kudapati dewi malam, lalu bersujud langsung di hadapannya, sembari memanjatkan berjuta pohon pinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, purnama naik ke tangga lima belas, di sepuluh tahun lalu. Aku bersama dirimu, istriku, sedang senang memandang bulan. Bagi kita, rembulan adalah harapan. Harapan bisa terkabul saat kedua mata kita tak pernah berkedip menyaksikan bintang jatuh di bulan purnama. Di detik itulah, kedua tangan kita tengadahkan ke langit. Sambil merapal sebuah keluhan sederhana; Duhai Sang Rembulan,  percayakanlah pada kami satu saja anak Adam-Mu, untuk kami lahirkan dari rahim kasih dan sayang kami berdua. Mantra yang saban purnama kita panjatkan. Diiringi sesegukan tulusmu untuk meminta belas kasih Rembulan. Semoga Ia berkenan menjatuhkan seorang momongan dari langit malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang!” Kuhafal benar desahan nafasmu waktu itu. Sementara aroma keringat peluhmu terasa sedikit memabukan keinginanku untuk membelaimu. Memanjakanmu mesra di atas bale-bale sambil membayangkan betapa indahnya bermain-main dengan bocah-bocah kecil keturunan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Adikku.Lenganku selalu kusediakan untukmu bersandar sebelum dan setelah engkau letih melantunkan doa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya aku telah kecewa pada rembulan, Bang. Selama ini, dia telah menutup kedua telinganya untuk mendengar keluh kesah kita.” Matamu nanar menatapku. Semburat senyum sangsi membekas di bibir tipismu. Aku dapat membaca kelebat durja dari sorot mata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan berkata seperti itu, Sayang. Kesabaran kita sedang diuji.” Aku sedikit kecut membagikanmu sebuah senyuman sederhana. Tak seberat persoalan yang tengah kita hadapi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti itu katamu dari dulu. Tak pernah berubah sepatah kata pun. Seperti rembulan yang tak pernah kunjung mengabulkan pinta kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang, semua ikhtiar sudah kita lakukan. Dari tradisional maupun medis. Tetapi rupanya kita masih kurang dipercayai oleh Sang Rembulan untuk merawat anak keturunannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harusnya kamu percaya apa kata Ama Meddo. Kita berdua tidak mandul. Kita sedang diteluh. Disihir untuk tidak punya keturunan. Buktinya, Ibu Bidan bilang rahimku sehat. Tetapi aku merasakan rahimku seperti tertusuk-tusuk jarum. Apa lagi kalau bukan teluh? ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan berkata seperti itu, Sayang. Bersabarlah. Mungkin tidak hari ini, mungkin esok kita akan diberikan momongan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, selalu saja begitu. Lama-lama aku jadi tak betah. Ceraikan aku sekarang juga!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersentak. Sebuah tombak ketakpercayaan yang tajam nian, tiba-tiba menghujam dadaku. Sakit. Pedih. Aku tak menduga jika kau akan berputus harapan seperti saat ini. Betapa sebuah gubuk rumah tangga yang selama ini telah kita bangun di atas fondasi saling pengertian harus diruntuhakan lantaran keputusasaanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam sekejap aku jadi meradang. Marah dengan segala ketaknyamananku selama ini. Jangan dikira aku juga bahagia jika tak memiliki keturunan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kita cerai! Aku menceraimu dengan talak tiga.” Tanpa rencana, kalimat itu serta-merta meloncat keluar dari mulutku. Bibirku bergetar. Nafasku memburu. Mataku memerah ganas. Panas ragaku. Serasa semua ruh makhluk halus masuk ke dalam tubuhku lalu menjadikanku seolah sebuah monster yang amat mengerikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tragis, sungguh sebuah drama tragedi sedang dikemas. Engkau malah terjatuh. Kejang-kejang. Tubuhmu bergetar-getar. Kusaksikan engkau sedang berperang melawan sesuatu dalam dirimu. Mulutmu meracau-racau tak jelas. Umpat, caci dan maki keluar berhamburan. Engkau kesurupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjadi hilang amarah sekejap. Besarnya rasa belas kasih di dalam dadaku sekejap waktu langsung mengalahkan amarahku yang sudah memuncak sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsat! Anjing! Aku tak akan pernah berhenti mengejarmu. Sampai ke liang lahar sekali pun. Hahaha!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ada apa lagi ini? Mengapa semua harus seperti ini? Mengapa istriku yang hendak kucaraikan harus mencaci-makiku sepedis ini? Tak sekali pun aku diperlakukan serendah ini oleh istriku selama ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu, aku siapa?” Kulihat wajahmu memerah sungguh. Sinar matamu ganas menatapku penuh dendam. Sebuah dendam lama yang telah lama kau pendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendekatimu. Berupaya memegang telapak tangan kananmu dan menekannya. Berharap kalau ada makhluk halus yang masuk dapat kudesak keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heiii!!!! Sedang apa kau? Kau pura-pura lupa, siapa aku?”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih berusaha sekuat tenaga menekan telapak tanganmu. Di antara ibu jari dan jari telunjukmu, kutekan lebih kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau masih ingat, Ina Barek, lelaki bejat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astagga!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku semakin tersentak. Dan tanpa lagi melihatmu, aku lari meninggalkanmu. Menutup kedua telinga atas apa yang baru saja aku dengar. Aku ingin menjauh dari segala kenyataan atas apa yang baru saja terjadi. Aku berlari dengan sekuat sisas tenagaku. Sekencang mungkin. Kalau pun harus terjatuh dan mati, aku tak takut. Saat ini mati adalah pilihan yang mungkin masih lebih baik dari pada harus menghadapimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku harus lari. Aku harus menjauh darimu. Sebab di dirimu saat ini bukan hanya bersemayam dirimu saja, tetapi juga Ina Barek. Gadis di sebelah kampung yang ditemukan tak lagi bernyawa di pinggiran kali kampung. Ia meninggal dengan tragis karena dicekik seseorang. Tapi kasihan, ia tengah hamil. Dan tahukah kamu, istriku, anak yang dikandungnya dan dibawa mati bersamanya, adalah anakku juga. Anak yang kubenihkan di saat malam purnama. Di saat engkau tengah berdoa menanti anak dari rembulan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi purnama. Demi waktu yang sempat tertahan. Kau ada dimana? Sedang aku masih setia menatap purnama kelimabelas di malam ini. Katakan kepadaku, hati siapakah yang tak berdetak kagum melihat dewi malam tengah ramah membagikan senyum pengharapan pada para penghuni alam? Di mata sejuk, di hati lembut dan di bibir decak doa senantiasa bertasbih, katamu dulu. Andai jarak bukan menjadi pemisah jumpa, ingin kudaki tangga langit, kudapati dewi malam, lalu bersujud langsung di hadapannya, sembari memanjatkan berjuta pohon doa. Maafkan aku Ina Barek; perempuan pelampiasan keputusasaanku. Maafkan aku calon anakku.  Maafkan aku Ina Somi, Istriku. Maafkan aku yang tak pernah letih memandang purnama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupang, 04/01/2011&lt;br /&gt;Jam: 13:13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Pion Ratulolly, lahir pada 31 Desember 1986 di desa pesisir Lamahala, Nusa Tenggara Timur. Ia adalah peserta Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) bidang Novel di Kupang. Peserta PEKSIMINAS (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) IX di Jambi. Peserta Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjung Pinang. Menulis novel “atma” Putih Cinta Lamahala Kupang.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-115194586268160467?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/115194586268160467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2011/01/demi-purnama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/115194586268160467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/115194586268160467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2011/01/demi-purnama.html' title='DEMI PURNAMA'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-1235873794418929018</id><published>2010-12-13T23:18:00.001-08:00</published><updated>2010-12-13T23:27:32.033-08:00</updated><title type='text'>SASTRA LEMATANG ITU BERHEMBUS DARI LEMBAH SERELO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TQcbqOBVv_I/AAAAAAAAARg/XqrDfL20UY0/s1600/pinasti.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 226px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TQcbqOBVv_I/AAAAAAAAARg/XqrDfL20UY0/s320/pinasti.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550435477889597426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TQcbp2hdwfI/AAAAAAAAARY/TZqhldTlppQ/s1600/yudi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 94px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TQcbp2hdwfI/AAAAAAAAARY/TZqhldTlppQ/s320/yudi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550435471581889010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TQcbpsi1MVI/AAAAAAAAARQ/YvjGnDiZOCg/s1600/puisi%2Banak.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 124px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TQcbpsi1MVI/AAAAAAAAARQ/YvjGnDiZOCg/s320/puisi%2Banak.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550435468903264594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TQcbpa_3amI/AAAAAAAAARI/UdbKFaGr0NQ/s1600/ksls.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 138px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TQcbpa_3amI/AAAAAAAAARI/UdbKFaGr0NQ/s320/ksls.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550435464193206882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TQcbqUnUgWI/AAAAAAAAARo/7feyiSX_SEM/s1600/jajang.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 182px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TQcbqUnUgWI/AAAAAAAAARo/7feyiSX_SEM/s320/jajang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550435479659512162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Jajang R Kawentar&lt;br /&gt;Komunitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] berada di puncak bukit Desa Pagarsari Kabupaten Lahat. Dibangun sekitar tiga tahun lalu, dimana [KSLS] ini masih kesinambungan dengan Akademi Sastra Palembang [ASAP] yang berdiri pada tahun 2005 dan [ASAP] sendiri kelanjutan dari Sanggar Air Seni [SAS] Palembang yang telah menerbitkan Antologi Puisi Catatan yang Hilang karya Anton Bae, Buku Peler Negriku, antologi Puisi Martil, antologi Puisi Silat Lidah karya Jajang R Kawentar dan antologi puisi bersama Sahabat Datang dengan Cinta karya Siswa SMA Pusri Palembang.  &lt;br /&gt;Anggota aktif [ASAP] Dahlia, Arimbi, Pinasti S Zuhri, Anton Bae, Pipit Hendra, dan Soufie Retorika. Beberapa orang yang juga aktif dalam aktifitas ASAP sebut saja; Handayani; Rendi Fadilah, Nurahman; Purhendi; beberapa penyair tamu: Acep Zamzam Noor, Raudal Tanjung Banua, T. Wijaya, Iwan Soekri Munaf, Efvhan Fajrullah, Bambang Suroboyo (pelukis), Ilham Khoiri (wartawan Kompas). Buku yang telah diterbitkan [ASAP] Purnama di Jembatan Ampera karya Pinasti S Zuhri, Antologi Puisi 1001 Tukang Becak Mengejarku karya Taufik Wijaya, Buku Di Balik Itu Ada Juga yang Luka karya Ocop Akar dan yang belum sempat dibukukan adalah puisi karya Syamsu Indra Usman.&lt;br /&gt;Sering kali kegiatan dilakukan di Kambang Iwak Palembang sebelum berubah menjadi plaza seperti saat ini. [ASAP] masih di Palembang dan kepulannya bersama saya menjadi Komunitas Sastra Lembah Serelo di sebuah desa pinggiran yang berada di Kabupaten Lahat. Lama mencari orang yang ingin bergabung belajar mengenai sastra. Kemudian Pinasti S Zuhri dari Palembang menyusul kembali bergiat di [KSLS].&lt;br /&gt;Sesungguhnya Kabupaten Lahat kaya akan sastra tuturnya, namun saat ini sastra tutur itu mengalah karena sudah banyak siaran televisi yang menggantikan ceritera sastra tutur yang biasa dituturkan penuturnya. Generasi sastra tutur itu juga sudah sulit ditemukan. Hanya gitar tunggal masih bisa dinikmati pada acara tertentu, itupun jarang. Apalagi para penulis puisi boleh dibilang tidak ada, kecuali menulis karena kebutuhan tugas atau lomba saja hal ini dikatakan ketua Dewan Kesenian Lahat, Ismeth Inonu.&lt;br /&gt;[KSLS] didirikan bukan semata karena tidak adanya generasi penyair atau sastrawan akan tetapi karena keprihatinan akan seni budaya daerah atau seni tradisi yang kian tak lagi digeluti, karena faktor perubahan zaman. Setidaknya kami bisa mengungkap sejarah atau ceritera, seperti pepatah, pantun, atau silsilah puyang, aktifitas kesenian masa lampau dan selebihnya kalu ade jeme Lahat yang mau diajak menuju jalan yang benar (belajar sastra).&lt;br /&gt;[KSLS] memiliki program utamanya menggairahkan kehidupan sastra daerah, cenderung mengangkat tema-tema lokal, menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ungkapnya, cerita rakyat, dan mendokumentasikan bahasa lahat, pepatah bari dan menelusuri peninggalan seni budaya daerah. Kegiatan rutinnya berupa diskusi berbagai persoalan aktual atau bedah karya.&lt;br /&gt;Selain itu [KSLS] melakukan program penerbitan, buku yang sudah diterbitkannya Antologi Puisi Bujang Bedengkang yang berisikan puisi berbahasa Lematang dengan bahasa Indonesia, karya Yudistio Ismanto, Pinasti S Zuhri dan Jajang R Kawentar. Sementara buku lain yang siap diterbitkan antologi puisi bahasa Lematang Kekibang karya Yudistio Ismanto, Antologi puisi Perampok Lembah Serelo karya Jajang R Kawentar dan Antologi cerpen Anak Kapak  karya Pinasti S Zuhri. &lt;br /&gt;[KSLS] tidak hanya mencipta puisi tetapi menyelenggarakan kegiatan seperti pertunjukan, Melukis Bersama dan Parade Puisi, Ngamen Puisi Wiji Thukul di beberapa sudut kota Lahat, dan baca puisi dalam rangka pengumpulan dana untuk korban Merapi dan Mentawai. Kami juga akan menyelenggarakan seminar bahasa daerah dalam membangun kareakter generasi muda. Kami yakin bahasa daerah akan menumbuhkan rasa nasionalism dan kecintaan terhadap seni budayanya.&lt;br /&gt;Sebagai warga Kabupaten Lahat dan warga Indonesia yang belajar sejarah dan budaya, maka kami harus mengangkat dan mengembangkan seni budaya daerah dimana kaki dipijak dan langit dijunjung ini. Harapannya masyarakat yang tidak pernah menulis sejarah kebudayaannya maka sejak [KSLS] bergerak maka masyarakat akan memulai menulis. Hal ini kami sebut dari tradisi lisan beralih ke tradisi tulisan. Dengan demikian terjadilah perubahan mendasar dalam cara pandang masyarakat terhadap sejarah, nilai intelektual atau nilai sebuah karya. Mungkin ini adalah lebay, tetapi ini adalah mimpi yang selama ini kami pupuk, dan kami selalu berdoa dan tuhan mengabulkan doa kami ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-1235873794418929018?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/1235873794418929018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/12/sastra-lematang-itu-berhembus-dari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/1235873794418929018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/1235873794418929018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/12/sastra-lematang-itu-berhembus-dari.html' title='SASTRA LEMATANG ITU BERHEMBUS DARI LEMBAH SERELO'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TQcbqOBVv_I/AAAAAAAAARg/XqrDfL20UY0/s72-c/pinasti.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-3068882491357377640</id><published>2010-11-30T21:18:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T21:22:05.491-08:00</updated><title type='text'>PANTUN-PANTUN SAINS FISIKA SD/SMP/SMA (MARET 2010)  DAN PANTUN NASEHAT (BUNGA RAMPAI)</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamdi Akhsan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOPIK 3 : GAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sholat kita memohon,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti orang bermeditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab buah jatuh dari pohon,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua karena gaya gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke lapau mencari benang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;benang dipakai jahit kupiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau bendanya tetap tenang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu pertanda tiada gaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepeda jatuh karena kedukan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedukan diambil dari selaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap benda berubah kedudukan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena akibat adanya gaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersikat setelah makan nasi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;habis bersikat mesti berkumur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;contoh hukum aksi-reaksi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti narik timba di sumur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOPIK : GERAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yasinan bersama dusun makarti,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bawa rombongan terus bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat benda berarti,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena ada gerak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seruling ulu ribang kemambang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditiup oleh bujang merasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siswa jangan ragu dan bimbang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gerak jatuh bebas karena gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jarum jam berputar-putar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena bandul bergetar-getar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gerak yang bergelung seperti ular,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pasti namanya gerak melingkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOPIK : VEKTOR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;panglima datang memberi saran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saran bagus bagi yang dipertuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;skalar itu punya besaran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau vektor punya besaran dan satuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cacing takut tergilas traktor,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bunyinya nyaring berdentum-dentum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;contoh yang bagus untuk vektor,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adalah gaya dan momentum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke kampus bersama naik motor,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;motor diparkir biar terurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau digabung dua vektor,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;carilah akar kuadrat cosinus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BESARAN DAN SATUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diawal sulit tidak mengapa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti mengukir diatas batuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ananda belajar IPA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimulai dari besaran dan satuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berpohon satu sampai berbuah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah sifat tanaman bulanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besaran itu adanya dua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada yang pokok ada yang turunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di payakumbuh ada situjuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tempat orang membuat rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;besaran pokok ada tujuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;besaran turunan anaknya pokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; diawal hidup manusia hampa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti mengukir diatas batuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ananda belajar IPA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimulai dari besaran dan satuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berpohon satu sampai berbuah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah sifat tanaman bulanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besaran itu adanya dua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada yang pokok ada yang turunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekam dibuang tidak mengapa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi jangan dibung asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudahi dulu urusan IPA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nanti urusi ilmu sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANTUN NASEHAT MARET (BUNGA RAMPAI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berburu rusa ke padang jati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sambil berkemah membawa beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau jadi pria sejati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hendaklah selalu bekerja keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bertanam sayur di kebun jati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah kerja para petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukan termasuk pria sejati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suami yang suka memukul istri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gadis minang bernama zaleha,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;merintih sakit tertusuk duri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan hidup berleha-leha,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biar terjaga harga diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menulis buku pakailah pena,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk disimpan jadi kenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dunia ini hanyalah fana,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua hanya untuk kesenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ikan belida dimakan dara,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kurang teliti durinya lekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingatlah selalu wahai saudara,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kematian telah semakin dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak nelayan pergi melaut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berbekal dayung membawa kikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar dimudahkan sakaratul maut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;basahi selalu lidah dengan zikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak seriti pandai berenang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengajak itik untuk belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar hati selalu tenang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bacalah quran diwaktu fajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak dara mandi di ulu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memakai sabun semerbak bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adzan subuh bertalu-talu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengapa dikau menutup telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bergantung pigura dikait paku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membingkai foto indah warnanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beruntung engkau wahai saudaraku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat subuh  bergegas menghadapNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak dara ziarah ke makam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terasa sedih meratapi diri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;air diminum rasa sekam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nasi dimakan rasa duri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lukisan batu dari pahatan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dibuat seniman setiap masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;luka yang tidak kelihatan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;darah mengalir baru terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ogan kiri airnya hangat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ogan kanan airnya dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berjuang hidup harus semangat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;walaupun terhalang banyaknya ingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mencari obat jangan ke dukun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;carilah obat yang dibenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mencari hidup haruslah tekun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan lupa kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harimau rimba raja kuasa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;didampingi gajah sebagai menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siang mencari malam usaha,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk masa depan anak dan istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi sabtu ke tanjung sakti,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tempatnya jauh di bukit barisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pergi merantau berhati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jagalah lidah dan perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inderalaya,26 November 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Faqir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-3068882491357377640?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/3068882491357377640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/pantun-pantun-sains-fisika-sdsmpsma.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3068882491357377640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3068882491357377640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/pantun-pantun-sains-fisika-sdsmpsma.html' title='PANTUN-PANTUN SAINS FISIKA SD/SMP/SMA (MARET 2010)  DAN PANTUN NASEHAT (BUNGA RAMPAI)'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-2831218452510404687</id><published>2010-11-30T21:02:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T21:11:40.480-08:00</updated><title type='text'>PANTUN-PANTUN PEMBELAJARAN SAINS-I</title><content type='html'>PANTUN-PANTUN PEMBELAJARAN SAINS-I (1-15 MARET 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Fisika Modern,Fluida,Listrik Magnet,Momentum,Gaya, Tubuh Manusia, dan lain-lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamdi Akhsan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANTUN FISIKA MODERN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beli radio merk politron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;radio dibeli untuk didenger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tahu prilaku elektron,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belajar persamaan Schroedinger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lubuk dalam dirantau alai,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kesana pemancing berekreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lambang garpu adalah swanilai,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karenanya harus ternormalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sang guru mengajar organisasi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk pengurus osis disitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;supaya garpunya ternormalisasi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buat integral kuadratnya satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke pasar tuan membeli peti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk dipakai menyimpan beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau tuan sudah mengerti,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;uraikan persamaan partikel bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOPIK : TUBUH MANUSIA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tempe dimasak didalam wadah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagai bekal berburu rusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tahukah ananda fungsi lidah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagai alat pengecap rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jauh sawah bertanamam padi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;padi ditanam dikampung bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalur utama pembuluh nadi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pembuluh balik jalur kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cahaya mentari datangnya pagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mentari siang panas menggelitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cara mekanik dikunyah gigi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memindahkan di usus gerak pristaltik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mang ujuk makai seluar kuning,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seluar dipakai main tamia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masuk mulut putih keluar kuning,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu karena reaksi kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kabar da'jal sudah tertentu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akan sebarkan hawa amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau ginjal sudah berbatu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;air kencingpun bercampur darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;air kelapa membikin lemas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjadi medium malaria tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;airmata anda jadi pelumas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melindungi dari gesekan tubuh .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hutan paling luas di kalimantan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di hutan banyak laba-laba,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa fungsinya tangan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tangan berguna untuk meraba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dihutan bernyanyi burung budbud,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bernyanyi pilu terdengar sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikepala akang dikasih rambut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biar otak tidak mendidih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;singa gurun wataknya ganas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;raja rimba dianggap enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selain untuk pelindung panas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rambut bikin si akang ganteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOPIK 3 : TUBUH MANUSIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suara mercon bunyinya nyaring,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dipakai untuk mengambil madu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;supaya racun bisa disaring,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diberi kita sepasang empedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertapa malam di situ gintung,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berlomba terbang si kelelawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;betapa pentingnya guna jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memompa darah masuk keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pencuri di arab dihukum dera,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mata ditutup cambuk menggelegar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;fungsi dari dua panca indera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mata melihat telinga mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke pasar pergi membeli bubur,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bubur ditamakan pada jam tujuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau mata sudah kabur,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mamang pake kacamata jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalan kaki ke pedataran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masuk jalan harus berjejer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan tuan merasa heran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masuk genjer keluar genjer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terong dimasak campur tahu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikasih potongan daging ati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tolong ajari mereka yang tahu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beda sakit lever dan sakit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RANTAI MAKANAN, KOMUNITAS &amp; SIMBIOSIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau berkemah memasang tenda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tenda dipasang di halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tikus sudah tiada,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alamat dapur ibu tak aman .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membuat tapai dengan ragi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ragi ditumbuk ditebar rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengapa elang tiada lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ribuan tikus habis dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seruling kereta ada didepan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berbunyi nyaring sampai terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saling memakan dalam kehidupan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rantai makanan itu disebut .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seiring malam mentari redup,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seram terdengar suara burung butbut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saling untungkan antar yang hidup,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;simbiosis mutualisme itu disebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sifat lumut di hutan basah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidupnya seperti hewan pemalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sifat hidup yang getah basah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah contoh tanaman benalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;layang-layang terbang di angkasa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menembus hujan yang memancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cakar elang yang perkasa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mencabik makanan sampai hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kangen kelapa diambil naik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jatuh setandan berkaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau tiada kerbau yang baik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;burung jalak akan kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CIRI MAKHLUK HIDUP TERTENTU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hiasan akhlak dak pernah lekang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memandang manusia sama rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hewan yang punya tulang belakang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mamang panggil dia VERTEBRATA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke pasar membeli tikar selembar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tikar dipakai tidur anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau hewan berkuping lebar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pasti berkembang dengan beranak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau tuan pergi ke hulu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan lupa membawa tikar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau beranak dari dahulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disebut dengan hewan vivivar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ciamis tanahnya rata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berkelok jalan ke cisarua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ciri utama vertebrata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berkaki empat beranak jua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;burung belibis terbang tinggi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menembus awan ke selatan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beruang es digolongkan lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagai hewan pemakan ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke pasar membeli minyak samin,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;habis dipakai dimasak nyonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau ada yang ganti kelamin,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hewan belut contoh makhluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau ujian jangan mengepek,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengepek itu jelek hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau pengen makan mpek-empek,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;olahlah ikan pisces kerennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau ngantuk suka menguap,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terasa ngobrol jadi lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau tuan bisa menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tolong jelaskan gunanya tuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOPIK : FISIKA MODERN (LANJUTAN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian kertas membuat jengkel,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampai dirumah dibahas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan dualitas gelombang partikel,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua bagiannya relasi de broglie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tertabrak mobil saat maraton,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berubat mahal walau gamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tabrakan elektron urusan compton,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi  pantun urusan mamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dunia pantun tak ada intrik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rakyatnya senang tidak monoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dijelaskannya efek foto listrik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rasanya dengan energi foton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;komik bagus pahlawan panthom,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cerita hebat jadi hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau anda mau tau inti atom,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pelajari rutherford punya hamburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membeli teve merek politron,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;teve dipakai untuk menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mau tau energi elektron?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bertanya langsung pada Neils Bohr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikejar ngebut jery oleh Tom,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lari ngacir didalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimana fungsi kulit atom,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disebut bilangan kuantum utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke pasar membeli kain batik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mendapat kain  merek tetoron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bicara bilangan kuantum magnetik,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;muncul karena orbital elektron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nyaring suara mulut si tuli,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditempat jauh terdengar samar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah bunyi prinsip pauli,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidak ada dua elektron sekamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOPIK 10 : FISIKA MODERN .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala Otonomi serba pintas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan banyak di kabupaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bertanya tentang relativitas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monggo langsung ke mbah einsten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rumah berdandan keren,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membawa anak yang keseleo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darimana membahas fisika moderen,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mulai dari transformasi gallileo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;celoteh anak ramai dikanal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada kursus untuk menggambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;contoh kenisbian waktu terkenal,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adalah kasus paradox kembar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membaca komik pahlawan panthom,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memiliki tenaga sekuat beton,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membahas tentang struktur atom,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mulailah dari donatnya dalton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;enak rasanya pindang ikan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ikan diasam biar kesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ernest ruterford sudah buktikan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inti berkumpul dititik pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; bergaruk gatal karna alergi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alergi dengan anak jangkrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana foton berenergi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diterapkan pada efek fotolistrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOPIK 9 : MAGNET&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendownload data pergi ke warnet,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;warnet asing untuk petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ilmiah disebut magnet,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;magnet di kampung besi berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kawan iblis adalah setan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setan mengajak dengan kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kutubnya magnet utara selatan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukan kutub positif negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;manis bubur bernama dawat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimakan dengan gula likat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;medan magnet disekitar kawat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dinamakan hukum biot-savart.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harum parfum abege genit,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melenggak lenggok badannya kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hukum lorentz tentang magnit,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membahas tarikan kawat berarus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ayam betina berputar genit,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dekati jago yang masih muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada beberapa bentuk magnit,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jarum batang dan tapal kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harapan dicapai dengan militansi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kerja keras jadi promotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hambatan lilitan disebut induktansi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kapasitansi hambatan dalam kapasitor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOPIK: SUHU DAN KALOR,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adik menunggu di penantian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kapan kanda pulang ke hilir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anda bertanya tentang pengertian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalor adalah panas yang mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berburu nasib di negeri hilir,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah alasan dak mau balek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagimana prinsip panas mengalir,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah landasan dari azas black.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat sholat hamba bersujud,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sujud memohon sambil bertaubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat benda berubah wujud,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suhunya tidak bisa berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beli telor untuk dimakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telor dimakan dengan teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;besarnya kalor yg diperlukan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tergantung massa, kalor jenis, dan temperatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;timbang cuka ditukar behas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;behas dimasak sayur ditumis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;termo dinamika akan membahas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;topik fluida statis dan dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cemara ditanam dihutan jati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tebang sebatang untuk digesek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ciri utama fluida sejati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terkena dinding tidak bergesek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak ulat hinggap dibahu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terbang dibawa angin senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah alat pengukur suhu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;termometer pasti namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dataran tinggi airnya tawar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diambil dari batu menitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau panas tidak keluar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dinamakan orang reaksi adiabatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lain jalan ke sukapindah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satu jalur ke ke sungai musi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lain lagi kalau zat berpindah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selalu dipakai istilah konveksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berperahu ke ulu musi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perahu sama warna seragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berikut sifat aliran konduksi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;panas mengalir melalui logam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke ladang pergi membawa motor,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;motor di tinggal di tendikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata orang barat isolator,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;isolator artinya adalah penyekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANJUTAN LISTRIK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;santai bersama duduk di emper,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;emper dari bambu yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satuan arus adalah amper,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satuan daya adalah watt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kolom dan baris ciri matriks,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu matematika yang essensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berapa besarnya daya listrik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tergantung arus dan potensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pangeran pergi dikawal cantrik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pergi diawal musim dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gimana bentuk energi listrik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti contoh kipas angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belajar keras dimalam sunyi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diiringi ole suara jangkrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bel adalah energi bunyi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dirubah dari energi listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak gadis berbaju abang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sama dengan warna seluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;arus yang masuk ke suatu cabang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sama saja dengan arus keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOPIK 7 : LISTRIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kerajaan penuh dengan intrik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak raja pindah ke hilir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kenapa ada arus listrik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akibat muatan yang mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berhuma padi diulu dusun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke ulu dusun setengah hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana rangkaian disusun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rangkaian disusun paralel dan seri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ke sumur dengan ember berpegangan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ember dicebur dgn terbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau bertanya sumber tegangan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada searah &amp; bolak-balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tukang becak memasang lotere,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lotere dipasang dapat motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber listrik searah adalah batere,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber listrik bolak-balik generator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diilir dusun pedataran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tempat orang berjual piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;supaya jangan kebakaran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan lupa memasang sekering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOPIK VI ; GETARAN DAN GELOMBANG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;genta dibeli hari selasa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dipakai menghibur hati yang bimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Getaran itu adalah pulsa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila beruntun jadi gelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjadi bimbang karena kesal,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kesal kepada pemuda binal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjalar lurus gelombang transversal,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melebar itu longitudinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rahwana pergi menculik sinta,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sinta dibawa ke negeri respati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengapa orang jatuh cinta,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena adanya resonansi hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gadis membeli pernak-pernik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk dipakai supaya cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gelombang radio contoh mekanik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cahaya gelombang elektro magnetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimobil baru terasa keren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gaya seperti selebritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam kajian fisika moderen,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gelombang punya sifat dualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berlari dengan kuda serenggi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditembak pemburu berdentum-dentum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagi penggemar fisika tinggi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gelombang dibahas mekanika kuantum .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejuk terasa air bening,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk mencuci benda pusaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;supaya jangan tambah pening,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudahi dulu pantun fisika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inderalaya, 23 November 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Faqir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-2831218452510404687?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/2831218452510404687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/pantun-pantun-pembelajaran-sains-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/2831218452510404687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/2831218452510404687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/pantun-pantun-pembelajaran-sains-i.html' title='PANTUN-PANTUN PEMBELAJARAN SAINS-I'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-7183373620574616982</id><published>2010-11-27T22:02:00.001-08:00</published><updated>2010-11-27T22:07:10.761-08:00</updated><title type='text'>PANTUN MEMANTUN HAMDI AKHSAN</title><content type='html'>HAMDI AKHSAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANTUN JELANG RAMADHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;ikan pelikan memakan tuba,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi ikan dalam perigi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan ramadhan segera kan tiba,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berkurang umur setahun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang-petang pergi ke taman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tamannya indah rapi dan bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa bagi orang beriman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagai menyambut datangnya kekasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jembatan patah jalannya putus,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dilanda dahsyat air mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalani ramadhan dengan tulus,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaikan bayi yang baru lahir...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelatang pohon yang tak berduri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti kudis gatal melanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikan siang menahan diri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malampun habis untuk ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuhan emas bukan suasa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dipakai orang berhias diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mulai hari puasa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersihkan hati bermaaf diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan pulut dari kendari,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dipakai tangkap burung piaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menahan mulut disiang hari,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam diisi baca alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‎Sabang tetangga dengan malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rakyatnya baik berbudi santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abang hanya orang biasa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengajar fisika senang berpantun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang aceh pergi berjihad,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tinggalkan keluarga beserta harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah remeh pantun sahabat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terpenggal rasa berisi kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dusun pergi haji,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membawa ikan dan sambal basah ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata tersusun rapi terpuji,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah tanda budi bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tertegun paman depan beranda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hatinya sedih burungnya mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciumlah tangan ayah dan bunda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar ramadhan jadi berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang ogan pergi menuba,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ikannya mati anaknya mati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan segera kan tiba,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadikan ia penerang hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menebang buluh untuk belandar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buluh disusun di pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moga bertemu Lailatul qodar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar berbalas seribu bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANTUN NASEHAT SIANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebing terban longsor pun tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hilanglah rumah kebun binasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika uban mulai bertambah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pertanda umur dekati masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benderang hilang mentari redup,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;habislah siang malampun datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan penerang hati yang hidup,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memberi bekal diri sebatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dahulu pernah berpesan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;teteskan mata kala berpinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar Allah beri kasihan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dihari kelak tak menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berandai-andai bukanlah pesan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena bisik dari sang iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang pandai pantunnya lisan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi mamang cuma menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beras solok masaknya basah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;enak dimakan enak dibubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beramu kata halus terasa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nasehat dapat hati terhibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan Melayu itu Hang Jebat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tegaknya gagah pegang bendera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantunku ini tidaklah hebat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bak setetes air ditengah samodra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari ikan dalam telaga,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditiup angin layar berkibar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menahan lapar serta dahaga,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berbuah pahala menambah sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang melayu pergi ke Mekkah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belajar ilmu pulang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata yang sayu allah kan suka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haus dan lapar akan dibeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANTUN ANAK JUMAT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis cangkir muncullah gelas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;minum digelas jangan dijilat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah pukul sebelas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebentar lagi kita kan sholat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wadah kendi simpan dibalai,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;airnya dingin mirip selasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergi mandi janganlah lalai,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biar badanmu sehat dan bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perigi dicampur bahan obat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar penyakit tidak bersemi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergilah sholat jangan terlambat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;doakan selalu ayah dan umi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belibis singgah di pohon cermin,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tepi hinggapnya runtuhlah bulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis jumat jangan bermain,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi gantilah baju dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indah misai si tukang jamu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memakai berkap diseterikakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai ganti bajumu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ambillah piring pergilah makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keladi dimakan anak tempua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah tak ada makanan lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika makan bacalah doa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah itu baru bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANTUN PERSAUDARAAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkulai patah si batang sukun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ikutlah roboh pohon paria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai sahabat penggemar pantun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mari bersahut gembira ria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranting kemumu gugur setangkai,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tumbuh kembali di musim semi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling bertemu kata dirangkai,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar tersambung silatu rahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meramu rotan dibuat tali,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diikat kuat ke batang ara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari dijaga budaya asli,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar bersatu se nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pualam licin jalan dituntun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila terjatuh bisa terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimalam sepi kutulis pantun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penghibur hati penghilang duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan terang hilangnya pagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;walau pun pada bulan purnama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam senang kita berbagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika sedih kita bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergi berladang ke tanah tinggi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;padi ditanam dimakan kera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lapang kita berbagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berbagi pada sesama saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang ulu pergi berdagang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membeli baki menjual para.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dahulu orang berdendang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menghibur hati mengusir lara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyeberang ke huma di ulu kedatun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sambil menjala dapatlah patin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagi bersama di dunia pantun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tajamkan rasa kuatkan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak elang tinggal di tebing,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tebingnya terjal di gunung sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil bergandeng saling membimbing,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;niscaya pantun indah berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durian jatuh harum baunya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diambil malam dikupas pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam pantun indah bunyinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beruntai kata kita berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangga malam keluar larut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pergi bersama seia sekata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena malam semakin larut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita berdoa pejamkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbang pagi burung pelatuk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menuju ke arah hembusan angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangun pagi mata mengantuk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengambil wudhu menembus dingin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah hitam si burung gagak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tampak sendiri hinggap di bilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambillah takbir berdiri tegak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hadapkan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu rendah sangkar tempua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diatas tanah bisa dicari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis subuh mari berdoa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar berguna usia diri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergi ke ogan bawa telasan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dipakai orang tuk mandi pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia ini bagai hiasan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hadir sebentar dilepas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;reduplah cahya di tanah bengali,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena hilangnya adab yang santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidup didunia hanya sekali,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tinggalkan amal seribu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bindu ke Raksa Jiwa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pergi berhanyut menarik arat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindunya rasa rindu dijiwa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kelak kan jumpa di alam akherat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah tuba tapi selasih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dipakai makan tuk lalap nasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan tiba bagai kekasih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika pergi kan ditangisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gugur-gugurlah sendayang patah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan menimpa sarang seriti,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.Sabar-sabarlah dan jangan patah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebentar kita sudah kan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkebun lada di sekapak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengambil lada mesti berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertanya ananda kabar bapak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;susah senang telan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sibuk berkicau burung titiran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak sadar sayap terkait duri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fesbuk cuma untuk hiburan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lupakan sejenak penatnya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung dikenal karena kicauan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suara indah jika berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholat itu untuk pakaian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar hidup selalu dilindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANTUN NASEHAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga sekuntum disiram ujan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indah rupanya harum niscaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lancung dalam ujian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seumur hidup orang tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingin kuambil bayam seikat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditaruh apik dalam bungkusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup mulia karena sifat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi kenangan jadi tangisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergi ke pekan di negeri lintau,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belilah sebungkus kue bika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikan bekal dalam merantau,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buatlah orang menjadi suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke Pariangan di malam buta,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;naik kereta membawa barang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringankan tangan rendahkan kata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;niscaya jadi kenangan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tuan pergi ke surau,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan lupa bersihkan diri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar senang bapak penghulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tuan pergi merantau,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanak cari saudarapun cari,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;induk semang cari dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengayuh biduk hendaklah pintar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar tak miring arah biduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak merunduk tidaklah sukar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pintar berakal banyak gunanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli bertukang orang meranjat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang pandai besi di tanjung dayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tua harus dihormat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang muda juga tetap disayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar mengaji ke sungai pinang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;balik sebentar ke tanjung gelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi yang baik akan dikenang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berita buruk mesti dipendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbang keluang di malam buta,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi fajar menjelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhati-hati dalam berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lenturnya lidah tidak bertulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belokan tajam setirnya patah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-hati banyak plesetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eloknya budi diujung kata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;eloknya sifat di perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat wajik ketan direndam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;separuh lagi dibuat bipang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbanyak maaf lupakan dendam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;niscaya dunia terasa lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;enak rasanya buah keluih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimasak dengan panasnya arang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pabila pandai meniti buih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat badan ke seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang palembang pandai bertenun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kain dipintal darilah benang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang banyak orang berpantun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membuat mamang menjadi senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon kuini tiada berduri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dipotong panjang dibelah tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat ini untuk sendiri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila berguna ambillah juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janur kelapa untuk kenduri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dibentuk indah dengan peniti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertambah umur bijaklah diri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar selamat diakhir nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sikejut tumbuh ditepi sumur,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akarnya dalam tanahnya lekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlanjut hari bertambah umur,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mogalah sabar makin melekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inderalaya 28 November 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Faqir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamdi Akhsan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-7183373620574616982?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/7183373620574616982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/pantun-memantun-hamdi-akhsan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/7183373620574616982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/7183373620574616982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/pantun-memantun-hamdi-akhsan.html' title='PANTUN MEMANTUN HAMDI AKHSAN'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-3005083178362508164</id><published>2010-11-16T01:06:00.000-08:00</published><updated>2010-11-16T01:07:10.023-08:00</updated><title type='text'>Syair Bujang Begal</title><content type='html'>SYAIR BUJANG BEGAL&lt;br /&gt;oleh yadhi rusmiadi jashar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini cerite ndai dusun tinggal&lt;br /&gt;Jeme ke ume pegi nugal&lt;br /&gt;Di huma ade bujang begal&lt;br /&gt;Mehanjak tue lakunye bengal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laku Bujang luar biase&lt;br /&gt;Bapang Endung dianggap kance&lt;br /&gt;Kelepeh Bapang diambek isinye&lt;br /&gt;Serane endung enjok ke rande&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dek tau Bapang nak rugat agi&lt;br /&gt;Ditawekan bujang nunjokkan gigi&lt;br /&gt;Endung rungsing sejadi-jadi&lt;br /&gt;Bujang pusing lahi ke buri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang runtik anak Wak Riye&lt;br /&gt;Gawinye ngatik nak husek saje&lt;br /&gt;Gadis cinde nak dilinjanginye&lt;br /&gt;Tapi dek ade ngesir ngan die&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam minggu lok biasenye&lt;br /&gt;Bujang mengar bedandan gile&lt;br /&gt;Gumbak disunggar mengkilap raye&lt;br /&gt;Minyak sayur digelusohkannye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dek pule lupe hum-human&lt;br /&gt;disemprotnye kiri nggok kanan&lt;br /&gt;Bangat embaunye keliwatan&lt;br /&gt;Sedusun raye ke-embau-an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang begal la siap luncur&lt;br /&gt;Begancang njagal ke dusun pancur&lt;br /&gt;Bejalan keting keletar keletur&lt;br /&gt;Jeme pening mukenye ancur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang Wak Riye mandak ngejut&lt;br /&gt;Nginak bidare kening mencucut&lt;br /&gt;Ati betanye bulu alis betaut&lt;br /&gt;Sape name si gadis lembut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ui endung, alangke semampai gadis itu&lt;br /&gt;Dudok nyeradai di tundan pintu&lt;br /&gt;Gumbak melambai matenye sayu&lt;br /&gt;Muke aduhai asli melayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngihim senyuman adui manisnye&lt;br /&gt;Bujang kelinjangan bebunge bunge&lt;br /&gt;Siti Kelembungan name lengkapnye&lt;br /&gt;Anak Bik Saman die rupenye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis di tundan ngumong dialun&lt;br /&gt;Suarenye ngedan mengayun ayun&lt;br /&gt;Bujang kelinjangan mangap tetegun&lt;br /&gt;Siti Kelembungan mantap bepantun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kedalak oi kedali dali&lt;br /&gt;Anak tiung belage tige&lt;br /&gt;Amun galak kebile agi&lt;br /&gt;Nunggu setaun lame ige"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Batang pedare dahan kayu&lt;br /&gt;Batang embacang jeme seberang&lt;br /&gt;Kakang bekate ngan umakku&lt;br /&gt;datang gancang kite betunang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oi bapang tulungla aku&lt;br /&gt;Siti Kelembungan jadikan mantu&lt;br /&gt;Budi pekertinye alap bemutu&lt;br /&gt;Ilok parasnye dek mbuat malu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang sanggup berikrar janji&lt;br /&gt;Ngubah laku amun la jadi&lt;br /&gt;Bebenah idup meniti ahi&lt;br /&gt;Asal bepadu tambatan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~~Griya Sriwijaya, Nopember 2010~~&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-3005083178362508164?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/3005083178362508164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/syair-bujang-begal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3005083178362508164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3005083178362508164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/syair-bujang-begal.html' title='Syair Bujang Begal'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-45448899409364488</id><published>2010-11-14T10:23:00.000-08:00</published><updated>2010-11-14T10:24:20.313-08:00</updated><title type='text'>Syair Bujang Tuo</title><content type='html'>SYAIR BUJANG TUO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh yadhi rusmiadi jashar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arkian kisah si bujang tuo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idup dewek dak ado kanco&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngesir cewek yang masih mudo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapo rela dengan tuo bangko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung dusun ado la gadis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetegak anggun sungguh manis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jauh bedayo magis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang tuo tehipnotis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang tuo belari kencang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seradak serenggino numburi barang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngejer betino si rambut mayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dak taunyo si jando kembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang mambang idak peduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikil diayun laju belari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jando kembang senyum bestari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya hindun dio dak katek gigi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang laju urungke niat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balek mengkerik belari cepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikil dipacu begancang minggat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geledurr, tiang listerik nyokot jidat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jidat menyunyu sebesak kelapo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang tuo idak meraso&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lari nyerudu hindari jando&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idak la suko bebini dio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib si cimen bujang yang malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur la ngarep belum betunang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara nemen igo menimbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis cakep akhirnyo melayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggallah si bujang duduk merenung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekain sarung dio mencangkung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang mambang setengah linglung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesian si burung buruk tegantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi wong jangan pilih-pilih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalu la jodoh gancang diraih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dak perlu cewekan bekasih-kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kagek nyerodoh dan jugo sedih***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~~~Griya Sriwijaya, 14 Nopember 2010~~~&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-45448899409364488?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/45448899409364488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/syair-bujang-tuo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/45448899409364488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/45448899409364488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/syair-bujang-tuo.html' title='Syair Bujang Tuo'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-9045581844028074542</id><published>2010-11-14T09:44:00.000-08:00</published><updated>2010-11-14T09:46:21.162-08:00</updated><title type='text'>BUJANG BEDENGKANG MENGUKIR KESUSASTRAAN LAHAT</title><content type='html'>BUJANG BEDENGKANG MENGUKIR KESUSASTRAAN LAHAT &lt;br /&gt;Oleh Jajang R Kawentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang Bedengkang ini judul buku kumpulan puisi yang baru diterbitkan Komunitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] yang bermarkas di Desa Pagarsari Lahat. Buku kumpulan puisi ini mengutamakan puisi berbahasa Lahat. Ada 46 puisi yang terkumpul dalam buku itu, 22 diantaranya puisi berbahasa Lahat dan selebihnya berbahasa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku merupakan bagian dari aktualisasi diri baik dari sebuah kelompok atau organisasi atau perorangan. Kali ini aktualisasi dari Komunitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] dan orang perorang yang terdiri dari Yudistio Ismanto, Pinasti S Zuhri dan Jajang R Kawentar. Kesemua bergiat di [KSLS] dimana bekerja sastra , mulai diskusi, berkarya, melakukan pementasan dan kerja kreatif lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[KSLS] pada saat ini sedang bergumul dengan bahasa daerah lahat yang merupakan bahasa Ibu dimana kami berada dan berproses. Hal ini bagian dari proses kreatif, bagaimana mengolah berbagai bahan bahasa daerah Lahat yang ada akan diracik menjadi masakan yang lezat berwujud karya sastra, atau hanya sekedar menampilkan apa yang kami miliki di daerah ini. Memang [KSLS] sedang belajar sombong dengan bahasa kami sendiri untuk orang lain, untuk siapapun di luar kami, atau belajar berbangga diri karena memiliki kekayaan bahasa yang beda dengan daerah lain, meskipun mungkin hanya sebagahagiannya atau hanya sepotong saja. Namun apapun yang kami miliki kini sedang dalam racikan di [KSLS].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya Yudistio Ismanto yang semula berekspresi melalui bahasa Indonesia kini betul-betul menekuni bahasa Lahat, mulai menggali terus istilah-istilah bahasa dusun dan bahasa-bahasa lama yang kini mulai banyak orang tinggalkan. Bujang Bedengkang merupakan salah satu judul puisi miliknya yang menjadi uncak di dalam buku kumpulan puisi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menerbitkan beberapa karya puisi berbahasa daerah ini, berharap mendapat perhatian dari masyarakat untuk ikut menumbuh kembangkan bahasa yang agung ini melalui berkarya sastra. Begitupun harapan supaya ada manfaat dan bisa dimanfaatkan bagi pengetahuan. Karena sepengetahuan kami selama ini karya sastra berupa puisi modern berbahasa Lahat tidak ada dan baru ini kali pertama puisi berbahasa Lahat hadir dihadapan pemirsanya. Pemirsa sekalian sebagai pengguna bahasa Lahat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun keadaan buku yang kami terbitkan ini masih sangat sederhana, karena memang kemampuan yang bisa kami lakukan baru sebatas ini. Tidak menutup kemungkinan apabila apa yang kami usahakan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Maka sesuatu yang lebih spektakuler akan kami tempuh. Semua ini semata sebagai pengabdian [KSLS] terhadap pemerintahan yang berkuasa dan kepada masyarakat Lahat yang kami cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekecil apapun pengabdian [KSLS] kepada masyarakat, semoga mendapat tempat yang baik di hati mereka. Karena kami berpikir kalau bukan kita yang memulai berkarya sastra berbahasa Lahat, lalu siapa lagi. Semoga ini permulaan yang baik untuk mengukir sejarah kesusastraan di Kabupaten Lahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu buku Kumpulan Puisi Bujang Bedengkang berbahasa Lahat ini dibawa dalam perhelatan di acara Temu Sastrawam Indonesia ke III di Tanjungpinang di Provinsi Kepulauan Riau pada tanggal 28-31 Oktober lalu. Bahasa Lahat didendangkan di hadapan para penyair bertaraf nasional itu. Tentu sebuah kesempatan bagi jeme Lahat mengibarkan kebahasaannya yang juga merupakan bagian dari bahasa Melayu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan emas ini sesungguhnya kita rebut sebagai tempat untuk mendapat perhatian bagi para penulis dan gila menulis untuk mau berbondong-bondong datang ke kota Lahat hanya sekedar untuk menulis kebudayaan Lahat yang sungguh sangat kaya ini. Mulai kebudayaan para puyang atau cerita dusun, pantun, sastra lisan atau berbagai bentuk megalith peninggalan pra sejarah itu. Kita berharap dengan dorongan para penulis dan menyebarkannya dalam berbagai media massa maka kekayaan seni budaya Lahat menjadi lebih dikenal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya buku Laskar Pelanginya karya Andrea Hirata yang kemudian menjadi sebuah film dan cukup mengejutkan untuk kepariwisataan di Bangka Belitung. Sebuah karya sastra dan film yang mengubah image masyarakat terhadap kepulauan Bangka Belitung itu dari yang menyeramkan, menjadi sangat romantis dan saat ini mulai terbuka keindahan alamnya yang elok itu menjadi sasaran para pelancong. Pemerintah dan masyarakat di Bangka Belitung kini tinggal mengeruk keuntungan dari para pelancong tersebut, dan ini nyata-nyata bermula dari kerja seorang sastrawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa daerah sepertinya mulai melirik bagaimana peran para sastrawan dijadikan sebagai garda depan dalam pembangunan daerah yang membangun image masyarakat&lt;br /&gt;untuk terus tak henti mencintai seni budaya sendiri dan menciptakan citra daerahnya menjadi semakin baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan alam yang dimiliki Kabupaten Lahat sungguh membuat orang-orang yang haus akan sejuknya alam terkagum-kagum. Tetapi seringkali orang-orang yang mendiaminya seperti tidak perduli, mungkin karena keindahan alam kita itu sudah biasa setiap hari di lihatnya. Namun apabila kita pernah berkunjung ke beberapa daerah di nusantara atau ke luar negri maka ketika kembali ke daerah kita ini pasti daerah Lahat ini tidak kalah indahnya dengan daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahannya hanyalah bagaimana kita mengelola dan mengemas sebuah pariwisata dan seni budaya kita ini. Bagaimana kita menggalakannya kembali kantong-kantong budaya atau kesenian yang ada di dusun-dusun dan bagaimana berbagai peninggalan sejarah dan seni budaya itu kita pelihara serta dirawat. Disinilah peran para penulis atau sastrawan dalam mendokumentasikan berbagai peninggalan sejarah dan seni budaya itu tidak hanya sebagai wacana saja, atau hanya berkembang dari mulut ke mulut. Tetapi tampak dalam bentuk manuskrip buku yang kemungkinan abadi dan bisa dinikmati oleh generasi penerusnya. Tidak hanya di daerah sendiri tetapi orang-orang di luar daerah kita ini dapat menikmati atau dapat melakukan penelaahan dan penelitian.*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-9045581844028074542?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/9045581844028074542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/bujang-bedengkang-mengukir-kesusastraan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/9045581844028074542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/9045581844028074542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/bujang-bedengkang-mengukir-kesusastraan.html' title='BUJANG BEDENGKANG MENGUKIR KESUSASTRAAN LAHAT'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-4630039099365747596</id><published>2010-11-14T09:41:00.000-08:00</published><updated>2010-11-14T09:44:07.410-08:00</updated><title type='text'>Memperkenalkan Budaya Lahat di Kancah Sastra Nasional</title><content type='html'>MEMPERKENALKAN BUDAYA LAHAT DI KANCAH SASTRA NASIONAL&lt;br /&gt;Oleh Jajang R Kawentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……………………………….&lt;br /&gt;kaba anak lanang ahapan bapang &lt;br /&gt;bujang bedengkang harus bekundu gedang&lt;br /&gt;jangan bepacak gi mbesakah bajang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaba dinanti leh behingasnye siang&lt;br /&gt;kaba ditunggu leh kejamnye malam&lt;br /&gt;tantanglah dunie umbang&lt;br /&gt;becalak dikit mangke dek ditujah sandi belakang&lt;br /&gt;ajak kance peluklah kundang&lt;br /&gt;dek kah tetekut himbe dunie leh kaba suhang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kebile sisip mate bepejam kaba kah matek tependam&lt;br /&gt;ame kundu nciut kah kanyut kaba di ayek suhut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian tiga bait puisi terakhir dari puisi Bujang Bedengkang berbahasa Lahat karya Yudistio Ismanto yang terdapat dalam buku kumpulan puisi Bujang Bedengkang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Kumpulan Puisi Bujang Bedengkang yang diterbitkan Komunitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] Lahat Sumatera Selatan bersama CV Sobatindo Kreasi beredar disaat Temu Sastrawan Indonesia (TSI) III di kota Tanjungpinang Kepulauan  Riau 28-31 Oktober 2010. Sebanyak 200 sastrawan yang datang dari berbagai daerah seluruh Indonesia ini ditambah dari berbagai kalangan siswa, mahasiswa, guru-guru serta dosen di provinsi tersebut pada saat acara berlangsung. Ini adalah upaya dari [KSLS] guna memperkenalkan budaya daerah Lahat dalam hal ini sastra berbentuk puisi modern berbahasa Lahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengenalan budaya Lahat di kancah sastra nasional yang dilakukan [KSLS] ini hiperrealitas, di dunia yang saat ini hanya mementingkan kesan serta seremoni saja, namun pengenalan budaya Lahat ini dilakukan dengan kesadaran dan sangat jelas menuju sasarannya, yakni kepada para pelaku sekaligus motor kebudayaan itu sendiri. Para sastrawan tersebut merupakan agen dari perubahan budaya dan sekaligus ikut memperkenalkan, mengembangkan dan melestarikan seni budaya tersebut. Paling tidak, ikut menginpirasikan kegiatan berkarya sastra berbahasa daerah ini kepada khalayak nusantara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan [KSLS]  ini bukan seremonial yang menghabiskan uang Anggaran Perencanaan Belanja Daerah ratusan juta rupiah yang seringkali tidak jelas sasaran serta inputnya, tetapi kegiatan [KSLS] dengan menerbitkan buku kumpulan puisi berbahasa Lahat dan langsung menyebarkannya ini sungguh merupakan pengabdian kepada masyarakat Lahat semata. CV Sobatindo Kreasi merupakan penyumbang dana dalam penerbitan buku kumpulan puisi berbahasa daerah Lahat ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan dari [KSLS] ini bahwa masyarakat dunia dapat mengenal lebih jauh terhadap kebudayaan di daerah Kabupaten Lahat, lebih jauhnya mereka mau berkunjung ke kabupaten Lahat, entah itu sebagai pelancong atau mau menyelenggarakan penelitian tentang kebudayaan Lahat ini. Dalam TSI III di Tanjungpinang beberapa hari lalu ada beberapa orang yang tertarik untuk meneliti peninggalan kesultanan Palembang di Lahat, atau meneliti keaksaraan yang berkembang di Lahat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya tidak hanya seni tradisi yang berkembang di Kabupaten Lahat tetapi peninggalan dari kebudayaan Batu Tua juga sangat banyak, bahkan ribuan batu peninggalan nenek moyang terdapat di Lahat ini. Seandainya banyak yang mau meneliti kekayaan kebudayaan yang terdapat di Lahat ini maka bukan tidak mungkin keagungan Kabupaten Lahat akan kembali berkibar. Sebagai kota tua, kota besar yang sempat jaya dimasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu harus ada upaya dari berbagai fihak baik dari instansi pemerintah, masyarakat dan pelaku seni budaya serta para akademisi atau peneliti yang kompeten, yang hasilnya bisa dipertanggungjawabkan secara moral dan professional. [KSLS] telah membuka jaringan kebudayaan yang luas dan bukan tidak mugkin melakukan kerjasama dengan berbagai fihak. Selama ini dari daerah Lahat sendiri belum ada yang menawarkan kerjasama, justru dari daerah lain cukup resfek dengan kegiatan yang dilakukan oleh [KSLS] ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program kerja [KSLS] berjalan sekemampuannya, karena alasan keterbatasan fasilitas dan dana. Namun walaupun demikian apa yang sudah dilakukan, seperti diskusi budaya, kegiatan sastra seperti baca puisi, melukis bersama, membuat cindramata berupa kaos, stiker, VCD puisi, mengikuti berbagai kegiatan sastra di tingkat provinsi ataupun nasional, menerbitkan buku dan mempublikasikan karya sastra terus berlanjut. Semua yang dilakukan ini hanya untuk masyarakat Lahat, dan kami bertekad akan terus mengembangkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah pihak luar itu tertarik untuk berpartisipasi dalam membantu menjalankan program kerja [KSLS] dan melaksanakannya lebih luas lagi. Atau bekerjasama saling menguntungkan baik dalam penelitian atau penyelenggaraan pembinaan seni. Karena pembinaan ataupun berbentuk workshop ini merupakan kegiatan yang sangat dasar, sebagai upaya pegembangan dan keterlibatan masyarakat dalam mengupayakan kelestarian seni budaya itu sendiri. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Banyak perusahaan yang berada di Kabupaten Lahat tetapi yang perduli terhadap seni budaya daerah itu belum kelihatan partisisipasinya. Partisipasi sebagai upaya ikut membangun dan melestarikan seni budaya daerah. [KSLS] siap mengelola dan mengembangkan Community Development (Condev) dari pihak perusahaan yang berada di Lahat untuk ikut berpartisipasi mengembangkan dan melestarikan seni budaya di wilayah Kabupaten Lahat mungkin dengan cara menyumbangkan berupa dana atau berupa kebutuhan yang diperlukan dalam kegiatan berkesenian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partisipasi perusahaan yang mengolah sumber daya alam yang ada di Lahat terhadap seni budaya masyarakat atau terhadap kesehatan, fasilitas umum, adalah wajar dan hak masyarakat dan wajib hukumnya bagi perusahaan. Tidak ada pihak perusahaan tambang yang memanfaatkan kelompok kesenian atau ikut menyumbangkan dananya untuk kelangsungan seni budaya daerah di tempat mereka menggali sumber daya alamnya. Ikut membina dan mengembangkan potensi sumber daya manusia sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpujilah perusahaan yang ikut mengembangkan sumberdaya manusia disekitar perusahaan itu beroperasi. Perusahaan tidak hanya terus mengekploitasi alam saja tetapi ikut perduli terhadap kesenian daerahnya, baik itu seni tradisi, cagar budaya atau kebudayaan. Tentu tidak menutup kemungkinan bagi berbagai instansi pemerintah, ikut serta membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Pembina Komunitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] dan Guru SMA N 1 Merapi Selatan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-4630039099365747596?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/4630039099365747596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/memperkenalkan-budaya-lahat-di-kancah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4630039099365747596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4630039099365747596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/memperkenalkan-budaya-lahat-di-kancah.html' title='Memperkenalkan Budaya Lahat di Kancah Sastra Nasional'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-7048838947929773348</id><published>2010-11-14T08:40:00.000-08:00</published><updated>2010-11-14T08:41:44.764-08:00</updated><title type='text'>Dialog Malam Joe Patrick dengan Puncak Peradaban</title><content type='html'>Dialog Malam Joe Patrick dengan Puncak Peradaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat malam pak!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;02:42&lt;br /&gt;ya selamat malam, apa pagi ya hehe&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;02:42&lt;br /&gt;hahahaha....&lt;br /&gt;iya pak....&lt;br /&gt;pak,apakah saya boleh bertanya tentang sastra k bapak?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;02:45&lt;br /&gt;tentu boleh, kenapa &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;02:46&lt;br /&gt;banyak yang mkengtakan bahwa berpuisi itu adalah kebebasan, terus bagai mana menurut bapak&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;02:51&lt;br /&gt;ya kebebasan dalam mengungkapkan segala sesuatu, yang kita rasakan, yang kita pikirkan, atau merupakan gagasan dan yang kita lakukan melalui kata2 kita sendiri, dengan kata2 yang bisa mewakili diri kita, menurut pemikiran serta gagasan kita&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;02:54&lt;br /&gt;mmmm....untuk saya sebagai pemula,apakah ada saran untuk saya kedepannya pak?&lt;br /&gt;karena saat ini saya mulai merasakan kenikmatan (curhat) dalam puisi!&lt;br /&gt;meskipun kata2 sya masih berantakan :) &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;02:59&lt;br /&gt;ikutilah falsapfah hidup kita, dari tidak ada menjadi ada, dari rahim ibu hingga beranjak melalui tahapan2nya hingga ke rahim bumi&lt;br /&gt;tetapi tetap kita harus banyak bertanya, membaca buku, mendengarkan orang dari kecil hingga besar, melihat sesuatu yang terbaik hingga yang terburuk, &lt;br /&gt;karena ini kebebasan, cara pandangnyapun harus berdasar azas kebebasan&lt;br /&gt;jangan kaku&lt;br /&gt;dan terus berkarya tiada henti&lt;br /&gt;untuk mengejar ketertinggalan&lt;br /&gt;kenapa orang lain sudah berada di tingkat lebih tinggi &lt;br /&gt;ya karena perjalanan yang juga dilalui melalui ilmu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;03:05&lt;br /&gt;Baik pak,masukan bari bapak sangat berarti untuk saya,terima kasih yang sebesar2nya.&lt;br /&gt;tandus ini merasakan hujan mendekati....&lt;br /&gt;1 lagi pak!&lt;br /&gt;apakah saya boleh menandai bapak di puisi2 saya&lt;br /&gt;mungkin jika ada senggang,bapak bisa memberi masukan&lt;br /&gt;" pada langit bumi ini berharap"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;03:08&lt;br /&gt;tentu&lt;br /&gt;karena itu sebagai tanda silaturahmi&lt;br /&gt;kami disini masih juga belajar dengan siapapun yang mau berbagi pengalaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;03:11&lt;br /&gt;Baik pak,sekali lagi terima kasih!&lt;br /&gt;"dan ruh ini mendapat teduh"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;03:12&lt;br /&gt;semoga bermanfaat ya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;03:13&lt;br /&gt;amin!!!&lt;br /&gt;saya permisi dulu pak!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;03:13&lt;br /&gt;ok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagarsari, Nopember 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-7048838947929773348?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/7048838947929773348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/dialog-malam-joe-patrick-dengan-puncak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/7048838947929773348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/7048838947929773348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/11/dialog-malam-joe-patrick-dengan-puncak.html' title='Dialog Malam Joe Patrick dengan Puncak Peradaban'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-4952097793425417912</id><published>2010-10-27T01:23:00.000-07:00</published><updated>2010-10-27T01:25:39.591-07:00</updated><title type='text'>BUJANG BEDENGKANG MENGUKIR KESUSASTRAAN LAHAT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TMfh52pMPxI/AAAAAAAAARA/V6zko2rkDXw/s1600/cover+Bujang+Bedengkang.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 83px; height: 130px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TMfh52pMPxI/AAAAAAAAARA/V6zko2rkDXw/s320/cover+Bujang+Bedengkang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532639051285020434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BUJANG BEDENGKANG MENGUKIR KESUSASTRAAN LAHAT &lt;br /&gt;Oleh Jajang R Kawentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang Bedengkang ini judul buku kumpulan puisi yang baru diterbitkan Komunitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] yang bermarkas di Desa Pagarsari Lahat. Buku kumpulan puisi ini mengutamakan puisi berbahasa Lahat. Ada 46 puisi yang terkumpul dalam buku itu, 22 diantaranya puisi berbahasa Lahat dan selebihnya berbahasa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku merupakan bagian dari aktualisasi diri baik dari sebuah kelompok atau organisasi atau perorangan. Kali ini aktualisasi dari Komunitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] dan orang perorang yang terdiri dari Yudistio Ismanto, Pinasti S Zuhri dan Jajang R Kawentar. Kesemua bergiat di [KSLS] dimana bekerja sastra , mulai diskusi, berkarya, melakukan pementasan dan kerja kreatif lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[KSLS] pada saat ini sedang bergumul dengan bahasa daerah lahat yang merupakan bahasa Ibu dimana kami berada dan berproses. Hal ini bagian dari proses kreatif, bagaimana mengolah berbagai bahan bahasa daerah Lahat yang ada akan diracik menjadi masakan yang lezat berwujud karya sastra, atau hanya sekedar menampilkan apa yang kami miliki di daerah ini. Memang [KSLS] sedang belajar sombong dengan bahasa kami sendiri untuk orang lain, untuk siapapun di luar kami, atau belajar berbangga diri karena memiliki kekayaan bahasa yang beda dengan daerah lain, meskipun mungkin hanya sebagahagiannya atau hanya sepotong saja. Namun apapun yang kami miliki kini sedang dalam racikan di [KSLS].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya Yudistio Ismanto yang semula berekspresi melalui bahasa Indonesia kini betul-betul menekuni bahasa Lahat, mulai menggali terus istilah-istilah bahasa dusun dan bahasa-bahasa lama yang kini mulai banyak orang tinggalkan. Bujang Bedengkang merupakan salah satu judul puisi miliknya yang menjadi uncak di dalam buku kumpulan puisi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menerbitkan beberapa karya puisi berbahasa daerah ini, berharap mendapat perhatian dari masyarakat untuk ikut menumbuh kembangkan bahasa yang agung ini melalui berkarya sastra. Begitupun harapan supaya ada manfaat dan bisa dimanfaatkan bagi pengetahuan. Karena sepengetahuan kami selama ini karya sastra berupa puisi modern berbahasa Lahat tidak ada dan baru ini kali pertama puisi berbahasa Lahat hadir dihadapan pemirsanya. Pemirsa sekalian sebagai pengguna bahasa Lahat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun keadaan buku yang kami terbitkan ini masih sangat sederhana, karena memang kemampuan yang bisa kami lakukan baru sebatas ini. Tidak menutup kemungkinan apabila apa yang kami usahakan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Maka sesuatu yang lebih spektakuler akan kami tempuh. Semua ini semata sebagai pengabdian [KSLS] terhadap pemerintahan yang berkuasa dan kepada masyarakat Lahat yang kami cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekecil apapun pengabdian [KSLS] kepada masyarakat, semoga mendapat tempat yang baik di hati mereka. Karena kami berpikir kalau bukan kita yang memulai berkarya sastra berbahasa Lahat, lalu siapa lagi. Semoga ini permulaan yang baik untuk mengukir sejarah kesusastraan di Kabupaten Lahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu buku Kumpulan Puisi Bujang Bedengkang berbahasa Lahat ini akan dibawa dalam perhelatan di acara Temu Sastrawam Indonesia ke III di Tanjungpinang di Provinsi Kepulauan Riau pada tanggal 28-31 Oktober ini. Bahasa Lahat akan didendangkan di hadapan para penyair bertaraf nasional itu. Tentu sebuah kesempatan bagi jeme Lahat mengibarkan kebahasaannya yang juga merupakan bagian dari bahasa Melayu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan emas ini sesungguhnya kita rebut sebagai tempat untuk mendapat perhatian bagi para penulis dan gila menulis untuk mau berbondong-bondong datang ke kota Lahat hanya sekedar untuk menulis kebudayaan Lahat yang sungguh sangat kaya ini. Mulai kebudayaan para puyang atau cerita dusun, pantun, sastra lisan atau berbagai bentuk megalith peninggalan pra sejarah itu. Kita berharap dengan dorongan para penulis dan menyebarkannya dalam berbagai media massa maka kekayaan seni budaya Lahat menjadi lebih dikenal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya buku Laskar Pelanginya karya Andrea Hirata yang kemudian menjadi sebuah film dan cukup mengejutkan untuk kepariwisataan di Bangka Belitung. Sebuah karya sastra dan film yang mengubah image masyarakat terhadap kepulauan Bangka Belitung itu dari yang menyeramkan, menjadi sangat romantis dan saat ini mulai terbuka keindahan alamnya yang elok itu menjadi sasaran para pelancong. Pemerintah dan masyarakat di Bangka Belitung kini tinggal mengeruk keuntungan dari para pelancong tersebut, dan ini nyata-nyata bermula dari kerja seorang sastrawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa daerah sepertinya mulai melirik bagaimana peran para sastrawan dijadikan sebagai garda depan dalam pembangunan daerah yang membangun image masyarakat&lt;br /&gt;untuk terus tak henti mencintai seni budaya sendiri dan menciptakan citra daerahnya menjadi semakin baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan alam yang dimiliki Kabupaten Lahat sungguh membuat orang-orang yang haus akan sejuknya alam terkagum-kagum. Tetapi seringkali orang-orang yang mendiaminya seperti tidak perduli, mungkin karena keindahan alam kita itu sudah biasa setiap hari di lihatnya. Namun apabila kita pernah berkunjung ke beberapa daerah di nusantara atau ke luar negri maka ketika kembali ke daerah kita ini pasti daerah Lahat ini tidak kalah indahnya dengan daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahannya hanyalah bagaimana kita mengelola dan mengemas sebuah pariwisata dan seni budaya kita ini. Bagaimana kita menggalakannya kembali kantong-kantong budaya atau kesenian yang ada di dusun-dusun dan bagaimana berbagai peninggalan sejarah dan seni budaya itu kita pelihara serta dirawat. Disinilah peran para penulis atau sastrawan dalam mendokumentasikan berbagai peninggalan sejarah dan seni budaya itu tidak hanya sebagai wacana saja, atau hanya berkembang dari mulut ke mulut. Tetapi tampak dalam bentuk manuskrip buku yang kemungkinan abadi dan bisa dinikmati oleh generasi penerusnya. Tidak hanya di daerah sendiri tetapi orang-orang di luar daerah kita ini dapat menikmati atau dapat melakukan penelaahan dan penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian puisi Bujang Bedengkang:&lt;br /&gt;Anak Bapang Bujang Bedengkang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nang, naiklah sini di bahu bapang&lt;br /&gt;Simbunkah ayek mate, Jangan nangis mpuk ati bimbang &lt;br /&gt;njadi lanang dek kene mate belinang&lt;br /&gt;Ayek mate bujang mahal&lt;br /&gt;ame abis dek bediye tempat beutang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukaklah mate kinaki ngan palak ncagak &lt;br /&gt;langit mengawang&lt;br /&gt;awan itam belawan&lt;br /&gt;mataahi mbias nyemele ulas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak bapang lanang kini lah bujang bedengkang&lt;br /&gt;aningkah kudai kicekan bapang&lt;br /&gt;tuape gune daging telinge kaba sepasang &lt;br /&gt;jangan samekah ngan tanduk kijang&lt;br /&gt;keting bemidang bukane ndek betinjak di kebon binatang&lt;br /&gt;mulut bepagut bukane ndek ngate becarut&lt;br /&gt;tangan bekuduk jangan gi nakuti rugukan behuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaba anak lanang ahapan bapang &lt;br /&gt;bujang bedengkang harus bekundu gedang&lt;br /&gt;jangan bepacak gi mbesakah bajang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaba dinanti leh behingasnye siang&lt;br /&gt;kaba ditunggu leh kejamnye malam&lt;br /&gt;tantanglah dunie umbang&lt;br /&gt;becalak dikit mangke dek ditujah sandi belakang&lt;br /&gt;ajak kance peluklah kundang&lt;br /&gt;dek kah tetekut himbe dunie leh kaba suhang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kebile sisip mate bepejam kaba kah matek tependam&lt;br /&gt;ame kundu nciut kah kanyut kaba di ayek suhut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahat, Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Pembina Komunitas Sastra Lembah Serelo [KSLS] dan Guru SMA N 1 Merapi Selatan Lahat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-4952097793425417912?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/4952097793425417912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/bujang-bedengkang-mengukir-kesusastraan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4952097793425417912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4952097793425417912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/bujang-bedengkang-mengukir-kesusastraan.html' title='BUJANG BEDENGKANG MENGUKIR KESUSASTRAAN LAHAT'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TMfh52pMPxI/AAAAAAAAARA/V6zko2rkDXw/s72-c/cover+Bujang+Bedengkang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-38581708491853077</id><published>2010-10-22T17:59:00.000-07:00</published><updated>2010-10-22T18:05:25.495-07:00</updated><title type='text'>Balai Bahasa Sumsel Susun Ensiklopedi Sastra Daerah Modern</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TMI0cBRe5dI/AAAAAAAAAQ4/F9nmGYeDtLE/s1600/balai+bahasa1.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 126px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TMI0cBRe5dI/AAAAAAAAAQ4/F9nmGYeDtLE/s320/balai+bahasa1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531040948347135442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Balai Bahasa Susun Ensiklopedi Sastra Sumsel Modern&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mendatangi Bumi&lt;br /&gt;Seganti Setungguan (Kabupaten Lahat). Rombongan yang motori Dian Susilastri, M.Hum, bersama tiga anggotanya Budi Agung Sudarmanto, S.S, M.Pd, Mulawarman SS, Yeni Mastuti S.Pd., sejak Rabu (22/9) hingga Jumat (24/9) melaksanakan&lt;br /&gt;penjaringan data dalam rangka penyusunan Ensiklopedia Sastra Modern Sumsel tahap II di Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam dan Kabupaten Empat Lawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat ini daerah yang akan didatangi adalah Lahat, Pagaralam dan Empat Lawang. Sementara di Palembang kita terus mengumpulkan data-data baru, karena kondisinya yang terus berubah," ujar Dian. Tujuan mengumpulkan data ini sebagai upaya menginfentarisir kegiatan kesusastraan yang ada di seluruh Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini narasuber yang ada di Lahat yakni Ismeth Inonu, Jajang R Kawentar, dan Irfan, sementara untuk Pagaralam Helmi, dan Empat Lawang yakni Syamsu Indra Usman. "Untuk narasumber sendiri kemungkinan bisa bertambah untuk ketiga daerah tersebut. Kita jelas mendapat informasi dari beberapa narasumber, baik dari koran, majalah maupun dari media lainnya. juga dari narasuber sendiri," ungkap Dian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusunan Ensiklopedi Sastra Modern ini tujuannya menambah khasanah kesusastraan yang ada. baik dari istilah, karya sastra yang fenomenal, atau wahana yang mendukung perkembangan sastra Modern. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Balai Bahasa Sumsel sendiri tidak hanya pada Kesusastraan Modern, tapi  mencakup hal-hal mengenai kebahasaan. Harapannya di Sumsel kehidupan kesusastraan menjadi lebih hidup. Media yang menghidupi kesusastraan yang sesungguhnya mungkin di tiap daerah cukup banyak dan jenisnya pun diharapkan berpariasi. Tidak hanya perorangan yang dapat menjadi wahana dan sarana yang menghidupinya, tapi keinginan setiap pelaku sastra ingin mengembangkannya menjadi komunitas serta membentuk regenerasi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah daerah pun bisa menjadi wahana pendukungannya, baik mengadakan even-even tertentu, atau mengajak anak muda mengikuti dan mengembangkan kegiatan kesusastraan di daerah. Karena kita tidak hanya menghidupi fisik kita tapi jiwa kita supaya lebih selaras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Seperti Ismeth Inonu, merupakan tokoh yang mungkin dianggap mengayomi kesenian di daerah Lahat, karena selain sebagai pelaku seni juga menjadi ketua Dewan Kesenian Lahat. Irfan juga sebagai pelaku seni kesusastraan yang memiliki beberapa karya sastra dan untuk Jajang selain pelaku seni, juga memiliki komunitas untuk mengembangkan kesastraannya. Selain itu Jajang juga memiliki karya sastra daerah yang dihasilkannya seperti   Ikon Wak Barum dan Wak Ranca yang populer sebagai karya sastra," jelas Dian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut diharapkan nantinya akan lahir generasi-generasi di daerah Sumsel yang lebih baik, dan hasil pendokumentasian ini sebagai pembelajaran bagi generasi mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ternyata pengembangan Sastra Daerah Modern di Sumsel masih sedikit dan minim pelakunya. Berdasarkan pantauan kita pada tahap sebelumnya kebanyakan di Palembang sementara kabupaten kota lainnya masih sedikit, " tegas Dian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-38581708491853077?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/38581708491853077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/balai-bahasa-sumsel-susun-ensiklopedi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/38581708491853077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/38581708491853077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/balai-bahasa-sumsel-susun-ensiklopedi.html' title='Balai Bahasa Sumsel Susun Ensiklopedi Sastra Daerah Modern'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TMI0cBRe5dI/AAAAAAAAAQ4/F9nmGYeDtLE/s72-c/balai+bahasa1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-4278536561176706540</id><published>2010-10-17T06:05:00.000-07:00</published><updated>2010-10-17T06:27:09.906-07:00</updated><title type='text'>JELANG IKUT TEMU SASTRAWAN INDONESIA III DI TANJUNGPINANG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TLr5loXdPZI/AAAAAAAAAQo/25bmN1zu43U/s1600/DAM.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TLr5loXdPZI/AAAAAAAAAQo/25bmN1zu43U/s320/DAM.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529005917436984722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;JELANG IKUT TEMU SASTRAWAN INDONESIA III DI TANJUNGPINANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Oleh: Dimas Arika Mihardja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JELANG perhelatan Temu Sastrawan III di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, saya ingin sedikit memberikan gambaran sebagai referensi bagi peserta dan sekadar informasi bagi masyarakat facebookers. Sekadar catatan kecil, ide awal pelaksanaan Temu Sastrawan Indonesia (TSI I) bertolak dan dilaksanakan di Jambi 7-10 Juli 2008. Lalu TSI II dihelat di Bangka Belitung (2009), dan TSI III akan dilaksanakan di Tanjungpinang 28-31 Oktober 2010. Berikut ini saya kemukakan lagi Dasar Pemikiran TSI I di Jambi yang sukses dilaksanakan 7-10 Juli 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah tangga sastra Indonesia yang dihuni oleh sastrawan (penyair, cerpenis, novelis, penulis skenario), kritisi, dan masyarakat pembaca memberikan gambaran adanya keberagaman. Keberagaman itu terwujud baik pada tataran capaian estetis, kreativitas, persepsi, visi, dan misi. Keberagaman itu merupakan aset yang tiada terkira nilainya jika dihubungkan dengan “Bhinneka Tunggal Ika”. Keberagaman itu dalam konteks keindonesiaan perlu mendapatkan ruang ekspresi seluas-luasnya untuk capaian estetis sastra Indonesia di masa kini dan masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu masa, sejumlah besar sastrawan menampilkan karya-karya yang sarat dengan subkultur, dengan akar budaya, warna budaya daerah masing-masing. Berbagai kultur lokal dan tradisi digali, diolah dan dijadikan dasar untuk pengucapan karya-karya mereka. Karya sastra yang dihasilkan sastrawan yang mengedepankan warna-warni budaya lokal ini memberi kontribusi positif dalam sejarah perkembangan otonomi daerah di Indonesia. Atas dasar keberagaman budaya daerah, dalam perspektif sejarah sastra Indonesia pernah dihasilkan karya-karya masterpiece seperti “Ronggeng Dukuh Paruk” (Novel Ahmad Tohari), “Pengakuan Pariyem” (Prosa Lirik Linus Suryadi AG), “Celurit Emas” (D. Zawawi Imron), “Bawuk” (Umar Kayam), “O, Amuk, Kapak” (antologi puisi Sutardji Calzoum Bachri), “Godlob”, “Adam Makrifat”, dan “Berhala” (Kumpulan cerpen Danarto), “Robohnya Surau Kami” dan “Bertanya Kerbau pada Pedati” (Kumpulan cerpen A.A. Navis), “Bako” (novel Darman Moenir), dan seterusnya . Karya-karya yang digali dari kekayaan budaya lokal seperti itu akhir-akhir ini mengalami pasang surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberagaman corak budaya daerah perlu diberikan ruang yang leluasa untuk dieksplorasi dalam penciptaan sastra. Karya sastra yang digali dari tradisi subkultur yang ada di Indonesia akan memberikan rona keberagaman yang manunggal dalam keindonesiaan (“Bhinneka Tunggal Ika”). Keberagaman warna lokal saat globalisasi sekarang ini menjadi penting sebab dengan keberagaman itu pula identitas lokal terwadahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan sastra pernah muncul humanisme universal, sastra kontekstual, sastra (dominasi) pusat (Jakarta), sastra pedalaman, sastra dekaden, sastra independen, sastra arus bawah dan seterusnya dan seterusnya. Hal ini wajar lantaran sastrawan memiliki progres, visi dan misi dalam berkarya. Hal yang tidak wajar apabila perbedaan pandangan/aliran/isme dll memunculkan konflik berkepanjangan. Humanissme universal seperti diteriakkan oleh Chairil Anwar berakibat hilangnya identitas kebangsaan. Setelah humanisme universal mulai memudar pamornya, tahun 1960-an meruak hubungan mesra antara sastra dan politik. Fungsi sastra dan fungsi politik acap dicampuradukkan sehingga terjadi kekacauan. Lalu muncul tawaran sastra kontekstual (sastra terlibat) yang berpihak pada kepentingan masyarakat. Kemunculan sastra kontekstual ini menomorduakan aspek keindahan dalam ciptaan sehingga pada akhirnya kehilangan gaungnya. Tahun 1990-an muncul tawaran sastra pedalaman dalam denyut kehidupan sastra. Tawaran ini kurang mendapatkan respon dan lenyap begitu saja. Setelah itu muncul dekadensi dan independensi sastra, tetapi belum jelas benar seperti apa sosoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncul pemikiran bahwa ekologi sastra yang dihuni oleh sastrawan, kritikus, media, perpustakaan, penerbit, dan lain-lain bersatu dalam suatu wadah seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Aliansi Jurnalistik Independent (AJI), Ikatan Keluarga Pengarang Indonesia (IKAPI) yang memiliki kemandirian, kebersamaan, dan keharmonisan. Dengan kemandirian, kebersamaan, dan keharmonisan dimungkinkan sastrawan Indonesia bersama ekologi sastra Indonesia memiliki bargaining power dan bargaining position yang lebih baik. Para sastrawan perlu melakukan Dialog untuk membicarakan “wadah” dan sekaligus menemukan solusi mengenai tidak sehatnya ekologi sastra Indonesia. Ekologi sastra Indonesia (sastrawan, kritikus, penerbit, media, dan masyarakat, perpustakaan, penerbit) perlu memiliki kemandirian. Kemandirian ini memiliki arti penting ketika, misalnya, ada sebagian sastrawan yang ‘ditelikung’, diintimidasi, dipecat kepegawaiannya, dikekang kebebasan kreatifnya, dipinggirkan oleh pihak-pihak lain (pemerintah, pimpinan redaktur koran, organisasi tertentu, pemilik media).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan karya sastra Indonesia, sepeninggal paus sastra H.B. Jassin, tidak diiringi oleh kinerja kritik sastra. Kritik sastra seperti kerakap di atas batu, hidup enggan mati tak mau. Langkanya kritikus yang peduli terhadap perkembangan sastra dan minimnya apresiasi masyarakat terhadap perkembangan sastra membuat ekologi sastra tidak harmonis. Idealnya, kehidupan sastra menunjukkan ekologi sastra yang sehat, beragam, harmonis, dan dinamis. Karya sastra yang diterbitkan menjadi “yatim piatu” lantaran tidak tersentuh oleh kinerja kritik sastra. Akibatnya, karya sastra semakin jauh dari jangkauan masyarakat apresian. Kemampuan masyarakat dalam mengapresiasi karya sastra juga rendah. Dalam hubungannya dengan minimnya kritikus sastra, dipandang perlu dilaksanakan workshop penulisan esai/kritik sastra yang diikuti penulis muda berbakat, guru, mahasiswa yang telah biasa menulis di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungannya dengan minimnya apresiasi masyarakat terhadap seni sastra, maka perlu digelar Panggung Apresiasi yang menampilkan atraksi keberagaman, kedinamisan, dan keharmonisan dalam paket performance yang dipersiapkan secara matang. Selain itu, kiranya aneka hasil karya sastra perlu diperkenalkan kepada masyarakat sastra melalui pameran dan bazar. Pameran dan bazar ini menampilkan aneka corak dan bentuk karya sastra sebagai manifestasi adanya keberagaman, kedinamisan, dan keharmonisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda kegiatan Temu Sastrawan Indonesia 1 2008 di Jambi dalam garis besarnya mencakup hal-hal berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)  Dialog Sastra dan Musyawarah Sastrawan Indonesia : Dialog Sastra membicarakan capaian estetik sastra Indonesia, keberagaman, dan kedinamisan sastra Indonesia. Peserta dialog adalah sastrawan, kritikus, dan undangan dari kalangan media, penerbit, dll. Dialog dirancang dua hari menampilkan pembicara dari kalangan kritikus, media, penerbit, dll. Musyawarah Sastrawan Indonesia membicarakan kemungkinan dibentuknya wadah atau forum bersama yang melibatkan ekologi sastra (sastrawan, kritikus, media, penerbit, dll). Musyawarah ini diharapkan melahirkan kesepakatan bersama tentang perlu/tidaknya kelanjutan Temu Sastrawan Indonesia (Periksa Lampiran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)   Workshop Penulisan Esai / Kritik Sastra: kegiatan ini memfasilitasi para penulis muda berbakat, guru sastra, dan mahasiswa untuk mampu menulis kritik/esai sastra. Peserta yang diundang mengikuti workshop 30 orang. Workshop dilaksanakan tanggal 09 Juli 2008 di Kantor Bahasa Provinsi Jambi (Periksa Lampiran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)  Panggung Apresiasi: menampilkan atraksi sastrawan (Sastrawan Indonesia terpilih), pertunjukan keberagaman seni di setiap kota/kabupaten dalam Provinsi Jambi, dan sanggar-sanggar seni di Kota Jambi. Panggung Apresiasi ini digelar selama tiga hari di tempat yang representatif (Periksa Lampiran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4)  Wisata Budaya: wisata budaya ini dimaksudkan untuk memberikan sajian keberagaman yang dimiliki Provinsi Jambi kepada peserta Temu Sastrawan Indonesia. Peserta diajak ke Situs Candi Muaro Jambi melalui jalan air dengan menyusuri Sungai Batanghari. Wisata Budaya dilaksanakan tanggal 10 juli 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5)  Penerbitan Buku Antologi: ada tiga buku antologi yang diterbitkan, yakni antologi puisi (Tanah Pilih), antologi cerpen (Senarai Batanghari) dan buku kompilasi puisi, cerpen, dan esai karya sastrawan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6)  Pameran dan Bazar: memamerkan aneka corak dan bentuk karya sastra sebagai manifestasi adanya keberagaman, kedinamisan, dan keharmonisan. Pameran dan bazar dilaksanakan tanggal 07-10 Juli 2008 di gedung proscenium Taman Budaya Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Temu Sastrawan Indonesia ke-II yang dilaksanakan di Bangka Belitung, dengan amat menyesal tidak dapat saya ikuti, sehingga konsep penyelenggaraannya dan hasil-hasil yang dicapai juga tidak dapat saya sampaikan. Namun demikian, secara garis besar, "ruh" Temu Sastrawan Indonesia I juga terasa kental dalam penyelenggaraannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dalam pelaksanaan Temu Sastrawan Indonesia III yang dilaksanakan di Tanjungpinang 28-31 Oktober 2010 memiliki "benang merah" dengan konsep dan penyelenggaraan di Jambi. Temu Sastrawan III ini mengusung tema "Sastra Indonesia Mutakhir: Kritik dan Keragaman". Subtema yang diagendakan pun memiliki benang merah dengan TSI I di Jambi, yakni Stadium General sastra Indonesia Mutakhir: Kritik dan Keragaman (definisi sastra Indonesia mutakhir, persoalan yang terjadi, pertumbuhan komunitas dan kepenulisan hari ini); lalu Fenomena Sastra Indonesia Mutakhir (perihaal ideologi dan ekspresi sastrawan); Kajian Teks: penjelajahan dan pendalaman karya dengan keragaman mata kritik; Kemelayuan dan Keindonesiaan: keragaman antarsastrawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda kegiatan TSI III Tanjungpinang, sesuai dengan edaran, dalam garis besarnya, seperti juga agenda TSI I Jambi, terbagi dalam 6 kegiatan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Stadium General (ceramah umum) dan seminar;&lt;br /&gt;   2. Malam apresiasi sastra;&lt;br /&gt;   3. Forum dan bazaar buku;&lt;br /&gt;   4. Penerbitan buku antologi antologi sastra&lt;br /&gt;   5. Bengkel sastra; dan&lt;br /&gt;   6. Wisata budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastrawan yang diundang dalam TSI III, seperti juga TSI I Jambi, berkisar antara 200-250 sastrawan. Setiap sastrawan yang hadir akan diberi sagu hati Rp. 200.000,00 dan setiap sastrawan yang karyanya dimuat dalam buku antologi sastra akan mendapatkan honorarium sebesar Rp. 500.000,00. SETIAP SASTRAWAN YANG DIUNDANG DI TEMPATKAN DI HOTEL YANG REPRESENTATIF, DISEDIAKAN KONSUMSI, DAN TRANSPORTASI LOKAL. Demikian sekilas catatan tentang histori konsep dan pelaksanaan Temu Sastrawan Indonesia. Selamat mengikuti perhelatan kegiatan yang bergengsi ini. Hiduplah sastra Indonesia, hiduplah sastrawan Indonesia, majulah kiritik sastra Indonesia, sehat dan sentosalah komunitas sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diambil dari FB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-4278536561176706540?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/4278536561176706540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/jelang-ikut-temu-sastrawan-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4278536561176706540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4278536561176706540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/jelang-ikut-temu-sastrawan-indonesia.html' title='JELANG IKUT TEMU SASTRAWAN INDONESIA III DI TANJUNGPINANG'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/TLr5loXdPZI/AAAAAAAAAQo/25bmN1zu43U/s72-c/DAM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-4097519346866136470</id><published>2010-10-04T00:05:00.001-07:00</published><updated>2010-10-04T00:07:32.070-07:00</updated><title type='text'>KRITIK SASTRA</title><content type='html'>Seolah-olah Kritik Sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Maman S. Mahayana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pikiran Rakyat, 3 Oktober 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esai "Kritik dan ’Hama Sastra’" yang dimuat "PR" (19/9), tak mubazir kiranya jika ditanggapi. Ia seolah-olah esai "kritik sastra" yang enak dibaca, mengalir lancar memainkan bahasa. Akan tetapi, di sana sini ramai sesat nalar dan salah data. Tulisan ini coba mengembalikan duduk perkaranya ke jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esai itu berangkat dari buku Damhuri Muhammad, Darah Daging Sastra Indonesia (2010) yang memuat berbagai aspek sastra Indonesia; sejarah sastra, praktik kritik sastra, dan beberapa pandangan Damhuri tentang kehidupan kesusastraan Indonesia. Meski pembaca berkuasa menanggapi memaknai teks apa pun sebagaimana disarankan resepsi sastra, esai itu nyata benar telah mereduksi wacana keseluruhan isi buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mencomot satu konsepsi analogis, "hama sastra" untuk menyebut kritik sastra yang tidak sehat, esai Damhuri yang lain ditenggelamkan entah ke mana. Wacana yang lebih substansial, seperti problem sejarah sastra yang tersesat, perbincangan karya sebagai model kritik praktik (practical criticism) atau kritik terapan (applied criticism), dan berbagai kemungkinan pengembangan sastra Indonesia di masa depan, tak terbaca sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah sastra mana pun, perbalahan kritik sastra adalah rangkaian polemik pemikiran untuk menghindari stagnasi kehidupan sastra. Jika terjadi konflik sebagai ekor polemik, kemungkinan ada kepentingan ideologis yang melatarbelakanginya, seperti terjadi dalam perdebatan humanisme universal dan realisme sosialis. Bukankah Polemik Kebudayaan, perdebatan Kritik Aliran Rawamangun vs Metode Kritik Ganzheit, penolakan konsep Angkatan ’66, dan semangat estetik Angkatan 70-an, sampai ke sastra kontekstual, tidak ada konflik yang tertinggal. Camkanlah, kritik sastra adalah disiplin ilmu. Di sana bertaburan berbagai konsep dan istilah yang lahir melalui pergulatan panjang pemikiran. Pemahaman atas istilah atau konsep adalah cara belajar yang bijak. Bukankah para siswa pun memahami perbedaan polemik dengan konflik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kutipan berikut dari esai itu, "Pada tahun 1940-an Chairil Anwar dan H.B. Jassin bertikai gara-gara Chairil tak suka kritik Jassin terhadap beberapa puisinya." Dari mana sumber informasi ini? Kecuali soal buku yang dipinjam Chairil yang nyaris tak pernah dikembalikan, pertikaian Chairil dan Jassin tidak menyangkut esai kritik Jassin. Pada zaman Jepang (1942-1945), dari 42 puisi yang dihasilkan Chairil Anwar, hanya satu yang dipublikasikan, yaitu puisi "Siap Sedia" (Keboedajaan Timoer, No. 3, Agustus 1945). Setelah merdeka, sejumlah puisi Chairil Anwar dimuat majalah Pantja Raja (1946-1947) dan Gema Suasana (1947-1948) yang salah satu redakturnya, Chairil Anwar. Ia menawarkan puisi-puisinya kepada Sutan Takdir Alisjahbana (STA) yang menjadi redaktur Balai Pustaka dan direktur penerbit Dian Rakyat. STA menolak, sebab dianggap tak sesuai pandangan estetikanya. Jassinlah penyelamat puisi-puisi Chairil Anwar. Terbitlah antologi Deru Tjampur Debu (Pembangunan, 1949) dan Kerikil Tadjam dan Jang Terempas dan Jang Putus (Pustaka Rakjat, 1949). Sementara Tiga Menguak Takdir (dipersiapkan sejak 1946, terbit 1950) adalah jawaban Chairil Anwar pada STA. Dari sana Jassin menulis sejumlah ulasan tentang puisi Chairil Anwar. Mungkinkah Chairil membaca esai-esai Jassin yang dipublikasikan setelah Chairil Anwar meninggal (28 April 1949).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dipahami, perspektif dalam kritik sastra bukanlah pendekatan. Ia bukan alat analisis. Ia masuk kategori model penilaian. Dalam kritik sastra, ada tiga jenis penilaian, yaitu penilaian absolut, relatif, dan perspektif. Penilaian absolut dipengaruhi positivisme ketika perkembangan ilmu pengetahuan alam menggiring penilaian pada perkara benar atau salah. Penilaian relatif didasarkan pada impresi kritikus. Oleh karena itu, sepuluh kritikus akan menghasilkan sepuluh penilaian. Ada pun penilaian perspektif menekankan pada berbagai kemungkinan lain ketika satu pendekatan dengan teori tertentu, tidak sesuai dengan unsur intrinsik karya yang diteliti. Melalui penilaian perspektif inilah kekayaan teks digali-diungkap. Dari situlah pendekatan baru ditawarkan; teori baru dapat dirumuskan berdasarkan teks yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai definisi kritik sastra, kita akan sia-sia menemukannya. Yang ada adalah rumusan glosarium yang menjelaskan tentang itu. Sejak Plato dalam Republic menerapkan teori sastra sebagai alat analisis atas puisi-puisi Homerus, lalu Aristoteles melengkapi dalam karyanya, Poetica, dan terus bergulir sampai abad XX saat Paul Henardi mempertanyakan kembali sebagaimana dinyatakan dalam judul bukunya, What is Criticism? (Bloomington: Indiana University Press, 1981), tak ada satu pun rumusan definisi kritik sastra yang mutlak, tahan uji, definitif, dan berlaku universal. Yang muncul adalah simpang siur pemikiran tentang kritik sastra; bagaimana ia menjalankan fungsinya, mendasari pendekatannya, dan mengembangkan teori kritik sastra (theoretical criticism) yang representatif. Muaranya berkutat pada tiga bidang kegiatan, meliputi teori sastra (literary theory), sejarah sastra (literary history), dan kritik sastra (literary criticism). Objek kajiannya pengarang-teks-pembaca. Belakangan, kajiannya melebar: memasukkan penerbit sebagai bagian dalam sistem produksi dan reproduksi, bahkan juga dengan sistem patronasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting dipahami: hakikat kritik sastra adalah penilaian. Di dalamnya melekat apresiasi. Jadi, bukan perkara pujian dan hujatan, melainkan elusidasi dan eksplanasi yang meliputi deskripsi, interpretasi, analisis, dan evaluasi. Esai itu keliru menempatkan hakikat kritik sastra. Kekeliruan elementer ini diperparah lantaran ia juga gagal memperoleh legitimasi. Pernyataan Suminto A. Sayuti dikutip secara salah, "Kritik sastra berfungsi memahami karya sastra ...." Secara holistik dan komprehensif, kritik sastra berfungsi memberi pemahaman (baca: bukan memahami) atas sebuah teks sastra. Ia boleh bertindak sebagai panduan, pencerah, dan pemberi jalan terang. Bahkan melalui teks, kritik sastra fungsional bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan pengarang dengan pembaca. Teks itu representasi pengarang. Itulah yang diyakini Roland Barthes seperti ditulis dalam artikelnya The Death of the Author (Image-Music-Text. London: Routledge, 1977).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai usaha apresiasi, patutlah kita menghargai esai apa pun. Meski begitu, tindak serampangan yang berakibat pada sesat nalar dan salah data, selayaknya dihindarkan. Apalagi semangatnya mereduksi gagasan yang kompleks, jelas itu laku tak terpuji. Bukankah salah satu yang ditekankan kritik sastra adalah mencermati teks sebagai totalitas dan menguaknya secara holistik dan komprehensif? Nah, kiranya demikian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maman S. Mahayana,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;staf pengajar FIB-UI, dosen tamu Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-4097519346866136470?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/4097519346866136470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/kritik-sastra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4097519346866136470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4097519346866136470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/kritik-sastra.html' title='KRITIK SASTRA'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-8230144795584933493</id><published>2010-10-03T22:36:00.000-07:00</published><updated>2010-10-03T22:40:39.202-07:00</updated><title type='text'>Dari Ambivalensi Hingga Berladang di Punggung Sastrawan</title><content type='html'>Dari Ambivalensi Hingga Berladang di Punggung Sastrawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indrian koto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Tulisan Romi Zarman yang berjudul Tiga Catatan di Riau Pos Edisi Minggu 19 September 2010 terkesan terburu-buru memandang ragam soal dalam sastra. Lantaran banyaknya hal yang ingin dia gugat, perlu kiranya ada respon untuk membuka sebuah dialog. Harapan saya akan ada diskusi dan bahasan yang lebih spesifik untuk setiap persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet, Koran dan Sikap Sastrawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Romi terlalu sederhana melihat posisi dan fungsi internet sebagai media publikasi karya. Bagi Romi bentuk hanyalah apa yang bisa diraba, yang terlihat (pakai mata dan kepala pula) tidak dianggap sesuatu yang berbentuk. Dalam dunia internet, karya lebih banyak dipublikasikan di blog dan situs pribadi. Adapun facebook (FB) yang muncul belakangan adalah dunia yang lebih hiruk-pikuk, di mana personal yang terlibat dan karya yang diposting, diperlukan satu bahasan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ketika Romi bicara soal bagaimana dua media, koran dan internet bermain dalam penyeleksian karya, mengingatkan kita kembali pada gugatan Ahmadun Yosi Herfanda di awal kemunculan sastra internet. Romi Zarman menulis, “Tak ada proses seleksi di sana, seperti halnya sastra koran. Kelayakannya justru ditentukan oleh pembaca. Pembaca yang memiliki otoritas, bukan redaktur. Bila karya itu kurang baik mutunya, maka pembaca akan meninggalkannya. Atau sebaliknya, pembaca akan langsung menanggapi, memberikan masukan. Selain itu, maraknya sastra maya dikarenakan ia mampu menjadi media alternatif bagi sebagian pengarang kita.” Di bagian ini dia sudah memaparkan fungsi serta peran pembaca dalam sastra cyber. Lalu dia masuk pada kalimat, “Rata-rata dari mereka tidak percaya pada mekanisme seleksi koran.” Tudingannya semakin tajam dan menyebut “Dalam pandangan mereka, karya-karya yang dipublikasikan di koran tidak lepas dari selera dan kepentingan redaktur semata.” Selanjutnya ia kembali melihat peran sastra internet sebagai, “…media alternatif untuk mempublikasikan karya. Bahkan beberapa waktu belakangan, dunia maya tidak hanya berfungsi sebagai media alternatif, tapi juga tempat belajar menulis.” Secara tiba-tiba ia kembali menghujat, dan mematahkan hal yang diakuinya sendiri. “Bila ia hanya bukan sekedar media alternatif, mengapalah sebagian dari mereka mempublikasikan karya di media cetak koran? Bukankah mereka jelas-jelas mencurigai bahwa proses seleksi koran hanya didasarkan atas selera dan kepentingan redaktur semata?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Ah... ambivalensi.” Katanya. Romi dengan enteng lalu menyebut saya sebagai contoh dari ambivalensi yang dia maksud dan menyebut tiga media, yang katanya, “dicurigai sebagai koran yang mengkonstruksi estetika dominan.” Ada banyak penulis yang semula hanya menulis di situs-situs pribadi, blog dan milis lalu pindah ke koran. Sebagian ada yang berhasil, sebagian yang lain tidak. Mereka juga dengan tidak serta-merta mengabaikan ruang publikasi awalnya, dan sebagian yang lain juga dengan sadar kemudian tetap fokus di dunia maya. Ada banyak alasan yang tak bisa selesai dengan satu rumusan saja. Sastra di internet tidak lahir kemarin sore. Mereka yang menulis di dunia maya pun bisa mempublikasikannya di koran merupakan bukti bahwa baik koran maupun internet bisa melahirkan karya yang baik. Bukankah Romi juga percaya sastra di internet juga tidak semata-mata sebagai media alternatif tapi juga tempat belajar menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Mestinya kita belajar bagaimana koran dan internet bisa diperlakukan dengan wajar. Caranya dengan tidak lagi memandang media publikasi mana yang paling baik. Koran dan internet adalah sama-sama ruang publikasi. Tidak selalu koran memuat karya terbaik (dengan tidak mengabaikan fungsi dan peran koran yang bersifat jurnalistik). Karya yang baik juga bisa lahir dari koran mana pun dan ruang publikasi apa pun. Karya buruk pun bisa muncul dari bentuk media apa pun. Belum lagi alasan-alasan yang akan sangat panjang ketika kita mempertanyakan kenapa mempublikasikan sastra di koran, atau di internet. Kita tidak membahas dalam sebuah diskusi yang sambil lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi dia meragukan internet dengan perannya (termasuk mendistribusikan buku) tapi di sisi lain dia juga menganggap setiap orang perlu tahu dengan internet agar tidak pander teknologi. Di satu sisi dia bilang internet adalah ruang yang tidak elit dengan beragam kepentingan, tapi di sisi lain dia juga mengatakan internet adalah ruang yang tak bisa diakses oleh semua orang. Bagi saya tidak ada hubungan antara pengarang lokal- pengarang nasional dengan akses internet. Istilah daerah atau lokal merujuk pada tempat. Kitalah yang kemudian menjadikan istilah lokal-daerah menjadi sesuatu inferior. Bahwa yang nasional tidak hanya pusat. Istilah koran nasional misalnya, muncul dikarenakan faktor-faktor yang mendukung seperti jumlah pembaca, oplah, persebaran dan distribusinya. Jawa Pos yang terbit di Surabaya (merujuk wilayah) adalah juga koran nasional karena berdasarkan oplah dan jumlah pembaca serta.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bagi Romi, orang gagap teknologi adalah orang yang tak bisa meninggalkan dunia koran. Romi seperti tidak terima jika ada orang yang menulis di dunia cyber mengirimkan karyanya juga ke koran. Apa iya bagi Romi orang-orang yang mempublikasikan karyanya di blog dan facebook semata-mata orang yang menolak koran sebagai ruang publikasi? Apakah perlu dipertanyakan pula mengapa mereka yang karyanya dipublikasikan di koran kemudian memposting karyanya di blog, situs atau FB?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Romi juga menulis, “Warisan itu berbentuk dikotomi lokal-nasional, di mana satu kategori yang bernama nasional merasa lebih superior dibanding lokal. Pengarang lokal dipandang begitu inferior. Belum ada apa-apa bila karyanya menembus koran nasional.” Romi mengatakan mereka (yang menasional itu) menutup pintu komunikasi, tak mau duduk semeja dengan pengarang lokal dan berkumpul dengan sesama mereka. Dia menuding-nuding dengan “mereka, mereka” tanpa menyebut yang mana dan siapa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Ketika mempertanyakan dominasi koran (dan peran redaktur) dianggap sebuah sikap yang ambivalen, bagaimana kita bisa bicara soal superior-inferior, lokal-nasional, pusat-daerah, pengarang kecil-pengarang besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit, Distribusi dan “Membumikan Sastra”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Di pembuka bagian tiga, Romi mulai dengan mengatakan gagasan sastra internet sebagai ruang alternatif (yang tadi juga diakuinya) jauh panggang dari api. Sejak kapan pula internet diklaim sebagai milik kaum elit? Dia menukik pada soal buku dan pembaca. Mulai dari pembumian sastra, soal distribusi yang cenderung tertutup, e-book, buku online, hingga sikap yang seharusnya diperhatikan penerbit buku. Rakus sekali dia yang mau merumuskan sesuatu dalam sekali tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Untuk distribusi tawaran Romi adalah sistem jemput bola. Seandainya Romi bisa menjelaskan bagaimana teknik ini berjalan, agar buku bisa sampai ke kaki lima, saya yakin para penerbit dan distributor akan berhutang besar pada ide brilian ini. Upaya menggunakan jaringan komunitas, menjual buku online adalah salah satu media distribusi buku diabaikan Romi. Sekali lagi dia menganggap upaya semacam ini adalah bentuk “menentang”. Gampang sekali ia mengklaim bahwa ini penolakan, itu penolakan dan kesemua adalah ambivalensi. Aih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sangat bijaksana Romi lalu berujar: “Bila dibanding dengan strategi pemasaran Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, Rahasia Medee  dan  Negeri Lima Menara, saya pikir kita perlu belajar dari mereka. Akan tetapi, jangankan belajar, sebagian kaum sastrawan menolak kehadiran mereka.” Romi sedang bicara strategi pemasaran atau sikap (sebagian) sastrawan terhadap karya mereka? Romi tidak memberikan gambarannya. Romi mungkin lupa, penerbit kecil yang katanya melakukan kapitalisasi itu paling banyak hanya menerbitkan 2000 eksemplar buku, sementara standar yang diminta distribusi besar 5000 eksemplar buku. Belum lagi harga buku sangat ditentukan oleh harga kertas, biaya produksi dan biaya distribusi. Bicara sastra sampai ke tengah masyarakat, novel-novel Fredy S., Lupus, Wiro Sableng, komik petruk-Gareng sampai karya-karya Asmaraman Koo Ping Hoo justru tidak ada tandingan. Semua penerbit ingin bukunya tersalurkan sejauh-jauhnya, namun langkahnya tentu tidak sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Romi juga menuding perlakuan sastrawan yang tidak menyertakan para pengarang yang dimaksud ke acara-acara pertemuan sastra. Menurut Romi sebagai sastrawan mereka harusnya juga mendapat tempat di acara-acara pertemuan sastra. Di Indonesia ada banyak acara-acara sastra. Mungkin seseorang tidak diundang di event tertentu tetapi di event yang lain. Bahkan Andrea Hirata mewakili Indonesia Festival Iowa. Melihat pembaca menangis, merasa tersadarkan, buku laris, difilmkan tentu bukan kontribusi yang diharapkan demikian. Siapa sebenarnya yang diuntungkan oleh situasi semacam ini? Alih-alih sastra sampai ke pembaca dengan baik, mereka justru menjadi selebritas, diundang dengan bayaran sekian puluh juta, memberi motivasi dan justru lebih banyak bukan untuk acara-acara sastra. Justru dari sini muncul menara gading, pemberlakuan istimewa terhadap sebagian sastrawan. Apa sastra selesai dengan karya yang renyah, laku di pasaran dengan mengabaikan betapa sistem ekonomi berperan besar di sana? Membumikan sastra tak mesti dilihat dari buku yang laris, pengarang diundang dengan honor besar, penampilan diseting manajemen, diproduksi barang-barang semacam kaos, note book, pulpen, pin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Selanjutnya Romi menulis, “Hampir tak bisa dipungkiri, sistim seperti itulah (kapitalisme) yang membantu sastra untuk membumikan dirinya. Bahkan, sejumlah penerbit kecil ada yang berlaku serupa… sehingga tak mengherankan kenapa tak mau mendistribusikan buku-bukunya ke toko buku yang mereka anggap kapitalis.” Dia menganggap (mungkin sebagian atau keseluruhan?) penerbit kecil yang maling teriak maling. Romi mungkin pura-pura tak tahu betapa penerbit kecil ini dikepung mafia buku. Untuk menerbitkan satu buku penerbit kecil harus pontang-panting mendapatkan kertas dan berhitung betul dengan biaya produksi. Belum lagi buku yang ditolak dengan berbagai alasan: jenis buku, judul, pilihan cover, menjual-tidak menjual, hitungan laku tidak laku sampai harga distribusi yang mencekik leher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Siapa yang berladang di punggung sastrawan? Klaim ini harus bisa dipertanggungjawabkan. Romi berharap penerbit kecil akan bisa bersikap seperti penerbit besar, namun mengabaikan usaha yang dilakukan mereka dengan tudingan-tudingan kasar dan tak berdasar. Tentu kita boleh tidak sepakat dengan kerjasama penerbitan antara pengarang dan penerbit. Hal itu, sebagian dilakukan sebagai upaya agar karya bisa terbit. Di Kita perlu melihat ini dari dua wilayah sekaligus: pengarang dan penerbit untuk lebih objektif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indrian Koto, mahasiswa yang belum menyelesaikan S1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-8230144795584933493?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/8230144795584933493/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/dari-ambivalensi-hingga-berladang-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/8230144795584933493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/8230144795584933493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/dari-ambivalensi-hingga-berladang-di.html' title='Dari Ambivalensi Hingga Berladang di Punggung Sastrawan'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-3339108593760947088</id><published>2010-10-02T23:45:00.000-07:00</published><updated>2010-10-02T23:49:28.613-07:00</updated><title type='text'>PUYANG KEMIRI</title><content type='html'>PUYANG KEMIRI: PESAN-PESAN, DAN ASAL USUL EMPATLAWANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Vebri Al Lintani&lt;br /&gt;Direktur Lembaga Budaya Komunitas Batanghari 9 (KOBAR 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah-kisah Puyang, selain memuat asal usul, juga memuat pesan-pesan dasar yang menjadi aturan adat yang amat dipatuhi oleh masyarakat. Inilah yang disebut dengan pesan puyang. Satu diantara kisah puyang di wilayah Batanghari Sembilan adalah Puyang Kemiri yang diakui sebagai puyang (nenek moyang) orang-orang di dusun (sekarang desa) Kunduran, sebagian dari masyarakat dusun Simpang Perigi, dan sebagian masyarakat yang tersebar di dusun-dusun sekitar kecamatan Ulu Musi, Kabupaten Empat Lawang, daerah perbatasan antara provinsi Sumatera Selatan dan provinsi Bengkulu. Dahulu daerah ini merupakan bagian dari wilayah marga Tedajin. Berikut ini ringkasan cerita Puyang Kemiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon di masa akhir kejayaan kerajaan Majapahit, Rio Tabuan, seorang biku yang yang berasal dari negeri Biku Sembilan Pulau Jawa menelusuri sungai Rotan atau sungai Musi dengan membawa kerbau dan ayam berugo (ayam hutan). Ketika tiba di Kuto Kegelang, kedua hewan yang dibawanya berbunyi, maka di tempat inilah dia menetap. Kuto Kegelang berada beberapa kilo meter di hulu Dusun Kunduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kuto Kegelang, dia mendapatkan tujuh orang anak yang bernama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * (1) Imam Rajo Besak,&lt;br /&gt;    * (2) Imam Rajo Kedum,&lt;br /&gt;    * (3) Seampai-ampai,&lt;br /&gt;    * (4) Maudaro,&lt;br /&gt;    * (5) Siap Melayang,&lt;br /&gt;    * (6) Robiah Sanggul Begelung&lt;br /&gt;    * (7) Serunting Sakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan tujuh orang anak, Puyang Rio Tabuan tidak lagi merasa kesepian. Anak-anak ini dimintanya dari Mastarijan Tali Nyawo, seorang penduduk yang tinggal di Surgo Batu Kembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun kemudian, Robiah Sanggul Gelung yang cantik dilarikan oleh Seniang Nago ketika mandi di tepian Sungai Musi. Robiah duduk di atas sebatang kayu yang rupanya samaran Seniang Nago dan kemudian pelan-pelan bergerak menjauh dan melarikannya ke Selabung.Lalu Robiah disusul oleh Kerbau Putih, (seekor kerbau peliharaan Puyang Kemiri, atau penafsiran lain adalah seorang yang berjuluk Kerbau Putih karena kesaktiannya) untuk mencari Robiah, atas suruhan saudara-saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerbau putih memulai pencariannya dengan menyelam di sana dan muncul di tepian coko (tepian mandi di seberang dusun Kunduran). Di tempat ini masih dapat dilihat bekas telapak kaki (tinjak) kerbau putih. Lalu dia menyelam lagi, muncul kedua kalinya di dusun Tapa dan kemudian menyelam lagi hingga ketiga kalinya di Selabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian Kerbau Putih ini berhasil menemukan Robiah tetapi tak berhasil membawakanya kembali ke Kuto Kegelang. Robiah sudah menikah dengan Seniang Nago. Lalu Kerbau putih segera pulang ke Kuto Kegelang. Sebagai tanda bukti bahwa dia sudah bertemu dengan Robiah, Kerbau Putih dibekali dengan seikat ilalang, seruas bambu, air garam, sebuah kemang, seekor kemuai (keong putih) serta pesan Puteri Robiah yang ditulisnya di tanduk Kerbau Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang, Kerbau Putih dihadang oleh kerbau Tanduk Emas dan kemudian dua kerbau ini berkelahi. Kerbau Putih kelelahan dan mati di dusun Tapa. Perbekalan yang dibawa olehnya berupa ilalang tertumpah dan tumbuh di daerah ini sehingga menjadi hamparan padang ilalang yang saat ini dikenal dengan nama Padang Pancuran Emas. Buah Kemang pun tumbuh dan bambu juga ikut tumbuh di atas tubuh Kerbau Putih. sedangkan Kemuai diantarkan oleh Puyang Dusun Tapa ke Kuto Kegelang dan sekaligus menyampaikan pesan tentang Robiah yang tertoreh di tanduk Kerbau Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berselang beberapa bulan kemudian, Robiah yang sudah memiliki seorang anak berniat pulang (begulang) ke Kuto Kegelang. Mendengar kabar Robiah akan begulang, semua saudara-saudaranya amat bahagia, dan segera bermusyawarah untuk mengadakan sedekahan (kenduri). Tetapi lain halnya dengan Serunting, di dalam hatinya masih menyimpan rasa sakit karena perlakuan Seniang Nago yang melarikan Robiah. Karena itu, ketika dia disuruh mencari ikan, dengan setengah hati dia pergi, dan baru kembali setelah kenduri usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kembali Serunting hanya membawa seruas bambu, seperti yang di bawanya semula. Tetapi ternyata, seruas bambu itu berisi ikan yang tidak habis-habisnya, semua bakul, keranjang bahkan kolam tidak dapat menampung ikan yang ditumpahkan dari seruas bambu tersebut. Imam Rajo Besak yang sedari mula sudah kesal dengan Serunting bertambah marah. Lalu Imam Rajo Besak melemparkan seruas bambu dengan sangat keras hingga melewati Bukit Lesung dan jatuh di sungai Pelupuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serunting sakti jadi tersinggung dengan sikap kakak tertuanya ini lalu pergi dari rumah. Tinggallah Imam Rajo Besak dan ke empat saudaranya. Mereka hidup tenang dalam beberapa tahun. Lalu mereka diserang oleh segerombolan orang. Rumah mereka dibakar habis. Tetapi kelima puyang ini dengan kesaktiannya, tiba-tiba menghilang (silam) dari pandangan orang-orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah rumah yang mereda dari kobaran api, tampaklah seorang anak yang duduk di tengah puing-puing rumah. Konon, anak itu bukan hangus tetapi malah menggigil karena kedinginan. Anak yang bernama Sesimbangan Dewo ini kemudian dipelihara olehPuyang Talang Pito (daerah Rejang). Sesimbangan Dewo, artinya pengimbang puyang yang silam. Beberapa tahun dia dirawat oleh Puyang Talang Pito. Lalu dia mengembara selama sepuluh tahun ke negeri lain. Kemudian dia pulang ke sekitar dusun Kunduran, menetap di Muara Belimbing. Makamnya pun berada di Muara Belimbing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa tahun kemudian, Imam Rajo Besak menjelma kembali. Dia bertemu dengan Rajo Kedum dari Muaro Kalangan, Raden Alit dari Tanjung Raye, dan Puyang dari Muara Danau. Keempat orang ini kemudian dikenal dengan nama empat lawangan (empat pendekar) yang kemudian menjadi cikal bakal kata Empatlawang. Keempat sahabat kemudian menyerang kerajaan Tuban yang dipimpin oleh seorang ratu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penyerangan yang dipimpin Imam Rajo besak sebagai panglima mereka mendapatkan kemenangan. Mereka berhasil memasuki istana dan mengambil beberapa benda yang berharga termasuk sebilah keris pusaka Ratu Tuban yang diambil sendiri oleh Rio Tabuan dengan ujung kujur (tombak) pusakanya, karena ketiga temannya tidak mampu. Kedua pusaka ini, hingga saat ini masih tersimpan di jurai tuo (keturunan yang memiliki garis lurus dengan puyang Imam Rajo Besak) yang tinggal di dusun Kunduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puyang Kemiri memberikan sumpah kepada keturunannya yang jika tidak dipatuhi akan mendapat keparat (kualat). Inilah 3 sumpah Puyang Kemiri :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (1) beduo ati dalam dusun nedo selamat (berdua hati di dalam dusun tidak selamat),(2) masukkan risau dalam dusun nedo selamat (memasukkan pencuri di dalam dusun tidak selamat),(3) iri dengki di dalam dusun nedo selamat (iri dengki di dalam dusun tidak selamat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, puyang Kemiri pun memesankan tujuh larangan lagi, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * 1. nyapakan kaparan ke ayik (membuang sampah ke sungai),&lt;br /&gt;    * 2. mandi pakai baju dan celano (mandi memakai baju dan celana; biasanya orang di dusun kalau mandi memakai telasan (kain penutup tubuh yang dipakai khusus untuk mandi),&lt;br /&gt;    * 3. buang air besar/kecil di atas pohon,&lt;br /&gt;    * 4. ngambik puntung tegantung (mengambil kayu bakar yang tergantung di pohon),&lt;br /&gt;    * 5. ngambik putung anyot (mengambil kayu bakar yang hanyut di sungai,&lt;br /&gt;    * 6. mekik-mekik di ayik dan di hutan (berteriak di hutan atau di sungai),&lt;br /&gt;    * 7. nganyotkan kukak gebung (menghanyutkan kulit rebung di sungai).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis pesanJika mencermati ketiga sumpah puyang, pertama, agar seseorang tidak boleh bersikap mendua hati, artinya seseorang harus setia pada kesepakatan awal. Tidak boleh memasukkan pencuri atau berkhianat, apalagi menjadi pencuri betulan. Artinya kejujuran merupakan hal yang paling utama dalam meningkatkan kepribadian seorang manusia. Selanjutnya, anak cucu Puyang Kemiri harus bersih hati dari iri dan dengki. Ketiga, norma dasar ini merupakan sikap dasar yang harus dimiliki oleh orang yang baik.Pada bagian kedua, poin satu, dan poin lima, umpamanya, pesan ini berspektif lingkungan. Bagaimana puyang-puyang dahulu telah memikirkan cara menjaga sungai dan melindungi hutan. Sungai dan hutan yang di dalamnya bergantung kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan lainnya, merupakan satu mata rantai yang saling membutuhkan. Karenanya, mata rantai ini harus dijaga dalam garis keseimbangan. Simaklah larangan puyang yang tidak boleh membuang sampah di sungai, artinya jika membuang sampah tentu akan membuat sungai tercemar.Poin lima, pesan puyang melarang orang mengambil kayu bakar yang hanyut di sungai. Jika direnungi lebih lanjut, larangan ini tidak hanya melarang orang mengambil kayu bakar tetapi sebenarnya juga tidak boleh menebang pohon di tepi sungai. Karena biasanya pohon yang hanyut di sungai adalah pohon yang diambil di tepi sungai, atau yang dihanyutkan melalui sungai. Saat ini, kita lihat betapa banyak orang-orang mengangkut gelondongan kayu yang tidak sah (illegal logging) di sungai. Jadi, tidak hanya kayu bakar tetapi kayu-kayu besar sudah dijarah oleh orang-orang yang serakah. Akibatnya bencana banjir menjadi langganan tahunan bagi masyarakat daerah ini.Poin tujuh, puyang melarang seseorang menghanyutkan kulit rebung yang bermiang (bulu-bulu halus yang menempel di kulit rebung dan akan menyebabkan gatal-gatal jika terkena kulit manusia) di sungai. Maksudnya, kulit rebung yang mengandung miang jika dihanyutkan akan membuat miangnya hanyut dan jika ada orang yang mandi maka dia akan terkena miang yang dapat menyebabkan tubuhnya menjadi gatal. Selanjutnya, pada poin tiga, melarang orang membuang kotorannya di atas kayu. Takutnya jika ada orang lewat di bawahnya tentu akan membuat celaka juga. Jika dipahami lebih luas, poin tujuh adalah larangan puyang agar tidak berbuat yang dapat mengakibatkan orang lain celaka.Poin dua, dan poin empat merupakan kiasan perbuatan yang dapat mencelakakan diri sendiri. Cobalah pikirkan, jika seseorang mandi pakai baju dan celana, tentu mandinya tidak dapat terlalu bersih dan jika tiba-tiba hanyut, tentu celana dan baju akan menjadi berat jika dibawa berenang. Begitu juga dengan mengambil kayu bakar yang tergantung, salah-salah akan menimpa dirinya.Poin enam dilarang berteriak di sungai dan di hutan. Umumnya masyarakat di uluan Sumatra Selatan melarang berteriak di sungai dan di dalam hutan. Sebab, berteriak di dalam hutan akan mengganggu ketenangan hewan-hewan, dan bahkan bisa mengejutkan binatang buas. Jika binatang buas terkejut tentu saja akan mendatangkan celaka bagi diri sendiri.Larangan-larangan puyang di atas sebagian besar bersumber dari cerita Puyang Kemiri itu sendiri, misalnya, tentang larangan mengambil kayu bakar yang hanyut, ini ada kaitannya dengan Puyang Seniang Nago yang menyamar menjadi sebatang kayu yang rebah di tepian. Begitu juga dengan sikap hati mendua, dan iri hati di dalam dusun. Hal ini ada kaitannya dengan cerita Puyang Serunting Sakti yang tidak ikhlas menjalankan tugas yang sudah disepakati dan diperintahkan oleh Imam Rajo Besak.Pesan-pesan kearifan lokal seperti ini, jika dilihat secara substansi merupakan nilai-nilai yang universal dan bersumber dari adat. Tetapi seringkali, nilai-nilai yang berlaku secara adat, saat ini dianggap tidak masuk akal dan berbau kemenyan. Padahal, kearifan lokal seperti ini oleh masyarakat adat sangat dipatuhi. Karena mereka sangat yakin, apabila tidak dipatuhi akan mendatangkan balak (mala petaka). Dimana-mana seolah-olah mata puyang selalu mengawasi mereka. Hal ini sangat masuk akal. Saya kira, siapa pun yang melanggar ketentuan Puyang Kemiri akan tidak selamat dan tidak sempurna hidupnya. Bagaimana hidupnya mau selamat jika mendua hati (berhianat), pencuri, dan tidak jujur.Dari sisi budaya, legenda Puyang Kemiri merupakan modal sosial budaya yang perlu dijaga. Sejatinyalah, legenda Puyang Kemiri merupakan sumber hukum adat yang memiliki nilai-nilai universal, menjunjung persatuan, menjunjung rasa hormat terhadap diri sendiri, rasa hormat terhadap orang lain dan terhadap lingkungan alam lainnya.Selanjutnya tugas para agamawan dan budayawan menyambungkan substansi nilai-nilai tersebut dengan ajaran-ajaran agama Islam yang juga memiliki nilai-nilai yang sama, dan lalu menyambungkannya dengan nilai-nilai yang berkembang dalam era saat ini. Sehingga nilai adat dapat bersinergi dengan nilai agama dan nilai kebudayaan yang telah mengamali kegayauan (kegamangan).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-3339108593760947088?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/3339108593760947088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/puyang-kemiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3339108593760947088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3339108593760947088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/puyang-kemiri.html' title='PUYANG KEMIRI'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-807672561799087862</id><published>2010-10-02T04:10:00.000-07:00</published><updated>2010-10-02T06:13:39.838-07:00</updated><title type='text'>PUISI MODERN DAERAH SEBAGAI CORONG</title><content type='html'>PUISI MODERN DAERAH SEBAGAI CORONG&lt;br /&gt;Oleh Jajang R Kawentar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Modern berbahasa daerah sugguh sulit ditemukan di Kabupaten Lahat, mungkin juga di Sumatera Selatan. Sastra daerah merupakan manifestasi dari khasanah seni budaya dan ilmu pengetahuan yang berkembang di daerah tersebut. Sebagai pergulatan pengetahuan dan lingkungannya. Sastra dalam hal ini puisi bisa menjadi corong dalam menyuarakan berbagai macam permasalahan social dan kekayaan seni budaya serta alamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya sastra daerah merupakan bentuk pengabdian sastrawan yang cukup signifikan terhadap daerahnya ditinjau dari kebahasaan. Tersebab karya sastra dalam hal ini puisi tercipta sebagai karya yang adiluhung cermin kecintaan seorang penyair terhadap negrinya sendiri, terhadap seni budaya dan lingkungannya. Penyair berfungsi sebagai pemerilahara dan penjaga dari bahasa daerah itu sendiri disamping para pemakainya, yang pada saat ini pengguna dari bahasa daerah itu sudah sangat sempit. Karena hanya pada kesempatan tertentu saja, seperti dalam keluarga. Tidak sedikit orang yang meninggalkan bahasa daerahnya dalam percakapan sehari-hari. Alasannya karena pergaulan yang sudah semakin tinggi atau karena terbawa budaya metropolis. Terkadang malu memperkenalkan bahasa daerahnya, bagian dari kekayaan negrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik penulisan bahasa daerah tentu berbeda dengan penulisan bahasa Indonesia meskipun memiliki kesamaan. Hal ini menampakkan keunikan dan kekhasan dari bahasa daerah itu sendiri. Tetapi penulis tidak membahas hal tersebut. Hanya ingin memperkenalkan puisi berbahasa daerah yang dikembangkan di Komunitas Sastra Lembah Serelo Lahat seperti karya Yudistio Ismanto yang sudah setahun ini bergiat di komunitas tersebut.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudistio Ismanto (30) bekerja dipercetakan milik sendiri, direktur CV Sobatindo Kreasi, sejak SMA senang dengan sastra dan sudah setahun sejak berdirinya Komunitas Sastra Lembah Serelo Lahat. Dirinya mulai aktif menulis puisi. Selain menulis puisi berbahasa Indonesia, dia juga menulis puisi berbahasa Lahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mati Bujang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;janji sengkuit ditagih ladang&lt;br /&gt;kebile nian kabah kan nyiang&lt;br /&gt;kate betaruh njadikah utang&lt;br /&gt;dek tebayar jangan melanang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tinggalah rumput matilah bujang&lt;br /&gt;rimbe ngehiput mulut betantang&lt;br /&gt;badan tepuput tesandar miang&lt;br /&gt;nyali ciut matilah bujang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi ini menunjukkan karakter laki-laki Lahat, yang harus siap menghadapi tantangan zaman. Tentang  penagihan janji seorang laki-laki yang menatap keras kehidupan saat ini. Kalau kita takut terhadap kehidupan saat ini dan tidak mau bekerja dengan keras lebih baik mati dari sekarang. Mati Bujang menjadi kalimat sindiran bagi pemuda yang takut akan kerasnya kehidupan, sehingga tidak mau berusaha, bekerja keras, tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudistio Ismanto juga berbicara mengenai lingkungan, mengenai sungai Lematang yang saat ini semakin memprihatinkan. Yudi seolah membongkar sugai Lematang yang dulu menjadi sumber kehidupan selain sebagai tempat mencari ikan, tempat bahan baku bangunan seperti batu, pasir, sebagai tempat lalu lintas pengguna sampan menuju kebun atau ke pasar, sebagai tempat mandi, mencuci, dan buang air besar. Yudi membandingkannya dengan keadaan Lematang saat ini yang kotor oleh sampah, keruh karena ada alat berat pengeruk batu dan pasir di mana-mana. Sehingga mengakibatkan berbagai jenis ikan musnah, pulau-pulau hilang dan dasar sungai semakin dangkal, sementara sungai semakin melebar. Cucung Puyang Lematang mempertanyakan mempertanyakan sungai yang dulu indah dan menjadi sumber kehidupan kini seperti sebuah kenangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cucung Puyang Lematang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuape agi diahap sandi ayek lematang&lt;br /&gt;mak ini ahi gi tekinak escavator betangan panjang&lt;br /&gt;Sandi hulu sampai ke hilir &lt;br /&gt;ngeruki batu ngudaki pasir&lt;br /&gt;Ancurlah lubuk ninggal kenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimane agi kah nyakau gulai&lt;br /&gt;Ame ikan pegi dek tekeruan &lt;br /&gt;Ame ketam lah pule kelam ngihingi malam&lt;br /&gt;Ame udang lah midang ke neghi sebehang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan mengayun Beduyun-duyun&lt;br /&gt;untalkan umpan tajur ahapan&lt;br /&gt;Tinggallah kance tinggallah kundang &lt;br /&gt;Badan duduk di batu bujang&lt;br /&gt;Singkap kuduk tembang mengingat puyang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tung keruntung Batang pisang&lt;br /&gt;Akulah cucung Puyang lematang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun nipah dihume padang&lt;br /&gt;Mintak semah kah ndek mindang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nak betanak Ikuk padi&lt;br /&gt;Digek  ye besak ye kecik jadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lenget pagi behanjak siang&lt;br /&gt;dek lame agi ahi kan petang&lt;br /&gt;mancing semah uleh seluang&lt;br /&gt;perahu karam di ayek lematang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya semua ini mempertanyakan kepada kita dan masyarakat Lahat sendiri, mungkin kepada pemerintah yang mengatur dan masyarakat adatnya. Kekhawatiran sebagai warga yang menyayangkan kepada semua pihak karena tidak serta merta menjaga lingkungannya. Kita sadar apabila lingkungan tidak lagi ramah akibat kerakusan atau keteledoran masyarakatnya, maka kita semua sedang menunggu bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Yudistio Ismanto mempertanyakan banyaknya masyarakat miskin yang justru di sekitar penambangan sumber daya alam di sekitar Bukit Tunjuk (Bukit Serelo). Banyak orang luar mengeruk hasil tambang tetapi masyarakat disekitarnya hanya terus berharap dan berharap: Kebile nian hati kan ribang/ Ngayapi  jalan tinggal sebatang/ Hutan kelimis lematang kehu/ Padi mengemis lesung membisu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tembang Anak Umang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandi lematang bukit tunjuk bedihi nantang&lt;br /&gt;hatap sawah membentang tambang&lt;br /&gt;Di mane hume&lt;br /&gt;Ke mane ladang&lt;br /&gt;Dirut betanye&lt;br /&gt;Siape betandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak umang nangisi bapang&lt;br /&gt;Umak dek bediye tinggalah suhang&lt;br /&gt;lontar damar ncakauhi akar&lt;br /&gt;Hidup nyemun dalam belukar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebile nian hati kan ribang&lt;br /&gt;Ngayapi  jalan tinggal sebatang&lt;br /&gt;Hutan kelimis lematang kehu&lt;br /&gt;Padi mengemis lesung membisu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Pembina Komunitas Sastra Lembah Selelo Lahat dan Guru SMA Negeri 1 Merapi Selatan Kab. Lahat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-807672561799087862?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/807672561799087862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/puisi-modern-daerah-sebagai-corong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/807672561799087862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/807672561799087862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/puisi-modern-daerah-sebagai-corong.html' title='PUISI MODERN DAERAH SEBAGAI CORONG'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-8282147135428843877</id><published>2010-10-01T23:35:00.000-07:00</published><updated>2010-10-01T23:36:31.549-07:00</updated><title type='text'>Syamsu Indra Usman dalam Konstelasi Budaya Empat Lawang</title><content type='html'>Syamsu Indra Usman dalam Konstelasi Budaya Empat Lawang&lt;br /&gt;Oleh : Jajang R Kawentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KabarIndonesia - Ketika orang ramai-ramai meninggalkan kebudayaan daerahnya dan mengagung-agungkan kebudayaan baru yang hampir tidak memiliki kepribadian itu, yang sesunguhnya kebudayaan produk kapitalisme atau seringkali kita menyebutnya budaya global. Kebudayaan global atau budaya baru keluar dari system budaya yang berkepribadian nusantara, karena mengumbar berbagai gaya hidup dan produk yang ditawarkan melalui barang-barang, mulai dari barang kelontong, kosmetik, hingga kebutuhan hidup sebagai produk hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks tersebut ternyata masih saja ada yang malah kembali ke keagungan daerahnya, bercengkrama dengan bahasa Ibunya, bergumul dengan tradisi yang luhur itu dan hal ini saya sebut sebuah kebudayan yang memiliki kepribadian. Bangsa kita termasuk di Sumatera Selatan ini, sudah merasa malu kalau mengetengahkan kesenian daerahnya, menggunakan bahasa daerahnya, terutama para generasi penerusnya. Hampir tidak ada lagi yang menyukai kesenian daerahnya, bahasa daerahnya, apalagi mempelajarinya. Sungguh keprihatinan yang mendalam kalau leluhur itu tahu. Kebanggaan anak negeri terhadap tanah kelahiran dan tradisi tanah leluhur serta karya seni anak bangsanya, luntur sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepedulian Sang Penyair&lt;br /&gt;Keprihatinan itu ditangkap Syamsu Indra Usman sang Penyair Gunung, rajo teleguh yang tidak pernah lelah terus mengusung kebudayaan daerah Empat Lawang sebagai kabupaten baru di Sumatera Selatan yang menurutnya sangat berbeda dengan yang lain. Perbedaannya dikatakan dengan lantang, yang menggambarkan karakter Lintang daerahnya. Dia menjadi rujukan utama dalam kebudayaan daerahnya, ia terus berusaha menjaga dan ikut mengembangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa pertemuan dan berbagai kegiatan serta membaca beberapa karyanya mengenai budaya Empat Lawang, Indra Usman seakan hendak membicarakan budaya daerah Empat Lawang di tingkat global melalui puisi, cerita pendek dan novel. Bahkan resep masakan tradisional Empat Lawang, kamus bahasa Lintang dan adapt istiadat Empat Lawang. Apakah karya sastra berbahasa daerah Empat Lawang itu merupakan bentuk perlawanan terhadap budaya global? Apakah sebagai bentuk penyadaran bagi masyarakat Empat Lawang? Seakan ia ingin mengatakan bahwa kenalilah budaya sendiri, jangan merasa malu dengan bahasa dan budaya yang kita miliki. Seolah-olah ia juga mengajak marilah kita mencintai seni tradisi dan budaya sendiri, gunakanlah bahasa daerah sebagai ciri kepribadian bangsa melalui karya sastra serta nafas kehidupan hari-hari dalam pergaulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Menyepelekan Tradisi&lt;br /&gt;Kita memang sudah hampir kehilangan akar budaya sendiri, dan kita seperti masuk dunia baru, seperti budaya baru atau budaya global yang dikumandangkan lewat berbagai kesempatan dan hampir setiap menit serta detik dinikmati oleh para generasi penerus melalui berbagai media yang semakin canggih.&lt;br /&gt;Kita di sini di Sumatera Selatan terkadang bingung yang mana sesungguhnya kebudayaan milik kita. Seringkali tidak terima dengan kebudayaan yang ada dan telah mengakar. Seringkali tidak percaya diri dengan yang ada, apalagi budaya yang berkembang sesuatu yang buruk, selalu diusut-usut budaya datangan. Dengan alasan bahwa dari dulu Sumatera Selatan merupakan daerah transit berbagai suku bangsa. Bahkan ketika berkembang berbagai macam kekerasan, ada pula alasannya karena Sumatera Selatan merupakan daerah maritim sejak jaman Kerajaan Sriwijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya berbagai betuk kekerasan sejalan dengan tenggelamnya budaya luhur yang menjadi akar rujukan dalam tingkah laku masyarakat, sebuah tradisi yang mengajarkan moral dan bermasyarakat. Hukum-hukum yang berakar dari tradisi dipangkas walau sedikit-sedikit, ataupun lenyap ditelan jaman, karena system pendidikan tidak mengajarkannya sebagai suatu alat yang dapat dijadikan benteng atau filter atas serangan budaya baru. Pada akhirnya masyarakat kian menyepelekan tradisi puyang, dan semakin lama ditinggalkan bahkan dilupakan. Di sisi lain ada orang-orang luar yang mencoba mencatat sejarah yang mereka anggap bangsa kita memiliki peradaban tinggi pada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kita telah menginjak-nginjaknya sendiri.&lt;br /&gt;Simpul-simpul budaya seperti kesenian sudah memudar, sanggar-sanggar kesenian hampir sulit didapatkan, para pekerja seni kehilangan pekerjaannya, Dewan Kesenian tinggal nama dan gedungnya saja. Sementara pendidikan seni budaya di sekolah-sekolah menjadi mata pelajaran anak tiri. Guru-gurunya banyak bukan ahli di bidangnya. Di lain hal sekolah menengah seni dikebiri atau perguruan tinggi seni karbitan. Budaya belajar dari titik nol tidak lagi menjadi model, budaya belajar jalan pintas menjadi popular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini bukan hal yang kecil tetapi nasional, namun orang-orang memandangnya permasalahan ini gampang. Padahal permasalahan kebudayaan merupakan masalah fundamental bagi sebuah bangsa. Karena kebudayaan menyangkut masalah kepribadian bangsa atau karakter bangsa. Apabila kita sudah kehilangan kepribadian maka bangsa kita akan mudah diombang-ambing oleh dorongan dari luar dan akan mudah dipecah belah oleh bangsa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahirlah Karya Seni&lt;br /&gt;Syamsu Indra Usman terus melahirkan karya-karya dengan tanpa pamrih, terutama mendokumentasikan sejarah leluhurnya dan berbagai karya seni lain. Berbagai karya sastra mengalir dari pemikiran yang memiliki udara, air dan makanan yang masih segar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ingat perjuangan belum selesai, generasi penerus terus lahir dan perlu berbagai bimbingan serta arahan orang tua yang memiliki wawasan seni budaya daerahnya, sehingga generasi yang dilahirkan dapat membentengi diri dari budaya luar yang membuat rusak anak bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan setelah terbentuknya pemerintahan baru yang menjadikannya Kabupaten Empat Lawang, sebagaimana yang dicita-citakan Syamsu Indra Usman, sebagai penggagas utama pembentukan Kabupaten tersebut. Dengan demikian akan lebih mudah memformasikan bentuk kebudayaan Empat Lawang, yang berkarakter keras serta temparamental. Apabila diekspresikan ke dalam bentuk karya seni jelas akan sangat mencolok.&lt;br /&gt;Sebagai upayanya dalam dalam mengakomodir kesenian tradisional Empat Lawang dan bahasa daerahnya akan diusulkan dalam bentuk mata pelajaran di sekolah sebagai muatan lokal. Dengan demikian diharapkan akan lahir karya seni yang bernuansa tradisi Empat Lawang terus mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Pekerja Seni dan Guru SMA N 1 Merapai Selatan Kabupaten Lahat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-8282147135428843877?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/8282147135428843877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/syamsu-indra-usman-dalam-konstelasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/8282147135428843877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/8282147135428843877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/syamsu-indra-usman-dalam-konstelasi.html' title='Syamsu Indra Usman dalam Konstelasi Budaya Empat Lawang'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-2243058517733698135</id><published>2010-10-01T22:08:00.000-07:00</published><updated>2010-10-01T22:09:49.236-07:00</updated><title type='text'>PUNK</title><content type='html'>JAKARTA, KOMPAS.com — Menyebut kata punk, banyak orang dengan cepat bisa mengasosiasikan dengan sekelompok pemuda dengan gaya amburadul, musik keras dengan ritme menghentak, dan sering kali dianggap anarki di jalanan Ibu Kota. Apakah hal ini benar adanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punk dan ideologi kebebasan punk sebenarnya bermula sebagai subbudaya yang lahir di London, Inggris, pada tahun 1980. Pada awalnya, kelompok punk merupakan anak-anak muda kelas pekerja dengan semangat we can do it ourselves yang merasa prihatin dengan kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang tidak menentu ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap tersebut kemudian diwujudkan dengan ciri khas berdandan dan musik punk yang kadang kasar dan dengan beat cepat serta mengentak. Dandanan mereka mudah dikenali, yakni dengan rambut mohawk, tindik (piercing), tato, gelang spike, dan rantai yang menghiasi sekujur tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, jika dilihat dari akarnya, punk memang bukan aliran musik atau sekadar style berpakaian, melainkan sebagai konsep pemikiran atau ideologi dalam menjalani kehidupan," kata Geboy (29), anggota komunitas punk Miracles yang berbasis di Cipulir, Jakarta, Selasa (28/9/2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, punk itu bentuk perlawanan dari budaya yang ada. Semangat kebebasan juga ada di sini. Namun, kebebasan dalam arti pemikiran, kami bebas mengatur diri kami sendiri tanpa ada campur tangan dari orang lain atau pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Geboy, soal pakaian dan aliran musik itu memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari punk karena merupakan identitas punk itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bedanya dengan rasta atau grindcore itu hanya tampilan. Intinya, kami sama-sama menganut paham kebebasan yang sama," ujar lulusan S-1 Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Moestopo (Beragama) tahun 2006 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punk, menurut Dona (25), anggota komunitas Melody Street Punk, memang bebas, tetapi bebas yang menghormati. "Batasnya kami sama-sama tahulah. Kami memang bebas, tapi tetap hormatin orang lain. Ada toleransinya juga, enggak yang bebas seenaknya aja. Ini yang orang-orang salah tangkap," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dona mengaku tidak suka dengan kehadiran anak-anak punk yang suka menggunakan kekerasan, seperti memalak atau mencopet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adanya mereka itu yang enggak tahu punk, tetapi bergaya punk tahunya copet yang malah bikin rusak nama punk sendiri," ujarnya kepada Kompas.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dona, sikap oknum-oknum tersebut menuntut kebebasan dengan merugikan orang lain, padahal ada aturan tidak tertulis bahwa tidak bisa sembarangan mengejek ataupun melakukan tindakan kriminal lain. Keberadaan oknum ini, menurut Dona, hanya ikut-ikutan saja dalam hal berpakaian, tetapi bukan dari pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Punk ikut-ikutan itu biasanya yang paling jelas banget mereka enggak mau tidur di jalan, masih ngikut orangtua. Padahal, aslinya punk itu tidur di jalan. Di sini (jalanan) kami belajar hidup sendiri," ungkap perempuan asal Manado ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Geboy dan Ade sama-sama memaknai punk sebagai cara pandang dalam menjalani hidup yang penuh dengan kebebasan, kritis terhadap kondisi dengan penyampaian yang lebih berseni, dan suatu cara bertahan hidup mandiri tanpa bantuan mana pun. Punk bukan berarti style, dia adalah pemikiran. Tidak dilihat dari luar, tapi dari dalam diri seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami melihat seseorang yang hanya menggunakan baju koko dan sarung, tapi menunjukkan perlawanan yang konkret serta pemahaman tentang punk lebih luas bisa dibilang juga seorang punk. Jadi, menurut gue, seimbang dari tampilan dan pemikiran," ujar Geboy. diambil dari kompas.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-2243058517733698135?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/2243058517733698135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/punk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/2243058517733698135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/2243058517733698135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/punk.html' title='PUNK'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-3502487698604746232</id><published>2010-10-01T22:05:00.001-07:00</published><updated>2010-10-01T22:06:57.943-07:00</updated><title type='text'>Semangat Kebebasan dan Perlawanan</title><content type='html'>JAKARTA, KOMPAS.com — Semangat kebebasan dan perlawanan pada budaya mainstream  atau arus utama menjadikan budaya punk memiliki pemikirannya sendiri dalam menjalani hidup. Tidak jarang, anak punk terkesan eksklusif bahkan dianggap antimedia mainstream. Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masyarakat selalu melihat punk dari segi negatifnya saja. Dan kenapa punk tidak mau bekerja sama dengan media-media mainstream? Karena media mainstream hanya menunjukkan hal-hal negatif saja ke masyarakat, sedangkan hal yang positifnya tidak pernah dibicarain," ujar Geboy (29), salah satu pecinta punk, Selasa (28/9/2010) di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menilai, masyarakat umum menilai suatu hal terlalu sempit karena hanya melihatnya dari tampilan luar. "Coba untuk lebih terbuka dengan kebudayaan yang mulai berkembang karena setiap kebudayaan yang ada pasti ada hal positifnya," ungkap pria yang sudah menggandrungi punk semenjak SMP ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris, pada tahun 1980-an. Pada awalnya, kelompok punk merupakan anak-anak muda kelas pekerja dengan semangat we can do it ourselves. Ini merupakan pergerakan perlawanan terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang tidak menentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap itu pun kemudian diwujudkan melalui ciri khas musik punk yang kadang kasar dan dengan beat cepat serta menghentak. Lirik-lirik yang mereka nyanyikan juga sering kali merupakan bentuk sindiran kepada pemerintahan atau kondisi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat do it ourselves tersebut, banyak komunitas punk menghasilkan band punk, tetapi tidak masuk ke industri. Mereka lebih memilih mengambil jalur distribusi independen (indie) yang tidak terikat pihak mana pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena semangat do it yourself (DIY) itu, kami memang ngerasa bisa lebih puas kalau misalnya bisa sukses tanpa ada bantuan siapa pun, termasuk media mainstream. Makanya, kalau kami bikin acara, kami enggak mau disorot, cukup yang suka saja yang datang," ujar Ade (18), salah satu anggota komunitas Melody Street Punk di kawasan Blok M, Jakarta.&lt;br /&gt;diambil dari kompas.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-3502487698604746232?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/3502487698604746232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/semangat-kebebasan-dan-perlawanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3502487698604746232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3502487698604746232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/semangat-kebebasan-dan-perlawanan.html' title='Semangat Kebebasan dan Perlawanan'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-5794954766425346099</id><published>2010-10-01T21:55:00.000-07:00</published><updated>2010-10-01T22:01:54.960-07:00</updated><title type='text'>we can do it ourselves</title><content type='html'>JAKARTA, KOMPAS.com — Punk merupakan pergerakan anak-anak muda kelas pekerja di London, Inggris, tahun 1980-an. Mereka menuntut ketidakadilan yang terjadi pada bidang sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengusung semangat we can do it ourselves, para anak punk ini memilih hidup mandiri, bahkan tak jarang yang akhirnya memutuskan keluar rumah dan hidup di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana cara mereka bertahan hidup? Survival ala anak punk, komitmen hidup mandiri tanpa bantuan siapa pun, termasuk orangtua, membuat anak-anak punk ini harus memutar otak mencari pendapatan bagi dirinya sendiri. Meski sering kali hidup di jalanan, mereka pantang melakukan tindak kriminal, seperti mencuri atau malak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ha-ha-ha-ha-ha... banyak hal yang bisa dilakukan, Mbak. Yang penting kami enggak nyolong duit negara," canda Geboy (29), pencinta punk yang juga anggota band reggae Djenks' ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pria yang berpendapat punk bukan sekadar musik ini, setiap anak punk punya cara masing-masing untuk bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebagian memang ada yang hidup di jalan, tapi sebagian punk ada yang punya usaha lain, seperti workshop sablon, distro, dan band," ujarnya, Selasa (28/9/2010) di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan itu juga senada dengan apa yang diutarakan Dona (25). "Enggak. Kami enggak mau nyopet atau kriminal lain karena itu sama aja bikin nama punk makin jelek lagi. Kami cari duit sendiri," ujar perempuan yang hidup di rumah kontrakan bersama tiga temannya sesama anggota komunitas punk Melody Street Punk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dona mengatakan, cara anak-anak punk di komunitasnya untuk mencari uang adalah dengan menjadi tukang parkir, manggung, ataupun membantu proyek film titipan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biasanya duitnya jarang buat sendiri, paling buat rame-rame, biar nanti kalau kumpul, buat uang rokok atau minum, atau ntar kalau ada yang sakit," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slogan do it yourself itu, yang kemudian mendarah daging di tiap anak punk, berpengaruh pada cara menyambung hidupnya yang tidak mau terikat, seperti masuk menjadi karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, makanya banyak yang bikin usaha sendiri, paling sablon kaos, distro gitu, atau jasa tato," ujar Dona kepada Kompas.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas sebagai rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dona mengatakan, awal masuknya dia ke dalam komunitas punk karena dirinya tengah kabur dari rumah saat kedua orangtuanya berlaku keras bahkan hingga pemukulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, awalnya saya memang kabur dan ketemu temen-temen di sini, dan banyak yang broken home juga, jadi saya ngerasa cocok," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dona masuk pada tahun 2005. Sebagai satu-satunya anggota aktif di komunitas yang sudah ada dari tahun 1996 ini, Dona merasa menemukan keluarga, termasuk orangtua yang sudah meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sini justru karena cewek satu-satunya, saya berasa dilindungin. Di sini udah kayak keluarga lah, ikatannya kuat," ungkap Dona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geboy yang berasal dari komunitas punk Miracles juga mengaku, kekeluargaan di dalam komunitas sangat erat dan lebih nyaman bertukar informasi tentang dunia punk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait pola perekrutan untuk masuk ke dalam komunitas, baik Dona maupun Geboy, meyakinkan bahwa tidak ada aturan atau prasyarat apa pun untuk masuk ke dalam komunitasnya, ospek pun juga tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu sempat ada ospek, tapi anak-anak justru protes pada enggak setuju cara itu, jadi sekarang enggak ada. Kalau mau masuk, ya tinggal datang, kami sih terbuka aja," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan, lanjut Dona, justru akan bertabrakan dengan semangat kebebasan yang ada di dalam punk. "Mereka ke sini cari kebebasan, tapi pas masuk ke dalam malah diatur-atur, kan aneh," ucap Dona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, selama didirikan, kata Dona, anggota di komunitas Melody Street Punk memang silih berganti, keluar dan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jenuh itu pasti ada, jadi banyak di antara mereka yang akhirnya enggak sanggup dan milih kerja kantoran," ucap Dona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Geboy, yang sudah menerjuni dunia punk dari bangku SMP ini, mengatakan,  orang keluar masuk komunitas punk itu hal yang wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada pula yang menganggap ini (punk) hanya sebuah kenakalan remaja aja. Rasa jenuh pasti ada, tapi karena gue sudah jatuh cinta denga pemikiran ini gue enggak bisa lari walaupun jenuh sekalipun. Punk buat gue ada di hati," ujar Geboy. diambil dari kompas.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-5794954766425346099?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/5794954766425346099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/we-can-do-it-ourselves.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/5794954766425346099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/5794954766425346099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/10/we-can-do-it-ourselves.html' title='we can do it ourselves'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-5144959750233664255</id><published>2010-09-25T09:19:00.002-07:00</published><updated>2010-09-25T09:37:31.645-07:00</updated><title type='text'>4 PUISI YUDISTIO ISMANTO</title><content type='html'>NAFAS SEBUTIR BERAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku masih hidup&lt;br /&gt;walau tangan penguasa itu berkata:&lt;br /&gt;mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tidak mati&lt;br /&gt;saat tubuh angkuh itu berteriak:&lt;br /&gt;bunuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tetap bernyawa&lt;br /&gt;tatkala langkah kokangan senjata berondong:&lt;br /&gt;membabi buta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mencari tarikan nafas&lt;br /&gt;saat paras istri memelas:&lt;br /&gt;mas " kita kehabisan beras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagarsari, September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN PUNYA KUASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan mengirim proposal pada tuhan malam ini&lt;br /&gt;Semoga esok dapat bantuan dana&lt;br /&gt;Si bejok ingin melanjutkan sekolah sampai S3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok malam aku akan coba melobi tuhan&lt;br /&gt;Supaya koruptor dinegri kami mendapat grasi&lt;br /&gt;Hari kiamat nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lusa malam aku kan berterima kasih pada tuhan&lt;br /&gt;Bahwa raja yang kami sembah telah di panggil tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagarsari, September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GENERASI SOGOK MENYOGOK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah bobrok melahirkan aku &lt;br /&gt;Sebagai murid goblok&lt;br /&gt;Guru bobrok yang mengajar hanya untuk mencukupi&lt;br /&gt;Jatah dari jam pelajarannya&lt;br /&gt;Semua itu lebih mementingkan panjangnya&lt;br /&gt;Daripada isinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman sekelasku goblok&lt;br /&gt;Karena diatur kurikulum goblok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sertifikasi hanya seonggok kertas&lt;br /&gt;Sertifikasi hasil manipulasi berkas&lt;br /&gt;Tak lebih dari sekedar ijazah yang bisa dibeli dengan rupiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka anggap ilmu pengetahuan lebih penting&lt;br /&gt;Padahal ada yang lebih penting&lt;br /&gt;Yaitu moral dari kepribadian jauh lebih penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guruku lebih penting mengajarkan kami&lt;br /&gt;Matematika fisika dan kimia&lt;br /&gt;Pendidikan moral, akhlak dan agama&lt;br /&gt;Dianggap nomor dua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat system pendidikan yang bobrok&lt;br /&gt;Dengan guru yang hanya bisa nina bobok&lt;br /&gt;Maka terlahirlah sekarang generasi bobrok&lt;br /&gt;Tukang sogok menyogok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagarsari, September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAJAH PERADILAN&lt;br /&gt;(untuk gayus lagi kesandung kasus dan jenderal yang &lt;br /&gt;dikebiri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya wajah peradilan negeri ini&lt;br /&gt;Bisa kuubah lewat tulisan dan lukisan&lt;br /&gt;Maka aku akan mengubah&lt;br /&gt;Meja hijau menjadi meja abu-abu&lt;br /&gt;Jubah hitam menjadi jubah putih&lt;br /&gt;Palu menjadi benalu&lt;br /&gt;Atau aku akan mengubah slogan pengadilan&lt;br /&gt;Menjadi tempat menjungkir balikan keadilan&lt;br /&gt;Dan kubiarkan pengadilan berjalan kedepan&lt;br /&gt;Serta pengadilan berjualan tanpa mengurangi timbangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagarsari, September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yudistio Ismanto&lt;/span&gt;: Bergiat di Komunitas Sastra Lembah Serelo Lahat, Pernah Ngamen Puisi Wiji Thukul (September 2010)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-5144959750233664255?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/5144959750233664255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/09/4-puisi-yudistio-ismanto.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/5144959750233664255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/5144959750233664255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/09/4-puisi-yudistio-ismanto.html' title='4 PUISI YUDISTIO ISMANTO'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-354550696669506679</id><published>2010-09-24T10:14:00.000-07:00</published><updated>2010-09-24T10:23:25.257-07:00</updated><title type='text'>Waktu Untukku</title><content type='html'>ketika malam datang padaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah pagi untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika pagi kuhirup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku bertanya dari hati kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah terik menyengat tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan ketika senja mulai menjelma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku terdiam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tergugu panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah tuhan sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuhan sayang padaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuhan masih beri aku waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuk aku berwudhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi mengapa waktu terasa begitu pendek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sehingga aku lupa berwudhu ﻿&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagarsari, September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertha Cecilia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu satu anak ini menulis puisi dan cerpen sejak Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Lahat, beberapa kali menjuarai penulisan cerpen di kota lahat semasa di sekolah. kini mulai bergerak kembali menuju jalan yang benar bersama Komunitas Sastra Lembah Serelo Lahat, untuk menggapai cita-citaya. (tidak menulis sastra berarti jalan yang sesat, jajangrkwntr)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-354550696669506679?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/354550696669506679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/09/waktu-untukku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/354550696669506679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/354550696669506679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/09/waktu-untukku.html' title='Waktu Untukku'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-3902253961833159489</id><published>2010-09-21T01:15:00.000-07:00</published><updated>2010-09-21T01:30:26.822-07:00</updated><title type='text'>PUISI-PUISI YUDI ISMANTO</title><content type='html'>PUISI-PUISI &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;YUDI ISMANTO &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk MUNIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah engkau anggap aku batu&lt;br /&gt;Mentang-mentang mulutku membisu&lt;br /&gt;Apakah engkau kira aku pasir&lt;br /&gt;Dimana air mataku telah habis mengalir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukan batu yang bisa masuk kekantongmu&lt;br /&gt;Aku bukan pasir dan tak bisa engkau lantik menjadi kasir&lt;br /&gt;Aku bukan batu yang bisa engkau lempar ke musuh&lt;br /&gt;Aku juga bukan pasir utuk menutup tabir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau aku  batu  &lt;br /&gt;Mungkin engkau akan menjadikan aku sebagai babu&lt;br /&gt;Bagaimana kalau aku menjadi pasir&lt;br /&gt;Pasti nanti kau buat aku seperti munir&lt;br /&gt;Pagarsari, September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SEMUA BUSUK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang busuk menular pada ranting&lt;br /&gt;Ranting busuk daun pun busuk&lt;br /&gt;Buah busuk&lt;br /&gt;Sekebun menjadi busuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal akar yang masih segar&lt;br /&gt;Masih terkubur ditanah subur&lt;br /&gt;Pagarsari, September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A P B D&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku Punya Banyak Duit&lt;br /&gt;Aku Patut Berbusung Dada&lt;br /&gt;Aku Punya Bini Dua&lt;br /&gt;Aku Pintar Bohongi Dia&lt;br /&gt;Aku Pelir Berlumur Dusta&lt;br /&gt;Aku Perlu Berbagi Dengannya&lt;br /&gt;Aku Pemelihara Buaya Darat&lt;br /&gt;Aku Punya Banyak Dosa&lt;br /&gt;Pagarsari, September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABCD dan 1234&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Anakku&lt;br /&gt;Hari Ini akan kuajari engkau menulis&lt;br /&gt;A B C D&lt;br /&gt;Supaya nanti engkau tak akan menangis&lt;br /&gt;Saat membaca A P B D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Anakku&lt;br /&gt;Hari Ini akan Kuajari Engkau Berhitung&lt;br /&gt;Satu dua tiga empat&lt;br /&gt;Agar kelak engkau bisa menghitung&lt;br /&gt;Angka yang tepat untuk kepentingan rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Anakku&lt;br /&gt;Besok Aku kan mengajarimu cara membagi hati&lt;br /&gt;Karena nanti engkau harus berhati-hati&lt;br /&gt;Saat engkau meruntuhkan sebuah TIRANI&lt;br /&gt;Pagarsari, Agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kari Pemimpin Kampung kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih Baik aku bicara dengan sapi&lt;br /&gt;Karena aku tahu sapi tak kan bisa bohong&lt;br /&gt;menolong bergotong royong&lt;br /&gt;dengan tahi sapi aku menyuburkan kebun&lt;br /&gt;dengan daging sapi aku melamar istri&lt;br /&gt;dari pada aku bicara dengan pak kari&lt;br /&gt;yang hampir 2 tahun memimpin kampong kami&lt;br /&gt;kampung pagarjari ( bukan pagarbetis)&lt;br /&gt;bagaimana kami bisa ngomong dengannya&lt;br /&gt;wong kalo melihat kami seperti hantu, pergi sembunyi&lt;br /&gt;padahal kami tidak akan membuatnya susah&lt;br /&gt;kami tidak akan menjarah hartanya&lt;br /&gt;karena kami akan bertanya&lt;br /&gt;masalah dana belanja dan pembangunan  yang diperuntukan kampong kami&lt;br /&gt;apakah dana itu telah habis untuk jalan pelesirnya&lt;br /&gt;ataukah dana itu diendapkan di bank swiss&lt;br /&gt;untuk diambil bunganya.&lt;br /&gt; 720 hari hampir kau pimpin kampong kami&lt;br /&gt;Engkau lebih suka berbelanja&lt;br /&gt;Keluarnegeri bertamasya ria&lt;br /&gt;Pembangunan tersimpan, dikelurkan hanya sebatas slogan&lt;br /&gt;Pengangguran dan kemiskinan jadi jualan&lt;br /&gt;Kemelaratan tumbuh subur bagai jamur dimusim hujan&lt;br /&gt;Sawah berubah wajah tambang batubara&lt;br /&gt;Lumbung padi kami tak bisa untuk menabung&lt;br /&gt;Hutan gundul pejabat yang kau lantik mandul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kari&lt;br /&gt;Semoga esok pagi kau dengar kami&lt;br /&gt;Atau apakah engkau pura-pura tuli&lt;br /&gt;Untuk apa kami punya pemerintah&lt;br /&gt;Kalo kehidupan telah berjalan setengah&lt;br /&gt;Kapan kami bisa berubah&lt;br /&gt;Kalau hidup terus menerus kau buat susah&lt;br /&gt;KSLSL, September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudi Ismanto: kelahiran Kota Lahat 30 tahun lalu, bergiat di komunitas sastra lembah serelo (KSLS)Lahat. mengikuti kegiatan Ngamen Puisi Wiji Thukul di beberapa sudut Kota Lahat bersama Pinasti S Zuhri dan Jajang R Kawentar. menulis puisi semenjak bergabung dengan KSLS tahun 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-3902253961833159489?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/3902253961833159489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/09/puisi-puisi-yudi-ismanto.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3902253961833159489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3902253961833159489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/09/puisi-puisi-yudi-ismanto.html' title='PUISI-PUISI YUDI ISMANTO'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-9193789722718461060</id><published>2010-01-23T00:32:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T00:52:43.998-08:00</updated><title type='text'>Form as Attitude</title><content type='html'>Sabtu, 23 Januari 2010 - 08:15&lt;br /&gt;Form as Attitude&lt;br /&gt;oleh Rizki A. Zaelani dan A. Rikrik Kusmara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan mengenai ‘bentuk’ (form), ‘aspek karakter bentuk’ (formal), serta pemikiran tentang aspek bentuk (formalism) kini berlaku sebagai persoalan sejarah. Ihwal ‘Form[al]-ism’, kalau bukan dijadikan ‘kenangan’, lebih sering dianggap sebagai bagian dari narasi sejarah tentang ‘pertentangan otoritas seni’, soal dialektika ‘legitimasi nilai’ seni. Sebagai bagian dari masalah sejarah, bagi kita, ‘Form[al]-ism’ sebenarnya justru penting karena telah menunjukkan nilai tentang segi kontinuitas perkembangan seni rupa Indonesia. “Kontinyuitas ini bukan saja terlihat pada adanya tahapan dalam menjauhi dunia luar yang nampak, tapi juga terutama pada semacam ‘ideologi kesenian’ “ (1. Sanento Yuliman, kritikus dan sejarawan seni, mengganggap manifestasi ideologi semacam itu (‘ideologi kesenian’) sebagai ‘Modernisme’. [Ideologi] Modernisme dianggap sebagai dasar yang menyebabkan praktek seni rupa modern Indonesia mengambil jalan dan corak yang berbeda dengan praktek dan kepercayaan seni tradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, bagi Sanento Yuliman, persoalan ‘Form[al]-ism’ ini berhubungan dengan tiga perkara penting, menyangkut soal: (i) pribadi sebagai pusat daya cipta; (ii) pendirian tentang otonomi seni; dan (iii) pendirian baru tentang tradisi seni (2. Sebenarnya bukan hanya tentang penjelasan ‘Form[al]-ism’, secara umum, penerimaan azas nilai Modernisme bisa memberikan alasan pada kita mengenai beberapa segi penting pada kelaziman praktek seni rupa Indonesia. Hingga saat ini, misalnya, kita telah terbiasa memahami: (i) kenapa sebuah karya seni rupa memiliki tanda tangan [hak] penciptanya; (ii) kenapa pengetahuan dan sejarah seni rupa bisa dipisahkan dengan pengetahuan dan sejarah bidang-bidang kehidupan yang lainnya (sosial, ekonomi, atau politik); atau (iii) kenapa kini kita bisa akrab dengan praktek-praktek pengembangan soal intrastruktur seni rupa seperti: sistem museum/galeri, atau sistem ‘industri’ seni (Balai Lelang Seni, Art Fair, Biennale, Triennale dsb).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah ‘ideologi seni’ Sanento Yuliman ini bisa juga disebut sebagai ‘ideologi non-ideologi’ (ideology of no ideology). Dalam sejarah kelahirannya, ideologi semacam itu lahir sebagai reaksi atau menjadi alternatif terhadap kepercayaan pola otoritas seni yang menaruh harapan penting pada keberadaan representasi persoalan sosial dan politik dalam ekspresi seni. Muncul anggapan bahwa penerimaan dan praktek ‘ideologi non-ideologi’ ini sebagai proses ‘de-politisisasi seni’, yaitu pelucutan aspek-aspek politik dan persoalan sosial dalam seni. Anggapan semacam itu mengandung kebenaran, tapi tak tepat sepenuhnya. Pada prakteknya, ‘ideologi non ideologi’ ini justru merupakan bagian dari langkah ‘politisasi seni’, berupa keyakinan yang menaruh kepercayaan pada kapasitas mobilisasi seni sebagai interpretasi kebebasan individual secara maksimal dalam suatu kerangka sistem aparatus masyarakat teknokratis (3. Dalam kerangka kenyakinan seperti itu seni menjadi bidang praktek dan teorisasi yang bisa dianggap khas serta khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan yang terjadi dalam prakteknya adalah: bagaimana ‘ideologi’ ini bermakna bagi setiap orang? Bagi tiap-tiap orang yang hendak disebut sebagai ‘masyarakat’? dalam banyak contoh praktek, ideologi ini sering menghasilkan situasi salah sangka. Misalnya, bagi ungkapan ‘kesal’ seperti pernah dinyatakan seniman dan kritus Basuki Resobowo pada karya-karya abstrak Oesman Effendi di tahun 1957 ketika ia mengatakan: “kita hanya dicekau oleh susunan konstruktif dari garis, warna dan bidang” (4. Soal praduga ‘ketidak adaan’ makna karya semacam itu, tak hanya cukup bisa dibantah oleh penjelasan singkat padat seniman Nashar, dengan mengatakan bahwa: “Soal kesenian, bukanlah soal apa yang dilukiskan, tapi bagaimana” (5; tapi justru bisa ‘didamaikan’ oleh kebeningan suara kritik dari Resobowo sendiri di tahun 1949, ketika ia mengatakan: “Untuk melihat lukisan diperlukan daya pandang (tenaga visuil) sehingga orang dapat bangkit perasaannya oleh bentuk, garis, warna, ‘dengan tidak usah memikirkan terlebih dahulu bentuk apa yang ditawarkan’” (6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan praktek seni rupa abstrak ini justru menjadi problematik ketika, misalnya, seorang kritikus Clement Greenberg mensyaratkan tingkat ‘keterampilan’ setiap orang yang menghadapi karya-karya abstrak mesti setajam dan sedahsyat sang kritikus itu sendiri, berdasar pada nilai-nilai sebenarnya dari ‘pengalaman’ yang disebutnya sebagai ‘eyesight alone’ (7. Tentu saja pada prakteknya tak bisa semua orang bisa ‘terampil’ seperti halnya sang ahli ―karena perbedaan keterampilan ini tentu saja yang memilahkan adanya ‘si ahli’ dan ‘si umum’. Persoalan dipahami atau tidaknya, dianggap bermakna atau tidaknya, karya-karya seni rupa abstrak bukan terletak pada kenyataan intriksik dari karya tersebut, tapi terletak pada pola-pola apresiasi (apreciation) dan penerimaan (reception) yang berlaku. Lebih jauh, bahkan kita bisa memilahkan masalah diantara persoalan (a) bagaimana ‘bentuk’ (form) dan pertimbangan tentang ‘aspek bentuk’ (formal) itu beroperasi di dalam prakteknya; dengan masalah (b) bagaimana pemikiran tentangnya (formalism) dilangsungkan atau dirumuskan. Dengan demikian, meski memiliki memiliki kaitan, kita tak bisa mengganggap ihwal persoalan ‘form’, ‘formal aspect’ dan ‘Formalism’ adalah hal yang identik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah seni rupa mencatat, bahwa telah berlaku kesadaran untuk memahami pentingnya aspek bentuk menandai kecenderungan pekembangan seni rupa modern menuju bentuk-bentuk seni rupa abstrak. Sumbangan pemikiran tentang prinsip ‘bentuk signifikan’, significant form, dari pemikiran estetikus Inggris Clive Bell, misalnya, dianggap sebagai rangkaian kesadaran untuk menghubungkan lingkaran persoalan yang berasal dari masa lalu, masa kini dan masa mendatang dalam manifestasi artistik sebuah karya seni. Dalam prinsip ini, pengaturan aspek-aspek bentuk (melingkupi kesadaran bentuk yang bersifat dua dimensional dan tiga dimensional), seperti: garis, bidang, warna, volume, ruang, dsb, berada dalam persepsi tentang satuan (unity) organisasi bentuk yang bisa menghubungkan seseorang (seniman dan pengamat) dalam kesungguhan nilai temuan dan ‘ke-aslian-an’ seni secara psikologis (8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihwal ‘Form[al]-ism’ memang adalah persoalan sejarah. Kini, bergantung tiap-tiap orang untuk memahaminya: bisa menjadi ‘beban’ [sejarah] jika orang bersangkutan memahami sejarah sebagai takdir masa lalu; atau jadi ‘kesadaran’ [sejarah] jika kita justru memahami sejarah tetap sebagai rangkaian persoalan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Tentu saja, tak akan ada persoalan yang datang dari ihwal ‘beban kesadaran’ jika seseorang menganggap bahwa persoalan budaya adalah sebagai rangkaian usaha untuk merealisasikan kesadaran hidup demi melengkapi berbagai batas dan ‘ke-tak-sadar-an’. Sebagai persoalan sejarah, sebenarnya ihwal ‘Form[al]-ism’ tak melulu hanya berisikan narasi persoalan tentang pertentangan antara ‘bentuk’ (form) dan ‘isi’ (content), tetapi juga masalah bacaan tentang keberadaan ‘konteks’ (context) persoalan(nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, kita tak bisa lagi mengacaukan pengertian antara ‘isi’ (content) dengan ‘pesan’ (message) pada ekspresi suatu karya sebagai persoalan yang sama, sebagai masalah yang sami mawon (sama saja). Jika ‘isi’ dari suatu karya seni dianggap sebagai makna dari karya tersebut (tentang ‘apa karya tersebut dinyatakan’), maka ihwal bentuk (persoalan ‘bagaimana karya itu dinyatakan’) adalah model representasi makna (the mode of representation of the meaning) dari karya tersebut: ihwal soal bagaimana makna itu termanifestasikan atau terartikulasikan. Tentu saja setiap penyataan ‘bentuk’ (tiap tulisan atau coretan, misalnya) bisa memiliki ‘isi’, tetapi tentu saja tidak semua bentuk pernyataan berarti sebagai suatu ekspresi seni. Bagi para pendukung kajian ‘Neo-Formalisme’ (pandangan yang berhasil merevisi dan merevitalisasi prinsip-prinsip kajian Formalisme): “what distinguishes artwork from other things that have form and content is that in artwork form and content are related in satisfyingly appropriate manner.” (9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud sebagai ‘satisfying appropriate manner’ di situ tentu adalah cara-cara yang bisa beragam dan bukannya berlaku jadi semacam rumusan yang pasti. ‘Cara layak yang memuaskan’ itu  adalah usaha-usaha demi menjadikan aspek [pertimbang] bentuk mampu berfungsi untuk lebih mengartikulasikan ‘kecenderungan’ makna dari suatu kecenderungan karya tertentu, misalnya: artikulasi kekuatan ekspresi pada kecenderungan karya ekspresif. Sebenarnya tak hanya berfungsi untuk mengartikulasikan representasi makna secara ‘lebih’, praktek dari cara-cara semacam ini sekaligus juga menyatakan secara lebih tegas adanya berbagai fenomena perubahan kecenderungan artistik. Boleh jadi usaha revisi Neo-Formalisme ini bermanfaat, dalam beberapa hal bahkan bisa dianggap ‘benar’, menimbang bahwa sejarah perkembangan seni akan selalu bergerak bersama dengan perubahan situasi kemanusiaan, dan sejalan dengan itu pula akan muncul perubahan atau ‘kebaruan’ hal untuk dipersoalkan. Perubahan atau pergeseran makna dari suatu karya seni tentu saja akan selalu membutuhkan cara ‘baru’ untuk menyampaikan persoalan yang terus berubah. Maka perubahan representasi [kecenderungan] bentuk, pada prinsipnya, berlangsung sebagai bagian dari perubahan [kecenderungan] makna isi suatu karya. Pendek kata, adanya transformasi suatu gaya artistik tertentu―yang terlihat pada manifestasi pertimbangan ‘bentuk’― terjadi karena kebutuhan akan manifestasi yang baru persoalan ‘isi’ [karya] yang membutuhkan cara-cara baru dari bentuk artikulasi berkarya. Dengan demikian, tak ada lagi masalah keterpisahan, apalagi soal ‘pertentangan’, diantara masalah ‘bentuk’ (form) dan ‘isi’ (content).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya yang terlibat dalam pameran ini, berupa lukisan, patung, dan karya-karya object, adalah contoh dari manifestasi persoalan bentuk yang tak selalu mesti melulu berkaitan erat dengan prinsip-prinsip ‘desain bentuk’. Sebagi dari karya-karya yang dipemerkan ini menunjukkan kecenderungan yang mengarah pada ‘bentuk nir-bentuk’ (formless), sebagian lagi menegaskan relasi persoalan bentuk sebagai masalah artikulasi aspek formal dalam situasi konteks permasalahan isi. Tema-tema persoalan yang dikandung karya-karya ini secara keseluruhan bisa memiliki kaitan satu sama lainnya, terlepas apakah karya-karya tersebut mengarah pada persoalan mengenai pertimbangan form/formless, atau masalah kajian aspek formal. Tema-tema tentang: alam, lingkungan, dunia obyek-obyek, lingkup pengalaman keseharian, bahkan sikap keyakinan yang bersifat spiritual, misalnya, bisa terlihat dalam karakter model representasi bentuk yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan praktek dan kajian ‘Form[al]-ism’ ini sebenarnya kini tengah berkembang ‘keluar’ atau bahkan ‘melampaui’ persepsi tentang makna sejarah perkembangan seni yang bersifat tetap. Kini, tak ada lagi anggapan bagi karya-karya seni rupa abstrak yang mesti disebut ‘paling abstrak-ekspresionisme’ atau ‘paling konstruktivis’, misalnya, karena anggapan mesti mengacu pada nilai-nilai kesejarahan. Kekacauan antara implikasi dari prinsip-prinsip estetik dengan pemaknaan nilai yang dipelajari dari narasi sejarah perkembangan seni rupa modern [Barat] tak lagi mesti berlangsung. Pada prinsipnya, tak ada satupun peradaban di dunia yang tidak memiliki sumber-sumber rujukan bagi pengembangan seni rupa abstrak yang bisa dianggap layak berdampingan bersama dengan prinsip-prinsip seni rupa abstrak [yang dikembangkan] seni rupa Barat. Tentu saja penjajaran sumber rujukan kultural ini mesti disandingkan dalam pola-pola perbandingan yang relevan dan terhormat bagi kedua konteks persoalan (konteks yang datang dari perkembangan seni rupa barat dan ‘dari luar seni rupa barat’). Dengan demikian, kita akan memperoleh keluasan masalah dari kaitan ‘bentuk’ dan ‘isi’ secara mengagumkan (10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menaruh harapan pada cara perubahan kita memahami pengertian tentang ‘konteks’. Pengertian tentang ‘konteks’ ini pula yang mewarnai perdebatan/kontroversi pertentangan antara ‘bentuk’ dan ‘isi’ dalam sejerah seni rupa kita ―dalam hal ini adalah kontek tentang ke-Indonesia-an (Indonesia-ness). Ihwal ‘konteks’ dari pengalaman sejarah tersebut menunjukkan bahwa pengertian ‘konteks’ dipahami sebagaimana suatu model [kepercayaan] yang bersifat obyektif. Dalam pengertian ini, “context simply represent a slice of the objective world that is experienced in one way by some and in other ways by others; even here it function relativistically, as it is the part of the world that defines, or is defined by, a local population at a specifict time” (11. Dengan demikian, para pelaku dalam perkembangan seni rupa (seniman, kritikus, misalnya) berada dalam situasi dimana mereka seolah mesti mengobyektifkan kenyataan [sikap] politik menjadi ‘orang Indonesia’. Boleh jadi, setiap proyek obyektifikasi ini beroperasi melampaui pilihan-pilihan sikap personal yang bisa ditetapkan oleh masing-masing individu (si seniman maupun sang kritikus itu sendiri). “Seniman yang baik adalah seorang nasionalis”, kata Sudjojono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kini kita bisa melihat persoalan lebih ‘Form[al]-ism’ sejarah lebih terang, menganggapnya sebagai pilihan sikap yang berdasar pada pilihan yang bersifat individual, bahkan personal. Dalam hal ini, kita memahami pengertian ‘konteks’ dalam bingkai perhatian tentang subyek dan bukan berlaku sebagai prinip yang bersifat universal dan pasti sebagaimana mengasumsikan soal ‘dunia yang obyektif’. Dalam lingkup perhatian sang subyek, ihwal ‘konteks’ adalah semacam arena dimana setiap orang di seluruh dunia bisa memproyeksikan secara subyektif interpreasi masing-masing tentang kaitan antara persoalan ‘bentuk’ dan ‘isi’ ini, sekaligus juga menerima hasil-hasil dari proyeksi dari subyek yang lainnya mengenai hal itu. Dengan demikian, “(c)ontext is the arena that links subjectivities, not in an objective frame, but in an overlapping and ever-permutating procedure that has no definite shape or metaphor with which to describe it. Context, then, is intersubjective: it is the product of the vague but commonly understood agreements of how to define the world and of what subjectivities overlaps significantly enough to function in ―and be represented as― conventional reality” (12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihwal soal ‘konteks’ dalam perkembangan seni rupa abstrak, khsususnya bagi pengembangan masalah ‘Form[al]-ism’ tak [lagi] bersandar pada masalah obyektifikasi [tentang] realitas atau politik identitas ―misalnya, apakah seni rupa abstrak itu ‘Indonesia’ atau barat; ‘Bandung’ atau bukan. Pengertian ‘konteks’ [seni rupa abstrak] dalam pengertian intersubyektif adalah persilangan, penumpukan, bahkan pertukaran persepsi subyektif yang tak terbatas pada lingkup lokasi dan waktu kultural secara tertentu (karena pada kenyataannya bersifat jamak). Di situ ihwal bentuk adalah pilihan berharga atas nama sikap subyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Catatan ditulis untuk katalog pameran BANDUNG INITIATIVE #3, 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN:&lt;br /&gt;1.    Sanento Yuliman, Seni Lukis Indonesia Baru: Sebuah Pengantar (Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 1976), hlm.29&lt;br /&gt;2.    Lht. Sanento Yuliman, “Seni Lukis di Indonesia: persoalan-persoalannya dulu dan sekarang”, dlm Asikin Hasan, ed. DUA SENI RUPA: Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman (Jakarta: Yayasan Kalam, 2001), hlm. 71.&lt;br /&gt;3.    Lht. Caroline A. Jones, “Form and Formless”, dlm Amelia Jones, ed. “A Companion to Contemporary Art Since 1945“ (Malden-Oxford-Victoria: Blackwell Publishing, Ltd: 2006), hlm. 137.&lt;br /&gt;4.    Basuki Resobowo, “Tugas Seni Membuka Mata dan Hati”, Siasat (1 mei, 1957), pada Yuliman (1976), op.cit. hlm. 25&lt;br /&gt;5.    Pengantar pameran: “Pameran Lukisan-lukisan: Nashar, Oesman Effendi, Trisno Soemardjo, Zaini” , 17-31 Maret 1963, pada Yuliman (1976), op.cit. hlm. 29.&lt;br /&gt;6.    Basuki Resobowo, “Pahatan Kayu dan Sket-sket dari Soeromo dan S. Soendoro”, Indonesia, Juni 1949, pada Yuliman (1976), op.cit. hlm. 29.&lt;br /&gt;7.    Lht, Jones, op.cit. hlm. 136&lt;br /&gt;8.    Lht. Noël Carroll, “Art and Form”, dlm PHILOSOPHY OF ART: A Contemporary Introduction (London – New York: Routledge, 1999), hlm. 109.&lt;br /&gt;9.    Ibid. hlm.127&lt;br /&gt;10.    Lht. G. Roger Denson, “History as Context: Expanding Modernist Form”, dlm G. Roger Denson  &amp; Thomas McEvilley, CAPACITY: History, The World, and The Self in Contemporary Art and Criticism (Amsterdam: OPA Amsterdam B.V under license , by G + B Arts International, 1996), hlm.11.&lt;br /&gt;11.    Ibid. hlm.10&lt;br /&gt;12.    Ibid. hlm. 9&lt;br /&gt;*) Kurator seni rupa, tinggal di Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diambil dari Indonesia Art News&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-9193789722718461060?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/9193789722718461060/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/01/form-as-attitude.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/9193789722718461060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/9193789722718461060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2010/01/form-as-attitude.html' title='Form as Attitude'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-552592737825070829</id><published>2009-12-09T21:31:00.000-08:00</published><updated>2009-12-09T21:41:57.084-08:00</updated><title type='text'>RELIEF BETON PERTAMA INDONESIA SEGERA DI PUGAR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/SyCJruFAG3I/AAAAAAAAANU/cLwsirNJsZw/s1600-h/RELIEF.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/SyCJruFAG3I/AAAAAAAAANU/cLwsirNJsZw/s320/RELIEF.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413478136295725938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 06 Desember 2009 04:48&lt;br /&gt;Oleh Jajang R Kawentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relief modern yang dibuat oleh anak bangsa ini ada kemungkinan akan dihancurkan. Relief ini merupakan ungkapan kecintaan anak bangsa sebagai pejuang dalam membangun bangsa dalam seni budaya dan sebagai sebuah manifestasi seni yang tidak tertandingi pada saat itu, karena berbagai keterbatasan pengetahuan dan medianya. Namun begitu hasilnya berkelas dunia. Tetapi sepertinya karya seni ini tidaklah berarti dibanding dengan dunia politik dan korupsi yang berkembang di Indonesia yang carut kemarut.&lt;br /&gt;    Saya mendapatkan kesempatan menerima keluh kesah ini dari putra sang pelukisnya dan dari Bambang Suroboyo yang berkesempatan mengunjungi lokasi beserta mendapatkan beberapa fotonya. Tentu sebagai anak bangsa yang juga tergugah dengan perlakuan tidak adil terhadap karya yang luar biasa itu, maka rasanya perlu menggugah para pekerja seni dan budayawan untuk segera menghentikan penghancuran terhadap karya tersebut.   &lt;br /&gt;    Relief yang terpajang di VIP Room Bandara Kemayoran yang merupakan pintu gerbangnya Indonesia pada masa Soekarno diprakarsai oleh Presiden pertama Indonesia itu dikerjakan oleh guru dari Seniman Indonesia Muda (SIM) pada 1957 diantaranya S Sudjojono, Harijadi S, dan Surono. Murid-muridnya diantaranya  para siswa termasuk : Darmi S, Djakaria S, Marah Djibal, Sudariyo, Sudibyo, Chaidir, Darmo S dan masih banyak lagi. Relief ini merupakan relief beton modern pertama di Indonesia, yang ditancang oleh siswa dari SIM hasil dari ujiannya yang terpilih dari sekian banyak siswanya.&lt;br /&gt;    Menurut Marah Djibal, ini relief beton modern pertama di Indonesia. Dikerjakan tanpa menggunakan tukang saring/aduk semen pasir, karena pembuatan relief termasuk ujian akhir para siswa, sehingga para siswa bekerja sebagai tenaga bangunan yang harus mengaduk semen dan mengerjakan pembetonan, sekaligus tenaga artistik yang harus memindahkan desain ke atas beton lalu memahat dengan teknik pahatan dalam, bukan dangkal. Tiga disain yang luar biasa direalisir secara luar biasa (!). Proyek relief dibiayai oleh Kantor Djawatan Gedung Gedung.&lt;br /&gt;    Masing-masing seniman mengerjakan satu relief yang bertema menggambarkan kekayaan yang dimiliki Indonesia, Sudjojono mengerjakan Manusia Indonesia yang menggambarkan bagaimana rakyat yang sedang membangun, bekerja di berbagai bidang, tergambar tubuhnya yang kekar seperti semangat masanya. Harijadi S, menggambarkan Flora Fauna Indonesia di sana terdapat berbagai tumbuhan dan binatang yang terdapat di Nusantara baik yang di air tawar dan lautan serta yang di darat seperti Harimau, Gajah, Banteng, Babi hutan, Rusa, berbagai macam monyet dan masih banyak lagi. Harijadi S, mengerjakannya dengan detil dan halus. Sementara Surono menggambarkan legenda Sangkuriang, ia seperti sedang bertutur dalam relief tersebut meskipun pengerjaannya tidak sehalus Sudjojono dan Harijadi.&lt;br /&gt;    Ukuran karya Sudjojono yang terpambang itu, kira-kira panjang 30 meter tinggi 3m, ukuran karya Harijadi diperkirakan panjang 10 meter tinggi 3 meter dan karya Surono diperkirakan panjangnya 13 meter panjang 3 meter.&lt;br /&gt;    Sementara menurut Santu Wirono yang juga pelukis putra dari Harijadi S analisa sederhana saya berbunyi, dikatakan relief beton modern pertama di Indonesia mengingat kesatu : relief tidak terikat pada tradisi relief di Jawa, Bali dan daerah lain yang bernafaskan agama atau kepercayaan. Kedua Soekarno yang Seniman Adiluhung ingin menunjukan Indonesia di hadapan tamu negara dengan sebuah ilustrasi tentang indonesia, melalui media relief beton di halaman terdepan negeri ini.&lt;br /&gt;    Relief ini kini dalam keadaan kritis, hendak dibongkar oleh pengelola Bandara Kemayoran tersebut yang berada di bawah Sekretaris Negara seperti yang tertera dalam papan nama, juga berdasarkan keterangan yang didapat dari Satpam seperti dijelaskan oleh Santu Wirono.&lt;br /&gt;    “Ukiran itu tidak boleh disentuh,” kata beberapa Satpam yang berada di depan Bandara Kemayoran berulang kali. Seperti diungkapkan Santu Wirono dan Bambang Suroboyo yang menyempatkan datang ke lokasi pada medio Nopember 2009.&lt;br /&gt;    Pada masa Orde Baru karya-karya ini hendak diberanguskan, seperti juga karya-karya sastra lainnya. Soekarno pada saat itu berkeinginan untuk mempersembahkan gambar kekayaan Nusantara ini bagi para tamu luar negri. Tidak hanya kekayaan alamnya yang dimiliki tetapi i seni budayanya. Untung saja tidak jadi, namun sekitar 2m relief dijebol juga untuk pintu tangga masuk ke VIP room bandara tersebut.&lt;br /&gt;    Pada masa pemerintahan sekarang karya yang merupakan masterpiece Indonesia, akan di hancurkan. Apakah keperdulian negara terhadap hasil karya seni anak bangsa ini memang tidak ada. Harapannya gedung itu menjadi sebuah cagar budaya atau meuseum yang bisa menyimpan karya seni. Paling tidak tempat itu mengingatkan pada bangsa Indonesia bahwa ada anak bangsa yang berhasil menciptakan karya seni yang memiliki tingkat kesulitan tinggi. Yang pada masa sekarang belum tentu bisa terulang kembali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-552592737825070829?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/552592737825070829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/12/relief-beton-pertama-indonesia-segera.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/552592737825070829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/552592737825070829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/12/relief-beton-pertama-indonesia-segera.html' title='RELIEF BETON PERTAMA INDONESIA SEGERA DI PUGAR'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/SyCJruFAG3I/AAAAAAAAANU/cLwsirNJsZw/s72-c/RELIEF.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-8263363515418104127</id><published>2009-12-09T21:24:00.000-08:00</published><updated>2009-12-09T21:29:01.184-08:00</updated><title type='text'>MEMBACA ISI JOGYA</title><content type='html'>KETIKA melihat ''Exposigns'', sebuah pameran besar seni visual Indonesia di Jogja Expo Center pada 25-30 November ini, saya benar-benar terpana. Keterpanaan saya itu terkait dengan salah satu kesimpulan dalam penelitian disertasi saya. Salah satu simpulan tersebut berbunyi, ''Perupa-perupa yang dikonstruksikan dalam praktik komodifikasi memperlihatkan modus spesifik, yaitu perupa-perupa yang berlatar belakang pendidikan seni rupa. Modus ini secara nyata menggejala sejak zaman kolonial hingga pascakolonial. Karya-karya pilihan yang dijadikan ikon komodifikasi merupakan karya perupa akademis, sekalipun di luar itu terdapat karya perupa nonakademis. Namun, karya perupa nonakademis makin memperlihatkan gejala menurun sangat signifikan ketika seni rupa kontemporer menjadi pusat wacananya.''&lt;br /&gt;Sebaliknya, perupa-perupa akademis makin mendominasi praktik seni rupa kontemporer dengan basis wacana dan sosial yang kukuh. Itu terbukti dalam medan pasar yang tengah dipraktikkan pada dekade terakhir ini: ''tren'' seleranya terfokus pada karya-karya perupa akademis.&lt;br /&gt;Simpulan itu dibangun dari asumsi dasar bahwa seni rupa kontemporer memiliki basis keilmuan di dalam lingkungan akademis. Artinya, institusi pendidikan tinggi seni rupa -semacam ISI Jogjakarta- memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkembangkan seni rupa kontemporer, baik dalam konteks wacana maupun praktik. Generasi perupa kontemporer secara ''genetis'' lahir dari lingkungan akademik. Ini dapat dimaknai bahwa pendidikan tinggi seni dalam konteks medan sosial seni rupa kontemporer memegang posisi kunci. Medan sosial seni rupa kontemporer percaya bahwa praktik seni secara ideologis dibangun dari dasar-dasar keilmuan yang jelas, teruji, dan terukur.&lt;br /&gt;Dengan demikian, jangan heran kalau kisah sukses sejumlah nama popular dalam seni rupa kontemporer Indonesia seperti Eddie Hara, Agung Mangu Putra, Nyoman Masriadi, Rudi Mantofani, Dipo Andy, Galam Zulkifli, Yusra Martunus, dan Jumaldi Alfi tidak bisa dilepaskan dari ISI Jogja sebagai ruang pembuka pertama kesadaran baru dalam eksplorasi seni. Di kemudian hari, mereka mengembangkan secara intensif, kemudian direspons pasar habis-habisan. Sayang, karya mereka tidak hadir dalam forum ''Exposigns'' yang teramat penting itu. Saya yakin, para kurator memasukkan nama-nama mereka sebagai peserta pilihan yang diundang. Tapi, entah mengapa mereka tidak bisa ikut?&lt;br /&gt;Ingat, nama besar mereka, diakui atau tidak, ada di dalam bayang-bayang nama besar ISI Jogjakarta, tanpa bisa dielakkan. Tanpa sentuhan pendidikan yang mereka alami di ISI, saya tidak yakin apakah mereka akan bisa mencapai puncak kesuksesan seperti yang mereka nikmati sekarang. Dalam konteks ini, kita tahu bahwa kontribusi pendidikan seni rupa merupakan ruang ''provokasi'' untuk membongkar potensi individu agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat seni yang dimiliki serta dieksplorasi terus-menerus dalam ruang sosio-kulturalnya.&lt;br /&gt;Ditilik dari perspektif ini, ''Exposigns'' tampaknya sebuah pameran yang ingin menegaskan kontribusi pendidikan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pameran itu merupakan even yang diniatkan untuk mempertegas ISI Jogjakarta sebagai basis intelektual dan basis historis dalam dunia seni rupa Indonesia secara luas. Bukti-bukti ke arah itu jelas nyata. Pameran tersebut menampilkan 551 peserta dengan 600 karya lebih, dan dipresentasikan secara kolosal di sebuah tempat prestisius, Jogja Expo Center, 25-30 November 2009. Di antara sekian nama itu, tertera nama-nama besar yang menjadi ikon dalam sejarah seni rupa modern Indonesia. Antara lain, Affandi, Gambir Anom, Abas Alibasyah, Amri Yahya, Fadjar Sidik, Djoko Pekik, Edhi Soenarso, Hendra Gunawan, dan Widayat. Juga, nama-nama popular dalam seni rupa kontemporer seperti Heri Dono, Nyoman Erawan, Nasirun, Entang Wiharso, Putu Sutawijaya, Pande Ketut Taman, Ugo Untoro, Nurkholis, Rinaldi, Riduan, Tommy Wondra, dan Suraji.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Memang, pameran gigantik selalu menebarkan sejumlah risiko. Risiko utamanya adalah terpusat pada kontribusi historis dan makna kulturalnya. Apakah pameran ''Exposigns'' merepresentasikan eksplorasi visual yang dapat dibaca sebagai perkembangan sejarah seni rupa modern/kontemporer di Indonesia? Tentu, yang dimaksudkan perkembangan sejarah itu mulai keragaman gaya, medium, teknik, ekplorasi tematik, latar belakang historis, hingga menyentuh soal koneksitasnya dengan medan sosial seni yang juga secara linier berkembang relatif cepat. Hal itu secara jelas digarap oleh tim kurator secara cukup jeli sehingga kita mendapat horison yang luas tentang sebuah representasi historis dari sebuah lembaga pendidikan tinggi seni di Indonesia. Ragam karya yang disajikan menggambarkan betapa ISI selalu merespons berbagai isu atau paradigma seni yang tengah berkembang dan manjadi isu pokok dalam setiap ruang dan waktu.&lt;br /&gt;Namun, kita tahu, yang berkembang secara cepat setelah era 1980-an di luar institusi pendidikan, yaitu infrastruktur pasar, tanpa diikuti secara seimbang infrastruktur wacananya. Dari sini, kita sadar, seni rupa modern/kontemporer di Indonesia ternyata berkembang secara asimetris. Praktik seni berkembang begitu cepat dengan menyodorkan berbagai fenomena, sedangkan pembacaan kritis menjadi makin tampak mandul. Praktik kritik seni seperti terimpit oleh hiruk pikuk pasar yang cenderung pragmatis, sekalipun harus diakui pasar juga punya peran penting dalam mendorong eksplorasi kreatif para perupa.&lt;br /&gt;Pameran yang dibuka Mendiknas Prof Dr Ir H Mohammad Nuh DEA dan disaksikan ribuan pengunjung yang datang dari berbagai kota itu makin menunjukkan bahwa ISI Jogja tak bisa dielakkan sebagai medan magnet yang punya pengaruh besar dalam dunia seni rupa di negeri ini. Dalam arti luas, ISI dengan ''Exposigns'' yang diselenggarakan dalam rangka dies natalis ke-25 memperlihatkan bahwa dari entitas pendidikan, hampir semua eksplorasi seni visual modern/kontemporer dapat dirunut posisi historiografisnya. Posisi tersebut penting. Sebab, dari situlah segala hal yang terkait dengan sejarah -baik secara konseptual, artefak, maupun sosial- dapat dibaca maknanya. Sebab, dari posisi itu, segala referensi perkembangan seni rupa dapat diunduh secara empiris dan teoritis.&lt;br /&gt;Namun, sekali lagi, sayang, peran penting institusi pendidikan seperti ISI Jogjakarta seperti terlepas dari mata rantai dalam jejaring di medan sosial seni. Institusi ini hanya tampak sebagai ''ruang antara'' yang dimanfaatkan makna legendanya dalam konteks pasar. ISI Jogja menjadi semacam "branding" untuk meningkatkan ''pamor'' sang perupa ketika berelasi dengan medan pasar yang memang memerlukan sejumlah ''branding'' guna kepentingan pasar atau kepentingan-kepentingan lain yang dianggap bermakna.&lt;br /&gt;Ini memang sebuah fakta paradoks. Kalau hal demikian itu terjadi terus-menerus, kita memang susah membayangkan di masa mendatang, di ISI Jogja akan ada sebuah gedung yang bernama ''Gedung Masriadi'', ''Ruang Putu Sutawijaya'', ''Selasar Wiyanta'', ''Auditorium Dipo Andy'', ''Boulevard Handiwirman'', ''Galeri Alfi'', dan sebagainya. Artinya, bangunan-bangunan tersebut menjadi tetenger historis bahwa bangunan itu didirikan atas kontribusi seorang alumnusnya yang punya nama besar. Walaupun, nama-nama tersebut tidak perlu hadir secara eksplisit dalam tiap ruang atau bangunan yang didirikan. Tentu, itu hanya sebuah contoh bagaimana agar mata rantai tersebut tidak tampak terputus. Kalau hal itu terjadi, saya yakin ISI Jogja akan menjadi medan magnet yang susah ditandingi dalam konteks pendidikan tinggi seni rupa di Indonesia. ISI Jogja melalui ''Exposigns'' terbukti melahirkan nama-nama besar dalam sejarah seni rupa Indonesia. Tak hanya perupa, tapi juga pemikir seni, penulis seni, kurator, sejarawan seni, peneliti seni, dokumentator seni, wartawan seni, birokrat seni, hingga pengusaha seni. Fakta-fakta itu tak terbantahkan! ( Djuli Djatiprambudi )&lt;br /&gt;Sumber: Sumatra Ekspres&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-8263363515418104127?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/8263363515418104127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/12/membaca-isi-jogya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/8263363515418104127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/8263363515418104127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/12/membaca-isi-jogya.html' title='MEMBACA ISI JOGYA'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-7695841920241636457</id><published>2009-11-17T18:05:00.000-08:00</published><updated>2009-11-17T18:06:56.920-08:00</updated><title type='text'>”Cicak Nguntal Baya”</title><content type='html'>Rabu, 18 November 2009 | 07:58 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya iki buntutku, kok pidak siji dadi sewu:&lt;br /&gt;Ya iku sing jenenge aji candrabhirawa, ajine wong cilik. Saya mbok idak, saya brontak.&lt;br /&gt;Saya mbok pateni, saya urip.&lt;br /&gt;Saya mbok apusi, saya lantip ing budi.&lt;br /&gt;Ya iku mau sing jenenge people power, he baya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sindhunata, ”Cicak Nguntal Baya”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS.com — Pergerakan cicak-cicak di Jakarta dan kota lain bisa jadi memang tidak selincah sebelumnya, seperti dikatakan guru besar Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia, Bambang Widodo Umar. Namun, tidak di Yogyakarta. Napas panjang menuntut ditegakkannya keadilan tengah disiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan itu ditandai dalam Brebeg Seni di Kapitroekan Karang Klethak, Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Sabtu (14/11) malam. Puisi Sindhunata yang dibacakannya sendiri dari panggung dan dihadiri ratusan warga dan seniman itu adalah awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggal puisi jawaban cicak atas pertanyaan buaya yang meremehkan kemampuannya itu lebih kurang artinya, Ya ini ekorku, jika diinjak satu tumbuh seribu: Ya ini yang dinamakan senjata candrabhirawa, senjatanya orang kecil. Makin diinjak makin berontak. Makin dibunuh makin hidup. Makin ditipu makin pandai. Ya itu tadi yang namanya people power, hai buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara budayawan Sindhunata membacakan puisi panjangnya, tiga perupa, yaitu Djoko Pekik, Teddy, dan Putu Sutawijaya, menggambar di kanvas ukuran 2 x 3 meter. Temanya tunggal, ”Cicak Nguntal Baya”. Hujan yang turun tidak menghentikan kegiatan tiga perupa di alam terbuka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil ketiga perupa itu terus menggambar, ruwatan dilakukan dengan membongkar dan melempar kulit ketupat. Dari atas panggung, para seniman kemudian melemparkan beras kuning bersama uang receh ke arah penonton yang segera berebut memungut recehan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik antarlembaga yang melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, menurut Sindhunata, sekadar pemicu untuk menumbuhkan penyadaran sosial yang lebih besar. Ruwatan yang digelar tidak sekadar ruwatan batin, tetapi lebih pada ruwatan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Gerakan sosial tidak mungkin tanpa penyadaran. ’Cicak Nguntal Baya’ adalah penyadaran tentang kekuatan orang kecil,” ujar Sindhunata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cenderung lupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, dengan kebaya merah yang membalut tubuhnya, politisi Rieke Dyah Pitaloka membacakan orasi budaya. Rieke, yang lebih dikenal masyarakat desa sebagai Oneng dalam serial komedi televisi yang dibintanginya, menyerukan perlawanan terhadap korupsi dan perilaku koruptif lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kekuasaan memiliki watak arogan yang cenderung lupa pada amanah rakyat. Ketika kekuasaan menjadi lupa, maka tugas kebudayaanlah untuk mengingatkan. Politik tanpa kebudayaan seperti cicak tanpa dinding, seperti buaya tanpa sungai,” ujar Rieke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Brebeg Seni yang diserukan dari perbukitan dengan bantuan angin dari sela-sela rumpun bambu, seniman ingin dengan segala kemampuannya hendak menyampaikan penyadaran sosial. Rakyat yang selama ini dilecehkan hendak disadarkan akan kekuatannya. Yang besar tak harus menindas yang kecil. Yang kecil punya kekuatan untuk menelan yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hujan mulai deras, Marzuki bersama Jogja Hip Hop Foundation tampil. Kritik kepada seniman yang memburu kapital dan melupakan tugas seni disampaikan lewat lagu ”Jula Juli Lolipop”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Soimah Pancawati, yang kembali ke Yogyakarta tiap akhir pekan setelah kesibukannya di Jakarta, Marzuki menyanyikan secara hip hop lagu berjudul ”Cicak Nguntal Boyo”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hujan turun, meski ratusan penonton di tengah rimbunnya tanaman tidak beranjak, Marzuki dan Soimah tampil dengan payung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Biar rakyat bergembira, biar kami yang menderita,” ujar mereka disambut tawa dan tepuk tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto yang datang malam itu bersama puluhan seniman turut memberikan semangat dari tempat mereka menonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan-teriakan yang menyemarakkan acara membuat tontonan untuk penyadaran itu menyatu dan terasa mengalir tanpa ada kesan paksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyadaran sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tempatnya terpencil, sekitar 22 kilometer dari Kota Yogyakarta melalui Jalan Kaliurang, kemeriahan untuk penyadaran sosial itu bisa dilakukan dan diharapkan bergelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obor bambu menjadi penunjuk jalan ketika para penonton meninggalkan jalan besar menuju tempat perhelatan. Sebagian warga sekitar menyambut dengan menjajakan berbagai makanan desa untuk kudapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga sekitar yang hadir malam itu, seperti Ngadiman (50), mengaku ikut geram dengan perseteruan cicak lawan buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tinggal di pelosok pedesaan, dia selalu mengikuti perkembangan terbaru dari perseteruan tersebut di televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami orang kecil bisanya ya hanya geleng-geleng kepala melihat dan menyaksikan para petinggi di televisi,” ujar Ngadiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djoko Pekik yang melejit lewat lukisan ”Berburu Celeng” menjelang peristiwa 1998 juga geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata Djoko Pekik, para petinggi negara dilihatnya seperti tukang parkir dan preman. Hanya tukang parkir dan preman yang kerjaannya berebut lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan ruwatan desa yang hasilnya bisa segera dilihat dengan terciptanya keamanan lingkungan, dampak ruwatan ”Cicak Nguntal Baya” ini mungkin tidak segera dapat dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gelaran ruwatan, muncul secercah penyadaran yang diharapkan mampu menumbuhkan gerakan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga pedesaan pun memperoleh secuil hiburan dan kesempatan menertawakan perilaku para pejabat dari gelaran ruwatan. Dari desa kecil di lereng Gunung Merapi, dengan bantuan angin dari sela-sela rumpun bambu setelah hujan, seruan dilantangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cicak-cicak belum mati. Kalaupun diinjak, ekornya akan tumbuh lagi, bahkan sampai seribu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya iku mau sing jenenge people power, he baya&lt;br /&gt;Nadyan lembut tan kena jinumput, gedhene ngebaki jagad&lt;br /&gt;Mula sanadyan aku mung cicak&lt;br /&gt;Aku bisa nguntal kowe, wong gedhemu luwih cilik tinimbang jagad saisine”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Wisnu Nugroho/ Mawar Kusuma)&lt;br /&gt;Sumber: Kompas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-7695841920241636457?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/7695841920241636457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/cicak-nguntal-baya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/7695841920241636457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/7695841920241636457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/cicak-nguntal-baya.html' title='”Cicak Nguntal Baya”'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-1872282404228111741</id><published>2009-11-17T17:58:00.000-08:00</published><updated>2009-11-17T18:05:04.147-08:00</updated><title type='text'>Kepahitan bila berlalu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/SwNWNVA6KiI/AAAAAAAAAMs/9q5zJuxY0Cc/s1600/pulau+buru.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 226px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/SwNWNVA6KiI/AAAAAAAAAMs/9q5zJuxY0Cc/s320/pulau+buru.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405258764753971746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pengantar Buku Puisi-puisi dari Penjara S. Anantaguna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh Asep Sambodja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepahitan bila berlalu&lt;br /&gt;Jadi lagu sangat merdu&lt;br /&gt;(“Sisi yang Cerah”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya adalah ketidakadilan. Sehari setelah Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret yang berisi perintah pengamanan, dan bukannya transfer of authority, Soeharto mengeluarkan surat keputusan No. 1/3/1966 yang berisi: 1) membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) termasuk bagian-bagian organisasinya dari tingkat pusat sampai ke daerah beserta semua organisasi yang seazaz/berlindung/bernaung di bawahnya. 2) menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah kekuatan negara Republik Indonesia (Adam, 2009; Samsudin, 2005).&lt;br /&gt;Menindaklanjuti surat keputusan itu, pada 5 Juli 1966, Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang diketuai A.H. Nasution mengeluarkan Tap MPRS No. XXV/MPRS/1966 yang berisi pembubaran PKI, pernyataan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah Negara Indonesia bagi PKI dan larangan setiap kegiatan untuk menyebarkan, mengembangkan faham, atau ajaran komunisme/marxisme-leninisme (Samsudin, 2005).&lt;br /&gt;Apa implikasinya? Negara berusaha mencuci-tangan dengan apa yang telah dilakukan oleh Soeharto dan algojo-algojonya dalam massacre yang terjadi pascaperistiwa G30S 1965. Pembantaian atas sekitar setengah juta orang di Indonesia dalam jangka enam bulan sejak Oktober 1965 hingga Maret 1966 adalah tragedi paling besar dalam sejarah Indonesia modern (Cribb, 2005). Sebelum PKI dilarang, banyak anggotanya yang dibunuh, ditangkap, disiksa, ditahan bertahun-tahun tanpa proses pengadilan.&lt;br /&gt;Soal jumlah yang pasti mengenai korban yang mati memang belum jelas, karena negara sendiri mencoba menyembunyikan peristiwa berdarah ini dalam kolong sejarah bangsa Indonesia. Tapi, sebagaimana Robert Cribb, Ricklefs (2005) juga menyebutkan bahwa jumlah anggota PKI yang dibunuh sedikitnya 500.000 orang. Harian Kompas, 13 Agustus 2001 menyebutkan korban yang meninggal dalam pembunuhan massal 1965-1966 hingga satu juta jiwa. Sarwo Edhie Wibowo, Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang memimpin pembantaian massal di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali itu bahkan mengklaim telah membunuh tiga juta orang komunis (Ricklefs, 2005; Aleida, 2009).&lt;br /&gt;Selain itu terjadi penangkapan disertai penyiksaan dan penahanan terhadap orang-orang PKI yang semuanya tanpa proses pengadilan. Harus dicatat di sini bahwa penangkapan, penyiksaan, dan penahanan itu tidak melalui proses pengadilan. Ricklefs (2005) menyatakan sedikitnya ada 100.000 orang yang diperlakukan secara aniaya seperti itu. Kompas menyebutkan ada 700.000 orang yang dizalimi. Mereka memenuhi penjara-penjara yang ada di Jawa dan sebagian dibuang ke Pulau Buru.&lt;br /&gt;Terkait dengan hal itu, perempuan-perempuan aktivis yang tergabung dalam Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) justru mengalami penderitaan yang berlipat-lipat. Mereka tidak saja ditangkap dan ditahan, tetapi juga diperkosa berkali-kali di dalam penjara. Testimoni yang mereka berikan terekam dengan baik dalam buku Suara Perempuan Korban Tragedi 65 karya Ita F. Nadia (2008).&lt;br /&gt;Melihat peristiwa ini, Amerika hanya menutup mata. Bahkan mereka merasa gembira karena Soeharto telah berhasil menyingkirkan kekuatan sayap kiri di Indonesia. John Roosa menulis, “Washington sangat gembira ketika tentara Soeharto mengalahkan G30S dan merangsak menghantam kaum komunis. Ketidakberpihakan Soekarno dalam perang dingin dan kekuatan PKI yang semakin besar telah dibikin tamat dengan sekali pukul. Tentara Soeharto melakukan apa yang tidak mampu dilakukan negara boneka AS di Vietnam Selatan meskipun telah dibantu dengan jutaan dolar dan ribuan pasukan AS, yaitu menghabisi gerakan komunis di negerinya” (Roosa, 2008).&lt;br /&gt;Sastrawan-sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan PKI mengalami nasib sial. Pramoedya Ananta Toer, Putu Oka Sukanta, Hersri Setiawan, dan S. Anantaguna—untuk menyebut beberapa nama saja—mengalami penganiayaan oleh Rezim Orde Baru. Sebagai anggota Lekra, Putu Oka Sukanta dipenjara Rezim Orde Baru selama 10 tahun (1966-1976) tanpa diadili (Sukanta, 2008). S. Anantaguna sendiri mendekam di penjara selama 13 tahun (1965-1978) juga tanpa diadili dan tidak tahu kesalahannya apa.&lt;br /&gt;Pramoedya Ananta Toer mengatakan dalam esainya, “Saya Bukan Nelson Mandela”, bahwa ia dibebaskan dari Pulau Buru pada 21 Desember 1979 dengan membawa selembar kertas yang menyatakan dirinya tidak terlibat dalam G30S. Namun, tidak ada proses hukum untuk merehabilitasi namanya. Negara tidak merehabilitasi dan tidak memberikan kompensasi kepada orang-orang PKI, termasuk sastrawan-sastrawan Lekra, yang telah mengalami penganiayaan selama bertahun-tahun tanpa proses pengadilan itu. Khusus untuk sastrawan Lekra, mereka tidak saja ditahan, melainkan buku-buku mereka juga dinyatakan terlarang. Yang terjadi kemudian adalah karya-karya mereka lenyap dari buku sejarah sastra Indonesia (Sambodja, 2009). Mereka adalah orang-orang yang dizalimi bahkan sampai saat ini, karena Tap MPRS No. XXV/MPRS/1966 itu belum dicabut.&lt;br /&gt;Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta maaf kepada Pramoedya Ananta Toer sebagai simbol korban pembantaian massal yang pernah dilakukan negara terhadap rakyatnya sendiri (Kompas, 15 Maret 2000). Goenawan Mohamad, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo yang juga sastrawan Manifes Kebudayaan (Manikebu), menyayangkan sikap Pramoedya Ananta Toer yang tidak meniru sikap Nelson Mandela yang melakukan rekonsiliasi dengan Rezim Apartheid di Afrika Selatan yang pernah menindas Mandela (Mohamad, 2004). Menurut Pramoedya Ananta Toer, permintaan maaf Gus Dur itu hanya basa-basi, karena permintaan maaf itu tidak disertai dengan ketetapan MPR/DPR. Sekarang kita pertanyakan kembali: bisakah anggota DPR dan MPR yang sekarang ramai dengan artis-artis sinetron dan pelawak-pelawak itu bisa mewujudkan penegakan hukum di negeri ini—di tengah genggaman dan kekangan mafioso peradilan? Apakah mereka punya hati nurani? Apakah mereka punya nyali?&lt;br /&gt;Puisi-puisi Sabar Anantaguna atau yang lebih dikenal dengan S. Anantaguna ini seperti mengekalkan kezaliman yang diwarisi Rezim Soeharto, yang tangannya berlumuran darah. Penuh darah rakyatnya sendiri. Yang dihasilkan Anantaguna sungguh luar biasa; suara yang dikeluarkannya seperti suara nabi. Mungkin ini terdengar agak berlebihan. Tapi, kalau melihat penganiayaan yang dilakukan Rezim Soeharto kepada orang-orang PKI, termasuk sastrawan-sastrawan Lekra, maka yang mereka alami itu lebih memiriskan hati. Dalam pembicaraan dengan mantan-mantan tahanan politik (tapol) yang tergabung dalam Lembaga Pembelaan dan Rehabilitasi Korban Rezim Orde Baru (LPR KROB), seorang di antaranya mengatakan bahwa penyiksaan yang mereka alami lebih sadis dibandingkan dengan penderitaan yang dialami Nabi Isa. Benarkah? Wallahualam bissawab. Tapi, kalau membaca puisi-puisi S. Anantaguna, kehidupan mereka di dalam penjara Orde Baru itu sebenarnya sudah berada di ujung tubir antara hidup dan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Diburu Juga Memburu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi yang ditimang&lt;br /&gt;malam dengan bintang&lt;br /&gt;Mimpi yang diemban&lt;br /&gt;malam pesta bulan&lt;br /&gt;mengadu rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati digoncang banting antara hidup dan mati&lt;br /&gt;diburu tetapi juga ditakuti tak bisa mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi yang diayun&lt;br /&gt;angin bau embun&lt;br /&gt;Mimpi sesah&lt;br /&gt;angin dari lembah&lt;br /&gt;menambah indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bumi sepi diburu hidup dan mati&lt;br /&gt;menerawangi hati mencari makna tanpa nyanyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi “Yang Diburu Juga Memburu” menggambarkan betapa batas antara hidup dan mati memang lebih tipis dari kulit bawang. Terkadang manusia merasa diburu kematian sebagaimana Chairil Anwar mengatakan dalam puisi-puisi akhirnya, “hidup hanya menunda kekalahan” (Anwar, 1990). Tapi, terkadang pula manusia memburu kematian itu jika berada dalam titik nadir kehidupannya. Barangkali kematian menjadi demikian indah jika harga diri sebagai manusia telanjur disampahkan. Di sisi lain, orang-orang yang mampu bertahan dalam ujian yang maha berat itu akan merasai makna kehidupan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepedasan Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila buah cabe bermatangan, dik, petiklah&lt;br /&gt;biar pohonnya tidak cepat mati&lt;br /&gt;bila hati matang, dik, petiklah&lt;br /&gt;seperti kecapi&lt;br /&gt;Biar hidup tidak kehilangan arti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski megap-megap hidup diarungi&lt;br /&gt;Mengapa berjawab mati&lt;br /&gt;Dari ujung kembali ke pangkal&lt;br /&gt;kita kejar soal&lt;br /&gt;memecahkan soal melahirkan soal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa hati berdegup&lt;br /&gt;merebut kualitas hidup&lt;br /&gt;Awan tidak peduli&lt;br /&gt;kita hidup atau mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila buah cabe bermatangan, dik, petiklah&lt;br /&gt;biar pohonnya tidak cepat mati&lt;br /&gt;Bila hati mematang, dik, petiklah&lt;br /&gt;seperti kecapi&lt;br /&gt;Tanpa persoalan hidup ini sudah mati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S. Anantaguna berupaya untuk menikmati hidup ini. Melalui puisi “Kepedasan Hidup”, Anantaguna ingin mengatakan dua hal. Pertama, ia yang telah menjalani sebagai tahanan selama 13 tahun tanpa proses hukum, mengerti benar kerasnya atau pedasnya kehidupan. Kedua, pedasnya hidup itu menjadi pengalaman sekaligus pelajaran yang sangat berharga. Kalau hal itu dianggap sebagai persoalan, maka persoalan itu harus ditaklukkan. Dan sejatinya kehidupan tanpa ada persoalan seperti hampa saja, sebagaimana dikatakan penyair, bahkan tak beda dengan kematian itu sendiri. Puisi “Sisi yang Cerah” yang saya kutip di atas, yang saya ibaratkan seperti suara nabi, menegaskan pada pembaca bahwa keberhasilan kita melalui segala rintangan, penderitaan, kepahitan, maka yang dirasakan kemudian adalah keindahan. Anantaguna menuliskannya dengan sangat indah: “Kepahitan bila berlalu, jadi lagu sangat merdu”.&lt;br /&gt;Kini, setelah melalui masa-masa sulit itu, Anantaguna merefleksikan peristiwa yang membuatnya berada di titik nadir itu dengan bersahaja. Kebersahajaan itu terbaca dari puisi-puisinya yang menertawakan keadaan, menertawakan kehidupan, bahkan menertawakan diri sendiri. Anantaguna sudah memasuki tahap yang sangat matang, sehingga dengan mudahnya ia memetik buah pengalamannya itu. Puisi-puisi yang lahir dari tangannya adalah puisi-puisi yang bergizi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interogasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa namamu&lt;br /&gt;namaku cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana rumahmu&lt;br /&gt;di hati manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pekerjaanmu&lt;br /&gt;memperindah dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa duniamu&lt;br /&gt;kamar tiga kali dua&lt;br /&gt;kalau sakit tidak diperiksa&lt;br /&gt;tidak sakit malah diperiksa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa temanmu&lt;br /&gt;tak tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus tahu!&lt;br /&gt;baiklah kalau harus menipu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa menipu!&lt;br /&gt;boleh jabat tangan seri satu-satu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa! Saya menempatkan sastrawan-sastrawan Lekra ke tempat yang terhormat kembali. Dalam pandangan saya, posisi mereka sebagai sastrawan senantiasa berada di tengah-tengah rakyatnya. Ada kewajiban bagi sastrawan Lekra untuk benar-benar menyelami dan menghayati penderitaan masyarakat yang ada di lingkungannya dan kemudian mereka mengartikulasikan apa yang dirasakan rakyat melalui karya-karyanya. Di sinilah saya melihat para sastrawan berjasa dalam hal memperkaya kebudayaan bangsanya. Mereka turut serta membangun monumen peradaban bangsa.&lt;br /&gt;Penyair-penyair salon tidak akan menghasilkan karya seperti itu, karena mereka tidak mau “turba”, tidak mau berkeringat dan kerja keras menyuarakan kebenaran hakiki yang bersemayam dalam jiwa dan hati orang-orang kecil. Bukankah Tuhan sendiri berada dalam diri orang miskin, lemah, duafa? Sebagaimana hadits nabi Muhammad, “Carilah Aku di tengah-tengah kaum duafa. Bukankah kalian ditolong dan diberi rizki karena bantuan orang-orang duafa?” (Rakhmat, 1991).&lt;br /&gt;Sungguh mengherankan bagi saya bagaimana Taufiq Ismail melalui buku Prahara Budaya menyudutkan sastrawan-sastrawan Lekra untuk lebih terperosok lagi. Dalam buku yang disuntingnya bersama D.S. Moeljanto itu, Taufiq Ismail berupaya keras menaut-nautkan karya para sastrawan Lekra dengan peristiwa G30S. Ini, misalnya, tampak ketika ia menginterpretasi puisi Mawie Ananta Jonie yang berjudul “Kunanti Bumi Memerah Darah” dan esai Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Tahun 1965 Tahun Pembabatan Total” (Moeljanto, 1995). Padahal, kalau kita kaji dua tulisan itu dengan hati bersih, maka tidak ada sama sekali kata atau kalimat atau simbol dalam karya mereka yang mengarah ke peristiwa berdarah itu (Sambodja, 2009).&lt;br /&gt;Saya pikir aneh kalau Taufiq Ismail berasumsi atau malah menuduh sastrawan-sastrawan Lekra itu terlibat dalam G30S. Apa bukti mereka terlibat dalam peristiwa itu? Apa pula bukti perempuan-perempuan Gerwani terlibat dalam penculikan dan pembunuhan itu? Bukankah perempuan-perempuan itu ditelanjangi secara paksa oleh tentara, dan bukannya menari telanjang sebagaimana yang dimitoskan selama ini? (Roosa, 2008; Nadia, 2008; Poesponegoro, 1984). Apa pula bukti keterlibatan ratusan ribu anggota PKI yang dibunuh tentara dan milisi antikomunis dalam peristiwa itu? Siapa sebenarnya Letkol Untung Samsuri dan Kolonel Abdul Latief itu? Bukankah mereka teman dekat Soeharto sendiri? (Adam, 2009).&lt;br /&gt;Tentu saja kita bersyukur atas terbitnya buku-buku sejarah yang memberikan perspektif yang baru seperti itu; tidak melulu dari kacamata penguasa. Kita juga bersyukur atas terbitnya buku Lekra Tak Membakar Buku yang memberikan gambaran mengenai sastrawan dan seniman Lekra secara proporsional sebagai komplemen terhadap buku Prahara Budaya. Demikian juga dengan terbitnya buku Gugur Merah dan Laporan dari Bawah yang sedikit banyak menyelamatkan aset budaya bangsa yang selama ini diberangus Rezim Orde Baru (Yuliantri, 2008).&lt;br /&gt;Lahirnya Puisi-puisi dari Penjara S. Anantaguna ini menjadi bukti bahwa kebenaran tidak bisa dimusnahkan dari muka bumi. Sebagai penyair, Anantaguna tidak perlu lagi berpura-pura menyuarakan penderitaan orang lain, karena pengalaman yang dialami Anantaguna merupakan ujian yang maha berat, sebagaimana tokoh-tokoh besar yang keluar dari kawah candradimuka. Maka, apa yang dituturkan Anantaguna adalah suara-suara yang di dalamnya terpancar kasih Ilahi. Saya kutip sebuah puisi Anantaguna untuk mengakhiri pengantar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghidupi hidup&lt;br /&gt;menghayati hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin merunduk&lt;br /&gt;memeluk bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecup hidup&lt;br /&gt;sampai mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citayam, 15 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acuan&lt;br /&gt;Adam, Asvi Warman. 2009. Membongkar Manipulasi Sejarah. Jakarta: Kompas.&lt;br /&gt;Aleida, Martin. 2009. Mati Baik-baik, Kawan. Yogyakarta: Akar Indonesia.&lt;br /&gt;Anwar, Chairil. 1990. Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: Gramedia.&lt;br /&gt;Cribb, Robert. 2005. “Tragedi 1965-1966 di Indonesia”, dalam Christine Clark et.al. Di&lt;br /&gt;Ujung Kelopak Daunnya Tetap Ada Airmata. Yogyakarta: Buku Baik.&lt;br /&gt;Moeljanto, D.S. dan Taufiq Ismail (ed.). Prahara Budaya. Bandung: Mizan.&lt;br /&gt;Mohamad, Goenawan. 2004. Setelah Revolusi Tak Ada Lagi. Jakarta: Alvabet.&lt;br /&gt;Nadia, Ita F. 2008. Suara Perempuan Korban Tragedi 65. Yogyakarta: Galang Press.&lt;br /&gt;Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional&lt;br /&gt;Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.&lt;br /&gt;Rakhmat, Jalaluddin. 1991. Islam Alternatif. Bandung: Mizan.&lt;br /&gt;Ricklefs, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi.&lt;br /&gt;Roosa, John. 2008. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta&lt;br /&gt;Suharto. Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra.&lt;br /&gt;Sambodja, Asep. 2009. “Historiografi Sastra Indonesia 1960-an: Pembacaan Kritis&lt;br /&gt;Karya-karya Sastrawan Lekra dan Manikebu dengan Perspektif New Historicism.” Monografi. Belum diterbitkan.&lt;br /&gt;Samsudin. 2005. Mengapa G30S/PKI Gagal?. Jakarta: Buku Obor.&lt;br /&gt;Sukanta, Putu Oka. 2008. Surat Bunga dari Ubud. Depok: Koekoesan.&lt;br /&gt;Yuliantri, Rhoma Dwi Aria dan Muhidin M. Dahlan. 2008. Lekra Tak Membakar Buku.&lt;br /&gt;Yogyakarta: Merakesumba. &lt;br /&gt;Sumber: Tag dari FB Asep Samboja&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-1872282404228111741?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/1872282404228111741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/kepahitan-bila-berlalu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/1872282404228111741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/1872282404228111741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/kepahitan-bila-berlalu.html' title='Kepahitan bila berlalu'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/SwNWNVA6KiI/AAAAAAAAAMs/9q5zJuxY0Cc/s72-c/pulau+buru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-2898700324201344631</id><published>2009-11-13T18:13:00.000-08:00</published><updated>2009-11-13T18:14:32.194-08:00</updated><title type='text'>TKI</title><content type='html'>Tukang Kebun Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 14 November 2009 | 02:59 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiarto Shambazy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 14 Desember 2009 pas 40 tahun kematian Soe Hok Gie di Gunung Semeru, Jawa Timur. Kami alumni Universitas Indonesia mempersiapkan buku Soe Hok Gie Sekali Lagi yang dirilis 18 Desember dan ”Napak Tilas Soe Hok Gie” yang diadakan Komunitas Kelompok Pencinta Alam Malang/Mapala UI di Gunung Semeru pada 20 Desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru setelah tutup usia dalam usia 27 tahun, banyak yang sadar bahwa ia pejuang konsisten. Banyak yang mafhum bahwa saat sebagian besar mahasiswa menikmati bulan madu bersama Orde Baru, ia justru keluar dari magnet kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Predikat konsisten itu menempel pada diri dan aktivitas Hok Gie karena tiga hal, yakni ia pribadi baik, bersih, dan pemberani. Ia memimpin mahasiswa yang pada hari-hari Januari 1966 menggalang kekuatan memprotes Presiden Soekarno di Istana Bogor. Namun, yang ia protes bukan pribadi Bung Karno, melainkan Orde Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tetap bersimpati terhadap sosok Bung Karno sebagai pribadi, yang ia tegaskan melalui pernyataan atau artikel di koran. ”Saya katakan bahwa Bung Karno telah menyengsarakan rakyat. Tetapi, itu tidak berarti bahwa penentang-penentang Bung Karno pahlawan pembela rakyat. Banyak di antara mereka yang bajingan dan oportunis,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap tak pandang bulu Hok Gie, misalnya, ditunjukkan tahun 1968, tak lama setelah Soeharto jadi presiden. Ia menggalang mahasiswa dan alumni memprotes Kodam V Jaya yang mau mengooptasi aspirasi kampus melalui siaran RUI (Radio UI). Old habit die hard!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun ikut berjasa membidani kelahiran Orde Baru, Hok Gie memilih jadi dosen sejarah di Fakultas Sastra UI. Ia masih teramat belia dan punya peluang merebut posisi politik menguntungkan. Namun, ia lebih suka menyendiri ke puncak gunung menemukan kedamaian hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami angkatan 1970-an ke atas yang aktif di Dewan Mahasiswa, Majelis Permusyawaratan Mahasiswa, Senat Mahasiswa, dan Badan Perwakilan Mahasiswa UI ”mengenal” Hok Gie dari buku, artikel, dan cerita. Kami tahu ia konsisten karena ia mempelajari sejarah bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika para pemuda/mahasiswa mengucapkan Sumpah Pemuda, dunia relatif makmur. Tekad menyatakan ”Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa” merupakan kulminasi dari perjuangan bangsa-bangsa yang ingin melepaskan diri dari penjajahan. Begitu banyak kebetulan sejarah yang terjadi saat dimulainya abad ke-20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asia bangga Jepang mengalahkan Rusia dalam perang 1905 walau militerisme Jepang tak kuasa menahan nafsu menjajah China dan Korea. Perang Dunia I 1914 mengubah perimbangan kekuatan Eropa. Negara-negara di benua tua itu mempertahankan stabilitas dan perdamaian sambil melanjutkan dominasi kultural di negara jajahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, akhirnya mereka bersaing sendiri. Mereka mengaku beradab dan demokratis, tetapi dipermalukan sendiri oleh fasisme Perdana Menteri Italia Benito Mussolini dan ambisi ekspansionis Kanselir Jerman Adolf Hitler. Amerika Serikat mengakhiri netralitas saat Presiden Woodrow Wilson menyeret negaranya ke Perang Dunia I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun setelah Sumpah Pemuda, Amerika Serikat dilanda ”Depresi Besar” yang juga melanda sebagian Eropa. Dalam konteks dunia seperti itulah nasionalisme Indonesia tumbuh. Para pemuda/mahasiswa ketika itu dipengaruhi pula oleh kebangkitan kebangsaan di Turki, India, dan China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boedi Oetomo didirikan 1908 oleh Wahidin Soediro Hoesodo, Raden Soetomo, dan Goenawan Mangoenkoesoemo. Tujuannya nonpolitis, menuntut Belanda mengembangkan pendidikan yang menjamin kemuliaan pribumi. Pada akhir 1909 anggota Boedi Oetomo mencapai sekitar 10.000 orang, kebanyakan bermukim di Jawa/Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya tarik Boedi Oetomo berkurang ketika Hadji Samanhoedi dan Raden Mas Tirtoadisoerjo mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) 1909. Tiga tahun kemudian SDI berubah menjadi Sarekat Islam (SI) yang mengalami keemasan ketika dipimpin HOS Tjokroaminoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga Nationale Indische Partij (NIP) yang didirikan 1929, organisasi ”campuran” Eurasia/pribumi pimpinan Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Ki Hadjar Dewantoro. Seorang anggota NIP, Hendrik Sneevliet, menginfiltrasi SI membuka jaringan komunisme internasional yang melibatkan Semaoen, Darsono, dan Tan Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perserikaten Kommunist di India (PKI) berdiri 1920, melanjutkan persaingan perjuangan kebangsaan SI versus komunis. Tokoh-tokoh Islam nasionalis yang ogah terlibat kompetisi mendirikan Muhammadiyah, 1912, yang dipimpin KH Ahmad Dahlan. Lewat ideologi berlainan, semua kekuatan pemuda/mahasiswa memulai perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Hatta ambil bagian sebagai Ketua Perhimpoenan Indonesia, kumpulan mahasiswa di Belanda, mulai 1922. Empat tahun kemudian lahir Nahdlatul Ulama yang salah satu pendirinya, Wahid Hasjim, adalah ayah Gus Dur. Setelah itu Bung Karno mendirikan Partai Nasional Indonesia 1927.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua potensi pemuda/mahasiswa bergabung ke Permoefakatan Perhimpoenan Politiek Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Pada akhirnya dinamika perimbangan kekuatan nasionalis, komunis, militer, dan Islam melahirkan ”konflik dan konsensus” dalam perpolitikan Orde Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Akbar Tandjung, Cosmas Batubara, dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) mendukung lahirnya Orde Baru. Mahasiswa Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Sjahrir, dan Hariman Siregar mengoreksi Orde Baru. Mahasiswa 1998 menjadi the highest power penumbang Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Hok Gie, mahasiswa 2009 tetap konsisten. Mereka sudah turun ke gelanggang untuk melawan kriminalisasi KPK, membongkar mafia hukum, dan, sebentar lagi, mendesak DPR menguak tabir skandal Bank Century. Seperti Hok Gie, mereka baik, bersih, dan pemberani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini nyaris setiap hari mahasiswa berunjuk rasa di sejumlah kota. Bisa dibayangkan apa jadinya jika mahasiswa berpangku tangan saja? Sementara pada saat yang sama pers, masyarakat madani, profesional, dan DPR pasrah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa satu-satunya kekuatan moral pengawal hati nurani rakyat. Mereka beberapa tahun saja menyandang status sebagai mahasiswa. Mereka ibarat tukang kebun yang menyirami taman Indonesia yang indah supaya tak dikotori siapa pun yang memerintah kita. SUMBER: KOMPAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-2898700324201344631?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/2898700324201344631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/tki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/2898700324201344631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/2898700324201344631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/tki.html' title='TKI'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-6612449814924614861</id><published>2009-11-13T17:38:00.001-08:00</published><updated>2009-11-13T17:38:52.838-08:00</updated><title type='text'>Resepsi dan Korupsi</title><content type='html'>Teori Resepsi dan Korupsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 14 November 2009 | 02:49 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi Darma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terceritalah, pada tahun 1929 seorang pemikir bernama IA Richards menganalisis kekeliruan para mahasiswa dalam memahami teks. Dari sini kemudian lahir berbagai teori tentang sikap pembaca terhadap teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori demi teori terus berkembang, sampai akhirnya terbentuk Reader Response Criticism, dan kadang dinamakan Teori Resepsi, yaitu pemaknaan pembaca terhadap teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori ini berangkat dari sebuah postulat bahwa teks baru mempunyai makna manakala teks itu dibaca dan, dalam menghadapi teks, pembaca pasti menyikapi teks itu sesuai dengan kemampuannya menangkap makna teks. Kemampuan ini ditunjang berbagai faktor, antara lain pengalaman pembaca dalam membaca berbagai teks, perjalanan hidup, dan pandangannya terhadap kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya teks sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya pengertian ”teks” ini terbatas pada teks sastra, tetapi tidaklah mustahil manakala pengertian awal ini bisa berkembang ke mana-mana. Karena itu, jangan heran manakala teks bisa juga identik dengan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca teks, dengan demikian, bisa identik dengan membaca kehidupan dan, karena membaca kehidupan menyangkut berbagai aspek, setiap orang memiliki hak memaknai kehidupan sesuai dengan daya tangkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena teori resepsi lahir melalui proses panjang, dengan sendirinya nama tokohnya juga banyak. Meski demikian, pada hakikatnya semua pendapat menjurus pada muara yang lebih kurang sama: dimensi empiris, dimensi foregrounding, dimensi harapan, dimensi ketidakmengertian, dan dimensi keterkaitan teks dengan realitas. Keterkaitan antara satu dimensi dan dimensi lain dengan sendirinya amat kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dimensi empiris, pembaca dituntut punya pengalaman membaca teks alias kehidupan. Dalam dimensi foregrounding, pembaca dianggap dapat menangkap makna kehidupan dan apa kiranya yang akan terjadi kemudian. Karena diharapkan dapat melihat apa yang kira-kira akan terjadi, muncul dimensi harapan, yaitu harapan mengenai penyelesaian apa yang akan terjadi selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, muncul dimensi ketidakmengertian karena baik dalam menghadapi teks maupun kehidupan, kemungkinan adanya sambungan yang hilang selalu ada. Akhirnya, agar tervalidasi, semua dimensi ini harus dikaitkan dengan realitas, yaitu kehidupan yang benar-benar terjadi lengkap dengan dinamika perkembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinamika perkembangan perlu dipertimbangkan karena teks alias kehidupan tak lain adalah sebuah dunia yang tak mungkin statis. Ketidakstatisan ini bisa menjadi lebih rumit karena setiap pembaca punya daya tangkap sendiri dan daya tangkap ini bisa berkembang karena berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal dalam hal ini identik dengan pengalaman dan kematangan pembaca yang tentunya tak akan selamanya statis. Faktor eksternal terkait dengan dinamika realitas di luar pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi III DPR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu contoh dinamika realitas bisa kita simak lewat fakta dalam acara dengar pendapat Komisi III DPR beberapa waktu lalu. Dalam acara ini, Kapolri tampak sangat gagah dan sangat percaya diri. Terasa benar bahwa Komisi III mendukung Kapolri. Fakta ini menunjukkan bahwa pemimpin (nonaktif) KPK harus segera diadili karena bukti untuk mengadili mereka sudah cukup kuat. Fakta ini juga mengacu pada dugaan bahwa pemimpin (nonaktif) KPK ini sangat pantas dilemparkan ke penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna teks alias kehidupan mengalami perubahan karena ada kekuatan eksternal yang bisa, paling tidak untuk sementara, menggerakkan perubahan. Pembaca dengan sendirinya paling tidak untuk sementara bisa pula terpengaruh dan, karena itu, pemaknaannya terhadap teks alias kehidupan juga bisa berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa pun yang terjadi, pembaca tetap memiliki berbagai dimensi, antara lain dimensi empiris, dimensi foregrounding, dan dimensi harapan. Dengan berbekal tiga dimensi ini, pembaca dapat menyimpulkan bahwa pola-pola yang lebih kurang sama pasti akan dipertontonkan oleh pihak-pihak yang diduga terkait masalah rumit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola ini selalu muncul dalam bentuk itu-itu saja, antara lain bantahan telah melakukan perbuatan tertentu, penyebutan nama Tuhan dan sikap religius, pemerasan air mata, dan ketersekonyong-konyongan terserang penyakit. Semua perwujudan ini, dalam berbagai versi, sudah ”diharapkan” oleh pembaca pasti akan muncul. Atau, apabila seseorang yang diduga tersangkut perkara merasa mempunyai kekuatan besar, sikap-sikap jumawa pasti akan dipertontonkan oleh orang semacam ini. Aparat pun akan ragu-ragu memprosesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidaktahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi dimensi yang penting: ketidaktahuan. Ketidaktahuan bisa terjadi karena derajat rantai hilang dalam satu kasus dengan kasus lain mungkin saja berbeda dan mungkin pula perbedaannya sangat mencolok. Jangan heran, dengan demikian, manakala Tim 8 pernah bingung dan, karena itu, mengancam akan mengundurkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca, dalam hal ini masyarakat, juga bingung. Namun, karena masyarakat, menurut istilah Carl Gustav Jung, diikat oleh kesadaran bersama, hati nurani masyarakat akhirnya akan berbicara tanpa kepura-puraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi DarmaSastrawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Kompas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-6612449814924614861?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/6612449814924614861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/resepsi-dan-korupsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/6612449814924614861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/6612449814924614861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/resepsi-dan-korupsi.html' title='Resepsi dan Korupsi'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-791839648958966156</id><published>2009-11-13T17:25:00.000-08:00</published><updated>2009-11-13T17:27:32.010-08:00</updated><title type='text'>Memerintah Tanpa Budaya</title><content type='html'>Memerintah Tanpa Budaya (Lagi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 14 November 2009 | 03:47 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saifur Rohman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabinet Indonesia Bersatu II 2009-2014 secara mengejutkan tidak lagi menempatkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di bawah koordinasi Menko Kesejahteraan Rakyat sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tetapi kini berada di bawah Menko Perekonomian. Jika strukturisasi kabinet adalah sebuah refleksi dari sistem pemikiran tentang idealitas pemerintahan, dengan kebijakan itu, unsur ”kebudayaan” tampaknya telah dianggap sebagai substruktur yang tak jauh berbeda dengan ”pariwisata”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kacamata kuantitatif, konsepsi kebudayaan itu hadir sebagai entitas mikro dalam desain pembangunan nasional. Bacalah, anggaran belanja yang tertuang dalam RAPBN tahun 2010, memberikan alokasi dana kepada kebudayaan sekitar Rp 300 miliar (0,028 persen) dan kesenian sekitar Rp 78 miliar (0,0074 persen). Bisa dikatakan sama dengan tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pembangunan kebudayaan merupakan bagian kecil dalam desain pembangunan nasional, penting kiranya menanyakan kembali orientasi pemerintahan masa kini. Bagaimana rupa pemerintah tanpa budaya? Bagaimana mungkin sebuah pemerintahan dibangun tanpa fondasi strategis terkait dengan kebudayaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya sebagai alas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelusuran di dalam rumpun ilmu sosial, khususnya sebuah teori ekonomi, akan didapat istilah corporate culture sebagai titik orientasi kinerja seorang karyawan dalam praksis kerjanya sehari-hari. Demikian pula, teori kepemimpinan memberikan istilah transformational leadership dalam setiap organisasi untuk mewarisi semangat yang dibentuk para pendiri perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori politik yang dikembangkan Hannah Arendt dalam The Origin of Totalitarianism (1976: 89) memperlihatkan integrasi sosial di dalam sebuah pemerintahan haruslah diikat dengan ”sebuah ketundukan terhadap identitas yang terus diperkuat oleh penguasa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikatan-ikatan inilah yang menjadikan sebuah negara-bangsa bisa didirikan. Eksplisitasi di dalam anggaran dasar yang disebut dengan undang-undang dan semboyan yang disebut dengan falsafah bangsa adalah orientasi kultural yang didesain sejak awal pembentukan negara. Oleh karena itu, pelestarian dan pengembangan falsafah ini sesungguhnya lebih penting dari kebutuhan apa pun di republik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinjauan pembangunan kultural dari masa ke masa memperlihatkan adanya upaya yang sangat luar biasa membangun kebudayaan sejak awal. Nagara Krtagama karya Mpu Prapanca pada abad ke-12 memperlihatkan konsepsi kebudayaan melalui dharma sebagai pengabdian kepada Syiwa Buddha. Raja Hayamwuruk sebagai pelindung negeri dan abdi yang menyejahterakan rakyat selalu menetapkan waktu-waktu tertentu untuk ”menyembah Syiwa Buddha”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, Kerajaan Islam pada 1478 dalam chandra bumi sirna ilang kertaning bumi (1400 Saka atau 1478) meninggalkan kebudayaan intangible bagi generasi-generasi sesudahnya. Istana kerajaan Raden Fatah tidak ditemui, tetapi Masjid Demak membawa ikon tentang kebudayaan Islam masa lampau yang terpelihara hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fotokopi budaya kolonial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain, pemerintahan Hindia Timur Belanda, yang berada di bawah Kementerian Tanah Jajahan, telah membawa kultur baru dalam pembentukan sistem kebudayaan. Sebagaimana garis kebijakan Kementerian Kolonial di The Haque (Den Haag), penerapan kebijakan di tanah jajahan haruslah dilandasi oleh hadirnya kekuasaan ”misterius” yang mampu memaksa para warga koloni untuk tunduk dan patuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem cultuurstelsel (tanam paksa), landrente (pajak tanah), sistem onderneming (perkebunan), dan poenali sanctie (hukum buruh) dalam kebijakan perburuhan yang diterapkan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 itu telah memengaruhi pola pikir masyarakat kolonial tentang idealitas-idealitas sebuah kebudayaan. Artinya, kebudayaan haruslah di bawah kendali sistem perekonomian yang memiliki orientasi jelas, yakni orientasi kapitalistik yang menghamba terhadap keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berada pada sebuah masa ketika gerakan angka-angka dalam statistik ekonomi dimaknai sebagai pertumbuhan. Dan kesejahteraan masyarakat Indonesia hanyalah masalah kuantifikasi Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan-persoalan identitas keindonesiaan, semangat kebersamaan, keadilan sosial, dan pelestarian filsafat bangsa pun tertinggal sebagai bagian dari kurikulum tua yang tidak pernah diperbarui di dalam sistem pendidikan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, pembangunan kebudayaan dalam strategi pemerintahan seperti barang apak yang disimpan di gudang tua tak tersentuh. Sampai lima tahun lagi. Setidaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saifur Rohman Pengamat Seni dan Budaya, Alumnus Doktor Filsafat Universitas Gadjah Mada, menetap di Semarang&lt;br /&gt;SUMBER: KOMPAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-791839648958966156?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/791839648958966156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/memerintah-tanpa-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/791839648958966156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/791839648958966156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/memerintah-tanpa-budaya.html' title='Memerintah Tanpa Budaya'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-4410826870233813213</id><published>2009-11-13T16:45:00.000-08:00</published><updated>2009-11-13T16:50:17.564-08:00</updated><title type='text'>Puisi Tragedi Semanggi</title><content type='html'>Puisi Peringati Tragedi Semanggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 13 November 2009 | 21:35 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com — Peringatan 11 tahun tragedi Semanggi I digelar di Kampus Unika Atmajaya, Jakarta, Jumat (13/11). Dalam kesempatan tersebut tampak hadir orangtua para korban, aktivis Kontras, dan sivitas akademika dari YAI, Universitas Indonesia, Universitas Atmajaya, UIN Syarif Hidayatullah, dan Universitas Bung Karno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sederhana hanya dengan lesehan, peringatan ini terasa khidmat. Apalagi, saat dibacakannya puisi yang dibuat oleh salah satu korban sebelum tewas tertembak dalam peristiwa berdarah itu. Puisi tersebut adalah karya Bernardus Realino Norma Wirawan (Wawan), mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku benci tirani. Aku benci rezim. Kini aku lelah. Terlalu lama aku main. Aku baru sadar akan bahaya tirani. Aku sadar aku telat. Aku siap mati demi bangsa dan rakyatku. Aku hanya berharap oangtuaku tabah. Aku berharap semoga perjuanganku tidak sia-sia. Aku berharap semoga aku masih ada tempat. Aku kini hanya bisa pasrah kapan pun aku mati. Aku sudah siap. Bagaimanapun caranya aku siap. Aku tidak pernah bermimpi dihormati. Aku hanya bermimpi hidup makmur, sejahtera walaupun di alam baka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawan adalah korban kedua pada peristiwa berdarah 13 November 1998. Ia tewas setelah peluru aparat menembus dadanya saat akan menolong kawannya yang terluka di pelataran parkir Kampus Atma Jaya. Peristiwa berdarah yang terjadi antara 11-13 November 1998 itu menewaskan tak kurang dari 17 warga sipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai pembacaan puisi, Arif Priyadi, ayahanda Wawan, menyatakan harapannya agar mahasiswa tetap mengawal reformasi serta memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Keluarga korban juga tetap menuntut pemerintah menuntut keadilan dengan mengusut tuntas dalang peristiwa tersebut. Sumber: Kompas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-4410826870233813213?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/4410826870233813213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/puisi-tragedi-semanggi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4410826870233813213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4410826870233813213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/puisi-tragedi-semanggi.html' title='Puisi Tragedi Semanggi'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-1928426120051682008</id><published>2009-11-12T18:37:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T18:38:36.860-08:00</updated><title type='text'>Mafia Indonesia</title><content type='html'>Membongkar Mafia Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 13 November 2009 | 02:38 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominggus Elcid Li &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Amien Rais bahwa masyarakat perlu mengawal pemberantasan mafia di Indonesia tidak berlebihan (Kompas.com, 6/11/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kata mafia masih dimengerti sekadar fantasi dalam film God Father, dan belum lagi merupakan kenyataan sehari-hari. Padahal, bagaimana kita bisa membedakan pembunuhan arahan Vito Corleone dan kematian Nasrudin Zulkarnaen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tontonan vulgar praktik antihukum akhir-akhir ini sekadar memindahkan peristiwa di belakang layar ke layar kaca. Aslinya para pekerja media hanya ”menyoroti” apa yang selama ini dialami warga negara menjadi ”pengetahuan publik/bersama”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah dan protes biasanya menjadi reaksi awal menanggapi ”pengakuan” para pihak yang terlibat. Namun, niat baik saja tidak cukup dalam melawan jaringan kriminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata mafia, aslinya menunjuk organisasi kriminal Italia semacam Cosa Nostra dan Ndarangheta. Namun, kata itu kini sudah umum dipakai untuk segala organisasi kejahatan terorganisasi dan dijalankan dengan ”aturan internal” ketat, misalnya Red Mafia (Rusia), Triad (China), dan Yakuza (Jepang). Literatur tentang mafia Indonesia sendiri hingga kini belum ditemukan, dan kata mafia masih dipakai umum sekadar ”pengandaian”. Padahal, efek jaringan mafia terhadap negara ini jelas tampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menawarkan proteksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Diego Gambeta (1993), negara dan mafia menawarkan hal yang sama, yaitu proteksi. Warga negara diasumsikan mendapat perlindungan dari aparat negara karena membayar pajak, sedangkan mafia menjual proteksi khusus kepada kliennya. Praktik mafia menjadi persoalan karena memperdagangkan hal-hal yang menurut aturan negara adalah ilegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan legal dan ilegal menjadi kabur batasnya dalam pasar mafia. Melindungi pelaku pelanggar hukum merupakan komoditas perdagangan dalam jaringan mafia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, dalam negara anarki, proteksi yang ditawarkan mafia lebih masuk akal di mata pengusaha dibandingkan dengan negara. Sebab, pajak kepada negara cenderung tidak berbekas karena aparatur negara juga memperdagangkan layanan yang seharusnya diterima sebagai konsekuensi membayar pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membongkar mafia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membongkar jaringan mafia jelas tidak mudah. Di Sicilia, Italia, Diego Gambeta dalam investigasinya terhadap jaringan mafia hanya mampu menganalisis praktik mafia berdasarkan wawancara terhadap pedagang pasar buah, rantai terbawah jaringan ini, karena nyawa taruhannya. Di Indonesia, kenyataan ini sedang jadi tontonan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mafia dalam politik di Italia bisa dibaca dalam skandal Silvio Berlusconi. Orang nomor satu Italia ini pun tidak bisa dianggap bersih. Perdana Menteri Berlusconi, yang menguasai tiga jaringan media Italia, baru bisa disentuh setelah jaringan media milik raja media Rupert Murdoch membukanya. Konflik di antara dua jaringan oligarki merupakan pemicu terbukanya skandal Berlusconi. Sejak Oktober 2009, impunitas Berlusconi dicabut sehingga skandal keuangannya bisa diusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, tanpa memahami gerak mafia dan kaitannya dengan negara, usaha membuka kasus kriminal ibarat melenyapkan satu sel kanker. Aparat negara yang telah dikuasai jaringan mafia malah melakukan kejahatan terhadap warga negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anarki dan ”ochlocracy”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis negara terjadi setelah kepala negara dan kabinet dilantik. Kita masih di dunia fantasi demokrasi dan mabuk pujian sebagai satu dari banyak negara dengan penduduk terpadat yang menjalankan demokrasi. Jean- Jacques Rousseau menyebut demokrasi yang diselewengkan sebagai ochlocracy (1973: 234), atau praktik ”kerumunan”. Ini bagian kondisi anarki yang ditandai dengan pupusnya negara. Di Indonesia, hal ini tampak dengan memudarnya legitimasi aparat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Rousseau hanya menyebut ”kerumunan”, jaringan mafia yang bergerak dalam situasi anarki bukan kerumunan. Jaringan kriminal yang terorganisasi dengan struktur rapi beroperasi dalam sel lintas institusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana negara bisa bertahan menghadapi mafia hingga kini belum terjawab. Ini sekaligus menjawab pertanyaan mengapa jaringan mafia Indonesia bisa dijawab para facebookers Indonesia. Sederhananya karena keduanya beroperasi dalam sistem jaringan simetris. Pertanyaannya, apakah jaringan antimafia yang terjalin di internet bisa dioperasikan dalam kenyataan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadirkan solidaritas antarwarga sebagai kenyataan bukan hal mudah. Pada tahun 1998, jaringan warga Indonesia gagal bekerja sama. Politik era reformasi Indonesia jika dibaca teliti tak berbeda dengan era dogfights dalam sejarah politik RRC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari situasi itu merupakan keharusan jika situasi anarki ingin dilampaui dan pembangunan negara dikerjakan. Agar tak lagi sama seperti tahun 1949 yang ditulis Chairil Anwar dalam ”Derai-derai Cemara” lewat puisinya, hidup hanya menunda kekalahan. Sudah 64 tahun kita ”bernegara” dan kedaulatan rakyat masih fantasi, sedangkan mafia menjadi kenyataan. Ini adalah tragedi untuk menyatakan kekalahan berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominggus Elcid LiCo-editor Jurnal Academia NTT; Anggota Persaudaraan Indonesia; Mahasiswa PhD Departemen Sosiologi Universitas Birmingham, Inggris. &lt;br /&gt;Sumber: Kompas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-1928426120051682008?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/1928426120051682008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/mafia-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/1928426120051682008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/1928426120051682008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/mafia-indonesia.html' title='Mafia Indonesia'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-1084026170655285646</id><published>2009-11-12T18:28:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T18:29:34.714-08:00</updated><title type='text'>SELAMAT UNTUK RAHARDI DAN SINDU</title><content type='html'>Khatulistiwa untuk Rahardi dan Sindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 13 November 2009 | 02:54 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas - Sastrawan F Rahardi memperoleh penghargaan Anugerah Sastra Khatulistiwa tahun 2009 untuk kategori prosa terbaik lewat novelnya Lembata. Untuk kategori puisi, penghargaan ini diberikan kepada Sindu Putra atas karyanya Dongeng Anjing Api. Setiap penerima penghargaan memperoleh hadiah Rp 100 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan juga didapat Ria N Badaria dengan karya Fortunata untuk kategori penulis muda berbakat di bawah usia 30 tahun dengan hadiah Rp 25 juta. Kemudian Hadiah Khusus Metropoli D’Asia Khatulistiwa jatuh kepada Sihar Ramses Simatupang dengan karya Bulan Lebam di Tepian Toba. Selain karyanya diterjemahkan dan diterbitkan di Italia, Sihar juga menerima hadiah 3.000 euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam Anugerah Sastra Khatulistiwa diumumkan di atrium Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (10/11) malam. Penjurian dilakukan oleh tim dengan ketua juri Robertus Robet. Para pemenang ketiga kategori itu terpilih di antara lima finalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kategori prosa, misalnya, ada lima finalis, yaitu Tanah Tabu (Anindita S Thayf), Lacrimosa (Dinar Rahayu), Lembata (F Rahardi), Sutasoma (Cok Sawitri), dan Meredam Dendam” (Gerson Poyk). Finalis kategori puisi terdiri dari Perahu Berlayar sampai Bintang (Cecep Syamsul Hari), Puan Kecubung (Jimmy Maruli Alfian), Partitur, Sketsa, Potret, dan Prosa (Wendoko), Kolam (Sapardi Djoko Damono), dan Dongeng Anjing Api (Sindu Putra).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam katalog penghargaan, Robertus mencatat, penjurian dilakukan tim yang beranggotakan banyak orang dengan latar belakang beragam: pengarang, psikolog, sejarawan, sosiolog, pengajar filsafat, dan pekerja media. Tim ini tak berniat menasbihkan pengarang-pengarang hebat dalam sastra Indonesia, tetapi mengungkapkan pandangan kebenaran subyektif karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggagas dan penyelenggara Anugerah Sastra Khatulistiwa, Richard Oh, mengatakan, anugerah tahunan itu diberikan untuk menghargai pencapaian penulis sastra di Indonesia sekaligus mendorong para penggiat sastra mengembangkan kerja kreatifnya. Dana hadiah diperoleh dari sejumlah sponsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anugerah Sastra Khatulistiwa ajek memberikan penghargaan sastra setiap tahun sejak 2001. Penghargaan tahun ini merupakan yang kesembilan. Selain pemenang utama, biasanya para finalis di kategori prosa dan puisi juga memperoleh hadiah.(IAM)Sumser: Kompas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-1084026170655285646?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/1084026170655285646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/selamat-untuk-rahardi-dan-sindu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/1084026170655285646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/1084026170655285646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/selamat-untuk-rahardi-dan-sindu.html' title='SELAMAT UNTUK RAHARDI DAN SINDU'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-6367879192688301626</id><published>2009-11-10T18:43:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T18:44:54.176-08:00</updated><title type='text'>Cicak dan Buaya dalam Puisi Indonesia Modern</title><content type='html'>oleh Asep Sambodja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika puisi Tulus Wijanarko yang berjudul “Sajak Perlawanan Kaum Cicak” muncul di facebook saya, spontan saya mengatakan, inilah puisi Indonesia terbaik bulan ini. Ketika itu bulan menunjukkan Oktober 2009. Bahkan bisa jadi inilah puisi terbaik sepanjang 2009. Saya seperti menemukan kembali puisi yang bermanfaat bagi orang banyak, bagi masyarakat. Selama ini, terus-terang saja, dunia puisi Indonesia modern didominasi oleh apa yang dikatakan Rendra sebagai penyair-penyair salon. Mereka menulis puisi tanpa melihat jeritan batin rakyat kecil. Hal itu seperti menjadi lumrah dalam media massa kita. Sah-sah saja penyair-penyair salon itu bicara tentang persoalan pribadinya, kemelut hati, eksplorasi dan bahkan eksploitasi seks, silakan saja. Karena menulis topik apa pun pasti memiliki dasar yang sangat kuat, yakni kebebasan ekspresi.&lt;br /&gt;Hanya saja, penyair yang peduli dengan kehidupan rakyat kecil itu masih sedikit jumlahnya. Kalaupun ada, maka posisinya selalu dipinggirkan, termarginalkan. Kita ingat ketika Rendra muncul dengan puisi-puisi pamflet, maka yang melecehkan bukan saja penyair-penyair salon, melainkan penguasa yang tak tahan kritik. Rendra pun dipenjara. Kita ingat ketika Wiji Thukul muncul dengan puisi-puisi perlawanannya, tak ada koran yang berani memuat puisinya. Ia malah diculik dan dibunuh oleh Rezim Orde Baru.&lt;br /&gt;Kini, ketika puisi Tulus Wijanarko terbit di media online, dalam hal ini facebook, seakan-akan ada sinar yang menerangi jagad perpuisian Indonesia. Setelah Saut Situmorang dan Heri Latief, kini saya menemukan sosok penyair antipenindasan yang melekat pada diri Tulus Wijanarko. Puisi Tulus ini lahir tidak seperti bintang yang jatuh dari langit, melainkan ada konteksnya. Dan, rakyat Indonesia tahu dan paham apa yang tengah terjadi di dunia penegakan hukum kita.&lt;br /&gt;Makanya, agak aneh rasanya jika kenyataan yang kita lihat adalah persekongkolan busuk yang sangat mengusik rasa keadilan masyarakat, penyair malah bicara tentang payudara atau tentang bunga. Menurut saya, boleh saja mereka menulis puisi tentang itu, tapi jangan selamanya menutup mata, jangan membohongi hati nurani sendiri dengan sembunyi di balik selimut “seni untuk seni”.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, saya sepakat dengan Adnan Buyung Nasution, bahwa persoalan hukum jangan hanya dilihat pada segi normatif legalistiknya saja, jangan hanya dilihat pasal-pasalnya saja, tapi lihat dan perhatikan juga rasa keadilan masyarakat. Demikian pula dengan menulis puisi, jangan hanya dilihat bentuk formalnya saja, tapi selami dan hayati persoalan-persoalan yang tengah dirasakan rakyat. Dalam koridor seperti itulah saya sangat beruntung menemukan kembali puisi perlawanan dari seorang penyair yang juga wartawan Koran Tempo, Tulus Wijanarko.&lt;br /&gt;Jujur saya katakan, sebelum menulis puisi perlawanan ini, Tulus banyak menulis puisi-puisi yang mengangkat masalah keseharian, yang mengingatkan kita pada Pak Besut dan Umar Kayam; yang kini diteruskan Bakdi Soemanto. Bahkan saya sempat memberi julukan “Penyair Angkringan” kepada Tulus Wijanarko karena puisinya tentang angkringan membangkitkan nostalgia pada Yogyakarta.&lt;br /&gt;Sebagaimana Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfoed M.D. yang mengukir sejarah pada Selasa, 3 November 2009, karena membongkar mafioso peradilan di Indonesia; yang memperdengarkan rekaman seorang cukong bernama Anggodo Widjojo yang dengan begitu entengnya mengatur penanganan hukum terhadap adiknya, Anggoro Widjojo, yang menjadi buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Yang mengejutkan jutaan rakyat Indonesia adalah: yang diatur oleh Anggodo ini adalah pejabat-pejabat tinggi yang ada di Kejaksaan Agung dan Polri. Tidak hanya itu, advokat atau pengacara atau lawyer yang seharusnya “membela yang benar” dan bukannya “membela yang bayar” itu juga diperlakukan seperti kuli. Seperti tukang. Tukang yang dibayar secara borongan. Karena, kata Anggodo dalam rekaman percakapan itu, uang sebesar Rp5 miliar yang dikucurkan itu bukan hanya sebagai lawyer fee, tapi juga untuk pejabat-pejabat di dua lembaga penegak hukum itu.&lt;br /&gt;Tentu saja ini menyakiti hati rakyat banyak. Kepercayaan masyarakat kepada Kejaksaan Agung dan Polri pun melorot tajam.&lt;br /&gt;Dalam konteks seperti itulah muncul puisi berjudul “Sajak Perlawanan Kaum Cicak” karya Tulus Wijanarko. Puisi ini pun langsung saya muat dalam blog Puisi Indonesia Modern (http://puisiindonesiamodern.blogspot.com) sebagai penghargaan yang saya berikan kepada sang penyair. Berikut ini adalah puisi Tulus yang saya maksud:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak Perlawanan Kaum Cicak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karya Tulus Wijanarko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tahu tanganmu mencengkeram gari&lt;br /&gt;karena kalian adalah bandit sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tahu saku kalian tak pernah kering&lt;br /&gt;karena kalian sekumpulan para maling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mafhum kalian memilih menjadi bebal&lt;br /&gt;sebab melulu sadar pangkat kalian hanyalah sekadar begundal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tahu kalian berusaha terlihat kuat menendang-nendang&lt;br /&gt;demikianlah takdir para pecundang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengerti otak kalian seperti robot&lt;br /&gt;meski demikian kalian sungguh-sungguh gemar berkomplot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sangat terang kenapa kalian begitu menyedihkan&lt;br /&gt;karena kalian memang hanyalah gerombolan budak&lt;br /&gt;yang meringkuk jeri di mantel sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tahu kenapa kalian gemetar ketakutan&lt;br /&gt;dan tanganmu menggapai-gapai sangsi ke udara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena kalian tahu&lt;br /&gt;Kami tidak takut kepadamu&lt;br /&gt;Kami tidak takut kepadamu&lt;br /&gt;dan akan melawan tak henti-henti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami tahu&lt;br /&gt;kalian gemetar,&lt;br /&gt;Kami sangat tahu&lt;br /&gt;kalian sungguh gemetar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28/09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, puisi Tulus di atas memperlihatkan keberanian yang luar biasa yang dimiliki penyair. Puisi perlawanan ini bisa berfungsi ganda. Pertama, puisi tersebut merekam perasaan penyair yang merepresentasikan manusia Indonesia pada umumnya, sekaligus menjadi bagian penting dalam sejarah pemberantasan mafioso peradilan di Indonesia dan mampu merekam semangat zaman. Kedua, puisi ini menjadi bara yang membangkitkan keberanian pada rakyat untuk melawan ketidakadilan. Meskipun para pejabat-pejabat yang keseleo lidah mengatakan dirinya sebagai buaya itu berkelit, bersilat lidah, dan akting di depan kamera televisi, namun sejatinya rakyat sudah tahu bahkan melihat dan mendengar dengan mata dan telinganya sendiri; betapa bobroknya aparat penegak hukum di Indonesia. Betapa menyedihkan!&lt;br /&gt;Ketika saya berkunjung ke facebook Saut Situmorang, saya membaca sebuah puisi perlawanan yang lain. Puisi “Negeri Para Bedebah” itu ditulis oleh Adhie Massardi, mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Puisi itu dikirim oleh Wanda Hamidah ke facebook Saut Situmorang. Tak lama setelah itu, saya juga menyaksikan pembacaan puisi itu oleh Adhie Massardi di Metro TV. Selengkapnya saya kutip puisi itu di sini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri Para Bedebah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karya Adhie Massardi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu negeri yang dihuni para bedebah&lt;br /&gt;Lautnya pernah dibelah tongkat Musa&lt;br /&gt;Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah&lt;br /&gt;Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?&lt;br /&gt;Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah&lt;br /&gt;Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah&lt;br /&gt;Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri para bedebah&lt;br /&gt;Orang baik dan bersih dianggap salah&lt;br /&gt;Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan&lt;br /&gt;Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah&lt;br /&gt;Karena hanya penguasa yang boleh marah&lt;br /&gt;Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bila negerimu dikuasai para bedebah&lt;br /&gt;Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah&lt;br /&gt;Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum&lt;br /&gt;Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bila negerimu dikuasai para bedebah&lt;br /&gt;Usirlah mereka dengan revolusi&lt;br /&gt;Bila tak mampu dengan revolusi,&lt;br /&gt;Dengan demonstrasi&lt;br /&gt;Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi&lt;br /&gt;Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Adhie Massardi tersebut sangat simbolik dan menggunakan idiom-idiom keislaman. Dari puisi tersebut, pesan yang ingin disampaikan penyair sangat jelas; baik dilihat dari judul puisi maupun kata-kata yang digunakan sang penyair. Keberpihakan penyair pada wong cilik, kaum tertindas, juga tampak jelas dalam puisi tersebut. Hanya saja, jika dibandingkan dengan puisi Tulus Wijanarko, maka terbaca bahwa puisi Tulus sangat menikam.&lt;br /&gt;Meskipun demikian, saya pun membuka ruang yang sebebas-bebasnya buat pembaca untuk menafsir dan menginterpretasikan puisi Tulus Wijanarko dan Adhie Massardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citayam, 6 November 2009&lt;br /&gt;sumber dari FaceBook Asep Sambodja&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-6367879192688301626?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/6367879192688301626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/cicak-dan-buaya-dalam-puisi-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/6367879192688301626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/6367879192688301626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/cicak-dan-buaya-dalam-puisi-indonesia.html' title='Cicak dan Buaya dalam Puisi Indonesia Modern'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-8075825341976865198</id><published>2009-11-10T18:38:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T18:42:17.132-08:00</updated><title type='text'>Perlawanan Kaum Cicak</title><content type='html'>Sajak Perlawanan Kaum Cicak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karya Tulus Wijanarko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tahu tanganmu mencengkeram gari&lt;br /&gt;karena kalian adalah bandit sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tahu saku kalian tak pernah kering&lt;br /&gt;karena kalian sekumpulan para maling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mafhum kalian memilih menjadi bebal&lt;br /&gt;sebab melulu sadar pangkat kalian hanyalah sekadar begundal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tahu kalian berusaha terlihat kuat menendang-nendang&lt;br /&gt;demikianlah takdir para pecundang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengerti otak kalian seperti robot&lt;br /&gt;meski demikian kalian sungguh-sungguh gemar berkomplot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sangat terang kenapa kalian begitu menyedihkan&lt;br /&gt;karena kalian memang hanyalah gerombolan budak&lt;br /&gt;yang meringkuk jeri di mantel sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tahu kenapa kalian gemetar ketakutan&lt;br /&gt;dan tanganmu menggapai-gapai sangsi ke udara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena kalian tahu&lt;br /&gt;Kami tidak takut kepadamu&lt;br /&gt;Kami tidak takut kepadamu&lt;br /&gt;dan akan melawan tak henti-henti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami tahu&lt;br /&gt;kalian gemetar,&lt;br /&gt;Kami sangat tahu&lt;br /&gt;kalian sungguh gemetar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28/09 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri Para Bedebah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karya Adhie Massardi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu negeri yang dihuni para bedebah&lt;br /&gt;Lautnya pernah dibelah tongkat Musa&lt;br /&gt;Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah&lt;br /&gt;Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?&lt;br /&gt;Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah&lt;br /&gt;Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah&lt;br /&gt;Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri para bedebah&lt;br /&gt;Orang baik dan bersih dianggap salah&lt;br /&gt;Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan&lt;br /&gt;Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah&lt;br /&gt;Karena hanya penguasa yang boleh marah&lt;br /&gt;Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bila negerimu dikuasai para bedebah&lt;br /&gt;Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah&lt;br /&gt;Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum&lt;br /&gt;Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bila negerimu dikuasai para bedebah&lt;br /&gt;Usirlah mereka dengan revolusi&lt;br /&gt;Bila tak mampu dengan revolusi,&lt;br /&gt;Dengan demonstrasi&lt;br /&gt;Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi&lt;br /&gt;Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi-puisi ini diambil dari tulisan Asep Sambodja "Cicak dan Buaya dalam Puisi Indonesia Modern" yang di tg di FB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-8075825341976865198?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/8075825341976865198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/perlawanan-kaum-cicak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/8075825341976865198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/8075825341976865198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/perlawanan-kaum-cicak.html' title='Perlawanan Kaum Cicak'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-1432937070777727096</id><published>2009-11-08T10:39:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T10:40:22.730-08:00</updated><title type='text'>BUKU KUMPULAN PUISI “NASIB ORANG LINTANG”</title><content type='html'>PENERBITAN BUKU KUMPULAN PUISI “NASIB ORANG LINTANG”&lt;br /&gt;SMA NEGERI 1 LINTANG KANAN KABUPATEN LAHAT&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SMA Negeri 1 Lintang Kanan menerbitkan buku kumpulan Puisi “Nasib Orang Lintang”.  Buku setebal empat puluh delapan halaman, yang berisi satu buah artikel sastra Jajang Rusmayadi, S.Sn., sambutan Kepala Sekolah, dan enam puluh puisi dari karya tiga belas siswa yang tergabung dalam Sanggar Sastra, merupakan hasil dari beberapa pertemuan pada semester pertama. Buku Nasib Orang Lintang ini dicetak terbatas karena alasan dana.&lt;br /&gt;Judul buku itu merupakan judul salah satu puisi yang terdapat dalam kumpulan puisi tersebut hasil karya Bambang Irawan kelas IPS 2, puisinya pendek hanya tiga baris seperti haiku, Nasib Orang Lintang: Dunia berputar/ Cahaya-cahaya bergantian/ Nasib orang lintang jadi panjang. Puisi ini menggambarkan antara harapan dan semangat hidup, atau optimisme hidupnya. Tentunya hasil perenungan dan pengamatan yang cukup mendalam dari penulisnya.&lt;br /&gt;Banyak potensi sastra yang belum tergali di daerah Lintang, apalagi sumberdaya manusianya masih cukup segar dalam menyikapi keadaan lingkungan sosial dan lingkungan alam sekitarnya. Lagi pula daerah Lintang memiliki kekayaan budaya yang cukup unik dan khas, seperti bahasa daerah, perilaku, dan  adatnya. Saya kira belum banyak penyair yang menuliskan segala potensi yang terkandung di daerah Lintang ke dalam karya sastra. Saya mengenal dua sastrawan dari daerah Lintang yaitu Syamsi Indra Usman yang pernah mendapatkan penghargaan “Anugrah Seni” karena aktifitasnya dalam menuis puisi dari Gubernur Sumatera Selatan pada tahun 2004, dan satu lagi adalah Febri Al-Lintani, yang cukup populer di Sumatera Selatan, ia sebagai Ketua Komunitasw Batang Hari 9 (KOBAR 9) serta pengurus Dewan Kesenian Palembang.&lt;br /&gt;Seluruh karya puisi yang terdapat dalam buku Nasib Orang Lintang ini merupakan karya puisi terbaik dan terpilih dari yang baik. Penulisnya delapan laki-laki antara lain: Agus Tamin, Arif Rojuli, Bambang Irawan, Darwan Esmedi, Een  Rikardo, Marlin Nopriko, Munawir Sazali, Prata LA., dan yang perempuan lima orang antara lain: Nia Rapikaduri,  Puspita Sari, Radesi Yudede, Tina Dwita, dan Yulistri. Akhir-akhir ini anggota sanggar bertambah. Saya berharap mereka mampu meneruskan jejak pendahulunya, tidak hanya mandek sampai selesai SMA saja. Akan tetapi dapat bergabung dengan komunitas sastra yang lebih besar lagi. Saya menilai mereka cukup potensial.&lt;br /&gt;Kebiasaannya pada usia remaja seringkali menuliskan masalah-masalah cinta terhadap lawan jenisnya, melankholis dan kurang serius, akan tetapi kenyataannya di Sanggar Sastra SMA Negeri 1 Lintang Kanan, mereka cenderung menuliskan tentang kecintaannya terhadap daerahnya, baik dari budayanya, lingkungan alamnya dan kritik sosial yang mencermati kinerja pemerintahan serta masyarakat itu sendiri.  Seperti contoh puisi karya Prata LA kelas 2 IPS 1 yang mencermati salah satu kehidupan masyarakat Lintang, Motto Kito: Jemonyo hulu balang/ tiap hari di gelanggang/ keluargo tersingkirkan/ bando terlelang/ semboyan tercelah motto kito/ nedo mati muno jadila.  Satu lagi puisi yang menurut saya mengkritik budaya daerahnya sendiri, karya Arif Rojuli kelas 2 IPA, Segayung Dunio Lintang: Ayo lari kawan/ dunio Lintang jadi Texas/ mennjadi Jakarta nomor 2/ menjadi penghuni manusia hebat/ kebejatan kesesatan/ dalam segayung dunio Lintang.&lt;br /&gt;Puisi sebagai aksi protes, atau ketidakpuasan atas perlakuan penegak hukum dan pelecehan tehadap kaum perempuan. Berikut puisinya, karya Nia Rapikaduri, kelas 2 IPS2, Jangan: Jangan bicara moral kepadaku/ Aku tak pernah tahu/ Aku Cuma tahu tikus-tikus/ Mengendap ke kantong ibu/ Jangan tanyakan agama padaku/ Karna aku tak beragama/ Yang kutahu wanita-wanita bugil/ Berbaris menghadap Ka’bah/ Jangan tanya keamanan aparat/ Sebenarnya aparatlah yang menindas rakyat!&lt;br /&gt;            Puisi Bambang Irawan yang satu ini, mencoba menggambarkan bagaimana sikap, sifat dan prilaku orang-orang Lintang,  judulnya Lintang Empat Lawang:Terlentang pisau panjang/ Perangko batang-batang/ Jadi orang jadi datang/ Datang pertentangan/Diri marah/ Duri tajam/ Lintang Empat Lawang/ Pantang mundur jadi orang/ Belum bertemu belum senang/ Garis melintang jalan panjang/ Tujuan tak karuan/ Celaka orang bisa karuan/ Celaka diri tidak karuan.&lt;br /&gt;            Bagaimana dengan sisi kehidupan orang Lintang yang lain dan keindahan alamnya, dilukiskan dengan cukup baik dalam puisi berikut:, karya Marlin Nopriko, kelas IPA, “Lubuk Kasai”: lubuk bening tenang penuh berkat/ kasai sahabat akrab abadi/ gelombang ombak bawa budaya mencuci budi/ hanyutkan sampah pekat/ berbau budaya angkuh syetan terkejut/ lubuk kasai/ melawan curam batu napal/ menantang batu keras terjal/ hancur oleh ombak-ombak kecil/ mengikis sukma/ menyerap dalam raga hati/ mewarnai baju baja diri.  Selanjutnya Munawir Sazali, kelas IPA, mengupas tentang “Sungai Lintang”: Suasana pagi datang menjelang/ Sungai Lintang  menantang/ Bersetubu denganku/ Dia menerjang aku tantang/ Kadang marah tak terkalahkan/ Kau raja bunyi tak berhenti/ Selalu berteriak dalam sepi/ menantang setiap orang dengan suaramu/ dan batu bisa kau taklukkan/ dengan bujuk rayumu.&lt;br /&gt;            Masyarakat Lintang mayoritas adalah petani kopi dan petani padi, salah satu puisi karya Tina Dwita, kelas 2 IPA mencoba membuka wawasan kita kepada apa yang dinanti oleh para petani tersebut. “Be Umo”: Berilah aku keberuntungan/ Tana siang dan biji kopi pilian/ Kiding besak, samo puntong/ Berilah aku keberuntungan/ Uang pembeli pupuk dan racun/ Hujan menyapu tanah air/ Bila waktunya kopi ku putir/ Bongkotnya kukaja/ Nikmatmu kugali// Terima kasih Tuhan/ Atas rahmatmu.&lt;br /&gt;            Masih banyak karya mereka yang sangat menarik untuk dinikmati dan diapresiasi. Mereka masih cukup muda yang paling tua lahir pada tahun 1987 dan yang termuda tahun 1990. umur mereka antara 15 sampai dengan 18 tahun. Mereka masih terus aktif menulis puisi, dan selalu konsultasi dengan saya, atau mereka meminta sekedar untuk membacakan karya-karya mereka. Saya merasa kehadiran saya ada manfaatnya bagi mereka.&lt;br /&gt;Sanggar Sastra SMA Negeri 1 Lintang Kanan berdiri pada awal tahun ajaran 2005/2006, sebagai salah satu kegiatan Ekstrakurikuler, pembinanya saya sendiri yang merupakan guru pendidikan  seni. Di samping Sanggar Sastra, ada seni Lukis, dan teater yang saya bina, ada juga Seni daerah ngarak pengantin yang dibina oleh kepala sekolah.&lt;br /&gt;Apa yang saya berikan pada mereka?: saya tidak mengajari apa yang harus di tulis, tetapi saya membagi pengalaman bagaimana membina sebuah kesadaran dan bagaimana berkonsentrasi dalam satu hal atau satu masalah. Apa yang sedang mereka rasakan saat ini, apa yang mereka pikirkan dan bagaimana mereka harus mengeluarkan pendapat serta bagaimana mencermati lingkungan sosialnya dan lingkungan alam sekitarnya. Dengan demikian anak belajar percaya diri, lebih kritis dan memiliki keperdulian terhadap lingkungannya.&lt;br /&gt;Selain itu dianjurkan lebih banyak membaca, karena Membaca merupakan salahsatu proses dalam pembuatan pondasi dan kerangka berpikir dalam menulis sebuah karya, baik fiksi maupun non fiksi (Ilmiah). Membaca sebagai modal dasar dalam penulisan dan dalam mengembangkan ide atau gagasan yang lebih baik dari yang sebelumnya. Dengan membaca akan memberikan dorongan spriritual, emosional dan intelektual yang secara menyeluruh akan tercermin dalam setiap karya tulisnya, terlebih akan tercermin dalam setiap prilaku kehidupan sehari-hari. Sehingga dengan kegiatan membaca yang lebih  intensif akan menghasilkan para penulis muda berbakat yang memiliki wawasan susastra universal, dengan dimbangi dengan daya intelektual global.&lt;br /&gt;Dengan demikian perlu kiranya pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan memberikan ruang, fasilitas dan penghargaan. Bagi para siswa dan para pembinanya sebuah penghargaan sebagai partisipasi aktifnya dalam menghidupkan program kegiatan kependidikan (ekstrakurikuler). Dinas Pendidikan adalah lembaga yang memiliki kewengan dalam memajukan pendidikan khususnya Sastra dan Seni atau sebaliknya. Lembaga pendidikan (sekolah) sesungguhnya mengemban tanggung jawab sebagai sarana bagi menumbuhkembangkan minat dan bakat para peserta didiknya. Dari lembaga pendidikan formal inilah yang seharusnya menelorkan para kreator handal. O ya?&lt;br /&gt;Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Lintang Kanan, Imron, S.Pd. dalam sambutannya cukup bangga, oleh karena puisi yang terkumpul dalam  buku ini merupakan hasil karya dari anggota Sanggar Seni  yang baru dibentuk pada semester ganjil tahun ajaran 2005/2006. Sementara SMA Negeri 1 Lintang Kanan sendiri baru berdiri tahun ajaran 2004/2005. ini tentunya suatu prestasi yang sangat baik.&lt;br /&gt;Menurutnya, buku kumpulan puisi “Nasib Orang Lintang” sedikit tergambar karakter orang Lintang dan Suasana alamnya. Bagi siapapun yang tidak pernah berkunjung ke daerah lintang dan menemui gaya orang lintang mungkin buku ini sangat bermanfaat guna mengenal lebih dekat dengan kehidupan dan alamnya.&lt;br /&gt;Buku ini juga sebuah bukti yang akan menjadi catatan sejarah bagi perjalanan SMA Negeri 1 Lintang Kanan dalam proses belajar mengajar kami yang tentunya berwawasan ke depan. Kami membutuhkan bantuan dari bebagai pihak untuk segera mewujudkannya. Diharapkan siswa siswi SMA Negeri 1 Lintang Kanan lebih aktif dan kreatif dalam mengikuti seluruh kegiatan ekstrakurikuler, namun jangan sampai meninggalkan kegiatan intranya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-1432937070777727096?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/1432937070777727096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/buku-kumpulan-puisi-nasib-orang-lintang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/1432937070777727096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/1432937070777727096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/buku-kumpulan-puisi-nasib-orang-lintang.html' title='BUKU KUMPULAN PUISI “NASIB ORANG LINTANG”'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-5581455342066944881</id><published>2009-11-08T09:57:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T09:59:26.136-08:00</updated><title type='text'>ITU BUKAN AKU  Cerpen Erwan Aprianto</title><content type='html'>ITU BUKAN AKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Erwan Aprianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 tahun lalu, aku masih terbaring di sini ya … di sini. Di kamar yang menjadi saksi penderitaan seseorang tanpa sebuah nama. Tubuhku masih menyimpan bekas–bekas luka. Aku bukan pejuang tapi lebih pantas disebut pecundang. Tanpa kusadari aku telah menjadi pengkhianat. Pengkhianat keluarga, masyarakat dan yang paling membuatku terpukul adalah menjadi seorang pengkhianat bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei tahun 1965. Saat itu aku menjadi tentara yang mempunyai beberapa puluh anak buah. Pada bulan Juni aku ditugaskan ke Semarang oleh atasanku, Kolonel Birin. Untuk menumpas bersih antek–antek partai terlarang yang sedang meluas di sana. Aku mengajak istri dan anak-anakku. Tidak lama dari itu, tibalah kami di Semarang. Kami tinggal di sebuah asrama tentara tidak jauh dari pusat kota. Di sana, aku dan keluargaku disambut hangat oleh warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, sebagai seorang muslim untuk pertama kali aku pergi ke sebuah masjid di dekat rumahku. Aku pergi bersama salah seorang tetangga yang baru saja aku kenal. Ia biasa dipanggil Pak Ustadz, karena dia adalah seorang guru pengajian. Tak berapa lama sampailah kami di sebuah masjid yang terbuat dari papan dan beralaskan anyaman tikar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahu Akbar … Allahu Akbar,” terdengar suara adzan yang di kumandangkan oleh salah seorang pemuda di mesjid tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Ustadz, aku permisi mengambil air wudhu dulu,” ucapku setelah kami masuk ke dalam mesjid. Ustadz itu hanya menjawab dengan anggukan kepada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menuju ke tempat mengambil air wudhu yang berada tepat di belakang mesjid. Aku segera mengambil air wudhu. Kuusapkan air tersebut ke wajahku. Satu persatu orang–orang masuk ke dalam mesjid. Hanya tinggal aku sendiri di tempat wudhu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba–tiba. Dor!!! Suara letusan senapan terdengar keras di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astahgfirullah,” ucapku terkejut seraya menyaksikan keadaan yang terjadi di dalam mesjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segerombolan orang–orang bertopeng menembak secara membabi buta. Tak ada lagi yang tersisa. Semuanya tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahu Akbar…,” salah seorang pemuda yang masih hidup berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar lagi letusan peluru. Kali ini peluru itu menembus dada pemuda tadi. Pemuda itu berteriak. Darah memuncrat di sekujur tubuhnya. Pemuda itu terkapar. Dia tewas!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar gelak tawa kemenangan dari salah seorang gerombolan orang–orang bertopeng itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah akibatnya jika tidak menuruti kami,” salah seorang dari gerombolan tesebut berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulu kudukku berdiri. Aku sembunyi di balik sebuah peti mati yang ada di belakang masjid tersebut. Aku seperti seorang pengecut yang sedang bersembunyi. Tapi, apa  yang bisa aku lakukan. Aku hanya seorang diri tanpa senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan–lahan kulangkahkan kaki. Aku berlari sekuat mungkin. Tanpa kusadari, salah seorang dari gerombolan tersebut melihatku dan langsung saja mengejar. Tapi aku cukup pintar. Aku bersembunyi di belakang rumah yang gelap. Orang bertopeng tersebut tak dapat menemukanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sialan,” umpatnya. Kemudian ia kembali bergabung bersama gerombolannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pulang dengan pikiran yang masih mengambang. Kejadian itu tak akan pernah aku lupakan. Aku tak bisa berbuat apa–apa pada malam itu. Aku t’lah menjadi seorang pengecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah awal bencana untukku dan keluargaku. Tepat pukul 24.00 malam, sebuah peluru menghantam kaca jendela rumahku. Aku dan istriku langsung terbangun. Saat letusan peluru itu terjadi yang kupikirkan hanyalah anak dan istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlari ke kamar anak–anakku. Tapi sayang … aku terlambat. Kedua anakku telah raib. Mereka telah di culik. Entah siapa yang telah menculik mereka. Aku tidak tahu …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, Bagaimana anak – anak kita, Ghali dan Salman ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka diculik…? Ini pasti karena profesi Bapak sebagai seorang tentara,” istriku menyalahkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku menangis sambil menyandarkan kepalanya ke pundakku. Aku tahu bagaimana perasaan istriku saat itu. Perasaan seorang ibu yang kehilangan kedua anaknya. Akulah orang yang seharusnya di salahkan. Karena ada sebuah kesalahan yang sangat besar yang telah kulakukan. Aku telah menjadi seorang tentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam setelah kejadian itu, istriku tak dapat lagi berbicara. Ia hanya mengurung diri di dalam kamar sambil memandangi foto kedua anak kami yang telah hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, anak kita pasti kita temukan. Siang ini aku akan melapor pada atasanku untuk meminta izin membawa beberapa anak buahku untuk mencari Ghali dan Salman. Tenanglah … aku pasti menemukan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada jawaban yang keluar dari mulut istriku. Hanya kebisuan menyelimuti raut wajahnya. Hanya tangisan yang selalu menemani kehampaan jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu aku pergi menghadap atasanku, Kolonel Birin untuk meminta izin mencari anak–anakku. Hanya itulah harapan satu–satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tok …tok … tok,”  perlahan ku ketok pintu ruangan Kolonel Birin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuk !” terdengar suara lantang Kolonel Birin kubuka perlahan pintu tersebut.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siap komandan,” aku langsung memberi hormat kepada atasanku. Tak sepantasnya aku memberi hormat pada seseorang yang lebih muda dariku. Tapi itulah dunia militer. Walaupun aku jauh lebih tua tapi aku hanyalah seorang Letnan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Letnan Husien,” tanya Kolonel Birin dengan gaya yang sangat berwibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin meminta izin membawa beberapa anggota untuk mencari anak saya, Pak” jawabku dengan rasa takut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa dengan anakmu sampai–sampai kau ingin membawa beberapa anggota kita untuk mencari mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolonel Birin mendekatiku dengan wajah penuh dengan pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semalam anakku di culik oleh orang–orang komunis, Pak,” jawabku dengan lantang. Kolonel Birin terdiam sejenak dan duduk kembali ke tempat duduknya semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah yang menculik anakmu memang benar orang–orang komunis. Darimana kau tahu bahwa yang menculik anakmu adalah orang–orang komunis ?” tanya Kolonel Birin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam tak dapat berbicara sepatah katapun. Pertanyaan Kolonel Birin membuatku sangat tersudut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu pasti, Pak. Tapi aku yakin yang menculik anak–anakku adalah orang–orang komunis karena mereka memiliki senjata api,” jawabku.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya itu …”  tanya Kolonel Birin.             &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Pak,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu tak bisa kau jadikan bukti bahwa yang menculik anak–anakmu adalah orang–orang komunis. Setiap orang bisa memiliki senjata api, tapi belum tentu yang memiliki senjata api itu adalah orang–orang komunis. Aku tak bisa memberikan izin untuk membawa anggota kita untuk mencari anakmu. Masalahmu adalah masalah pribadi. Tidak menyangkut kepentingan anggota, Paham !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Kolonel Birin bagai peluru yang menghujami jantungku. Aku tertunduk lesu. Karena hanya itulah satu–satunya harapanku. Tapi apa kenyataannya. Aku mendapat jawaban yang sangat menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin hari keadaan istriku semakin menjadi. Ia lebih sering berbicara sendiri di kamar dan sudah beberapa hari ia belum makan. Keadaannya sangat lemah. Aku tak bisa berbuat apa–apa. Hanya bisa berdoa agar anak–anakku pulang dengan selamat dan istriku kembali seperti semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap pelosok kota sudah hampir semuanya ku singgahi. Tapi anakku tidak kutemukan juga. Aku mencari mereka seorang diri hanya di temani sepucuk pistol tanpa peluru. Aku hampir putus asa. Yang ada di benakku hanyalah kebencian. Kebencian pada Kolonel Birin dan anggota–anggota militer lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin pulang karena sudah seharian mencari anak-anakku. Setibanya di rumah, aku langsung terduduk karena lelah yang sangat. Beberapa saat kemudian aku menuju ke kamar. Kulihat istriku sedang tertidur pulas. Tapi ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Istriku tertidur di atas lantai. Aku langsung mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, jangan tidur dilantai nanti sakit.” kataku sambil mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Ku gerakkan badannya tapi tak ada reaksi sama sekali. Kuangkat istriku ke atas ranjang. Bak di sambar petir, tubuh istriku sangat dingin dan kaku. Aku tak ingin memikirkan hal–hal yang buruk tentang istriku. Perlahan ku tempelkan tanganku kehidungnya. Tubuhku lemas. Air mata mulai mengalir di pipiku. Istriku tak lagi bernapas. Istriku telah pergi selamanya. Ya… istriku telah pergi selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian itu membuatku sangat terpukul. Istriku dimakamkan tiga hari yang lalu. Aku merasa sebagai pembawa petaka. Semua orang yang kucintai telah pergi dan sampai saat ini aku tak tahu bagaimana keadaan anak–anakku. Aku hanya dapat menunggu. Menunggu sesuatu yang tak akan pernah datang. Ya … tak akan pernah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian aku tak sengaja membaca surat kabar yang membuatku terjatuh pingsan. Surat kabar tersebut berisikan : “Dua anak laki–laki terbunuh dengan wajah yang tak dapat lagi dikenali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu siapa yang membawaku. Aku sudah berada di rumah sakit. Pikiranku masih terbayang dengan surat kabar yang kubaca siang tadi. Aku langsung melepas infus yang melekat di nadiku. Seorang perawat langsung mencegatku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, jangan bangun dulu, Bapak masih sangat lemah,” perawat tersebut berusaha mencegah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin melihat anakku,” jawabku sambil mendorong perawat itu sampai terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlari ke kamar mayat dan menanyakan pada petugas tentang dua mayat anak laki–laki yang terbunuh kemarin. Petugas itu langsung menunjukkan kedua mayat tersebut. Tak dapat dipungkiri lagi. Mayat kedua anak tersebut adalah anakku, Ghali dan Salman. Aku masih mengenal tahi lalat yang menempel di kaki mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian demi kejadian pahit yang menimpaku menjadikan hidupku berubah. Semakin hari orang–orang komunis telah memperoleh banyak pengikut. Termasuk aku. Ya… termasuk aku. Aku sangat benci dengan tentara. Aku ingin membalas kematian anak dan istriku. Karena merekalah yang kuanggap sebagai penyebab kematian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kusadari aku telah tergabung dalam partai terlarang tersebut. Saat itu aku telah meninggalkan profesiku sebagai tentara. Aku telah menjadi pemimpin partai terlarang itu dan hampir menguasai seluruh wilayah kota Semarang. Satu persatu aku dan orang–orangku membunuh anggota–anggota TNI, mulai dari Tamtama sampai ke Perwira semuanya telah kami bunuh dan kami tahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, aku dan orang–orangku menyatroni rumah seorang perwira tentara. Rumah yang sangat megah. Di tumbuhi bunga–bunga anggrek dan bunga sedap malam di pekarangannya. Tampak sebuah pos keamanan di sudut depan rumah yang di dalamnya terdapat beberapa tentara berpangkat tamtama sedang tertidur pulas. Dengan mudah aku dan orang–orangku masuk melompati pagar besi yang tidak terlalu tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dor … dor … dor …,” tiba-tiba terdengar suara letusan senapan mengarah tepat di tubuh tentara–tentara yang berada di dalam pos itu. Darah mengalir menganak sungai. Tak satu pun yang tersisa. Semuanya tewas dalam keadaan yang mengenaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan orang–orangku beranjak pergi menuju pintu masuk rumah. Terlihat dengan jelas sebuah papan nama tergantung tepat di depan pintu masuk. Papan nama itu bertuliskan Kolonel Birin. Aku tersentak. Sebuah kisah yang telah lama terkubur kini terkuak kembali. Bayangan tentang anak dan istriku silih berganti mengisi pikiranku. Kebencian yang telah lama terpendam harus keluar dan berakhir malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi terdengar letupan peluru. Kunci rumah tersebut terhantam. Aku dan orang–orangku berpencar masuk ke setiap kamar. Tiba–tiba terdengar suara orang yang sedang membuka pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolonel Birin! Ya… Kolonel Birin telah berdiri tepat di hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Angkat tangan!” teriakku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolonel Birin langsung mengangkat tangan diikuti istrinya dari belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah anda masih ingat dengan wajahku, Kolonel Birin?” tanyaku sambil membuka topeng. Wajah Kolonel Birin seketika berubah pucat. Ia kemudian bicara terbata–bata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ka …u … Let…nan Husin,” jawabnya dengan wajah ketakutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya … aku Letnan Husin. Tapi sekarang aku bukan lagi seorang Letnan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari belakang terdengar tangis anak laki–laki sedang digendong anak buahku. Wajah anak itu mengingatkan kejadian tiga tahun silam. Ya, wajah anak–anakku yang telah hancur dan tewas. Aku langsung saja mengambil anak itu.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau pistol ini ku tembakkan ke kepala anakmu, Kolonel Birin ?” tanyaku sambil menodongkan pistol ke kepala anak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan Letnan…! Lebih baik kau ambil semua hartaku. Tapi  tolong lepaskan anakku,” teriak Kolonel Birin dengan wajah cemas.             &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku datang bukan untuk harta, Kolonel Birin. Apakah kau masih ingat bagaimana anak dan istriku tewas, Hah … !” teriakku sambil menarik pemicu pistol yang kupegang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dor!!! Sebuah peluru bersarang di kepala anak itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu juga anak tersebut jatuh ke lantai bersimbah darah yang membusa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak!!! Kolonel Birin langsung berlari kearahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dor!!! Sebuah peluru keluar lagi dari sarangnya. Tapi kali ini bukan keluar dari pistolku melainkan dari pistol anak buahku. Kolonel Birin tewas dengan dada bersimbah darah. Istrinya jatuh pingsan melihat apa yang terjadi dengan suami dan anaknya. Aku tertawa bahagia. Aku bahagia karena semua dendamku sudah terbalas. Aku yakin anak dan istriku pun ikut senang melihat kematian orang–orang biadab seperti mereka. Tapi anak dan istriku tak lagi disini. Mereka disana didunia yang berbeda denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami segera keluar dari rumah Kolonel Birin. Aku dan orang–orangku merayakan pesta atas kemenangan kami. Kami telah berhasil membunuh para petinggi–petinggi tentara. Dalam waktu yang relatif singkat, kami telah berhasil menduduki Kota Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semua itu tidak bertahan lama. Presiden mengeluarkan mandatnya untuk menumpas setiap anggota–anggota partai terlarang. Dalam waktu yang sangat singkat, kami berhasil di tumpas bersih oleh TNI. Satu per satu teman–temanku di bunuh dan di tahan. Mereka yang berani melawan langsung di tembak mati oleh TNI. Termasuk aku. Aku tertangkap saat ingin melarikan diri. Aku tertembak. Tiga buah peluru bersarang di kakiku. Tapi Tuhan masih memberikan kesempatan. Aku tidak di vonis mati. Aku di jatuhi hukuman 25 tahun penjara dan dibuang di salah satu penjara di sebuah kota yang sangat terpencil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku terlahir sebagai hina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah akupun harus kembali sebagai hina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dipilih tuk mengangkat senjata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mengapa jalan menggiringku ke arah lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku t’lah buktikan bahwa aku ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ada sebagai pelindung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ada sebagai penuntun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua jalan telah menyimpang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlahir bukan untuk berjuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlahir bukan untuk berperang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku telah terlahir sebagai pecundang … kawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua terlahir sebagai pejuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga urat mengencang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tubuh menegang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tetap pejuang …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 tahun sudah terlewati. Telah aku terima balasan yang kuperbuat selama ini. Rambutku sudah berubah menjadi uban dan kulitku sudah tak lagi segar. Tubuhku bergerak tapi jiwaku mati. Dosa-dosaku tak cukup di tebus hanya dengan kurungan 25 tahun. Aku pengkhianat. Akulah pengkhianat bangsa. Bangsa yang telah memberikanku kehidupan. Aku sampah. Akulah sampah bagi keluargaku. Tapi semuanya telah pergi. Aku tak mempunyai keluarga lagi. Aku seorang diri. Mereka telah lama meninggalkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah bebas dari penjara yang telah mengurungku selama 25 tahun. Aku pun mendengar bahwa orang–orang yang sama sepertiku juga telah di bebaskan. Aku tak mempunyai apa–apa. Aku seorang lumpuh. Aku mempunyai kaki tapi tak dapat lagi berjalan. Rasa sakit itu masih terasa sampai saat ini. Saat aku tertembak …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali ke kampung halaman. Rumahku masih seperti dulu. Tapi, banyak terdapat perubahan di dalamnya. Tak ada lagi istriku. Tak ada lagi teriakan dan canda tawa anak–anakku. Hanya tinggal aku sendiri. Aku yang sedang menunggu datangnya ajal menjemput, agar  aku dapat kembali bersama keluargaku disana … ya disana di tempat yang sangat jauh … jauh dari dunia yang penuh dosa ini. Agar aku bisa meminta maaf pada istri dan anak–anakku. Aku tahu mereka pasti malu mempunyai ayah dan suami seperti aku. Mereka pasti malu dengan apa yang telah kulakukan selama ini. Karena aku bukanlah pejuang tapi lebih pantas di sebut pecundang.&lt;br /&gt;Nop 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-5581455342066944881?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/5581455342066944881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/itu-bukan-aku-cerpen-erwan-aprianto.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/5581455342066944881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/5581455342066944881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/itu-bukan-aku-cerpen-erwan-aprianto.html' title='ITU BUKAN AKU  Cerpen Erwan Aprianto'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-7525729495185293727</id><published>2009-11-08T09:42:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T09:55:51.138-08:00</updated><title type='text'>TAKADA LAGI Cerpen Erwan Aprianto</title><content type='html'>TAKADA LAGI&lt;br /&gt;CERPEN Erwan Aprianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asap mengepul melayang tanpa arah. Sang raja siang mungkin tak akan lagi menampakkan keagungannya, hari ini. Pasar 16 ilir yang dulunya penuh dengan jejalan kaki lima, kini rata tinggal puing – puing kayu yang terbakar. Bongkar … Bongkar. Entah siapa yang menjerit. Pemandangan yang mungkin tak lagi tabuh tuk dilihat. Inikah yang dinamakan keadilan tuk rakyat jelata. Atau mungkin kemakmuran tuk para pejabat. Ah … aku pun tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bongkar !” teriak salah seorang petugas yang mengenakan seragam necis dengan pentungan yang mungkin sudah menjadi senjata tuk memukul anjing atau sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Para pedagang yang mangkal di pasar 16 ilir seakan takkan pernah ingin meninggalkan kediamannya. Apakah demi suksesnya Pekan Olahraga Nasional (PON) nasib rakyat harus di korbankan. Kalimat itulah yang sering keluar dari bibir mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Tampak dari kejauhan seorang laki – laki tua yang membawa keranjang di pundaknya. Tukang keruntung. Itulah panggilan akrab yang biasa terdengar di telinganya. Ia menghampiriku sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau angkat barang, Mas ?” tanyanya sambil duduk disampingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah … nggak Mang. Biar saya sendiri. Itung – itung olahraga,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mang Abdul. Panggil saja namanya begitu. Kulit hitam gosong terbakar matahari. Urat – urat yang menari – nari di pergelangan tangannya mulai bermunculan. Usia yang masih muda mampu menipu wajahnya yang sudah kelihatan matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beginilah Mas. Mau cari kerjaan yang enak nggak nguras tenaga, pendidikan nggak menunjang. Ya terpaksa begini kalo mau hidup di zaman yang serba maju seperti sekarang ini,” Mang Abdul mulai cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apalagi katanya kita mau jadi tuan rumah PON. Banyak sekali Mas pedagang – pedagang kaki lima yang di gusur dari sini. Katanya sik untuk penertiban. Penghasilan saya semakin sedikit. Pedagang – pedagang banyak yang sudah di pindahkan ke tempat yang telah di sediakan pemerintah. Tambah miskin saya,” eluhnya sambil menghisap rokok yang bukan lagi sekedar kenikmatan.&lt;br /&gt;“Apa mereka selamanya berdagang di situ, Mang ?” tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erwan Aprianto&lt;br /&gt;Anggota Teater Sansekerta, Sanggar Air Seni Palembang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-7525729495185293727?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/7525729495185293727/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/takada-lagi-cerpen-erwan-aprianto.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/7525729495185293727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/7525729495185293727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/takada-lagi-cerpen-erwan-aprianto.html' title='TAKADA LAGI Cerpen Erwan Aprianto'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-3741405692456396863</id><published>2009-11-08T08:54:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T09:42:10.081-08:00</updated><title type='text'>PUISI M.D. BORANG</title><content type='html'>PUISI M.D. BORANG&lt;br /&gt;Sekejap teringat subuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weh .bulan bulat kuning telur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang bintang hilang, tinggal satu berdampingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut kamar kosong bayangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandang langit megah bertuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O. aku hayal malaikat mencabut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durja dari aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh sudut roh terbang jadi Satu    lalu di bawa ke kuning telur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh.hampa benar raga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampa dan terdampar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Was..was..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O.sagala takut menyelusuri darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sekecap perjalanan malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roh kembali ke badan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata tajam mulai nerawang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bulan berganti garang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O.sagal was..was..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Air mata murai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O. langit runtuh berserak serak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beribu air mata menyucur dari kelopak  mata murai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deras - O – deras dan menghanyutkan sagala gala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sesosok entah apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melayang layang di atas lautan air mata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terang sangatlah terang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti peri tapi bundar bentuknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O. itulah kharisma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya bahagia dari Sang Maha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barulah murai ngerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu darah didih ngurang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekurang kurangnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            o. senangnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            o. bahagianya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            o.begitu tampak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            wahai kasihmu murai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh.. menitik butir butir air mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila aku mengingatnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Belasengkawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt; gemakah langit ?&lt;br /&gt; kalau.&lt;br /&gt; Gemakan ke malikat mengejek !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gemakan ke setan setan menyetan !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gemakanlah hingga setetes darah jadi                     sorga !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ya.. gemakan. Dan gemakanl;ah           segema gemanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; *******************************&lt;br /&gt; ** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; E..e..E..e..E..e..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ( ….. )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; rupa merupa langit takda bergema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; - darah -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- jelata -.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sudah malam mengulang .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masturbasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O. betapa riang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang kegubuk peot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O. sagala rasa menghilang pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selongsong kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya …. A ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O. betapa hebat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi menyusun meninggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggi sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O. jelas terpenjara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bebas. Menyusun meninggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Wah..gembira aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu memuncak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu masturbasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akh…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oh..s..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hhoh.ss&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengapa beda ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai bapak coklat agung namamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Di dubur bakteri coliku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai dedengkot serta merta menyedot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Megah kursimu di taik dakiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei     cucung dedengkot serta merta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyedot - tenang… ! kanku letakan pula engkau di taik dakiku bahkan di tempat yang paling taik sekalipun -. antri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……………………………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O. betapa hebat gadis kerdil kerdil sekerdil sagala kerdil dengan gendang gendang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah meminta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   Merasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   Memperkosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   Menjarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                               Kau bukan kerdil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi nguggat baginda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau memang bukan kerdil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O. hebat gadis kecil kerdil kerdil sagala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerdil dengan gendang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantas kau jadi terang benderang seterang ikat ikat malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh memisah oh tetinggi !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takkan negri oh meninggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korbankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sudah –Pas-&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada malam nyelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada bulan malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada debu terbenam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regu habis ditelan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada langit ngugah buram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kawan suram muram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada –tak ada- murung garang tak ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ah. Lengan hentilah suram muram tinta hitam kala burung terbang layang ,layang ke ponggok awan, ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan aku hwnti muram buram karena bata mebas lepas..pas…pas…sudah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-pas-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha…ha…ha…ha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ha…ha…ha…ha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu langit bau angit karena buncit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanah Amerika&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para priyayi itu ngungsi ke Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para priyayi itu makan dari dan di Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para priyayi itu jual tanah ke Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Karena tanah tak beri lagi darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para priyayi itu mati di Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para priyayi iu jadi tanah Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Anak negri ke Amerika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Indonesia jadi Amerika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dan ………………….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(  ………………. )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan bising bising itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingatkan aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Mei hari berkabung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Sebuah Negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        “untukku Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                          untukmu terserah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  apa dan kapan’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negaraku berkabung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negaramu berkabung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup desa !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bapak Langit&lt;/span&gt;   ( senyumlah )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hoy.buaya langit budaya bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hoy.langit langit di atas langit prutmu buncit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak langit langit jidatmu buncit –cit, cit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambah buncit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak buncit bola hitammu nyingit ngit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibirmu engat engit engat engit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak engit jadi burit habis duit kamu pingit ngit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hoy.bapak pingit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok lebih dari bapak buncit cit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak buncit menang terus tiap suit.Tapi bapak suit tidak terlalu nyingit .engat engit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engat engit engat engit engat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……………………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1933 – 1941&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan laut mana ikan opi opi yang pergi ke langit kemarin windu, Tuan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rundung malang tak henti henti datang, siang, malam, petang, ulang,Tuan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dicambuk pedang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengannya lepas menggores awas !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kucup tonggak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakinya lepas nendang berang !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di gigit tanah tuan laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidungnya menghembus hembus hembus tanda ngembus !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            O. Tuan laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Huruf itu jadikan tuhan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda badan ngunjam aroma Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati hati Tuan laut,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aroma ngawut sudah ngrawut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cernai Tuan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1941 –&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;angin sering ngembus Tun laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;api ngembus rubus Tuan laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kenapa Tuan laut tidak menghembus hembus, Tuan laut ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            ini waktu opi opi jadi paus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Tuan laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kamu tak lagi berhembus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena paus asyik menghembus hembus hembus kamu,Tuan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jika Murai – Jika Pipit&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mulut muraiku melinang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat ku ucap kakak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas kemana roh rohku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu aku tahu hutan itu memberi tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Jika darah pipit itu membanjiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pasti aku dapat berucap kakak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Rohku tertawa di kuku jempolku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kakak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.000.000 itu cukup tajam untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maaf benar benar maaf ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                    wc tengah malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di Balik itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik kata aku rasa. Kau hantu, anu,                               ‘’gak enak’’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik kata aku menagkapmu, anu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                    ‘’gak enak’’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik itu kamu cahaya bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bola biru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dingin malam ngukir tawa anak binatang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalang benar benar jalang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak binatang lupa puja pujimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sana mengambang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sini berbayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Gelombang jadikan bayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ini perjuangngan anak binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kota Lembut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;O. lembut kotamu yang malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nangis kala angin seakan diam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala keperawanan ditelan orang seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;O. perahu orang orangan lantang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah angin diam wanitamu jadi jalang terus jalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            ‘’ayo orang orangan terjang seberang terjang. Tak guna angin terjang terjang jangan segan terjang terjang terjang ke seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ukir kembali noda keperawanan’’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oh. Rerumputan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja raja itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidur di bawah kolong jembatan kalicode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja raja itu tertawa terkekeh kekeh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal hatinya gusar tidur di bawah kolong jembatan kalicode&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja raja itu terus tidur di bawah kolong jembatan kali code. Ternyata ukiran kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Raja tak seindah yang kita pikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh. Rerumputan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Karena Kumis&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;HA..HA..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringik kumismu itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngukir bom di mataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngukir mesin di kakiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngukir sudut bayang itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            O.O.O.O.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bom di mataku menulup urat             otak otak kau&lt;br /&gt;             O.O.O.O.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Mesin di kaki ngebut sekian vol,            laju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            O.O.O.O.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bayang itu jadi ungil hingga               rebah oleh ucil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            E..e..E..e..E..e..E..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Jadi utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sajak bingung&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi seribu hawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meraung menyeruku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            ‘’A.a.u.u.a.a.u.u.’’ itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            ‘’hana, hini, hana, hini,’’ itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;              pikun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tinta menyuruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin hal itu saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin apalah persetan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kau kurasa hanya itu yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kasih ikut&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kau gencar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kau gencarmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbang terjang langit itu&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bila kau gencar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bila kau gencarmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Terbang terjang langit itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih angin ke aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga terjang langit itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih tambang ke aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga ledakan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bila kau gencar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kau gencarmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Terbang terjang langit itu&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kau gencar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila kau gencarmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terbang terjang langit itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            O.kasih ikut aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hentilah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah mata terkatup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah sayang , jangan kau berkata, ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henti lampu meredup. Hilang .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah jangan kau ucap.uh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Katup katup. Hanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Berilah ,ye….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Redup hilang. Hanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Berilah ,hore…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ubah bau tanah ketabah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barangkali aku ini sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanya Cuma Cuma ,yaitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng bani adam hawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; Tolol Seragammu,Tolol Cucu Adam hawa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rela darahmu dicumbu itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tolol jidatmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau sampah tanpa urat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah jurus sebrang ngenai nanahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membunuh tiap sudutmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya kau tipu da’jal yang mendarah nanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih ilmu tiap darah itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            bahkan yoni sekalipun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            agar tololmu jadi bomerang.                   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kado ulang tahun. Riuh merang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tolol seragammu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tolol cucung adam hawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolol untuk buahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau tolol untukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terserah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau mesti lari dari da’jal dan tuntun..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……………………………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cumbu Tanah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap membau tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kokok ayam, tiba malaikat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupa angin mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap hawa mulut mendengus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda ajal terkekeh kekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap sebutir beras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ialah nanah mengecap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rem !! jangan kau cumbui kemolekan hawa itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanahmu maelaut membara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Harusnya cumbui sajadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mungkin taik di tiap keringat jidatmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Long long mata, bani adam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idiot usap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hapus sebutir keringat cemasmu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah gusar !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        ( peternakan )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Malu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira kira apa yang mengibas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di balik hujan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hitam. Berbulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Mungkin tikus mengibas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kerongkongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ingat KAU _’ B’ _&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuintip lewat jendela,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kelam suram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kudapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;helai keladi menghirup perlahan cik cik hujan, malam berbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                    ( kantoran ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BIODATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Lengkap   : Muhammad Deni A&lt;br /&gt;Nama Samaran   : M. D Borang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat         : Jln. Angsana Blok F2 no: 6 komp, Pusri Borang Perumnas Palembang&lt;br /&gt;Telepon        : (0711) 816603&lt;br /&gt;Tempat T Lahir : Palembang, 5-Mei-1987&lt;br /&gt;Pekerjaan      : Anggota Kepolisian Pagaralam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas      : Anggota aktif  Sanggar Air Seni (SAS), Anggota aktif Teater Sansekerta, Anggota Komunitas Sastra Lembah Serelo Lahat, Aktif menulis Puisi dan karya saya pernah dipublikasikan Harian Umum Sriwijya Post dan Harian Umum Transparan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-3741405692456396863?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/3741405692456396863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/puisi-md-borang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3741405692456396863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3741405692456396863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/puisi-md-borang.html' title='PUISI M.D. BORANG'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-3351101838692151600</id><published>2009-11-08T08:31:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T08:33:23.601-08:00</updated><title type='text'>Catatan Asep Sambodja: Cerpen-cerpen Seorang Soekarnois</title><content type='html'>oleh Asep Sambodja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Kohar Ibrahim adalah seorang Soekarnois sejati. Dalam novel Sitoyen Saint-Jean, A. Kohar Ibrahim (2008) memperlihatkan jati dirinya secara jelas, bahkan dengan penuh kebanggaan sebagai seorang Soekarnois. Ia menulis seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Presiden Republik Indonesia yang benar sebenar-benarnya adalah republiken Bung Karno, pembina bangsa, pejuang dan proklamator kemerdekaan yang antikolonialis dan neokolonialis serta imperialis. Sedangkan HMS adalah pengkhianat atasnya. Pengkhianatan yang mendatangkan bencana tragedi sampai pada menyengsarakan sebagian besar rakyat Indonesia. Salah seorangnya adalah diriku sendiri (Ibrahim, 2008: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika aku kangen pada BK. Sang Presiden Republik Indonesia, pembina bangsa dan pemimpin perjuangan kemerdekaan melepas belenggu feodalisme, kolonialisme dan neokolonialisme serta imperialisme. Presiden yang aku hormat hargai dan dicintai oleh rakyat Indonesia. Juga dihormat hargai oleh para pejuang kemerdekaan dan rakyat Asia Afrika. Pun, Presiden yang ahli pidato, penulis dan pencinta seni yang berjiwa besar (Ibrahim, 2008: 15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konkretnya, selain turba atau turun ke bawah demi lebih mengenal dan lebih mendorong maju perjuangan yang selaras dengan garis Bung Karno, juga menyusun ragam macam tulisan berupa reportase, esai budaya, juga kreasi prosa dan puisi. Yang, jika tidak dimusnahkan rezim militer fasis Orde Baru, tentu bukti-buktinya bisa dilacak di berbagai surat kabar dan majalah zaman itu yang tersimpan di Perpustakaan Nasional (Ibrahim, 2008: 20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan di atas memperlihatkan betapa A. Kohar Ibrahim begitu gandrung dengan sosok Presiden Soekarno. Kecintaan Kohar kepada Bung Karno itu juga tercermin melalui cerpen-cerpennya yang terdapat dalam Laporan dari Bawah yang dihimpun oleh Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan (2008). Cerpen-cerpen itu berjudul “Danau Tigi Merah Berdarah”, “Ombak Terus Bergelora”, “Pesan”, “Penyergapan”, dan “Keinginan Seorang Perempuan”. Empat cerpen pertama berkisah tentang orang-orang yang berada di lini paling depan dalam pertempuran. Sementara cerpen “Keinginan Seorang Perempuan” berkisah tentang keinginan seorang istri yang sedang ngidam, yakni ia mengidam suaminya memanggul senjata.&lt;br /&gt;Hampir semua tokoh dalam cerpen-cerpen itu menjadi anak wayang yang dimainkan sang dalang. Dalam arti, pengarang sangat berperan betul dalam cerita itu. Tokoh-tokohnya tidak diberi ruang ataupun kesempatan untuk berpikir, berbicara, dan bertindak menurut kata hati tokoh itu sendiri, melainkan semuanya tergantung pada sang pengarang sebagai dalang. Akibatnya, watak tokoh-tokohnya hampir sama pula. Dan pembaca harus membaca dengan sabar karena seperti mendengar dongeng yang hendak disampaikan oleh pengarang. Pembaca seperti menempati ruang sempit untuk berimajinasi dan berfantasi sendiri. Namun, pembaca diuntungkan dengan penggunaan kata dan bahasa yang bagus oleh pengarang.&lt;br /&gt;Kecintaan Kohar kepada Bung Karno itu dicerminkan dengan pesan yang disampaikannya melalui cerpen-cerpennya. Dalam “Danau Tigi Merah Berdarah” Kohar bercerita tentang perjuangan membebaskan Irian Barat. Sementara dalam cerpen “Ombak Terus Bergelora”, Kohar menyinggung peristiwa konfrontasi dengan Malaysia. Kedua topik itu sangat relevan dan bersetuju dengan kebijakan Presiden Soekarno. Tokoh utama dalam kedua cerpen itu adalah pejuang yang selalu berada di garis depan. Sama halnya dengan tokoh utama dalam cerpen “Pesan” dan “Penyergapan”.&lt;br /&gt;Ada yang menarik dalam cerpen “Danau Tigi Merah Berdarah” dan “Ombak Terus Bergelora”, yakni tokoh utamanya sama-sama tertembak di bagian lengan. Ada keberanian, ada semangat pengorbanan yang diperlihatkan tokoh-tokoh dalam cerpen-cerpen A. Kohar Ibrahim. Saya kutipkan adanya kesamaan “nasib” dua tokoh utama dalam dua cerpen itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah-rumah rakyat dibakar Belanda! Dengan gila dan biadab! Marius menyelisip di antara belukar, memberi aba-aba pada anak buahnya yang tersebar di tempat-tempat tersembunyi. Lalu memuntahkan peluru senjatanya ke arah musuh yang bertebaran. Suara jerit parau dan tangis yang menyakitkan hati tak terindahkan lagi. Tetapi tiba-tiba Marius menyeringai, dirasakan hangat dan panas pada lengannya yang ditembus peluru. Terhuyung-huyung ia menyelinap di balik batu-batu sambil menahan nyeri, lalu merangkak. Tetapi tak kuat... tubuhnya berpeluh dingin.&lt;br /&gt;(“Danau Tigi Merah Berdarah”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Fatimah sibuk mengurusi seorang yang terluka dekat sebuah pohon, tanpa diketahui musuh telah begitu dekat, peluru mendesing-desing di kiri kanan. Dan tiba-tiba ia menyeringai, dirasakan lengan tangannya yang kanan hangat. Dirabanya dengan tangan kiri, darah terkelucak, ketika itu matanya kunang-kunang. Dipejamkannya matanya, berdiri dan berusaha melangkah, tapi tak kuasa. Seorang anggota Laskar melihat dia, berteriak menyambar tubuhnya yang melayang hampir jatuh ke tanah.&lt;br /&gt;(“Ombak Terus Bergelora”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasakan nikmat membaca pada bagian-bagian seperti ini. Kohar mendeskripsikan dengan baik saat-saat sang tokoh tertembak. Dan pembaca mungkin menangkap gambaran bahwa orang yang tertembak akan “menyeringai” dan “merasakan hangat” terkena peluru. Kedua tokoh itu tidak dimatikan oleh pengarang, karena masih diandalkan untuk menceritakan kisah selanjutnya, karenanya pula kedua tokoh itu sama-sama terkena tembakan di bagian lengan yang memang tidak mematikan.&lt;br /&gt;Dalam cerpen “Pesan” dan “Penyergapan”, Kohar memperlihatkan semangat patriotisme yang melekat pada tokoh-tokohnya. Di dalam kedua cerpen itu pula diungkapkan betapa menjijikkannya orang-orang yang mau menjadi mata-mata penjajah. Ternyata bahwa dalam perjuangan, masih saja ada orang yang mencari untung buat dirinya sendiri, bahkan merugikan teman-teman sebangsanya sendiri. Luapan kekesalan itu terbaca dengan terang dalam kedua cerpen itu.&lt;br /&gt;Sebagaimana judulnya, “Pesan”, cerpen ini mengisahkan tertangkapnya Agam oleh polisi-polisi kolonial. Agam tertangkap karena ada mata-mata yang membocorkan tempat persembunyiannya. Meskipun tertangkap dan dijatuhi hukuman gantung, Agam tidak memperlihatkan wajah penyesalan kepada istrinya, Parsih. Ketika istrinya diberi kesempatan bertemu untuk terakhir kalinya, di situlah pesan-pesan Agam dikeluarkan secara beruntun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Parsih, kita selalu mimpikan untuk bebas. Alangkah rindunya kita pada kebebasan, lepas dari tindasan kemelaratan dan ketakutan. Dan aku bersama kawan-kawan dan rakyat lainnya melakukan semua itu karena satunya keinginan untuk bebas itu...&lt;br /&gt;Parsih, jangan kau habiskan airmata hanya untuk menangisi aku. Pengadilan kolonial telah memutuskan, aku harus menjalani hukuman...&lt;br /&gt;Parsih, relakan aku. Hanya aku pesan, nanti, kalau saatnya telah datang… kau sudilah tanami pohon bunga merah di atas makamku. Kembang Beureum. Ingatlah Parsih. Ini pintaku, keinginanku.”&lt;br /&gt;(“Pesan”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dalam cerpen “Penyergapan”, yang tertembak adalah rekan seperjuangan Mansur yang bernama Amin. Dalam melakukan aksi penyergapan itu, Amin buru-buru mendekati serdadu-serdadu Jepang yang bergelimpangan. Dia tidak memperhitungkan bahwa tentara Jepang yang menjatuhkan diri dan pura-pura mati itu hanyalah taktik mereka belaka. Ketika tahu Amin tertembak, Mansur pun kemudian melemparkan granat ke gerombolan serdadu Jepang, yang mengakibatkan semuanya mati.&lt;br /&gt;Cerpen “Keinginan Seorang Perempuan” menggunakan setting di Angola yang tengah dijajah Portugis. Kohar ingin menggambarkan bahwa semua hasil kebun yang ada di negara tersebut sudah dikuasai pihak imperialis, karena itu dia tidak bisa memenuhi keinginan istrinya yang mengidam berbagai hasil kebun. Akhirnya, istrinya bisa mengerti dan mengidamkan sesuatu yang spesial, yakni meminta suaminya, Natsa, untuk angkat senjata melawan kaum penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku kembali menemui Kakek Keita, kakek itu menyelangak. Berkata, “Apa yang tidak dikuasai oleh orang-orang Portugis atau Eropa dari hasil bumi Angola kita, Natsa? Hampir semua mereka kuasai!” Dan ketika mengucapkan ini nampak wajah kakek merah padam. Sambungnya, “Jangankan kopi, jagung, lada, dan kapas… sampai budak-budak pun mereka kuasai! Apapun emas, berlian, dan besi serta hasil-hasil tambang lainnya yang sangat bernilai harganya! Benda-benda itu memang dari bumi, hasil keringat rakyat Angola, tapi,” kata kakek menekankan, “oleh karena orang-orang kulit putih itu yang berkuasa, merekalah yang menikmati semuanya.”&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;“Memang aku mengidamkan sesuatu, putra kita, entah kenapa aku begitu ingin dalam hari-hari ini mereguk secangkir kopi murni dan mengunyah jagung muda yang manis dan gurih. Oleh karena belum lagi terpenuhi, kutekan sekuat hati keinginan itu. Aku lebih menginginkan yang lain: engkau menyandang bedil!”&lt;br /&gt;(“Keinginan Seorang Perempuan”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa kutipan di atas terlihat kemampuan seorang Kohar Ibrahim dalam bertutur dan bercerita. Kata-katanya sangat terjaga dan memikat. Pesan yang diusungnya sehaluan dengan garis kebijakan Presiden Soekarno, tokoh yang diidolakannya sejak kecil. Ia menyuarakan antiimperialisme, mengobarkan semangat berjuang dalam merebut Irian Barat (kini Papua) dan berkonfrontasi dengan Malaysia, serta rasa setia kawan dengan bangsa Afrika yang sama-sama terjajah. Kohar juga mengobarkan semangat berani berkorban dan sikap seorang patriot sejati, nasionalis tulen, demi kemerdekaan rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citayam, 8 November 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-3351101838692151600?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/3351101838692151600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/catatan-asep-sambodja-cerpen-cerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3351101838692151600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3351101838692151600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/catatan-asep-sambodja-cerpen-cerpen.html' title='Catatan Asep Sambodja: Cerpen-cerpen Seorang Soekarnois'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-3229215082863084420</id><published>2009-11-06T21:56:00.000-08:00</published><updated>2009-11-06T21:57:54.414-08:00</updated><title type='text'>SEKOLAH GRATIS</title><content type='html'>SEKOLAH GRATIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andreas T Wong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebat..&lt;br /&gt;Luar biasa&lt;br /&gt;inovatif&lt;br /&gt;....................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dak setuju&lt;br /&gt;silakan angkat kaki&lt;br /&gt;semua..........&lt;br /&gt;harus setuju&lt;br /&gt;semua..........&lt;br /&gt;harus mendukung...&lt;br /&gt;semua,,,,,&lt;br /&gt;semua,,,,,&lt;br /&gt;semua,,,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salut untuk dirimu&lt;br /&gt;Gubernurku...&lt;br /&gt;bangsa ini harus dicerdaskan&lt;br /&gt;dak perduli dari mana dananya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.......................................&lt;br /&gt;mungkinkah langeng pak..........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andreas T Wong, seorang Pendidik di Palembang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-3229215082863084420?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/3229215082863084420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/sekolah-gratis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3229215082863084420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3229215082863084420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/sekolah-gratis.html' title='SEKOLAH GRATIS'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-5619342042382141295</id><published>2009-11-06T19:32:00.000-08:00</published><updated>2009-11-06T19:49:44.068-08:00</updated><title type='text'>Batu megalit berbetuk gong di Pagaralam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/SvTuCKaClFI/AAAAAAAAAMM/6YChvogeejw/s1600-h/batu+gong.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/SvTuCKaClFI/AAAAAAAAAMM/6YChvogeejw/s320/batu+gong.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401203574044791890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 6 November 2009 | 18:35 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAGARALAM, KOMPAS.com — Batu megalit berbetuk gong ditemukan di areal perkebunan Dusun Atungbungsu, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan (Sumsel), Jumat (6/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Kota Pagaralam Syafrudin mengatakan akan melakukan pembebasan lahan di sekitar lokasi penemuan batu megalit tersebut, setelah itu baru dilakukan pemagaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, banyak batu megalit yang ditemukan di Pagaralam, bahkan sebagian sudah dilakukan pelestarian dengan memagar keliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemkot Pagaralam belum memiliki lembaga khusus untuk melakukan pendataan atau menyelusuri berbagai benda bersejarah, seperti megalit dan arca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namun, di lokasi ditemukannya gong batu ini akan dibangun daerah wisata kebun buah terbesar di Kota Pagaralam dengan lahan sekitar 100 hektar. Nantinya kami akan melibatkan penduduk setempat untuk mencari dan membantu memelihara, jika ditemukan lagi benda bersejarah di daerah lain," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Kecamatan Dempo Selatan Amrullah mengatakan, batu megalit berbentuk gong berukuran lima kali drum minyak isi 100 liter itu ditemukan lima kilometer dari Dusun Atungbungsu, satu kilometer dari lokasi pembangunan lapangan terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Megalit yang bila dipukul akan mengeluarkan suara seperti gong itu berbentuk bundar lonjong dengan tinggi satu meter, lebar dua meter dan panjang lima meter ditemukan di kebun kopi milik warga setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Diperkirakan batu megalit itu sudah berumur ribuan tahun, dengan kondisinya masih utuh, namun posisinya sudah bergeser ada indikasi akan dipindahkan ke tempat lain," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah tempat penemuan batu megalit itu dulu merupakan belukar, tetapi oleh pemiliknya dibersihkan lalu dibuat kebun kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kurang memahami, batu tersebut mengandung nilai sejarah tinggi, batu itu dibiarkan telantar. Setelah pihak Pemkot Pagaralam datang, baru diketahui batu itu ternyata megalit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang di Pagaralam terdapat cukup banyak megalit peninggalan zaman dulu, namun pemeliharaannya masih belum dilakukan secara baik," kata dia lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BNJ&lt;br /&gt;Sumber: Kompas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-5619342042382141295?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/5619342042382141295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/batu-megalit-berbetuk-gong-di-pagaralam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/5619342042382141295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/5619342042382141295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/batu-megalit-berbetuk-gong-di-pagaralam.html' title='Batu megalit berbetuk gong di Pagaralam'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/SvTuCKaClFI/AAAAAAAAAMM/6YChvogeejw/s72-c/batu+gong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-1151326195514891379</id><published>2009-11-01T19:52:00.000-08:00</published><updated>2009-11-01T19:53:46.621-08:00</updated><title type='text'>PERUPA MEDAN GELAR KARYA</title><content type='html'>KESENIAN&lt;br /&gt;Delapan Perupa Gelar Karyanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 2 November 2009 | 03:41 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, Kompas - Delapan perupa Medan menggelar karyanya untuk korban bencana gempa di Sumatera Barat. Semua karya tersebut dilelang yang hasilnya disumbangkan kepada korban bencana. Rencananya, gerakan positif ini akan berlanjut ke lokasi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pameran ini kami gelar sebagai bentuk solidaritas seniman Medan. Kebetulan sejumlah perupa dan pengusaha mempunyai visi yang sama,” tutur pemrakarsa pameran, Dedy F Moningka, Minggu (1/11), ditemui di lokasi pameran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan perupa itu adalah Rein Asmara, Dimardi Abas, Wan Saad, Endra, Audi, Rasinta Tarigan, Oncont Moelyono, dan Yoesrizal. Mereka memamerkan 23 karya lukis, delapan lukisan di antaranya dilukis langsung di lokasi pameran. Pameran ini berlangsung sejak Jumat (30/10) sampai Minggu (1/11) di Lantai Empat Sun Plaza, Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perupa sengaja melukis sebagian karya mereka di lokasi pameran untuk memancing pengunjung agar lebih bisa berinteraksi dengan perupa. Meski tak satu pun pelukis berasal dari Minangkabau, hampir semua tema lukisan mengambil obyek budaya Minangkabau, seperti penari dan rumah adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu lukisan karya Wan Saad berjudul Ranah Minang. Lukisan ini menggambarkan lansekap pemandangan indah di Sumatera Barat. Dia menampilkan secuil keindahan tersebut melalui lukisan rumah adat di sekitar persawahan, dengan latar belakang ngarai. Lukisan ini mengingatkan pada pemandangan indah di Ngarai Sianok di Bukittinggi. Lukisan naturalis ini dibeli seorang pengusaha perempuan asal Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun dengan lukisan Rein Asmara berjudul Minangkabau. Pelukis senior ini ingin menyampaikan kepada penikmat seni betapa kayanya adat dan budaya Minangkabau. Hal ini disampaikan melalui lukisan seorang perempuan dengan pakaian adat, binatang kerbau, dan rumah adat. Adapun perupa Endra menampilkan karya berjudul Singkong Kaligrafi. Perupa yang selalu mengeksplorasi singkong sebagai obyek lukisan ini ingin menyampaikan dahsyatnya bencana gempa di Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia semula mengundang 20 perupa, tetapi dari jumlah itu, delapan perupa yang sanggup menggelar pameran. Hal ini, tutur Dedy, semata-mata karena persoalan teknis. ”Sebagian pelukis tidak bisa menyiapkan karya dalam waktu singkat. Semestinya, persoalan ini bukan menjadi alasan untuk berbagi,” tutur seniman muda, Endra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai hari Minggu sore, lima lukisan telah terjual dengan nilai Rp 5,3 juta. Pelelangan berlangsung seperti lelang pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembeli lukisan berasal dari aneka ragam latar belakang, seperti politisi, pengusaha, dan masyarakat biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia juga menyediakan jasa sketsa wajah kepada para pengunjung. Pengunjung memberi penghargaan kepada penyumbang bencana dengan sebuah sketsa wajah jika nilai sumbangannya Rp 100.000 per lukisan. (NDY)Sumber: Kompas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-1151326195514891379?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/1151326195514891379/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/perupa-medan-gelar-karya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/1151326195514891379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/1151326195514891379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/perupa-medan-gelar-karya.html' title='PERUPA MEDAN GELAR KARYA'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-7914631494007502829</id><published>2009-11-01T19:45:00.001-08:00</published><updated>2009-11-01T19:47:15.140-08:00</updated><title type='text'>Pameran Bersama 600 Seniman</title><content type='html'>25 TAHUN ISI&lt;br /&gt;Pameran Bersama 600 Seniman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 2 November 2009 | 02:51 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas - Sebanyak 600-an seniman terpilih—semuanya merupakan alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta—menyatakan kesediaan untuk ambil bagian dalam Pameran Besar Seni Visual Indonesia dalam rangka peringatan 25 Tahun ISI Yogyakarta, di Jogja Expo Center Yogyakarta, 25-30 November mendatang. Pameran bertajuk ”Exposigns 25 Th ISI-Jogja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta sebanyak itu merupakan pilihan dari sekitar 5.000 alumni ISI yang lulus sejak ISI didirikan pada 1984 hingga sekarang. Para kurator, yaitu Suwarno Wisetrotomo, Mikke Susanto, Sudjud Dartanto, Kuss Indarto, dan A Gede Arya Sucitra, semula memilih 2.000-an nama. Jumlah ini kemudian diciutkan lagi hingga tinggal 600-an nama untuk disesuaikan dengan venue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara nama-nama terpilih, sesuai keterangan Ketua Pelaksana Pameran KRMT Indro Kimpling Suseno di Jakarta, Sabtu (1/11) malam, terdapat Putu Sutawijaya, Entang Wiharso, Ivan Sagito, Bunga Jeruk, Heri Dono, Nyoman Gunarso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali seniman lukis, pameran yang disebut-sebut sebagai ”terbesar di abad ini” juga melibatkan seniman patung, grafis, desain interior, kriya, fotografi, audio visual, transmedia, dan seni penampil. Nama-nama seniman nonlukis antara lain Risman Marah, Anusapati, Noor Ibrahim, Komroden Haro, Timbul Raharjo, dan Yudi Sulistyo. Karya lukis almarhum Affandi dan karya patung almarhum G Sidharta Soegijo juga ditampilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Indro Kimpling, bersamaan pameran juga terselenggara berbagai workshop, di antaranya workshop seni patung, fotografi, grafis, lukis, dan desain komunikasi visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISI Yogyakarta adalah sebuah lembaga pendidikan tinggi seni negeri yang berstatus perguruan tinggi penuh dan memiliki kewenangan untuk menyelenggarakan pendidikan sampai ke jenjang tertinggi. ISI Yogyakarta dibentuk atas keputusan presiden tanggal 30 Mei 1984. (POM)Sumber: Kompas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-7914631494007502829?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/7914631494007502829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/pameran-bersama-600-seniman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/7914631494007502829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/7914631494007502829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/11/pameran-bersama-600-seniman.html' title='Pameran Bersama 600 Seniman'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-4498506582890718682</id><published>2009-10-24T22:09:00.000-07:00</published><updated>2009-10-24T22:13:34.507-07:00</updated><title type='text'>PELER NEGRIKU</title><content type='html'>PELER NEGRIKU&lt;br /&gt;Jajang R Kawentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamus besar bahasa Indonesia tidak memiliki peler. Buku tersebut merupakan salah satu buku yang menentang dan menantang peler. Kamus itu perlu dipertimbangkan lagi keabsahannya. Mungkin kamus tersebut berbasis aliran kekiri-kirian. Konon yang memiliki aliran kanan atau kiri sama-sama memiliki penyakit susah menoleh. Ini berbahaya, bisa menyesatkan. Tidak bisa memandang jauh ke depan, berjalan menyamping. Sebaiknya kamus itu dibakar. Ini kebijaksanaan. Ini perintah pemerintah. Karena kamus tersebut tidak ada pelernya. Peler tidak tertera di sana. Apalagi setelah ditinjau ulang nanti, Kelentit pun tidak ada, ini ‘kan eksistensi gender. Jangan sampai diskriminasi itu terjadi dalam kamus besar Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang senang dengan bakar-membakar buku? Bahkan membakar intelektualitas, menculik dan membunuh aktor intelektualitas, mencuci intelektualitas dengan diterjen dan air comberan. Makanya intelektualitas sekarang menjadi kotor, bau busuk dan berjamur. Berkembang bagai jamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawasan intelektualitas habis. Aktor intelektual habis. Sekarang yang ada tinggal kroco-kroco. Intelektual yang jamuran, bau busuk dan kotor. Ya wajar kalau keadaan sekarang semakin lapuk dan jamur tumbuh semakin subur. Tunggulah kehancuran. Kata tuhan dalam kitab, dan berpidato di gedung putihnya, di markasnya. Sekali digoyang dombret, digoyang inul, dak ku ku deh. Aktor intelektual yang jamuran pasti cakar-cakaran. Berebut lahan omprengan. Masyarakatnya jantungan. Tiap hari ada saja yang kena tikam. Pejabatnya preman. Bawahannya bajingan. Pendidikannya penjarahan, pemerkosaan, pelecehan, perselingkuhan, pembunuhan. Negri macam apa ini, Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara mengatasi jamur yang tumbuh subur dan semakin berkembang. Harus dirancang program pendidikan Nasional tentang Iqro: bacalah. Terbitkanlah berbagai macam buku sebanyak-banyaknya. Wajibkan kepada para mahasiswa dan pelajar untuk membaca sebanyak-banyaknya. Kalau tidak, mahasiswa dan pelajar itu yang kita bakar. Ini program reintelektualisasi anak negri. ini kebijaksanaan. Ini perintah pemerintah. Kita harapkan intelektualitas tumbuh kembali, disirami buku-buku. Buku-buku menjamur dan intelektualitas semakin subur. Kalau tidak tunggulah kehancuran. Budaya asing tak terkendali dan pendidikan mengerogoti tubuh yang bobrok dan rapuh, lahan yang nyaman bagi tumbuh jamur. Bagaimana dengan masyarakatnya? Sama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamur akan berkuasa menjelma menjadi peler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya peler adalah sesuatu yang menjijikkan, tetapi lama kelamaan menjadi sesuatu yang unik. Setelah mencoba mencicipinya ternyata selalu ketagihan ingin bertambah, bahkan terus bertambah. Peler semacam candu. Ada sebagaian yang selalu ingin berlebihan. Ada juga yang biasa-biasa saja, maksudnya di luar tidak menampakkan kerakusannya tetapi ketika di dalam seperti yang belum makan sebulan. Ada juga yang mencemooh. Ih saru! Jorok! Haram! Inilah romantikanya peler kita. Mungkin kamus besar bahasa Indonesia itu belum pernah mencoba mencicipi peler. Makanya ia tidak punya peler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdagangan peler sekarang sudah sangat merakyat, populer. Sama dengan lagu dangdut. Tidak hanya di jajakan di salon-salon, atau hotel-hotel, atau di lokalisasi. Di warung pojok sampai di emper-emper toko, di pinggir-pinggir jalan, bahkan di jajakan oleh salesman door to door. Memang ada berbagai jenis peler yang beredar di pasaran Nasional. Ada yang local (Jawa, sunda, madura, Sumatra, dst,) blasteran, Bangkok, dan Australia. Masing-masing jenis harganya bervariasi. Yang pasti apabila saling memuaskan, bisa jadi transaksi gratis. Dan biasanya ada bonus serta voucher, nonton BF 4 Bandung lautan asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon katanya peler Indonesia menjadi komoditi eksport yang sangat menjanjikan. Karena bisa menambah devisa. Meskipun komoditi ini juga bersaing ketat dengan peler import, yang sepertinya melebihi kuota. Ditambah lagi dengan import paha ayam, Kentucy friedchiken, Mc Donald, texas chiken dan masih banyak lagi. Sehingga menjadikan harga peler Indonesia merosot tajam begitupun pempek Palembang. Ini diakibatkan oleh para spekulan importir daging mentah dan paha ayam tersebut, yang semena-mena. Tanpa memikirkan pengusaha dan eksportir peler nasional dan tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu perlu dibuatkan undang-undang yang jelas tentang tatacara eksport dan import daging mentah dan paha ayam. Supaya tidak menimbulkan implasi pendapatan pengusaha peleeer nasional dan tradisional. Jangan hanya memikirkan dagangan orang asing, sementara pedagang local terpinggirkan. Jadi untuk apa pemerintahan negara ini kalau tidak dapat melindungi masyarakatnya. Tidak dapat menjaga harga diri, jiwa dan hak milik rakyatnya dari keganasan orang asing. Sebagai sikap negara berkedaulatan rakyat yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan………..dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu perlunya penyuluhan secara menyeluruh bagi pemilik peler dan para pengusaha peler. Bagaimana menciptakan peler yang bermutu tinggi, renyah, gurih, berkualitas, tahan lama, kuat dan terjaga kebersihan serta kesehatannya. Atau bagaimana menjaga agar peler tetap terjaga kehigienisannya. Jangan terlalu banyak memakai pupuk urea atau obat-obatan yang mempercepat pertumbuhan seperti ayam buras. Sehingga akan membuatnya cepat dewasa, besar, tetapi lemah. Sebaiknya lebih mengutamakan yang alamiah, bukan rekayasa. Sehingga kekuatan dan cita rasa peler nasional kita diperhitungkan negri paman Sam dan mendapatkan pengakuan dunia internasional. Bila perlu, kita meminta lisensi dari Amerika. Biar kelihatan gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sebagian besar produksi peler nasional masih diduduki oleh kaum miskin kota: buruh pabrik, pedagang asong, anak jalanan, petani, nelayan, dan para urban dari desa-desa miskin. Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi peler terus dilakukan, tanpa lelah. Walau begitu tetap kita harus punya prinsip. Bahwa mereka hanya menjual peler miliknya, serta mengkoordinirnya. Menjadi komoditas andalan dan unggulan. Mereka dilarang menjual desa, bangsa dan identitasnya. Mereka menjual peler hanya untuk menukarkan harga lapar dengan harga beras dan bahan pokok lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Habis, tidak satupun yang perduli dengan kehidupan kami, kecuali diri kami sendiri. Sebab negara sudah tidak kuasa. Sebab negara sibuk dengan urusan pribadinya, sebab negara sibuk dengan perutnya sendiri”, kata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan ganggu peler kami. Hak milik kami seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya peler yang mampu mensejahterakan hidup kami,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya peler yang mampu membayar hutang-hutang kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya peler yang membayar gaji kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya peler yang menghidupi anak-anak kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya peler yang memberikan peluang kerja kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya peler yang membayar kotrakan rumah kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya peler yang membiayai kesehatan kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya peler yang menjadi modal kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah negara mampu ngurusi dan menjaga kepentingan kami, keluarga kami, saudara kami, bangsa kami dan wilayah kami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara hanya berpikir kepentingannya sendiri, mengeruk kekayaan wilayah dan jerih payah kami, serta memeras bangsanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya peler satu-satunya pendekar kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Peler penyelamat bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun menggugatnya akan kena batunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peler negri bersatu tak bisa dikalahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda punya peler mari bersatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbangkan peler anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayar bank dunia&lt;br /&gt;Desas-desus Peler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desus pertama. Peler akan menjadikan dirinya sebuah idiologi baru di negri tercinta ini. Penganut idiologi ini kebanyakan kaum muda Indonesia. Diantaranya para pelacur, bandit-bandit, pejabat korup, penjual hukum, penjual agama dan masih banyak lagi. Idiologi peler ini diprediksikan akan membawa berkah dan sebagai idiologi masa depan yang berwawasan humanistis, sosialistis dan berbau agamis, yang akan meluluhlantakkan idiologi yang ada sebelumnya. Idiologi peler merupakan idiologi dahsyat, berkekuatan jin dan setan yang ada di bumi ini. Tuhannya adalah kekayaan, dendam, nafsu syahwat, ilmu pemgetahuan, teknologi dan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desus kedua. Peler akan dijadikan cindramata. Atau dijadikan sebagai bahan produksi seni kerajinan lainnya. Umpamanya bross, konde, gantungan kunci, hiasan di mobil, patung di taman, sebagai asbak rokok, dompet, tutup botol, mainan anak, mainan bapak ibu, gagang sedokan, gagang sapu, dan peralatan dapur lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan dari sector seni kerajinan peler ini akan menambah pendapatan rakyat dan tumbuhnya home industry seni kerajinan rakyat. Sehingga menumbuhkan sector perekonomian rakyat yang terpadu, dengan budidaya peler yang lebih maju. Basis ekonomi kerakyatan pun menjadi nyata. Pengangguran, krisis ekonomi akan tertanggulangi. Dengan demikian pendidikan akan lebih maju. Orang tua akan mampu menyekolahkan anak-anaknya. Sekolah yang mendidik, bukan sekolah sebagai candu. Dengan pendidikan orang akan berpikir merdeka. Dan diharapkan akan memerdekakan dari penjajahan yang menjamur seperti peler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desus ketiga. Kabar gembira bagi sejarah nasional, bahwa setiap generasi peler akan didokumentasikan di museum, sebagai barang bukti sejarah. Supaya anak cucu kita tidak asing lagi dengan peler-peler masa pendahulunya. Sebagai modal perawatan dan perluasan serta pembangunan museum peler nasional, berbagai benda sejarah dan benda purbakala, benda seni sebaiknya di privatisasikan, sama saja dengan BUMN lainnya, atau di jual saja pada pengusaha barang sejarah, kolektor barang antik, atau investor asing. Sebagai modal dan kita gantikan dengan peler nenek moyang, yang turut berjasa dalam memperjuangkan peler sebagai hak yang hakiki dari negri yang memiliki harga diri. Di samping itu sebagai media pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, perlu diadakan penelitian lebih lanjut. Bagaimana manfaat dan pemanfaatannya. Sehingga pengetahuan masyarakat akan terus berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desus keempat. Seni sastra peler. Perkembangan sastra akan sangat ditentukan oleh peler. Peler sebagai penentu kebijakan dalam berkarya sastra. Sastrawan harus memiliki kekuatan dan cita rasa peler nasional supaya diperhitungkan negri super power dan mendapatkan pengakuan dunia internasional. Bila perlu kita meminta lisensi Amerika. Supaya sastrawan memegang senjata dan mampu menghalau serta memerangi teroris dalam sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha ha ha ha ha… ah ah ah…,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hi hi hi hi hi… ih ih ih…,” ada yang ketawa ketiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desus selanjutya masih dalam proses. Sebelumnya nikmati dulu desus peler berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelermu aduhai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tunduk padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada dua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya untukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh kuserahkan segala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar rakyat berteriak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah aku sungguh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segalanya kamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku penguasa peler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan di tanganku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau satu kuperjuangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi nusa dan bangsa hasratku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah sayang kita ke ranjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berlayar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah nelayan kehabisan tangkapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting indehoy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah sayang kita di sofa saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita membajak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah petani kehabisan lahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal kita asoy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah penguasa pelermu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersumpah demi peler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan kutunjukan keperkasaan padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memungut pajak atau membuat undang-undang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau memecat pejabat atau menjual asset-aset negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman sudah kuikat erat pada pelermu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takan tergoyahkan walau badai melanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau aceh menuntut merdeka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dimana-mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau pulau-pulau dan sipadan ligitan terbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau teror mendar-der-dor kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh indahnya pelermu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melebihi Nusantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan belantara Sumatra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau Kalimantan, pasir putih pantai Bali,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya Jawa, atau adat istiadat Irian Jaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau mengguncang jagat intelektualitasku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membakar nafsu birahiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh peler nahkodaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku siap menerima perintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah harus menjual bangsaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah harus ngutang bank dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah harus menipu rakyat jelata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kejayaan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita keruk sumber daya yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah pelerku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah dengan lantang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rela diperkosamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tenaga kerja wanita kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti buruh kita dari malayasia dan luar negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau seperti perempuan Aceh melawan perlakuan tentara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau seperti gadis tionghoa pada mei 1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal jangan menuntut kenaikan upah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal jangan menuntut kesejahtraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal jangan menuntut pelayanan kesehatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal jangan minta turunkan harga sembako&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal jangan minta turunkan harga BBM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal jangan hapus dwifungsi militer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tahu inilah harta milik kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh peler idolaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak kuasa berpaling darimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ditakdirkan bersatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peduli apa motifasimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersungkur sudah dipenghulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak kuasa pada kerakusan dan keganasanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sesungguhnya aku tak suka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenikmatan kujalani juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sesungguhnya menyiksa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh pelerku sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berada dalam penjaramu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku puas digagahimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beratus bahkan beribu kalipun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pasrah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutagih bila ku rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumarah bila kau lesu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar sekadar sadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatanmu tidak lagi prima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau beranjak renta seperti juga indonesiaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan khawatir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kan ada pil viagra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kuku bima seperti juga bank dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau akan pulih seperti semula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala perjaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti juga semangat perjuangan tahun ‘45&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peler lucu pujaan hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus kubawa ke mana kerajaan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah ku tenggelamkan layaknya Sriwijaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah kujunjung layaknya Amerika Serikat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mengalir saja seperti keruhnya sungai Musi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh peler kusir pikir semata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehausanmu akan dunia membuatku buta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelaparanmu akan kekuasaan menciptakanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senjata dan bala tentara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan saja janjimu luntur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kuasaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau suka sudah pasti aku setuju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya pelermu yang kumau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun resikonya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke- oke saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar banyak pengangguran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar rakyat miskin kelaparan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar banyak demonstrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar banyak korupsi kolusi nefotisme dan manipulasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar banyak aborsi dan ekstasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak perduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya prekkkk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelermu yang kumau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang utama pelermu tidak jajan kemana-mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi pada pramuria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelermu milikku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi hanya berlabuh di pantaiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh peler yang manis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaanku tergantung padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau menjajah kaumku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila aku berpaling darimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasanku hilang makna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kata anak cucu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoreng tahi di muka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang kau punya ketajaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencuri waktu dariku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke rumah bordil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelermu dikawal pengawal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ekstra ketat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dana tutup mulut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh pelerku yang berwibawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mampu mengikuti jejakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya ingin melakukannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impossible&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku juga bosan denganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin melacur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hasrat kekuasaanku meninggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Libido menguasai kekuasanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ih kubayangkan peler di kamar mandi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sikat gigi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelerku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indahnya kita bersama di mata dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejoli yang perkasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di tangan kita segala kuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke mana-mana yang disuka bisa, mudah, lancar dan cepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah pelerku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi yang belum dirasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah surga kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bajingan tengik tak mampu menjamah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perampok ulung tak bernyali lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Algojo siap siaga kuasa kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita merem ia melek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tamasya ia berjaga-jaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berjalan ia pegang senjata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia selalu di belakang kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh peler hanya satu kamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa gerangan yang kau khawatirkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa gerangan yang kau pikirkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa gerangan yang kau takutkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dunia pendidikan kita yang maju mundur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah penduduk yang semakin pintar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah lemah syahwatmu itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mungkin aku memuaskan dengan sikat gigi selalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku butuh peler baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang orsinil bila perlu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kamu pasti tidak setuju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya pasti kamu memuaskan hawa nafsu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau aku cemburu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti kamu cucuk sini cucuk situ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku tidak mampu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ragu akan kesetiaanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana ada peler punya mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia punya rasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh pelerku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku takluk padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal jangan duakan milikku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rela jadi kerbaumu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaulah gembalaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayatku ada padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa repelita kau suka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelermu penguasa kekuasaanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelermu pemimpin bangsaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pahlawan Ordeku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peleeeeerku yang romantis (rokok makan gratis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih panjang perjalanan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sabang sampai merauke&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjajar pulau pulau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tetap mendukung kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendali kupegang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pegang kendali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coblos gambar symbol raksasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh pelerku yang perkasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tak tunduk padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh mata tertuju padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau kebarat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ke barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ke timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ke timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ke utara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ke utara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ke selatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ke selatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah pelerku yang bijaksana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin sekali berontak padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa aku tak kuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aku tak tega&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aku terbiasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aku tak bertenaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ilmu peletmu bekerja sempurna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan rakyat kena peletmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan aku bekerja karena peletmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan peletmu pelermu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelermu peletmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun kekuatan peler cukup berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kekuatan peler tidak akan terkalahkan oleh senjata tercanggihpun. Kekuatan peler harus diimbangi dengan iman dan takwa. Apabila dalam kamus besar Indonesia ada pelernya, maka negara kita akan lebih maju. Apalagi setelah ditinjau ulang nanti, Kelentit pun tidak ada, maka ini akan mengganggu eksistensi gender. Jangan sampai diskriminasi itu terjadi dalam kamus besar Indonesia. Sepertinya diskriminasi itu akan terus berlangsung. Sebelum kamus besar Indonesia memiliki peler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar dugaanku, Kamus Besar Indonesia tidak ada pelernya yang ada kata Pelir. Pe.lir n kemaluan laki-laki; zakar; Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hal. 846. Dan kelentit ternyata ada tetapi yang kumaksud bukan (1.) Ke.len.tit n daging atau gumpal jaringan kecil yang terdapat pada ujung lubang vulva (lubang pukas). (2.) ke.len.tit n tumbuhan rumput, biasa digunakan untuk obat, KBBI, hal. 532.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya apa yang kumaksudkan tidak bisa terditeksi oleh kamus sebesar apapun. Sesungguhnya kamus itu berada dalam hati nurani. Mari kita gali hati nurani mencari peler yang terkubur, orang yang mendapatkannya pertanda orang yang telah dibukakan pintu hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palembang, Januari 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-4498506582890718682?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/4498506582890718682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/10/peler-negriku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4498506582890718682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4498506582890718682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/10/peler-negriku.html' title='PELER NEGRIKU'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-4051101191305141310</id><published>2009-10-17T23:50:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T23:51:37.200-07:00</updated><title type='text'>Moelyono kecemplung dalam dunia seni rupa</title><content type='html'>Berawal dari Menggambar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 18 Oktober 2009 | 02:55 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mulanya sampai Moelyono kecemplung dalam dunia seni rupa? ”Itu berawal dari kegemaran menggambar,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moelyono kecil tinggal bersama ayahnya, Kasijan, dan ibunya, Umi Kuratin, di kompleks perumahan pendopo Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Kasijan adalah kurir di kabupaten. Keluarga itu bertetangga dengan sejumlah pejabat daerah yang punya banyak buku dan majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya suka lihat gambar di buku dan majalah itu. Saya tiru gambar itu dengan kapur di atas papan tulis atau lantai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegemaran itu berlanjut saat dia masuk SD, SMP, dan SMA di Tulungagung. Atas dorongan gurunya, tahun 1977, dia melanjutkan studi ke Jurusan Seni Lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI)—yang kemudian menjadi Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masuk perguruan tinggi seni itu, dia terpaksa menjual sepeda kayuh seharga sekitar Rp 25.000. Pada awal kuliah, dia sempat terima kiriman uang Rp 15.000 per bulan. Sayang, beberapa bulan berikutnya, ayahnya meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya terus kuliah sambil kerja apa saja. Bikin poster, spanduk, atau reklame.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana mahasiswa lain, Moelyono mengawali gaya lukisannya dengan corak realistik. Corak itu berubah lebih eksperimental saat dia bergabung dengan kelompok Seni Kepribadian Apa (PIPA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1983, dia mengajukan karya tugas akhir S-1 berupa seni instalasi ”KUD”, Kesenian Unit Desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moelyono menghamparkan berlembar-lembar tikar di halaman kampus. Di atasnya diberi berpincuk-pincuk tanah. Di atas tanah itu ditaburi bermacam tanaman: bayam, ubi, jagung, atau kecambah. Ada juga gubuk dan podium untuk pidato.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Instalasi itu penghargaan saya terhadap para petani di Desa Waung, Tulungagung. Mereka bertahan hidup dengan mengolah rawa penuh eceng gondok untuk ditanami sayuran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya ini mencerminkan gagasan awalnya bahwa seni seyogianya masuk dalam denyut nadi masyarakat. Sayang, instalasi seni lingkungan itu dinyatakan bukan seni lukis dan tak memenuhi syarat kelulusan sarjana. Ujian pun gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kemudian diundang ujian lagi dengan membuat drawing. Tahun 1985, dia lulus. Sempat bekerja sebagai desainer grafis iklan di Jakarta, tapi dia tak betah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu mudik ke Tulungagung tahun 1987. Dia kemudian bergabung dengan kaum nelayan miskin di Brumbun, Tulungagung Selatan. Dari desa itu, dia merintis jalan kesenian bersama rakyat bawah. (iam)Sumber: Kompas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-4051101191305141310?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/4051101191305141310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/10/moelyono-kecemplung-dalam-dunia-seni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4051101191305141310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/4051101191305141310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/10/moelyono-kecemplung-dalam-dunia-seni.html' title='Moelyono kecemplung dalam dunia seni rupa'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-5573788296301287534</id><published>2009-10-17T23:30:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T23:31:11.229-07:00</updated><title type='text'>Seni untuk Rakyat</title><content type='html'>Moelyono, Seni untuk Rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 18 Oktober 2009 | 02:56 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilham Khoiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika banyak seniman kontemporer menikmati hidup di tengah kota besar, dia minggir dan tinggal di kampung. Ketika para pelukis gencar mengangkat budaya urban seraya berpameran dari galeri ke galeri, dia berkelana di desa-desa demi memberdayakan rakyat miskin lewat kesenian. Saat sebagian seniman makin makmur dan berjarak dari kehidupan nyata, dia masih setia pada komunitas desanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah Moelyono (52), seniman yang memilih tinggal di Desa Winong, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur. Dia bergabung dalam kehidupan masyarakat desa, mengajak mereka berkesenian, dan mengungkapkan masalahnya lewat bahasa rupa. Bersama komunitas itu, kemudian dia berusaha mendorong penyadaran, kebebasan berpikir, daya kritis, dan kemandirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan semacam itu membuat sosok ini lekat dengan gagasan  ”seni rupa penyadaran”. Dalam pemahamannya, para seniman seyogianya masuk dalam geliat kehidupan nyata rakyat bawah. Lewat kesenian, seniman dan rakyat bersama-sama melakukan pemberdayaan sosial, ekonomi, dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia percaya, seni bisa jadi cara yang dipelajari dan ditularkan untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran kelompok masyarakat. Seni bisa menjadi media untuk mengungkapkan berbagai masalah sosial dan mendialogkannya demi mencari jalan keluar. Rakyat dan seniman sama-sama jadi subyek yang aktif memperjuangkan perubahan hidup lebih baik. Gagasan ini dipraktikkan Moelyono lebih dari 20 tahun, sejak tahun 1980-an sampai sekarang. Berawal dari pergumulan bersama nelayan miskin di Brumbun, Tulungagung selatan, dia lantas berkeliling menjelajah pelosok Nusantara: mulai dari Pacitan, Surabaya, Lombok, Kupang, Aceh, sampai Papua dan Wamena. Gerakan ini berhasil merekam dan menyuarakan berbagai persoalan mendasar di masyarakat bawah lewat bahasa seni rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dalam estetika Jawa, seni itu disebut kagunan. Artinya, seni itu harus berguna. Apa pun yang dilakukan seniman seharusnya punya manfaat bagi seniman sendiri dan masyarakat,” kata Moelyono di Jakarta beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbincang saat penyelenggaraan pameran ”Topografi Ingatan: Fragmen Kesaksian Moelyono/Guru Gambar” di Koong Gallery, City Plaza, Wisma Mulia, Jakarta, September. Dalam pameran dengan kurator Hendro Wiyanto itu, seniman ini menampilkan beberapa instalasi, lukisan, dan drawing. Sejumlah instalasi dilapisi lumpur tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya itu merekam sosok seniman dan wong cilik di Tulungagung, Pacitan, dan Blitar. Ada pemain ludruk, penari, pemain wayang, penjual nasi bungkus, dan petani. Orang-orang yang sebagian tersangkut dalam kasus G30S tahun 1965 itu diabadikan lewat drawing, instalasi yang dibungkus lumpur, lukisan potret, dan video.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kesenian itu membuat mereka bertahan menghadapi berbagai kesulitan hidup. Seni juga jadi media rekonsiliasi dan penyembuhan diri,” kata Moelyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru gambar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moelyono tertarik dengan gerakan seni rupa di akar rumput saat bergabung dengan masyarakat nelayan pantai selatan di Brumbun, Tulungagung Selatan. Dia mengajar anak-anak di kawasan terpencil itu untuk menggambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya ke sana setiap Sabtu-Minggu. Saya naik sepeda, lalu jalan kaki di atas jalan setapak selama satu jam,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan membuat para nelayan tak mampu menyediakan alat dan buku gambar. Anak-anak menggambar dengan pakai kaki, ranting, atau apa saja di atas pasir pantai. Lewat bahasa gambar, anak-anak itu mengeluarkan unek-unek soal kehidupan sehari-hari, mulai dari gambar nyamuk malaria, sakit malaria, atau orang bertengkar karena selang air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun kemudian, hasil karya anak-anak dipamerkan di gedung Arena Remaja di Tulungagung. Melihat berbagai persoalan sosial-ekonomi dalam gambar anak-anak itu, Bupati Tulungagung bersama jajaran pejabat daerah mengunjungi Brumbun. Mereka melihat sendiri kemiskinan dan ketertinggalan kawasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, dibuat jalan beraspal menuju Brumbun. Pantainya dijadikan daerah wisata. Orang-orang dari sana akhirnya bisa jualan ikan dan lobster ke pasar sehingga ekonomi meningkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ternyata, gambar seni rupa anak-anak itu bisa mendorong perubahan sosial.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman itu mengantarkan Moelyono memperoleh semacam beasiswa Ashoka Fellowships Inovator for the Public dari Yayasan Ashoka Indonesia tahun 1989-1992. Dia berkenalan dengan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), membaca teori dan referensi pendidikan masyarakat tertinggal, terutama dari gagasan Paulo Freire. Dan seniman bisa menjadi salah satu pendorong perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana posisi seniman dalam masyarakat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seniman menguasai media, seperti gambar. Media itu bisa ditularkan kepada anak-anak dan masyarakat untuk dijadikan sarana mengungkapkan berbagai persoalan. Persoalan itu memancing dialog dan akhirnya mendorong perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menguatkan kepercayaan diri dan masyarakat serta menguasai media kesenian, seniman harus menjadi guru dan fasilitator. Untuk membangun kebersamaan di antara komunitas, seniman perlu menjadi organisator. Dalam semua proses itu, seniman juga seorang peneliti. Jadi, seniman itu haruslah seorang pekerja seni, guru, organisatoris, sekaligus peneliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moelyono lantas berusaha memperkuat metode untuk pemberdayaan masyarakat lewat seni. Metode itu diformulasikan dalam konsep early childhood care for development (ECCD) atau pendidikan anak-anak usia dini untuk pengembangan. Artinya, membangun masyarakat baru harus dimulai dari pendidikan anak pada saat usia emas (1-5 tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha Moelyono mendapat dukungan dari banyak pihak. Dia diundang mengikuti pelatihan, forum dan pameran di berbagai tempat sampai luar negeri. Dia bekerja sama dengan sejumlah aktivis, seperti Wiji Tukhul, Halim HD, dan Semsar Siahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia semakin mantap dengan metode seni sebagai media penyadaran. Pengalaman di Brumbun dan metode itu ditularkan kepada masyarakat di berbagai tempat. Ketika mengajar di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan Desain Grafis Universitas Petra, Moelyono memilih tinggal di Rungkut, kawasan tempat kost para buruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, dia mengajar anak-anak buruh untuk menggambar. Saat Marsinah terbunuh tahun 1993, dia mengajak para buruh membuat pameran Marsinah. Meski ditutup militer, pameran ini dicatat sebagai salah satu ekspresi perlawanan lewat media seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moelyono bergerak ke Ponorogo dan Pacitan, Jawa Timur. Bersama beberapa LSM, dia mengembangkan child center community development (CCCD). Dia mendidik anak untuk mengembangkan potensi seni budaya lokal yang lebih luas, tak hanya seni rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama para aktivis LSM, Moelyono mendirikan sekolah informal bagi anak-anak dan ibu-ibu. Mereka diajari kembali mengenal lagu-lagu lokal, menguasai seni tari kampung. Seni itu mengajarkan kembali kebijakan pertanian bagaimana menanam padi, menjaga ekosistem persawahan, dan menjaga kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami membantu membangun desa dengan basis potensi lokal,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik nol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pencapaian Moelyono itu diraih dengan penuh keprihatinan. Masa-masa susah itu mendera pada awal hingga pertengahan perjalanan keseniannya. Saat itu, tak mudah menaklukkan godaan meninggalkan idealisme pengembangan seni rakyat demi masuk dalam jalur lebih praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal menjadi guru gambar anak-anak di Brumbun, misalnya, dia sempat diinterogasi militer. ”Saya ditanya, nama, pekerjaan, orangtua, partainya apa, mengapa sarjana masuk daerah miskin? Brumbun ini kan daerah pelarian PKI. Kegiatan saya dinilai mirip gerakan PKI.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh kegiatan mengajar dihentikan. Moelyono baru bisa masuk lagi setelah mendapat surat izin dari Kodim, polres, dan diknas di Tulungagung. Saya mencari surat itu. ”Waktu masuk mengajar kembali, saya dikawal militer.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman lain terjadi di Surabaya. Gaji mengajar di STKW dan Desain Grafis Universitas Petra saat itu hanya Rp 250.000 per bulan. Pameran Marsinah yang diusahakannya ditutup polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saat itu, saya jatuh di titik nol. Rumah kontrakan dipinjami mahasiswa. Untuk menghidupi anak-istri, saya jadi kuli bangunan untuk patung,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah keluarga bisa menerima kondisi sulit itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga kalang kabut. Mau hari raya, tak punya uang. Dapat sedikit uang, saya pakai untuk beli baju. Baju tadi dicantolkan di sepeda motor orang lain. Eh, ternyata terbawa orang itu. Sampai di rumah, baju yang dicari tak ada. Rasanya frustrasi sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri saya stres. Dia meminta saya tidak usah berkesenian lagi. Untung datang kurator dari Australia. Kurator itu yang mengingatkan istri saya agar tetap mendukung pilihan kesenian saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moelyono juga diselamatkan beberapa kawan dan donatur. Selain itu, dia menambah penghasilan dengan menulis di koran, yang kemudian dibukukan menjadi Seni Rupa Penyadaran (tahun 1997). Sumber: Kompas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-5573788296301287534?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/5573788296301287534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/10/seni-untuk-rakyat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/5573788296301287534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/5573788296301287534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/10/seni-untuk-rakyat.html' title='Seni untuk Rakyat'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-3639292326631571051</id><published>2009-10-16T20:42:00.000-07:00</published><updated>2009-10-16T20:44:35.703-07:00</updated><title type='text'>Luka Dalam Sastra Indonesia dan Korea</title><content type='html'>Luka Dalam Sastra Indonesia dan Korea&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 17 Oktober 2009 | 02:49 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Tjahjono Widijanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks sastra bukan saja merupakan dokumen keindahan bahasa semata, melainkan juga dokumentasi sejarah yang di dalamnya penuh dengan luka. Luka manusia, juga luka sebuah bangsa. Dalam soal luka ini, peristiwa dalam sejarah ”resmi”, oleh sastra, tak dianggap sebagai realitas tunggal yang ”benar” dan valid. Sastra mengolahnya sebagai satu hal yang harus dipertanyakan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah dalam penokohan. Sastra kerap mengangkat tokoh yang tidak diperhitungkan sama sekali dalam ”sejarah resmi”. Atau pahlawan ditampilkan tidak sedahsyat atau seperkasa kisahnya dalam ”sejarah resmi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roman Surapati karya Abdoel Moeis, Surabaya, Corat-coret di Bawah Tanah (Idrus), Jalan Tak Ada Ujung (Mochtar Lubis), Keluarga Gerilya, Perburuan, Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), serta Roro Mendut dan Burung-burung Manyar karya JB Mangunwijaya, misalnya, hampir semua menunjukkan sisi paradoksal antara hero dan antihero, heroisme dan ironi atau tragedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh Guru Isa dalam Jalan Tak Ada Ujung, tidaklah tampil sebagai tokoh gerilyawan yang super hebat seperti hero-hero yang dilukiskan dalam pelajaran sejarah. Tetapi, justru lebih menampilkan seseorang yang peragu dan penakut, bahkan harus menjadi seorang yang impoten terlebih dahulu sebelum mendapatkan keberanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi luka-luka kemanusiaan beriringan dengan hero dan antihero ini semakin tampil mencekam dalam novel-novel Pramoedya. Menjadi luka kemanusiaan yang masuk hingga pada ruang pribadi atau keluarga. Karena itu, dalam cerita-cerita Pramoedya dapat kita temukan sebuah kegetiran dan tragedi yang dahsyat ketika seorang anak tega memenggal kepala bapaknya yang menjadi mata- mata musuh. Dapat pula ditemukan seorang kakak yang menukar kehormatannya dengan nyawa adiknya yang tertangkap musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik itu pembaca pun didesak pada situasi tragis pada makna sebuah kepahlawanan. Bahkan bisa menjadi luka. Apa pun bentuk atau estetika sastranya, satir, parodi, bahkan komedi, luka itu tetap menganga. Dalam Corat-coret di Bawah Tanah dan Surabaya, Idrus memandang dari sisi lain peristiwa pertempuran Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen-cerpen Idrus ini mengingatkan pada naskah Don Quixote de La Mancha karya Carvantes. Melalui tokoh heronya, Don Quixote (Don Kisot), Carventes menyindir kaum bangsawan dan ksatria pada zamannya yang gemar memosisikan diri sebagai hero. Bagi Carventes (juga Idrus), hero dan heroisme tak lebih dari khayalan menggelikan dari segelintir orang yang merasa telah berbuat sesuatu yang besar yang sebenarnya hanyalah ilusi belaka dari ketakberdayaan. Heroisme tak lain adalah sebuah pelarian dari sebuah utopia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka Korea&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan luka bangsa ini, sastra kita tentu tak sendirian. Dalam cerpen-cerpen Korea dapat ditemukan pula kegetiran akan luka bangsa yang mencekam. Dalam cerpen Pertemuan karya Kim Tongni, dilukiskan pertemuan yang mengharukan antara tokoh Sokkyu yang mencari Kim Pong Ho, anaknya yang menjadi tentara yang berada di garis depan. Tidak ada suasana kegagahan atau kebanggaan, kecuali kegetiran dan ketakikhlasan menghadapi perang. Tak ada pahlawan dan yang ada hanyalah korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dalam cerpen Ha Geun Chan berjudul Dua Genarasi Teraniaya, luka itu ditampilkan dengan sangat menyayat dengan menggambarkan seorang bapak yang buntung lengannya akibat perang melawan Jepang menjemput anaknya yang pulang dari medan tempur dalam perang Korea. Sang bapak yang buntung lengannya harus menerima kenyataan bahwa si anak ditemuinya dalam keadaan buntung kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang, sang bapak sering kali harus menggendong anaknya. Cerita ini dilukiskan dengan gaya realisme, dengan tanpa risi Ha Geun Chan mendeskripsikan tubuh cacat tokoh-tokohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya realis ini mengingatkan pada gaya Idrus dalam cerpennya Corat-coret di Bawah Tanah yang yang tanpa ragu mendeskripsikan sebuah dahak akibat TBC, ”lendir berwarna kehijauan dengan bulatan merah di tengahnya di lantai trem kereta”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerpen Si Bongkok dari Seoul karya Kwan Taeung, dilukiskan juga bagaimana perang justru melahirkan tokoh-tokoh culas yang memanfaatkan perang untuk kepentingan sendiri. Hal yang mirip dengan apa yang diceritakan Mochtar Lubis dalam novelnya Senja di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lenyapnya nilai lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka manusia seperti di atas, tentu tidak melulu disebabkan oleh perang. Kehilangan masa lalu yang digerus oleh perkembangan zaman juga merupakan tragedi yang menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerpen Korea berjudul Jalan ke Shampo karya Hwong Sok Yong dan Bung Kim di Kampung Kami karya Lee Moon Go, juga dapat disaksikan gambaran pergeseran sistem tata nilai budaya masyarakat agraris tradisional menuju sistem tata nilai industrial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, penghadiran luka-luka manusia atau bangsa dalam sastra ini, meskipun bukan merupakan realitas faktual dan empiris, tetap saja ia menjadi fakta batin dan jiwa dari sejarah seorang manusia, sebuah bangsa. Di dalamnya dapat ditemukan upaya memahami, berkomunikasi, atau berkreasi sebuah masyarakat saat harus menyikapi pengalaman, permasalahan, dan perubahan pada masa lalu dan kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, teks sastra hadir sebagai upaya manusia (atau sebuah bangsa) kembali pada nilai dasar dan universal kemanusiaannya. Sastrawan hadir, tentu bukan sebagai sejarawan, tetapi pencatat, pemikir, dan kreator, ia memiliki cara dan kemampuan tersendiri dalam menampilkan sejarah ”mental” sebuah bangsa. Dari situ, mungkin, pelajaran terpenting dari sejarah bisa kita dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tjahjono Widijanto Penyair dan Esais, Tinggal di Ngawi, Jawa Timur&lt;br /&gt;Sumber: Kompas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-3639292326631571051?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/3639292326631571051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/10/luka-dalam-sastra-indonesia-dan-korea.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3639292326631571051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/3639292326631571051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/10/luka-dalam-sastra-indonesia-dan-korea.html' title='Luka Dalam Sastra Indonesia dan Korea'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-372049684809555959</id><published>2009-10-14T18:29:00.000-07:00</published><updated>2009-10-14T18:31:29.151-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pameran'/><title type='text'>Pameran Trienal Seni Grafis</title><content type='html'>Pameran Trienal Seni Grafis Digelar di Bentara Budaya Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 14 Oktober 2009 | 20:55 WIB&lt;br /&gt;Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com - Jika ingin melihat seni grafis terbaik Indonesia, jangan lewatkan kesempatan menyaksikan pameran di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Jalan Palmerah Selatan 17, Jakarta, yang dibuka Kamis (15/10) pukul 19.30 WIB. Pameran karya pemenang dan finalis Trienal Grafis III Tahun 2009 itu menyuguhkan seri pemandangan terbaru di dalam perkembangan dunia seni grafis hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Eksekutif Bentara Budaya Jakarta Efix Mulyadi mengatakan, karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil kompetisi tiga tahunan yang dijaga ketat oleh tim juri. Sebanyak 50 karya finalis termasuk di antaranya tiga pemenang utama akan tampil di dalam pameran perdana di venue kami di Jakarta, kata, Rabu (14/10) di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efix menje laskan, berbeda dengan dua kompetisi terdahulu, Trienal kali ini melonggarkan tema sambil mengharap munculnya karya-karya grafis yang hebat secara teknis sekaligus kuat di dalam pesan. Kombinasi kehebatan itu bisa ditemui di dalam sejumlah karya finalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai corak gambar muncul di dalam puluhan karya yang dipamerkan. Namun, yang tak kalah penting hadir juga bermacam teknik cetak. Terbanyak di antaranya adalah cukil kayu, beberapa menggunakan intaglio, litografi, monoprint, serta mixmedia. Sumber: Kompas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-372049684809555959?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/372049684809555959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/10/pameran-trienal-seni-grafis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/372049684809555959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/372049684809555959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/10/pameran-trienal-seni-grafis.html' title='Pameran Trienal Seni Grafis'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-5205538059558907069</id><published>2009-10-12T20:23:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T20:24:08.124-07:00</updated><title type='text'>Pantun Bahasa Lahat</title><content type='html'>Pantun Bahasa Lahat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Baju abang kain abang&lt;br /&gt;ditunde midang kelubuk empelas&lt;br /&gt;duduk ribang beteguk ribang&lt;br /&gt;jadi tulah mangke mandas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. aku dindak mandi di siring&lt;br /&gt;mandi di siring kotor gale&lt;br /&gt;aku dindak bebini keriting&lt;br /&gt;gumbak keriting kutuan gale&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Jangan Kaban tesala sala&lt;br /&gt;ame sala mane durinye&lt;br /&gt;jangan kaban tegala-gala&lt;br /&gt;ame gala mane buktinye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mak mane aku nak mandi&lt;br /&gt;jeramba pata pangkalan anyut&lt;br /&gt;makmane kite na jadi&lt;br /&gt;umak marah ebak cerengut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jangan mudah nyambungke jale&lt;br /&gt;kalu dek sanggup nyelaminye&lt;br /&gt;jangan mudah nganjurke kate&lt;br /&gt;kalu dek sanggup njalaninye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. kecik-kecik perahu lidi&lt;br /&gt;karam di mulak batu raje&lt;br /&gt;kecik-kecik nak bebini&lt;br /&gt;dide tebayang gawi mentue&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Amun lah siang jalan kayek&lt;br /&gt;titila jalan ke darat&lt;br /&gt;amun nak lemak kite balek&lt;br /&gt;buatla amat ibadat yang baek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. puteh-puteh anak itik&lt;br /&gt;masih putehla rotan tunggal&lt;br /&gt;sedih-sedih adek nak balek&lt;br /&gt;masih sedihla kakang ditinggal adek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 Lah lame betanam kencur&lt;br /&gt;masih lame menanam serai&lt;br /&gt;lame-lame kite becampur&lt;br /&gt;masih lah lame kite becerai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. hume siape beatap genting&lt;br /&gt;hume cek mamat di ulu lintang&lt;br /&gt;ati siape dide kan pusing&lt;br /&gt;nginaki bapang ulang bujang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. kelap kelip lampu di pinggir&lt;br /&gt;sinarnye sampai ke bakal&lt;br /&gt;calak pintar amun dipinggir&lt;br /&gt;sampai ketengah ilang akal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Kapal terbang bersayap due&lt;br /&gt;pata sikok jatuh ke bawah&lt;br /&gt;kalo kakang punya pacar due&lt;br /&gt;putuskan adeng pilihla die&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. kelicuk pisang mate&lt;br /&gt;makanan sehari-hari&lt;br /&gt;berupok denga tula&lt;br /&gt;lelahian malam ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. alang ke alapnye huma ini&lt;br /&gt;tapi sayang di tengah utan&lt;br /&gt;alang ke alapnye kakang ni&lt;br /&gt;tapi sayangnye jerawatan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3741038304705053170-5205538059558907069?l=sastralahat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastralahat.blogspot.com/feeds/5205538059558907069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/10/pantun-bahasa-lahat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/5205538059558907069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3741038304705053170/posts/default/5205538059558907069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastralahat.blogspot.com/2009/10/pantun-bahasa-lahat.html' title='Pantun Bahasa Lahat'/><author><name>Sastra Lahat</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_XOsvU5O0f7I/So_wB1-l6II/AAAAAAAAAAU/6S9giHsFcLc/S220/jajang+6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3741038304705053170.post-7372536787877508774</id><published>2009-10-10T19:25:00.000-07:00</published><updated>2009-10-10T19:26:47.684-07:00</updated><title type='text'>Identitas Kesenian Indonesia</title><content type='html'>Geliat Menuju Identitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 11 Oktober 2009 | 03:02 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aris Setiawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Suatu upaya bersama untuk menjelajah dan mencari gagasan-gagasan baru melalui seni dalam konteks kultural.” Demikian maksud dan tujuan yang hendak dicapai dari diadakannya FKI (Festival Kesenian Indonesia) VI di IKJ-TIM Jakarta tanggal 5-24 Oktober 2009. ”Exploring Root of Identity”, tema yang turut meramaikan isu dan polemik kebudayaan yang selama ini mencuat ke permukaan. Pengambilan tema tersebut sedikit banyak turut dipicu terkait keberadaan seni yang semakin tersisih dari struktur penekanan global yang lebih dominan, politik dan ekonomi. Atau mungkin dipicu konflik saling klaim terhadap kesenian tradisi Indonesia yang baru-baru ini terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari dua hal tersebut, lebih penting lagi festival kali ini akan menjadi satu tolok ukur eksistensi perguruan tinggi seni se-Indonesia. Sebagaimana yang telah diwartakan Kompas (27 September 2009), FKI selama ini dapat terselenggara berkat kerja sama perguruan tinggi seni se-Indonesia yang tergabung dalam Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS-PTSI). Adapun anggota BKS-PTSI terdiri dari ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ISI Denpasar, Institut Kesenian Jakarta, STSI Padang Panjang, STSI Bandung, dan STKW Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat acara FKI ini, beberapa wacana telah mengemuka. Seperti yang diungkapkan FX Widaryanto sekretaris BKS-PTSI, apakah keberadaan perguruan tinggi seni mampu dalam membangun dan mempertahankan pilar-pilar kebudayaan sebagai benteng terakhir wajah keindonesiaan kita? Atau justru sebaliknya, mereka telah kalah dan turut larut dalam
